
"Kalau mas ke depan, bilangin Imah suruh sarapan mas!"
"Iya. Nanti mas bilangin."
"Ayah ke depan dulu ya nak. Jagain bunda sebentar kalau ayah lagi nggak sempet."
Diaz hanya menggerakkan kaki dan tangannya serta berceloteh riang khas bayi.
Aziz pun meniggalkan dapur menuju kios.
"Mah, di suruh sarapan sama mbak mu!", kata Aziz saat masuk ke dalam kios.
"Siap bos!", kata Imah sambil berlalu ke dalam rumah.
"Faiz , kalau mau sarapan sama Tante Imah juga nggak apa-apa?! Ajak Faiz makan mbak Hayu!"
"Faiz udah makan tadi mas! ",jawab Hayu pelan.
"Owh...ya sudah!", Aziz duduk di etalase, sambil sesekali menyentuh barang dagangan yang ada di etalase. Meskipun sebenarnya sudah rapi.
"Assalamualaikum!", sapa seseorang tiba-tiba, siapa lagi kalau bukan si jomblo akut.
"Walaikumsalam!"
"Bagi sarapan dong. Gue kangen masakannya Dian!", kata Fai santai.
Sontak, wajah Aziz memerah.
"Lo kan anak Sultan, beli aja sono di restoran mana kek atau d rumah sakit mana kek. Pagi-pagi udah nodong aja dirumah orang. Emak Lo kagak masak???"
Gimana mak nya mau masak, art nya aja banyak.
"Kagak, Lo kan tau Mak gue.... Ayolah Ziz, bilangin Dian deh... bikinin bekel buat gue!", Fai menyerahkan tuperware nya pada Aziz.
"Beneran Lo ya nggak punya malu. Tebel amat sih nih muka. Niat banget sih Lo minta makan ke sini!"
"Ayolah Ziz...gue udah mau telat ini. Sengaja ke sini buat ambil mobil gue!"
"Iya...iya... besok-besok minta aja sono sama dokter Mika. Jangan sama bini gue!", kata Aziz ketus. Fai merasa menang saat Aziz kembali ke rumah sambil membawa kotak nasinya .
__ADS_1
Kini, di kios hanya ada Hayu dan Fai. Mereka sama-sama terdiam, hanya melempar senyum saat baru datang tadi.
Karena merasa tidak nyaman berdua dengan Hayu, Fai pun meminta ijin ikut masuk ke dalam rumah.
"Maaf mbak. Saya ikut masuk aja ya lewat sini. Permisi!", Fai mendorong etalase lalu dia pun menyusul Aziz.
"Ini dek, Fai minta bekel. Sekalian ambil mobil katanya!", baru saja Aziz menyerahakan kotak nasi itu padaku, Fai tiba-tiba ada di belakang mas Aziz.
"Eh .. ngapain Lo ikut masuk. Tunggu aja di luar sana!",usir mas Aziz.
"Lo tega ya, biarin gue berdua sama Hayu. Nggak mau ah gue?!"
"Kenapa?"
"Nggak enak aja lah!"
"Kalau Ama Imah kenapa enak-enak aja, malah suka usil ke Imah?", tanya Imah yang sedang duduk di meja makan.
"Ya...kamu kan beda imah."
"Iya...Imah beda. Wong mbak hayu cantik kaya bule, Imah nya jelek plus Jawir lagi."
"Nah...nyadar kan?", sahut Fai.
"Ya udah aku bungkusin, biar dia cepet-cepet pergi dari sini ", sahutku santai sambil meletakkan nasi dan kawan-kawannya ke kotak nasi Fai. Aziz dan Imah sama-sama menahan senyum nya.
Berbeda dengan Fai, dia malah memanyunkan bibirnya.
"Kamu ngusir aku Di?"
"Ngusir sih nggak. Tapi ini kan udah siang banget, emang kamu nggak ke sekolah?"
Fai menepuk jidatnya sendiri.
"Iya... anak-anak ulangan jam sembilan!", Fai baru ingat jika hari ini jadwal anak didik nya ulangan.
Tiba-tiba Aziz mau masuk ke kamarku.
"Mas, mau ngapain ke kamar? Ini Diaz nya?", tanyaku.
__ADS_1
"Panggilan alam dek."
"Mas Aziz mah, hilang kan selera makan Imah!", kata Imah.
"Kan di kamar mandi kamar gue, bukan di situ Jawir. Udah ah!"
"Sini deh , Diaz sama papa. Biar bundamu cepet selese nyiapin bekel papa."
"Dih...mbak Dian, kaya punya dua suami hihihihi.....", ledek Imah di sela-sela makannya.
"Amit-amit Mah, nauzubillahimindzalik!", kataku sambil melirik ke Fai. Fai malah semakin membuatku merasa ogah banget dia kelamaan di sini.
"Kunci mobil ku mana Di?", tanya Fai.
"Iya , bentar aku ambilin!"
Aku pun mengambilkan nya di gantungan khusus kunci-kunci.
"Ini mas!", aku menyerahkan kunci itu pada masa Fai. Disaat yang bersamaan, mas Aziz pun keluar dari kamar dan Imah juga selesai mencuci piring bekas ia makan.
"Papa berangkat dulu ya sayang....!", Fai menciumi Diaz.
"Siniin anak gue. Lo bikin aja sama Mika sana!"
kata Aziz ketus.
Mata Fai tertuju pada leher Aziz. Ada sedikit tanda merah, meskipun kecil. Tapi karena kulit Aziz yang putih, terlihat kontras dengan bekas merah itu. Ditambah, Aziz memakai kaos berwarna hitam. Seketika otak Fai pun traveling.
"Lo...abis di gigit drakula Ziz?", tanya Fai sambil melirik ku.
Hah? Apa katanya? Batinku.
Astagfirullah...beneran!
"Apaan sih???", Fai pun menyeret Aziz dari dapur menuju kios. Imah membawa Diaz mendahului mereka.
"Maksud Lo apa ngomonh gue di gigit drakula?", tanya Aziz bingung.
"Noh...bekas di gigit Dian semalaman ya? Njir...otak gue traveling tau!", bisik Fai.
__ADS_1
Aziz baru 'ngeh' dengan ucapannya Fai. Pantas saja Fai bilang di gigit drakula, jejak cinta nya Dian memang ya....
"Dasar otak mesum Lo.....!"