
Beralih ke kisah Damar sama Hayu, bentarrrr....aja....
****
[Mbak Hayu, kita tutup aja dulu ya. Kami ada urusan. Sekalian mbak Hayu istirahat]
Hayu membaca pesan hijau dari bos nya itu.
[Iya] jawabnya singkat.
Semalaman Faiz terlalu lelah, jadi di jam yang hampir jam tujuh Faiz belum bangun. Kebetulan sekali bos nya meminta hari ini untuk kembali libur.
"Umi...!"
"Eh, anak umi udah bangun."
"Iya mi. Em...umi...tadi Faiz mimpi."
Hayu memangku anak lelakinya.
"Mimpi apa?", tanya Hayu antusias.
"Mimpi makan ayam goreng yang kaya umi suka bikin."
"Oh...gitu, emang Faiz pengen makan ayam goreng bikinan umi?"
"Pengen Mi. Tapi...nanti aja kalau umi udah punya uang."
Hayu mengusap rambut anaknya. Sejak bekerja di kios Aziz, kehidupan Hayu mulai membaik. Memang, dalam sehari ia hanya dapat uang lima puluh ribu. Tapi, sering bahkan hampir tiap hari dia mendapatkan lauk untuk makan siang dan makan malam , berdua dengan Faiz. Jadi, uang yang dia dapatkan sehari-hari bisa ia kumpulkan. Nanti, jika kompensasi dari yayasan terhenti, uang itu bisa ia gunakan.
"Umi punya uang kok. Dan...umi juga udah beli ayamnya, tinggal di masak deh!"
"Beneran Mi? Asyiiiikkkkk!", Faiz bersorak girang.
"Ya udah, Faiz mandi dulu. Umi mau masak ayam goreng kesukaan Faiz."
"Satu lagi mi....!"
"Apa?"
"Sama sayur bayam boleh nggak mi?"
"Em...boleh nggak ya????"
"Kalau nggak ada bahannya ya nggak usah deh mi."
"Ada dong....!", sahut hayu.
"Yeyeyey.... makasih umi ku yang paling cantik!"
"iya sayangku....! Mandi gih!"
"Abis mandi main ke depan boleh kan mi? Sambil nunggu ayam Mateng."
"Di depan rumah aja ya, biar kalau udah Mateng umi panggil."
"Siap umi.....!"
*****
"Selamat pagi Om!", sapa damar.
"Selamat pagi. Siapa?"
"Damar om!"
Stevan pun berpindah dari ranjangnya menuju balkon.
"Kenapa Dam?"
"Saya sudah tahu di mana Stevi tinggal om. Mungkin...kita bisa sama-sama ke sana."
"Apa Stevi mau menemui om? Menemui kamu?"
"Kemarin, saya dan Stevi menghadiri pernikahan adiknya Aziz om. Kami satu mobil dan...saya yang mengantar Stevi pulang."
"Benarkah?"
"Iya om."
"Kalau begitu berikan alamatnya, kita bertemu di sana."
"Saya kirimkan alamatnya om. Tapi....."
"Tapi apa?"
"Kontrakan hayu tidak bisa di lewati mobil om. masuk gang nya kecil om."
Apa? Stevi tinggal di gang sempit? Mustahil! Apa anak itu benar-benar sudah berubah?
__ADS_1
"Tapi masih bisa di lewati sepeda motor bukan?"
"Bisa saja om, hanya saja... sedikit sulit karena jalan di kampung itu banyak penduduk yang bolak-balik om."
Ya Tuhan.....! Stevan mengusap wajahnya.
"Baiklah. Kita bertemu di sana."
"Baik om!"
Kini Stevan berbalik menuju kamar mandi.
"Sayang....!", panggil Lili. Stevan menghentikan langkahnya. Seperti nya bukan ide yang bagus jika Lili mengetahui rencananya untuk bertemu Stevia. Lili masih belum bisa menerima Stevia.
Stevan pun berbalik ke tempat tidurnya lagi.
"Kenapa?", tanya Stevan pada lili yang masih bergelung di bawah selimut.
"Masih pagi, mau kemana?"
"Ada meeting sama klien."
"Tapi aku masih mau di temenin sayang....!", kata Lili manja yang kini malah bergelayut di lengan Stevan.
"Tapi aku ada urusan Lili." Ucap Stevan sehalus mungkin.
"Oke...oke...tapi, boleh kan kalau aku minta....sekarang?", goda Lili. Meskipun usia Stevan sudah tak lagi muda, nyatanya dia masih sanggup memuaskan istrinya yang seumuran dengan putrinya itu.
Stevan menghela nafas.
"Tapi, setelah ini aku benar-benar ada urusan dengan klien."
"Iya sayang...iya....!"
Dengan terpaksa, Stevan pun memenuhi keinginannya istrinya tersebut.
*****
Faiz berlarian di halaman rumah, tepatnya di jalan kecil depan rumahnya. Faiz dan beberapa temannya saling kejar mengejar.
Tanpa sengaja, Faiz menabrak seorang laki-laki.
Bugh.... Faiz pun terjatuh dan menangis.
"Huhuhuhu sakit...!", Faiz mengusap pantat nya. yang menabraknya pun mengangkat tubuh Faiz.
"Maafin om Faiz!", kata Damar. Ternyata Faiz menabrak Damar.
"Sakit ya? Coba om lihat? Om dokter lho!", kata Damar sambil memeriksa apakah ada luka di tangan atau kaki Faiz. Tapi ternyata tidak.
"Om mau ke mana?"
"Kerumah Faiz. Umi nya ada di rumah? Tadi om ketempat dek Diaz, kios nya tutup."
"Iya, umi libur om."
"Oh, berarti umi di rumah dong?"
"Iya. Faiz pengen makan ayam goreng. Tadi Faiz udah nanya kok apa umi punya uang buat bikin ayam goreng sama sayur bayam, katanya punya. Ya udah, Faiz main dulu sambil nunggu masakan umi Mateng."
Ya Allah, Stevi...kamu bisa melewati semua ini? Batin Damar.
Putri ku tinggal di tempat seperti ini? Bahkan rumah art ku saja jauh lebih layak di bandingkan tempat ini. Maafin Daddy nak?! batin Stevan.
"Kakek itu? Ikut ke sini om?", tanya Faiz yang masih ada di gendongan Damar.
Damar pun menengok ke arah Stevan.
"Oh, iya. Kakek itu... bapaknya umi, Faiz."
Faiz terdiam. Dia masih ingat, laki-laki tua itu yang bikin umi nya nangis waktu di rumah Tante mika.
"Bapak nya umi? Tapi ...kakek ini nggak akan bikin umi nangis lagi kan om?", wajah Faiz terlihat muram.
Damar dan Stevan saling berpandangan.
"Insyaallah nggak Faiz."
Damar berusaha meyakinkan Faiz.
"Faiz nggak suka lihat umi nangis."
Stevan dan Damar saling tatap.
Faiz meminta turun dari gendongan Damar. Lalu mengacungkan tangannya ke arah Stevan, minta untuk bersalaman.
"Maafin Faiz kek, udah bersu'udzon sama kakek. Umi bilang, berprasangka itu harus yang baik-baik!", kata Faiz. Spontan Stevan menerima uluran tangannya tersebut.
Ada rasa sesak di dada Stevan. Putrinya benar-benar sudah berubah saat ini.
__ADS_1
"Maafin kakek yang sudah membuat umi menangis waktu itu."
Faiz pun mengangguk.
"Ya udah om, kita masuk yuk. Pasti umi udah selesai masak."
Stevan dan Damar pun mengikuti langkah Faiz.
"Assalamualaikum....umi....!", panggil Faiz.
"Walaikumsalam", sahut Hayu dari dapur.
"Umi...udah Mateng kan masakan umi?", tanya Faiz.
"Udah dong sayang. Udah laper banget ya?", tanya Hayu sambil mengusap pipi Faiz.
"Iya, laper banget. Oh iya mi, tebak Di depan ada siapa?!"
Hayu mengernyitkan dahinya.
"Memang ada siapa?"
"Om damar!"
Mau apa lagi sih laki-laki itu kemari? Batin Hayu .
"Om damar nggak sendirian mi, sama kakek!"
"Kakek siapa?"
"Bapak nya umi lah....kok umi nggak pernah bilang kalau Faiz punya kakek?"
Daddy? Damar sama Daddy ke sini? Mau apa mereka?? Tanya Hayu dalam hati.
"Ayok mi...temuin mereka....!", Faiz menarik tangan uminya.
Sesampainya di ruang tamu, pandangan Hayu tertuju kepada dua pria yang sangat ia benci dan amat sangat ingin ia lupakan!
Tapi, tidak dipungkiri. Kehadiran mereka seperti sesuatu yang sangat....entahlah. Hayu sendiri tidak mengerti.
"Mas Damar, Daddy?", kata Hayu pelan. Hayu mencoba meredam gejolak hatinya di hadapan Faiz. Dia tidak ingin membuat Faiz berpikir yang buruk. Karena Faiz adalah satu-satunya hal yang paling berharga saat ini untuk nya.
"Stev, apa kabar nak?", tanya Stevan. Damar tidak ingin basa-basi, karena kemarin sehari penuh ia bersama Hayu dan Faiz di acara pernikahan Dadan dan Imah.
"Alhamdulillah baik. Tapi maaf, panggil saya Hayu. Itu nama saya sekarang!"
Saat ini, ketiganya tengah duduk di kursi yang sudah usang. Hati Stevan terasa nyeri luar biasa. Harta yang berlimpah miliknya, yang seharusnya menjadi hak Stevi...justru sama sekali tidak Stevi nikmati. Stevi tinggal di tempat seperti ini.
Tiba-tiba Stevan bangkit, dan menghambur memeluk putrinya.
"Maafkan Daddy nak...maaf....n!", ucap Stevan tergugu di bahu Hayu. Hayu pun membeku.
Untuk beberapa saat, suasana hening.
"Umi....Faiz laper....!" kata Faiz memecah keheningan. Stevan pun melepaskan pelukannya dari Hayu.
"Kita makan dulu nak!", kata Hayu.
"Kakek sama om damar ikut makan kan? Masakan umi enak banget lho?"
Damar dan Stevan saling melempar pandangan.
Setelah beberapa saat, Hayu sudah selesai menyiapkan makanan di tikar.
"Maaf, saya tidak punya meja makan yang mewah seperti di rumah kalian."
Stevan menelan Saliva nya. Ucapan Hayu memang pelan, tapi sangat menusuk hatinya.
Mereka makan dalam diam. Sampai akhirnya, mereka berdua berpamitan.
"Daddy akan sering kemari Nak!"
"Untuk apa?"
"Masih ada yang harus Daddy bicarakan. Hari ini, kamu sudah bersedia menemui Daddy saja...Daddy sudah bahagia."
Hayu hanya tertunduk.
"Apa nama kakek Dedi?", tanya Faiz lugu.
Hayu mengusap rambut anaknya.
"Daddy itu...artinya bapak atau ayah Faiz!", kata damar.
"Owh.....!"
Stevan dan Damar keluar dari rumah Hayu dengan sedikit kelegaan. Minimal, mereka bisa bertemu dengan Hayu tanpa penolakan.
*****
__ADS_1
Drama Damar belum di mulai ya gaes 🤗