
Deru mobil berhenti di depan rumah sederhana. Dadan baru saja memarkirkan mobilnya. Dengan langkah pasti, ia memasuki ruang tamunya yang bersebelahan tepat dengan warung nya yang saat ini cukup ramai.
Di ruang makan, ia menjumpai istri dan anaknya sedang makan siang berdua.
"Assalamualaikum!", Dadan memberi salam.
"Walaikumsalam!", sahut Imah dan Farhan kompak.
"Udah nyampe aja A?", tanya Imah.
"Iya. AA buru-buru pengen ngasih ini ke kamu Neng!",kata Dadan menyindir sebuah plastik kecil berisi beberapa tespek berbagai merek.
"Apa ini A?", tanya Imah. Dia tahu itu tespek, tapi buat apa suaminya memberikan alat itu padanya.
"Selesai makan, kamu coba neng!", wajah Dadan berbinar.
"Tapi kan.....", ucapan Imah tersendatnya.
"Udah, sekarang makan aja dulu Neng! Ayo Farhan, calon kakak harus kuat dan hebat ya!, kata Dadan mengusap kepala si sulung.
"Kakak? Maksudnya....Farhan mau punya adik gitu?",tanya Farhan memastikan.
"Ayah belum tahu Nak. Makanya, habis makan ibu suruh pakai alat ini."
"Alat apa itu yah?", tanya Farhan sangat ingin tahu.
"Alat tes kehamilan. Apa ibu hamil, apa belum!", sahut Dadan.
"Heummmm....semoga hamil beneran ya Bu!", sahut Farhan riang. Tapi... seketika wajahnya berubah sendu.
"Kenapa Han?",tanya Imah penuh perhatian.
"Kalo ibu punya anak sendiri, apa Farhan masih di sayangi?", tanya bocah tampan itu.
"Tentu saja, Farhan kan anak sulung ibu. Ibu tentu sayang dong sama Farhan, ayah juga begitu. Iya kan yah?", tanya Imah pada suaminya.
"Iya lah. Sampai kapanpun, Farhan anak ayah sama ibu. Farhan harus jadi anak lelaki yang tangguh. Melindungi orang-orang yang Farhan sayangi. Termasuk adik-adik nya Farhan kelak."
"Emang Farhan mau punya berapa adik yah!?", tanya Farhan lugu. Dadan tampak cengengesan. Sedang Imah berasa pengen nimpuk suaminya seandainya tak ada Farhan di antara mereka.
"Sedikasihnya Allah aja Han!" , kata Imah.
"Iya. Kalau adik Farhan banyak, Farhan janji akan melindungi mereka", kata Farhan sambil tersenyum senang.
Sepasang suami istri itu pun merasa bangga pada anak sulungnya.
"Farhan udah selesai yah, Bu! Mau bobo siang dulu ya."
Farhan pun berpamitan ke kamar nya. tinggallah sepasang suami istri itu di meja makan.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka berdua selesai makan siang. Imah membereskan piring-piring bekas mereka makan. Saat sedang mencuci piring, Dadan memeluk istri nya dari belakang.
"AA ...awas dulu ah! Imah belum selesai nyuci nya!"
"AA bantu ya?*.
"Ngga usah. AA cukup duduk, ngga usah meluk-meluk udah cukup membantu ku A". Perlahan Dadan melepas pelukannya. Lalu ia kembali ke meja makan.
Cukup lama Dadan menunggu istri nya mencuci peralatan dapurnya .
__ADS_1
''Kenapa A? Ada yang salah sama Imah,?"sadar saat suaminya memperhatikan nya.
"Kamu makin berisi ya neng?", kata Dadan sambil memangku tangannya di dagu.
"Piye ga bohay, saben Dino gur mangan turu!", sahut Imah sambil manyun. Tapi Dadan justru terkekeh mendengar jawaban istrinya. Akhirnya urusan percucian pun selesai.
"Ayo Neng!", Dadan menyeret Imah ke kamar mandi
"Sabar atuh AA!", kata Imah tapi tetep aja Imah mengekor.
Dadan menyerahakan tiga buah tespek dengan merk yang berbeda kepada Imah.
"Banyak amat sih A?", kata Imah kesel.
"Bisa pakai nya kan? Biar akurat neng kalau banyak begitu!", ujar Dadan.
"Iya....iya....!", Imah pun beranjak ke kamar mandi.
"Perlu aa temenin nggak neng?", ledek Dadan.
"Ora usah! Seng Ono gak jadi pake tespek malahan!", sahut Imah. Lagi-lagi Dadan hanya tertawa mendengar sahutan istrinya yang kini sudah berada di dalam kamar mandi.
Lima menit berlalu, tapi Imah tak kunjung keluar.
"Udah belum neng? Kok lama sih!", teriak Dadan. Tak lama kemudian, Imah pun keluar dari kamar mandi.
Lalu menyerahkan tiga buah tespek itu.
Di lihatnya, hanya ada satu garis yang jelas terlihat. Nampak raut kecewa di wajah Imah. Tapi Dadan tak ingin istrinya terlalu stres. Mungkin Imah benar, ia hanya masuk angin.
"Imah ke kamar A!", kata Imah lesu. Kecewa? Mungkin begitu.
Dari pada penasaran, Dadan pun menghubungi dokter Mika. Meskipun dia bukan dokter kandungan, tapi dia pasti tau Jawaban dari pertanyaan nya itu.
[Assalamualaikum dokter Mika]
[Walaikumsalam,kang Dadan. Ada apa?Tumben telpon Mika?]
[Sibuk nggak dok?]
[Nggak sih, barusan ada pasien, kenapa kang?]
[Ini dok, em....Imah kan barusan pakai tespek. Nah garis merahnya yang tebel satu, terus di bawahnya lagi ada garis tapi tipis nggak jelas gitu. Artinya apa itu? Positif apa negatif?]
[Beneran? Wah.... Alhamdulillah. Insyaallah positif kang! Bawa aja Imah ke sini, priksa ke dokter kandungan yang kemarin nanganin diandra. Namanya dokter Lala. Kalo ma nanti mika daftarin deh]
[Serius Mika????]
Pekik Dadan.
[Tadi aja dak dok dak dok, sekarang Mika doang!]
[Hahahah abisnya saya teh seneng pisan.]
[Iya...iya...ya udah, kalau mau ke sini. Kabarin mika aja, biar mika daftarin ke dokter Lala.]
[Siap dok! saya bilang imah dulu ya!]
[Iya kang Dadan tea!]
__ADS_1
[Hahah dokter Mika bisa aja. Ya udah, makasih ya. Assalamualaikum!]
[Walaikumsalam]
Dadan setengah berlari menuju kamar nya. Dilihatnya sang istri yang sedang rebahan.
"Neng....kita ke dokter sekarang, Mika mau daftarin ke dokter Lala untuk periksa kandungan kamu!",kata Dadan antusias.
"Apaan sih A, nggak usah ngada-ada. Nanti kalau udah waktunya kita punya anak juga di kasih sama Allah A!", kata Imah lesu.
"Neng! Lihat....ini yang satu garisnya samar. Kata dokter Mika itu artinya positif neng! Makanya sekarang kita ke dokter ya!", bujuk Dadan.
"Masa sih A? Imah beneran hamil?", tanya Imah pada suaminya sambil mengelus perut nya yang rata.
"Insyaallah Neng! Ayo lah, kita bersiap ke sana neng! Ajak Farhan juga]
"Ya udah , Imah ganti baju dulu."
"AA tunggu di luar ya! Sambil kasih tahu Farhan!"
"Iya A."
Dadan menuju kamar Farhan untuk mengajak nya ke rumah sakit. Tak lupa Dadan mengirim chat kepada Mika. Wajah Dadan senantiasa berbinar. Bahagia bukan kepalang, tak hentinya ia mengucapkan handal berulangkali.
.
.
Seorang pria berjas hitam dan berkaca mata sedang menyambangi bosnya yang saat ini tengah berada di bui.
"Siang bos!", sapa pria itu kepada Ronald.
"Heum! Kamu tahu apa tugas mu?", tanya Ronald.
"Siap bos! Hanya saja, saya menunggu waktu yang tepat untuk memulai pergerakan!", sahutnya tegas.
"Atur saja bagaimana baiknya menurut mu. Tapi...kau mau memulai dari mana?", Ronald menyilangkan tangannya di dada.
"Saya pikir, dari tempat mertuanya saja dulu bos. Setelah itu, baru suaminya. Karena setahu saya, putri anda akan segera melangsungkan pernikahan di Singapura. Tunggu sampai menantu anda lengah, tidak mendampingi Aziz bos!"
"Kalau tak ingat Sharen sangat mencintai Julian, sudah ingin ku habisi saja bocah pengkhianat itu!" Ronald mengepalkan tangannya.
"Saya rasa tidak dalam waktu dekat ini kita memulainya bos. Saya akan mencari celah dulu di kota tempat mertua dan kakak iparnya tinggal."
"Habisi mereka sebisa mungkin tanpa jejak!", titah Ronald.
"Tentu saja bos!"
"Dan satu lagi! Buat kecelakaan Aziz yang tidak bisa terdeteksi itu sebuah kesengajaan. Biar dia mati saja karena dia sudah berani-beraninya menjebloskan ku di sini. Buat kematian Aziz seperti murni kecelakaan, seperti halnya kecelakaan yang menimpa Mutiara dan Dirham!", kata Ronald.
"Siap bos!", sahut pria itu. Lalu Ronald mengibaskan tangannya menandakan ia mengusir pria itu.
Diandra, lihatlah setelah ini kamu akan merasakan seperti apa kehilangan orang-orang yang kamu sayangi seperti halnya aku yang kehilangan Margaretha dan kedua orang tuaku! Batin Ronald. Setelah itu petugas sipir kembali membawa Ronald masuk ke ruang tahanan nya.
*****
π€π€π€π€segini ae dulu ya man teman π
semoga tak mengecewakan. Maapkeun kalo banyak typo, tapi mamak rasa paham lah maksudnya βοΈ maturnuwun π
__ADS_1