
Pagi ini, mama mengajak mas Aziz menuju butiknya di Bogor. Karena mama harap, mas Aziz bersedia melanjutkan usaha mamanya.
Karena subuh sudah berangkat, aku dirumah hanya bersama Diaz. Imah sudah membantuku mencuci pakaian kami sekeluarga.
Usai memandikan Diaz, aku bermaksud memakaikan diaper. Sayangnya ,stok nya sudah tak ada di rak lemari pakaian Diaz.
Aduh, pakai habis pula aku bergumam.
Akhirnya aku tak memakai kan diaper, hanya ****** ***** bayi dan kaos stelan khas anak-anak.
"Masyaallah...anak bunda ganteng bener?!", aku memuji anakku sendiri. Tak lupa kuhujani pipinya dengan ciumanku.
Usai berpakaian lengkap, aku membawa Diaz ke kios dengan menggunakan stroller baby.
Imah terlihat sedang santai, ada dua orang pembeli yang tengah ia layani. Tapi sepertinya tak membuat ia kewalahan sama sekali.
"Imah..."panggil ku.
"Iya mbak? Eh, Diaz nya Tante udah ganteng. Tayang....tayang...."
"Nitip Diaz ya, mbak mau beli diaper Diaz. Stoknya habis Mah."
"Eh, Imah aja yang beli. Dari pada Diaz nangis nyariin mbak. Malah Imah yang bingung!"
"Tapi, kiosnya?"
"Bentar ini mbak, lagian jam segini biasanya belum begitu ramai kok."
"Oke. Baiklah!"
Aku menyerahkan beberapa lembar uang merah pada Imah. Ku berikan juga daftar apa saja yang harus Imah belanjakan.
"Imah berangkat dulu ya mbak!"
"Iya, hati-hati ya mah!"
Sepeninggal Imah, aku dan Diaz hanya bercanda ringan ala-ala bayi. Bayi seusia Diaz sudah bisa mengekspresikan senyumnya yang lucu. Ditengah candaan kami, datang seseorang di depan etalase.
"Di...!", sapanya.
Degh...aku hafal betul pemilik suara ini. Sontak ku dongakan kepalaku melihat arah asal suara itu.
"Mas Fai? Ngapain ke sini?", tanyaku bari celingak-celinguk berharap ada orang yang lewat atau belanja juga ke sini.
"Isiin kuota ku!", titahnya.
"Mau voucher atau elektrik?"
"Elektrik saja, nomorku belum berubah!"
Pede sekali pria ini, batinku.
"Silahkan tulis nomornya disini!", aku menyerahkan sebuah buku untuk nya.
Dengan terpaksa ia pun menulis nomornya sendiri. Setelah itu ia menyerahkan nya pada ku lagi. Segera ku isikan sesuai dengan provider yang dia pakai dan nominal yang ia tulis.
Aku harap dia segera pergi setelah ini. Tapi kenapa dari tadi laporan transaksi belum juga dikirim sih?
__ADS_1
"Mungkin gangguan mas, tunggu saja!", pintaku.
"Tentu saya akan menunggu!", ia menyerahkan selembar uang berwarna merah padaku.
"Memangnya di dekat rumahmu tidak ada yang jual pulsa sampai kamu harus nyasar ke sini?", tanyaku penasaran.
"Aku...aku sekalian lewat aja sih!", jawabnya gugup.
Semoga ini bukan alasan yabg dibuat-buat. Mana si Imah lama lagi, laporan transaksi juga belum terkirim.
Ah...pasti mas Aziz sudah lihat cctv dari ponselnya nih. Sudah dipastikan, usai pulang dari Bogor dia bakal kembali cemburu. Padahal disini aku nggak ngapa-ngapain. Lebih baik aku duduk dekat stroller Diaz saja. Untuk menghindari fitnah tentunya. Baru saja mau berjongkok dekat Diaz, suara ulet bulu datang.
"Hai...calon madu!", sapanya. Dia langsung duduk di sebelah Fai. Fai yang awalnya menunduk memainkan ponselnya, kini beralih memandang ke arah samping nya.
Dia menatap Lili dari ujung kepala hingga ujung kaki. Karena merasa diperhatikan oleh orang di sebelahnya, ia pun membuka kacamatanya.
"Coba buka maskernya mas?!", pinta lili pada Fai. Dan herannya, Fai pun menurut saja. Dia membuka maskernya yang dari tadi menutupi hidung dan mulutnya.
"Waw...ganteng banget kamu mas....kenalan dong?!", kata Lili dengan suara dibuat manja.
Sayangnya, Fai hanya menakupkan kedua tangannya. Bagaimana reaksi Lili? Malu. Iya lah malu, dia udah menyodorkan tangan dengan jari lentiknya yang berwarna warni malah tak di gubris.
"Sudah masuk ya mas kuotanya!", kataku. Maksudku agar ia segera pergi dari sini.
"Iya. Makasih Di",jawbanya.
Kenapa Fai nggak pergi-pergi sih? Jangan sampai dia mendengar omongan Lili yang tidak karuan nanti.
"Kalau udah kenapa masih disitu?", tanyaku. Lili pun menatap ku.
Fai memandangku sebentar.
"Heh, jadi pedagang tuh yang ramah Diandra. Kaya gue dong?"
"Iya, makasih masukannya ya mbak Lili?!", suaraku aku tahan agar tidak mencolok jika aku sedang emosi .
Fai masih saja berdiam di bangkunya sambil memainkan ponselnya.
"Tumben Lo nggak nanya gue mau ngapain ke sini?", kata lili melipat kedua tangannya di atas etalase.
"Tidak perlu saya tanya, mbak Lili juga bakal bilang sendiri kan?"
Aduh....Fai, please pergi lah dari sini!
"Oke...oke...calon madu mungkin memang harus saling memahami ya Di?"
"Memahami apa ya mbak?", ah... aku pasrah kalau Fai sampai tahu urusan rumah tangga ku.
"Hahahah....sudahlah, tak penting itu!", jawabnya santai.
Dih... nggak jelas banget sih nih orang! Aduh, Imah...lama banget sih kamu belanja. Pasti jalan kaki nih!
"Lo tau Di...? Waktu terakhir Aziz belanja dia pergi sama Tati? Udah beres belanja, Aziz mampir apartemen gue lho!"
Degh....
Benarkah? Kenapa mendadak perasaan ku nggak enak.
__ADS_1
"Owh...iya, mas Aziz diminta Bu Tati buat bawa rawon kan?", aku mencoba mengingat-ingat alasan yang aku sendiri tak tahu. Tapi yang jelas waktu itu memang Imah bilang, ada kiriman rawon dari Bu Tati.
"Hahaha lugu sekali kamu Di. Masih saja mau dikibulin!"
"Dikibuli gimana?", aku jadi makin penasaran. Sedangkan Fai sedari tadi diam mendengarkan dua orang wanita pecinta Aziz.
"Ah...masa Lo nggak tahu sih, Lo nggak nyadar sama parfum Aziz ?"
"Kenapa dengan parfum mas Aziz?"
"Itu...wangi gue. Gue bercinta lagi sama laki Lo!", kata lili menyeringai.
Apa? Masa iya sih? Parfum? Bicara soal parfum, mas Aziz memang membelikan parfum yang cukup mahal untuk ku.
"Emang yang punya parfum begitu, cuma kamu mbak? Saya juga punya, malah mas Aziz yang beliin!"
Ayolah Diandra, sabar...jangan terpancing sama ulet bulu ini. Nanti kamu bisa tanyakan langsung saat mas Aziz di rumah.
"Ya...iya sih, tapi...kamu nggak liat tuh, di sekitar tengkuk suamimu...ada bekas tanda cintaku lho! Sebenarnya sih, gue udah nyuruh Tati buat rekam kegiatan kita berdua...bodohnya Tati, dia malah menghapus nya".
Apa katanya? Bu Tati terlibat?
"Hem...udah mengkhayalnya kan mbak? Kalau sudah tidak ada kepentingan silahkan pulang!"
"Diandra... Diandra...jadi istri kok polos banget sih? Lo tau nggak, kenapa gue terobsesi sama Aziz?"
Dia membisikkan sesuatu ke dekat telingaku. Mataku melotot seketika. Benar-benar sudah kelewat batas ulet bulu ini.
"Maaf mbak, silahkan kamu pulang dari sini!"
"Oke...gue pulang, tapi gue...bakal ke sini lagi karena detik ini gue belum ketemu sama Aziz, pujaan hati gue!"
Astagfirullah....terbuat dari apa mukanya itu, nggak ada urat malunya sama sekali.
Lili pun melenggang menuju mobilnya. Sedangkan Fai?
Fai menatap iba ke arahku!
"Di, apa dia selingkuhan Aziz?"
"Bukan urusanmu mas! Sudah selesai kan, silahkan kamu juga pulang!"
"Aku sudah pernah bilang sama Aziz, kalau dia berani sedikit saja menyakiti mu apa lagi membuat mu menangis, Aziz akan berhadapan dengan ku!"
"Kami pikir kamu siapa pas? Kenapa mau tahu urusan rumah tangga ku?"
"Karena aku masih mencintai kamu Diandra Saputri! Aku bahagia melihatmu bahagia, begitupun sebaliknya!"
"Berhenti mengeluarkan kalimat itu mas. Tiadk sepantasnya kamu mengatakan kata-kata itu kepada perempuan yang bersuami!"
"Aku tahu Di! Tapi...jika aku tahu lebih dari yang kudengar barusan, aku tak segan-segan membawa mu pergi dari Aziz!"
"Astagfirullah... istighfar mas. Kamu laki-laki berilmu, beriman. Apa pantas berkata seperti itu? Apa kamu mau merusak citra ustadz?"
"Aku bukan ustadz. Aku tidak ingin di panggil ustadz Diandra!"
"Pergilah mas! Pergi ku bilang!"
__ADS_1
Akhirnya Fai pun meninggalkan kios. Apa yang terjadi jika mas Aziz tahu semua ini?
Ya Allah....