
"Kita masuk yuk,Di!", pinta Mika padaku. Tapi aku menggeleng pelan.
"Aku takut mas Aziz menolak ku Mika....", kataku lirih. Mika mengusap bahuku.
"Jangan berprasangka buruk Di, kamu lihat kan mas Fai saja masih di dalam? Berarti mas Aziz sudah jauh lebih baik!", kata mika membuat ku setenang mungkin. Aku kembali menggeleng.
"Kamu saja duluan yang masuk Mika. Aku di sini saja!",tolakku.
"Tapi Di....!", kalimat Mika menggantung.
"Aku nggak apa-apa, serius. Masuk aja dulu. Nanti kalau mas Aziz memang sudah benar-benar menerima ku masuk, aku bakal masuk!"
Kasian sekali kamu Di, batin Hayu.
"Ya udah, aku masuk bentaran ya?", pamitku.
Aku mengangguk setuju. Selang beberapa lama, Mika pun masuk ke ruang rawat mas Aziz.
"Sayang, kamu masuk? Diandra mana?", tanya Fai pada mika. Bukannya menjawab, Mika malah menatap Aziz.
"Sayang?",Fai mengelus lengan istrinya.
"Diandra takut kalau mas Aziz melarangnya masuk mas ....!", jawab Mika.
"Astagfirullah!", desis Aziz. Begitu pula Fai.
"Lo lihat sendiri Ziz? Dian sampe takut ketemu Lo? Takut dapat penolakan dari Lo!", kata Fai. Aziz tertegun.
"Kamu ajak Dian masuk mas, bujuk Dian. Dia hanya ingin memastikan kalau mas Aziz nggak ngelarang Dian ketemu!", pinta Mika. Fai ragu-ragu untuk menuruti perintah istrinya.
"Mas....!", Mika menggoyang lengan suaminya.
"Lo jelas ngijinin bini Lo masuk kan Ziz, nggak harus minta ijin juga kan?", tanya Fai.
Aziz menghela nafasnya.
"Tentu saja, aku ingin bertemu istriku. Mana mungkin aku menolak bertemu dengannya!", jawab aziz lirih.
Fai pun keluar dari ruangan. Sedang Mika menemani Aziz.
"Mas, semangat lah untuk sembuh. Jangan biarkan Diandra seperti ini lagi. Aku tahu, fisikmu sakit. Mental mu cukup terguncangnya karena kehilangan orang-orang yang kamu sayangi. Tapi....Diandra, dia nggak punya siapa-siapa selain kamu dan Diaz. Apa jadinya jika mentalnya...maaf... kembali terganggu?"
"Aku...aku hanya merasa tak pantas jika Dian masih mempertahankan ku Mika. Pria cacat! Gimana mau menjaga mereka?"
"Jangan berpikir begitu lah mas! Kalian suami istri?! Harus saling mendukung satu sama lain. Kami sakit, Dian pun merasakan sakit nya! Aku lihat sendiri gimana sakitnya Dian mas! Tolong....jangan membuat Dian tertekan dengan persepsi nya sendiri. Katakan, kamu menginginkan nya mendampingi selama hidupmu!"
Di luar ruangan....
Aku mendongak, menatap siapa yang keluar dari ruangan mas Aziz.
"Mas....!", panggil ku lirih. Mas Fai duduk di sebelah ku.
"Kenapa kamu nggak ikut masuk?", tanya Fai menatap ku. Aku menggeleng.
"Aku di sini saja, menjaganya dari jauh. Aku takut dia menolak keberadaan ku!"
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?"
"Kamu lihat reaksinya tadi kan, dia meminta ku keluar dari ruangan nya?"
Aku mendengar Fai menghela nafasnya.
"Itu tadi, sudah lama Di. Dia hanya kalut dengan situasi yang baru ia hadapi. Tapi sekarang dia lebih tenang Di. Bisa menerima kenyataan, meskipun menyakitkan baginya. Buktinya, aku dan mika masuk aja nggak apa-apa kan?"
__ADS_1
"Tapi kamu tak terlibat mas. Aku pasti penyebab semuanya kejadian ini!"
"Cukup Dian! Berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Ayo, masuk lah! Aziz ingin bicara dengan mu! Bukannya kamu sangat merindukan kebersamaan mu dengan nya?"
Aku membeku di tempat.
"Jangan ragu, Aziz ingin kamu menemui nya. Kamu nggak akan dapat penolakan darinya." Fai mengusap kepala ku. Entah, sejak dulu....usapan lembut dari Fai membuat ku tenang. Astagfirullah....
"Awas mas!", ku tepis tangannya dari kepalaku.
"Maaf!", kata Fai lirih. Rasa bersalah menyeruak di dada Fai.
"Kamu masuk dulu, aku di belakang!", kata Fai. Akhirnya aku pun bangkit dari kursi ku. Begitu pula mas Fai, ikut di belakang ku.
Kami berdua masuk kedalam ruangan mas Aziz. Mas Aziz menatap ku sendu.
"Dek....!", panggil nya lirih. Aku pun menghampiri nya. Mas Fai pun menghampiri mika.
Mas Aziz menggenggam tanganku.
"Maaf, aku menyakiti mu Dek!", kata Aziz pelan. Kulihat buliran bening keluar di sudut matanya. Cepat-cepat ku hapus tetesan air mata itu. Aku menggeleng pelan.
"Aku selalu memaafkan mu. Aku bisa menerima kemarahan mu, tapi aku nggak bisa kalau harus menjauh dari mu mas. Aku nggak bisa kalau....kalau...kamu sudah nggak menginginkan ku mas. Aku nggak bisa hiks....hiks...."
"Dek, mas ingin selalu bersama mu! Kita akan menua bersama-sama!", kata Aziz lirih. Mika mengeratkan pelukannya kepada sang suami. Dia merasa terharu dengan apa yang dia lihat di hadapan nya.
Aku menghambur ke pelukan nya. Ku takupkan tanganku di kedua pipinya.
"Makasih mas....!", kami saling menatap.
"Fai, Mika. Terimakasih!", kata Aziz. Keduanya mengangguk.
"Diaz mana dek?"
"Ya Udah,kami mau ke kantin dulu ya. Mau beli makanan buat buka puasa. Kamu mau nitip Di? Kamu emang nggak puasa, tapi kamu sama sekali nggak makan!", ucap Fai.
"Boleh mas, apa aja terserah deh!", jawabku.
"Ya udah mas, kita beli es buah saja. Biar Diandra seger!"
"Apa saja Mika. Tapi santai aja, kalian solat aja dulu, baru ke sini lagi!"
"Emang kamu nggak laper?", tanya Mika.
"Aku bisa minum seberapa pun yang aku mau, sekarang juga bisa. Pergilah, aku nggak bakalan kelaparan juga kali Mika....!"
Sepasang suami istri itu tersenyum.
"Ya udah, kami keluar ya. Ziz, awas aja kalo sikap Lo kaya tadi lagi. Gue pithes ntar!", ancam Fai.
"Hemmm!", sahut Aziz.
Alhamdulillah, mas Aziz sudah jauh lebih baik. Sekeluarnya Fai dan Mika. Ada perawat yang mengecek kondisi mas Aziz. Semula berjalan dengan baik.
"Hari ini dokter Revan selesai tugas ya Bu, jadi nanti ada Dokter pengganti yang menangani pak Aziz untuk sementara!", kata Perawat.
"Iya sus. Terimakasih!", jawabku.
"Kalau begitu,saya permisi pak...bu!", aku dan mas Aziz mengangguk.
"Dek...!", panggil mas Aziz.
"Iya mas!", aku menggenggam tangan nya lagi.
__ADS_1
"Kamu nggak malu ,suami mu ini sekarang.....!", kalimat Aziz menggantung.
"Psssstttt....!', ku letakkan telunjuk ku di bibir seksinya.
"Jangan bicara begitu mas. Kamu pasti sembuh! Kita bisa berobat ke luar negeri kalau perlu. Aku menerima apa pun keadaan mu, seperti kamu yang sudah menerima kekurangan ku!"
"Mas pengen peluk kamu....dek!", katanya manja. Aku tersenyum tipis. Sekarang aku yang merebahkan diri di dada mas Aziz, meskipun aku harus berhati-hati. Takut menyakiti tubuhnya.
Mas Aziz mengecup puncak kepalaku, mengusapnya dengan penuh cinta.
"Mas merindukanmu dek!", bisiknya pelan.
"Aku akan selalu mendampingi mu mas. Aku nggak akan biarkan kamu sampai merindukan ku!", kataku. Ku kecup keningnya yang masih sedikit lebam. Mas Aziz pun tersenyum.
Tok...tok...
Aku bangkit dari dada mas Aziz, seperti nya ada yang masuk. Benar saja, Imah dan Dadan masuk ke ruang rawat mas Aziz.
"Mas....!", sapa Imah sambil tersenyum.
Ingat Imah, jangan ingatkan tentang mama Farah! Nasehat Fai menggema di telinga Imah saat bertemu mika dan Fai tadi.
Dadan dan Imah menghampiri kami berdua. Imah menghambur ke pelukan mas Aziz.
"Alhamdulillah, mas kamu udah siuman!", kata Imah.
Mas Aziz mengangguk pelan.
"Maaf mas, kami baru sempat ke sini!", kata Dadan.
"Nggak apa-apa dan. Makasih, udah jagain Imah. Udah mengurus pemakaman mama.....!", kata Aziz. Imah membelalakan matanya.
"Mas udah ikhlas Mah, Dan!", kata Aziz. Tapi kini justru Imah yang menangis di dada mas Aziz.
"Mas, mas keluarga Imah satu-satunya. Tolong...jangan pernah tinggalin Imah!", imah tersedia di dada suamiku. Aku terharu dengan hubungan mereka. Meskipun mereka hanya sepupu, tapi mereka seperti adik dan kakak kandung.
"Iya Mah!", Mas Aziz mengusap kepala Imah.
"Kamu jaga kandungmu ya Mah!", titah Aziz. Imah pun mengangguk.
"Kamu bawa apa?", tanya Aziz. Karena ia meliha Dadan seperti membawa sesuatu yang cukup besar.
Imah tersenyum.
"Kue ulang tahun buat kakak ipar ku yang paling cantik!", kata Imah riang. Aku mengernyitkan alisku. Mas Aziz membeku.
Lalu, Imah mengeluarkan kue itu dari box nya.
Ulang tahun? Sekarang yah? Tanyaku sendiri.
"Selamat ulang tahun mbak Ku....!'', kata imah. Meskipun ku lihat ada setitik air di ekor matanya.
''Makasih Mah....!" kataku tak kalah terharu.
Aku pun meniup lilin, dengan kue yang berada di atas tubuh mas Aziz.
"Dek, maafin mas.... seharusnya....!"
"Nggak apa-apa mas. Nggak usah mikir yang aneh-aneh! Aku hanya berharap, kamu segera pulih agar kita bisa kumpul lagi seperti dulu!", kuusap pipinya.
"Harusnya mas ngasih kamu hadiah spesial....bukan seperti ini....!", kata Aziz sendu. Imah sudah meletakan kuenya. Imah juga nampak terharu melihat kedua kakaknya itu.
"Hadiah terindah ku adalah....kamu baik-baik saja mas! Itu hadiah terindah dari Allah. Entah apa yang akan terjadi jika kamu nggak ada bersama ku mas....!", kataku. Mas Aziz pun tersenyum.
__ADS_1