Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 114


__ADS_3

Rumah megah dan konsep dekorasi yang indah langsung memanjakan mata kami. Satu per satu penumpang bus mewah Abah sudah memasuki sebuah tenda yang sangat rapi.


"Dek!", panggil mas Aziz sambil menggenggam tanganku.


"Kenapa mas?"


"Apakah kita akan mengadakan resepsi pernikahan kita yang sudah tertunda lima tahun lalu?"


"Hahaha...yang benar saja mas!", aku menepuk lengan nya.


Kini, mata kami tertuju pada seorang wanita cantik nan anggun yang berdiri di depan tangga. Mikayla, begitu cantik dan mempesona.


Fai terlihat memandang takjub perempuan yang akan di pinang nya beberapa saat lagi. Pun tak beda jauh dengan Mikayla sendiri, baginya....Fai tampak berbeda dari biasanya.


Setelah semua duduk, MC pun memberi tahu susuan acaranya. Dari sambutan keluarga Mika, sambutan keluarga Fai hingga pada puncak acara yang di nantikan.


Suara piano yang mengalun indah, mengiringi puncak rangkaian acara ini. Lagu dari Yovie and Nuno, terdengar sangat syahdu kali ini.


Dengar kan lah....


wanita pujaan ku...


Malam ini akan ku sampaikan


.......


(sayang nya ini masih sore. Lagunya kurang tepat. Tapi tak masalah lah)


Fai berdiri mendekati Mika yang cantik dan anggun itu di depan dekorasi yang bernuansa serba putih itu. Bunga-bunga yang indah dan segar itu memiliki nilai keindahan tersendiri.


Fai berdiri di hadapan Mika. Membawa sebuah kotak kecil, berisi cincin berlian. Sedangkan tangan kirinya, memegang mikrofon.


"Terimakasih untuk semua yang sudah hadir dalam acara kami ini. Dan di hari ini, di hadapan Abah, umi, papa Umar dan semua kerabat serta sahabat-sahabat saya. Saya ingin menyampaikan bahwa...saya Ahmad Rifai Sulaiman Al Munawar, ingin meminta Mikayla Hanum Al Umar Abdullah untuk saya jadikan pendamping hidup saya, insyaallah sampai ke jannah Nya. Mika, saya tahu...saya tidak lah sempurna. Saya memiliki banyak kekurangan dalam diri saya. Pun dengan dirimu. Saya harap, kita bisa saling melengkapi satu sama lain. Kita memiliki masa lalu yang sama. Dan kita akan berjuang bersama. Kita memang belum terlalu lama saling mengenal, tapi... Allah menakdirkan kita dari jauh-jauh hari untuk bisa bertemu hari ini. Mika... bersedia kah kamu menjadi istriku?"

__ADS_1


Fai membuka kotak kecil di tangannya itu. Mika yang tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapan nya malah meneteskan air mata. Air mata apa? Bahagia? Terharu? Hanya mika dan tuhan yang tahu.


Dengan pelan, mika pun menganggukan kepalanya. Fai pun memasang kan cincin itu di jari manis tangan kiri Mika.


Mata Fai menatap lekat pada gadis yang baru saja menerima lamarannya.


"Terima kasih mas. Terimakasih."


Mika masih menitikan air matanya. Pandangan mika mengarah ke Damar. Lelaki itu tampak sumringah melihat Mika yang menerima lamaran Fai, sahabat nya. Damar merasa, inilah yang terbaik untuk Mika. Mika berhak mendapatkan laki-laki yang lebih pantas untuk nya.


Berbeda dengan Fai, dia tak berani memandang Diandra. Fai merasa sangat bersalah. Dia merasa de Javu dengan kejadian barusan. Fai pernah meminta Diandra untuk menjadi istrinya kala itu. Tapi, Fai juga yang sudah menghancurkan rencana dan impian mereka sendiri.


Dua orang yang berdiri di depan banyak orang itu justru membeku dengan pikiran mereka masing-masing.


Sampai suara MC menyadarkan mereka berdua, lalu turut duduk kembali di bangku yang sudah disediakan.


Aku, aku bahagia sekaligus merasa ada perasaan sesak di dadaku. Iya, aku bahagia melihat mas Fai meminang Mika. Mereka tampak sangat serasi. Tapi, entah kenapa hatiku merasa sedikit tercubit. Kenangan masa lalu menghantui ku. Aku pernah bahagia bersama mas Fai. Pernah merangkai masa depan dengan nya. Tapi takdir berkata lain. Apa aku cemburu? Tidak. Kuharap tidak! Aku tidak ingin ada bayang-bayang masa lalu yang akan mengusik masa depan ku dengan mas Aziz. Mas Aziz adalah pilihan ku sendiri. Mas Aziz adalan masa depan ku. Dan aku, aku sudah melupakan perasaan ku pada lelaki yang baru saja meminang Mikayla. Rasa itu sudah selesai saat itu. Dimana dia meninggalkan ku tanpa penjelasan apa pun. Satu tahun memang belum cukup membuatku move on darinya. Bahkan saat pernikahan ku dengan mas Aziz pun aku belum mencintai mas Aziz. Aku perlu waktu untuk bisa mencintai mas Aziz sedalam ini seperti sekarang. Mas Fai sudah tahu semua yang ada padaku, masa kecil ku, rahasia keluarga ku dan semua tentang aku.


Saat mas Aziz membuat kesalahan dengan Lili, saat itu juga aku merasa dunia ku runtuh. Sakit ku melebih sakit yang Fai torehkan saat itu. Tapi, aku memikirkan masa depan anakku. Diaz berhak mendapatkan kasih sayang dari kami. Diaz tidak boleh merasakan seperti yang aku rasakan. Mas Fai, semoga kamu bisa secepatnya mencintai Mika. Seperti aku yang perlahan mencintai suamiku, sampai sebucin ini.


"Iya mas?"


"Diaz mencari mu!", kata mas Aziz.


Ah, iya. Aku belum menggedong Diaz sejak di rumah Abah tadi. Pasti anakku merindukan ku, bundanya.


"Sini sayang nya bunda.....!", aku mencium pipi anakku. Menimang-nimang di pangkuan sambil memberi nya botol susu. Bagaimana mungkin aku memberikan asi ku langsung dengan pakaian yang susah seperti ini.


Aziz menatap lekat istrinya.


Dek, aku tahu. Kamu pasti merasakan sesuatu yang tidak bisa kamu jelaskan dek. Tapi aku yakin, kamu sepenuh nya mencintai ku. Fai hanya masa lalumu.


"Diaz , sayang nya ayah!", Aziz menowel pipi anaknya yang ada dipangkuan ku.

__ADS_1


"Dek!"


"Heum?"


"Mas ingin, setelah pernikahan Imah dan Dadan kita bulan madu."


"Hah? Bulan madu? Hehehh mas....mas...kita pengantin lama, yang pengantin baru tuh besok Imah sama kang Dadan. Jadi yang pantas bulan madu itu mereka."


"Aku belum pernah mengajakmu bulan madu selama kita menikah."


Aku pun terdiam. Bagiamana bulan madu mas, kamu saja sibuk dengan pekerjaan mu. Bahkan, hakku saja sering kamu abaikan. Dan sekarang....kamu justru lebih sering meminta hakku.


"Iya mas, akan aku pikirkan!"


Di sudut ruangan lain, Damar duduk di sebelah Hayu.


Pakaian mereka yang sama, memberikannya kesan bahwa mereka benar-benar sepasang kekasih atau suami istri.


"Stev...!"


Hayu tak bergeming. Dia memandang Mika, perempuan mencintai damar. Dan sesekali, dia memandang Aziz dan Diandra yang terlihat sangat bahagia.


"Stevia. Aku ingin kita bicara dari hati ke hati stev."


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi mas. Tidak ada!", untung saja Faiz sedang bersama Farhan yang mengambil makanan bersama Dadan dan Imah.


"Stevia!", suara bariton itu mengagetkan mereka berdua.


"Daddy ingin bicara!", Stevan kini duduk di sebelah Hayu yang tadi ditempati Faiz.


Hayu langsung berdiri berusaha meninggalkan dua laki-laki yang menyakiti hatinya.


"Stev!", Stevan menarik lengan putrinya. Lalu memeluk erat wanita yang berjilbab lebar itu.

__ADS_1


"Maafkan Daddy!", Stevan menangis di bahu putri semata wayangnya. Seluruh mata tertuju pada mereka.


Kenapa mereka berpelukan seperti itu?????


__ADS_2