Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 162


__ADS_3

Episode ini, buat malam pertama pengantinπŸ€΅πŸ‘° baru ya???!!! Maafkeun kalau bahasanya vulgar, kurang sopan atau bahkan tidak terlalu menarik. Mamak malu mau menulis begituan ,beneran!


Mamak harap sih, kalian maklum ya πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ. Namanya aja othor receh 😝.


Silahkan di nikmati para pembaca setia. Minta sarannya aja, biar bisa lebih baik lagi di eps berikut nya. Thx πŸ™πŸ™πŸ™


******


Malam pun tiba. Kini kediaman Umar sudah mulai sepi.


"Mama nggak nginep aja ?", ucap Mika.


"Nggak sayang, mama langsung pulang saja. Kapan-kapan kalian jangan lupa kunjungi mama ya, ya Fai?!", pinta Selly.


"Insyaallah Ma!", sahut Fai.


"Biar supir yang antar ya Sel?", tanya Umar.


"Nggak usah mas. Terimakasih. Supirku sudah menunggu!",jawab Selly.


"Ya udah mama hati-hati, kalau sudah sampai tolong kabarin Mika!"


"Iya sayang. Mama pulang dulu ya?!", pamit Selly.


"Aku antar ke depan ya Sel?"


"Iya mas...!"


Kedua orang tua mika sudah beranjak ke depan rumah.


"Mas ,aku ke kamar dulu ya!"


"Iya, sebentar lagi aku nyusul!"


Mika pun memasuki kamarnya yang dia tinggalkan semalaman, mengungsi ke kamar lain gara-gara akan di dekor khusus untuk kamar pengantin.


Hah! Kamar pengantin? Melakukannya saja mungkin tidak untuk saat ini.


Mika mengumpulkan kelopak bunga yang ada di atas ranjang nya. Entah kenapa, dia merasa risih dengan kelopak bunga yang menurut nya sangat merusak pemandangan. Setelah selesai menyingkirkannya, Mika menyimpang nya di kantong keresek.


Saat akan membuang ke depan kamar, Fai pun masuk. Tanpa sengaja mereka saling bertubrukan.


"Eh....!", kata keduanya.


"Maaf mas, nggak liat!", kata Mika.


"Iya. Itu apa Sayang?", tanya Fai. Apa katanya? Sayang? Aku pikir, dia hanya akan memanggil itu saat ada orang lain. Batin Mika.


"Ini mas, kelopak mawar. Berantakan di kasur, aku risih mas. Jadi aku buang aja!", Mika meletakkan kantong plastik itu ke tempat sampah yang ada di luar kamar.


"Bukannya cewek tuh suka yang romantis gitu ya?", tanya Fai sambil masuk ke kamar dan diikuti Mika.


Kini mereka sudah sama-sama masuk ke kamar, tak lupa mika mengunci pintu kamar nya.


"Ya... romantis sih, tapi emang kamu bisa rebahan mas kalau kasurmu aja bertabur kembang? Aku mah nggak bisa mas!"


Fai mengacak kepala istrinya sambil menyunggingkan senyuman nya.


"Ya udah mas, aku mau bebersih dulu!"


Fai pun mengangguk saja.


"Oh iya mika!"


"Iya mas?"

__ADS_1


"Sekalian ambil wudhu!"


"Wudhu? Kita sudah solat isya jamaah sama Abah tadi kan?"


"Iya. Tapi...aku mau kita solat sunah."


"Memangnya kamu mau melakukan ritual malam pertama malam ini juga mas?"tanya Mika.


Fai mengernyitkan dahinya.


"Ya ... ngga tahu sayang, minimal kita solat aja dulu!"


"Baiklah....!", Mika pun mengambil piyamanya lalu masuk ke kamar mandi.


Setelah beberapa lama, Mika keluar sudah dengan piyama lengan pendek dan celana pendek pula. Rambutnya di kuncir kuda. Mata Fai terkesima melihat pemandangan di hadapan nya. Benarkah tidak akan ada malam pertama di malam ini? Fai membatin.


"Mas?", panggil Mika.


"Ah, iya. Mas ambil wudhu dulu!"


Sambil menunggu sang suami, mika sudah bersiap dengan mukena putihnya. Fai pun keluar dari kamar mandi.


Mereka berdua solat berjamaah. Setelah itu, mereka berdoa bersama. Fai memegang puncak kepala istrinya sambil mengucapkan doa. Mika mencium tangannya Fai dengan takzim, lalu Fai mencium kening istrinya.


Mika pun melepas mukenah nya. Begitu pula dengan Fai, merapikan sajadah mereka.


"Maaf mas, tolong matikan lampu. Mika nggak bisa tidur kalau lampu nya terang begini."


"Iya!" , Fai pun menurut pinta istrinya.


Mika sudah duduk bersandar di kepala ranjang. Pahanya memangku bantal. Tak lupa ia nyalakan lampu di kanan kiri ranjang.


Setelah itu, Fai pun menyusul duduk disebelah mika.


"Mika...!"


Mereka ingin sama-sama bicara. Tapi....


"Kamu aja dulu mika...!"


"Kamu aja lah mas!"


Fai menarik nafas dalam-dalam.


"Mika...mas nggak bisa menjamin kebahagiaan di masa depan. Tapi mas pengen kamu tahu, mas akan berusaha untuk membahagiakan mu. Berusaha mencintai mu!", tangan Fai menelusup kan anak rambut mika ke sela telinganya.


Mika tersenyum, sambil meraih tangan suaminya yang masih berada di pipinya.


"Aku pun akan melakukan hal yang sama mas!"


Kini keduanya sama-sama tersenyum. Di depan orang lain, mungkin mereka akan bertingkah konyol. Tapi di saat berdua seperti ini, rasa ada rasa canggung yang tidak bisa mereka tutupi.


"Oh iya, kamu mau bilang apa Mika?"


"Mas...soal hadiah bulan madu dari Diandra....!"


"Kenapa? Kamu mau kita ke tempat lain?"


Mika menggeleng pelan.


"Bukan mas."


"Kamu masih sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit?"


Mika kembali menggeleng.

__ADS_1


"Kamu pasti tahu, apa alasannya Dian sampai memilih Bali sebagai destinasi bulan madu kita?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu Mika?"


"Perasaan ku mengatakan, Dian punya kenangan di Bali bersama mu mungkin?", tanya Mika.


"Kami tak pernah kesana. Jangankan ke sana, kami ubek-ubek di kota ini saja."


"Tapi aku liat wajah kalian kok mas, sepertinya kalian menyimpan sesuatu. Tenang mas, aku tidak akan cemburu!", seru mika.


Fai menowel hidung mancung Mika.


"Kalau cemburu, aku malah senang!", kini Fai merapatkan dirinya yang semakin dekat dengan Mika.


"Masa sih?", Mika memicingkan matanya.


"Heeh!"


"Jadi, benar dong tebakan ku? Ada yang aku nggak tahu?"


"Iya...dulu , kami pernah mengkhayal jika suatu saat nanti kami menikah, kami akan pergi ke Bali. Itu pun tidak spontan kami katakan bersama-sama saat sedang mengobrol."


"Begitu ya?", tanya mika.


"Iya, mas masih suka merasa bersalah. Mas banyak sekali dosanya ke Dian."


"Tapi, aku yakin kok Dian sudah memaafkan mu mas. Buktinya saja, dia malah memberikan tiket ini buat kita."


"Iya. Semoga saja begitu."


"Setelah malam ini, apa kamu akan melupakan cintamu pada Diandra mas?", mika mendongak menatap wajah suaminya.


"Semoga saja!"


"Kalau aku sih iya mas! Aku akan melupakan bahwa aku pernah memiliki rasa ke kak damar. Aku hanya akan mencintai suamiku saja!"


Fai mengeratkan pelukannya. Suasana canggung kini mulai mencair.


Mika bisa mendengar detak jantung suaminya. Benarkah akan ada malam pertama setelah ini?


"Mas...?"


"Heum?". Fai menjawab dengan 'Heum' saja. Karena batinnya sedang membaca doa sebelum berhubung badan.


"Apa aku boleh mendapatkan hakku malam ini? Maaf, kesan nya...aku...."


Tanpa menjawab pertanyaan mika, Fai sudah membungkam mulut istri nya. Berawal dari sekedar saling menghisap, lama-lama lidah mereka saling bertautan di dalam sana.


Fai memindai rongga mulut sang istri. Mika pun tak kalah menikmati lu*atan suaminya itu. Meskipun ini pertama kalinya mereka melakukannya, tapi naluri mereka mengikuti naluri mereka.


Ci*man Fai semakin lama semakin menuntut. Lidahnya semakin menguasai di dalam sana, tangannya menahan tengkuk Mika agar mampu mengimbangi permainannya.


Mika mengalungkan tangannya ke leher Fai. Posisi yang awalnya sama-sama bersandar di kepala ranjang, kini sudah berbaring. Fai sudah berhasil mengungkung badan istrinya.


Untuk sementara Fai menghentikan ci*mananya. Memandang wajah cantik mika yang terlihat tetap bercahaya meski dengan lampu tidur.


Keduanya saling memandang.


Perlahan, Fai membuka kancing piyama Mika. Sambil terus memandang sang istri, tangannya sudah berhasil menanggalkan pakaian istrinya. Kini, justru mika yang meraih bibir seksi sang suami. Bahkan gigitan kecil di bibir Fai, membuat Fai sedikit tersentak. Dengan begitu mudahnya, Fai memberi akses ke mika untuk mengeksplor rongga mulutnya.


******


Lanjut nggak nih????


😝😝😝😝😝😝😝

__ADS_1


__ADS_2