
Fai baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah Abah. Pertengkaran pertama dengan Mika membuat nya malas menjalani aktivitas yang biasanya. Sejak pagi, Mika sama sekali tak menyapanya meski mereka tidur di ranjang yang sama. Diam nya Mika membuat Fai merasakan sesuatu yang hilang.
Mika selalu ceria, bawel dan kesan agresif begitu kentara. Tapi sejak pertengkaran di mobil itu, sikapnya yang hangat berubah dingin cenderung beku.
Perasaan bersalah kian menusuk hatinya. Meskipun sedang marah, mika masih menyiapkan pakaian untuk nya. Menyiapkan sarapan kesukaannya. Hanya saja....tidak ada tegur sapa dan obrolan hangat seperti biasanya.
Lamunan Fai buyar saat Abah menepuk bahu anak semata wayangnya itu.
"Heh? Malah bengong! Bukannya salam dulu!", kata Abah.
Fai yang sempat terkejut pun memberi salam pada Abah nya.
"Assalamualaikum Bah!" ,Fai mencium tangan Abah.
"Walaikumsalam."
Mereka berdua berjalan bersama menuju ruang tengah. Lalu duduk di sofa yang berada di depan televisi berlayar lebar.
"Umi mana Bah?"
"Ke yayasan. Nggak ada kamu di sana, umi jadi lebih sering mengunjungi sekolah mu."
"Owh....!", sahut Fai.
"Soal Jonatan! Bagaimana bisa kamu nyuruh dia buat mengambil alih hak seseorang?". Abahnya menyilang kan kaki berhadapan langsung dengan anaknya itu.
"Iya Bah. Tapi Paijo nggak sepenuhnya melakukan itu Bah. Semua sudah di kembali kan. Kemarin hanya...hanya bikin gertakan aja buat orang rese itu."
"Orang rese apa? Dia kan biasa ngambil motor ke kita? Rese apa nya? Emang sih, dia rada susah bayarnya. Tapi kan dia udah lama kerja sama bareng kita. Berbisnis lah yang baik Fai. jangan licik!"
"Ya Allah Bah. ini nggak seperti yang Abah bayangkan deh. Ngomong apa si Paijo ke Abah?"
"Terus yang bener gimana????" tanya Abah kesal.
Fai pun menceritakan awal mula kejadian yang menimpa keluarga Aziz. Dari masalah butik sampai ancaman akan menceraikan Imas yang baru saja sadar dari koma.
Abah menghela nafasnya.
"Fai, Abah tahu kalian bersahabat. Tapi coba pikirkan Fai. Semakin kamu dekat dengan Aziz, itu artinya kamu juga dekat dengan Dian bukan? Abah hanya tidak ingin menantu Abah sakit hati, itu saja Nak!"
Fai terdiam. Apakah ini feeling orang tua ya??? Apa Abah tahu jika kami sedang bertengkar?
"Dimana mika? Kenapa kamu malah datang ke sini sendiri?"
"Mika ke rumah sakit bah. Mengurusi cuti nya besok."
Abah mengusap kening dengan telunjuknya.
Anak sama menantunya sama saja, sibuk dengan pekerjaan masingmasing. Padahal resepsi pernikahan mereka tinggal dua hari lagi.
"Fai, dengar kan Abah!"
"Abah memang bersalah disini. Abah adalah orang yang patut kamu salahkan. Andai Abah tak membuahkan keputusan sepihak waktu itu, mungkin kejadian demi kejadian ini tidak harus kalian alami."
Fai tak menyahut ucapan abahnya.
"Sedalam apa pun perasaan mu terhadap Dian, itu salah!"
"Bah...!", Fai merengek.
"Fai! Dengarkan Abah! Kamu sudah tidak berhak lagi menyimpan perasaan itu untuk Dian. Ada mika yg berhak mendapatkan perhatian mu. Diandra sudah ada aziz. Abah akui, Dian memang perempuan yang baik. Tapi masalahnya, dia sudah bersuami. Suami Dian sahabat mu sendiri. Dan...Mika...apa kurangnya Mika Fai????"
"Bah! Fai nggak pernah sedikitpun membandingkan Dian dengan Mika bah. Fai tahu seperti apa istri Fai bah!"
__ADS_1
"Sampai kapan kamu menyimpan bom waktu itu Fai? Hemm...???"
"Bah, Fai sayang sama Mika bah. Mana mungkin Fai ingin menyakiti istri Fai sendiri."
Fai meremas rambut nya yang sedikit memanjang. Dia menundukkan kepalanya.
"Sayang?" ,tanya Abah.
"Tentu saja abah. Bagaimana mungkin Fai menikah begitu saja dengan Mika kalau tidak ada perasaan sayang di hati Fai."
"Tapi kamu bilang, kalian belum memiliki perasaan apapun diawal pernikahan kalian?"
"Bah, bagi Fai saat ini mika adalah perempuan terpenting dalam hidup Fai setelah Umi."
Abah tersenyum sinis.
"Lalu bagaimana dengan perlakuan mu pada Dian? Perhatian mu yang kamu tunjukkan kepada istri sahabatmu bukankah itu juga berlebihan?", pancing abah. Abah udah tidak tahan ingin berhenti mengorek informasi dari mulut anaknya. Dia sudah melihat menantunya tak nyaman menunggu terlalu lama di sofa yang lain.
"Berlebihan apa sih bah?"
"Soal musibah Dian!"
Abah tahu dari mana? Batin Fai .
"Bah, Fai hanya ingin membantu Dian. Itu saja!"
"Tapi bantuan mu membuat seolah-olah suaminya tak mampu. Begitu maksud mu?", cerca Abah.
"Ya Allah Bah. Nggak ada kepikiran begitu. Abah tahu dari mana sih?"
Tiba-tiba ada suara langkah kaki mendekati mereka yang sedang mengobrol berdua.
"Dari aku mas!",kata Mika.
"Sayang! Kamu di sini?", tanya Fai sambil memeluk istrinya.
Mika pun sebenarnya sama. Ia merasa rindu dengan dekapan suaminya. Selama sebulan menikah, tak pernah seharipun mereka tidur tanpa berpelukan.
Suara deheman Abah membuat Fai melepaskan pelukannya dari Mika.
Ehemmm..
"Ada Abah disini! Kalau kalian memang saling merindukan, lanjutkan saja di kamar Fai!" titah Abah seraya meninggalkan mereka berdua.
"Sejak kapan kamu di sini Mika?"
"Sejak pulang dari rumah sakit."
"Apa ini semua rencana mu dan Abah?"
"Nggak sih. Tadinya aku cuma bilang pengen aja kalau kita mengundurkan rencana resepsi pernikahan kita."
"Apa? Kamu ngomong gitu ke Abah???!", pekik Fai.
"Heem!"
"Ya Allah sayang....!", mika mengusap kepala istrinya.
"Kan mas udah bilang, kita akan tetap melanjutkan rencana kita Mika."
"Iya. Dan mika juga mau kita melanjutkan nya mas."
"Apa reaksi Abah tadi?"
__ADS_1
"Biasa saja. Abah cuma nanya apa penyebabnya, ya udah aku ceritakan aja semuanya."
Hah! Fai mengusap wajahnya. Pantas saja Abah menodongnya dengan kalimat-kalimat tadi.
"Mika, maafin aku ya!"
Meskipun pelan, mika pun mengiyakan nya.
"Aku juga minta maaf. Aku masih terlalu labil menghadapi ujian kecil ini."
Mereka berdua saling melempar senyum.
"Mas kangen sama kecerewetan kamu!"
"Itu saja???"
"Ada sih yang lain. Mas cuma takut kamu nya nggak mau di kangenin."
"Apa?", mika mencubit perut rata suaminya.
Lalu Fai berbisik pelan, lalu membuat wajah Mika memerah.
"Ayo!?", ajak mika sambil menyeret tangannya menuju kamar Fai.
Untung lah, semua barang-barang kenangan bersama Dian sudah di singkirkan. Andai masih ada, pasti Pertengkaran ini belum seberapa.
"Kemana mas?" tanya mika.
"ke kamar kita lah sayang!"
"Ngapain? Bukannya ke showroom sana!", kata Mika tapi kakinya tetap saja menapaki tangga mengikuti sang suami.
"Kok tanya ngapain?"
"Iya lah. Mau ngapain di kamar?"
"Mas kangen lah sama kamu. Di cuekin terus sih!"
"Wait? Kangen? Jangan bilang kalau....!", Mika tak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa? Hak mas kan?"
"Bukan soal hak mu atau bukan mas, tapi aku....lagi datang bulan mas. Baru saja tadi pagi."
Wajah Fai berubah masam.
"Datang bulan?"
"Iya."
"Jadi, usai resepsi mas....puasa dong???!"
"Iya gitu deh....!", jawab Mika dengan mimik wajah yang mengesalkan
Fai mengusap kasar wajahnya.
"Sabar ya Jang! Libur mu masih lama!", kata Fai bermonolog. Mika yang mendengar nya justru tertawa.
****
Maap ya kalau suka banyak typo. Soalnya...yah...gitu deh! Namanya mamak2 ye kan??
So.... resepsi pernikahan Fai mika tetap di lanjutkan dong?????!!!
__ADS_1