Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 261


__ADS_3

Saat ini mas Aziz sudah berada di ruang rawat seperti yang Julian pesan. Kamar yang luas, di fasilitasi dengan nakas yang lumayan besar pula. Ada televisi, sofa dan kulkas pula. Jika pun ada yang mau menginap, ada area yang bisa di pakai untuk menggelar kasur lantai, misalnya.


Usai perawat membereskan alat-alat medis yang terpasang, aku bisa duduk di samping mas Aziz yang masih terpejam.


"Sus, apakah suami saya sudah sadarkan diri sebelum nya?", tanya ku pada suster satu.


"Sempat memanggil nama anda nyonya, setelah itu beliau kembali tenang", jawab suster satu.


Aku mengangguk tipis. Mas Aziz sudah ganti memakai baju pasien yang seperti kimono itu.


"Sus, suster yang menggantikan pakaian suami saya?", tanyaku. Kedua perawat itu saling berpandangan.


"Iya Bu. Sudah tugas dan tanggung jawab kami!" jawab perawat dua.


Aku tersenyum simpul. Kenapa harus bertanya seperti itu sih? Hihihi jangan bilang aku cemburu jika ada yang melihat fisik suamiku.


"Terima kasih sus. Kalian berdua tetap jadi perawat suami saya selama di rumah sakit ini kan? Maksud saya, kalian tidak pindah ruangan atau tugas di lain tempat?"


"Tidak Bu. Kami bertugas di IGD Bu", jawab suster dua.


"Kalau saya meminta kalian yang berjaga di sini kepada pihak rumah sakit boleh?", tanyaku.


Keduanya saling berpandangan.


"Kami tidak tahu Nyonya", jawab perawat satu.


"Oh ya sudah, terimakasih sekali lagi sus."


"Kalau begitu, kami permisi Nyonya!", kata dua perawat itu.


Aku mengangguk tipis. Sekeluarnya dia perawat itu, aku duduk sambil mengusap pipi suami ku yang masih lebam.


"Sakit ya mas?", tanyaku. Meskipun aku tahu, kamu nggak akan jawab sekarang.


"Kamu harus bangun mas. Harus sehat. Karena ada aku dan Diaz yang sangat membutuhkan mu!", kuusap lagi kepalanya. Ku kecup kening suamiku. Tak terasa bulir bening mengalir di kedua pipiku.


Ehem....suara deheman membuyar kan lamunanku.


Aku menengok ke arah tersebut. Damar dan Julian menghampiri kami.


Damar melihat keadaan sahabat nya itu.


Nasib mu Ziz, siapa yang tega menyakiti mu sampai seperti ini?


Ya Tuhan, pak Aziz? Andai saja aku tak meninggalkan nya ke Singapura, mereka pasti tidak akan melakukan hal ini padamu. Mereka benar-benar memantau kami. Mereka tahu saat-saat kami lengah. Maafkan saya pak Aziz, tak bisa menjaga anda. Julian berkata dalam hati.


"Dokter Revan belum memeriksa Aziz lagi?", tanya Damar. Aku menggeleng.


"Mas, kamu sebaiknya pulang aja dulu. Kamu pasti capek."


"Iya, nanti aku pulang setelah istriku kemari."


"Mas Julian, nggak istirahat juga? Pasti lelah juga kan baru pulang dari Singapura?"


"Nggak Bu. Saya nggak lelah kok!", jawab Julian.


"Ya udah Di, kami di luar. Kalau ada apa-apa,panggil kami saja. Aku mau nunggu stevi di depan. Dia bilang mau bawa pumping asi juga. Stok asi Diaz sudah menipis."


Astagfirullah! Aku fokus pada mas Aziz sampai melalaikan kewajiban ku pada Diaz.


"Mbak hayu belum jalan ke sini?"


"Belum."


"Bisa bawa Diaz ke sini nggak ya mas?"


"Coba ntar aku tanya Stevi deh. Ya udah,kita di luar ya", pamit Damar.


Aku mengangguk pelan. Damar dan Julian lun keluar dari ruangan mas Aziz.


Aku kembali fokus ke mas Aziz. Ku ciumi punggung tangannya.


Aku tak tahu, mas Aziz sudah tau apa belum soal meninggalnya mama dan mbak Imas. Seandainya sudah tahu, semoga dia bisa ikhlas. Seandainya belum tahu....entah bagiamana caraku menyampaikan nya.


Sebenarnya tubuhku sangat lelah. Tapi aku berusaha untuk terjaga agar aku bisa melihat mas Aziz membuka matanya dan aku yang pertama kali dia lihat.


Ku letakkan ponselku dan ponsel mas Aziz di atas nakas. Aku usap-usap kepala mas Aziz sambil bersenandung sholawat kepada Baginda Rasulullah. Ku perdengarkan di dekat telinga mas Aziz.


Sholatullah solamulah


'Ala Thoha Rasulullah


Sholatullah solamulah


'Ala yasin habibillah


(Nggak nyadar toh...kalian ikut solawatan 🤭🤭🤭)


Aku yang bersholawat, aku juga yang tertidur pulas. Kepala ku berada di satu bantal dengan mas Aziz. Dan tanganku pun memeluk tangan mas suami.


Tok....tok....pintu kamar di ketuk.


"Nggak di buka-buka?", kata Damar.


"Diandra tidur kali mas?", kata Hayu.


"ya udah, masuk aja yuk!", kata Damar. Ternyata di belakang mereka , Mika dan Fai menyusul.


"Hei, kami ikut masuk boleh?", tanya Fai.


"Iya!", sahut Damar.


Diaz tertidur dalam dekapan Hayu. Anak itu memang mudah akrab dengan siapapun. Apalagi dengan sosok wanita yang keibuan dan tulus menyayangi nya.


"Diaz tidur sejak di taksi umi?", tanya damar saat baru masuk kamar Aziz.


"Ssst ..iya pa!", jawab Hayu. Mereka berempat pun masuk ke dalam kamar Aziz. Di lihatnya Diandra yang tertidur pulas di samping Aziz.


Sekarang aku sadar, betapa kalian sangat saling mencintai. Untuk kesekian kalinya, aku beharap bisa memusnahkan perasaan cintaku pada mu Di! Bisik Fai dalam hati .


"Pantes di ketuk-ketuk nggak di sahutin, nggak tahunya tidur!", kata Damar.


"Diandra capek pa!", kata Hayu .

__ADS_1


"Iya. Dia memang kurang tidur. Padahal udah ku bilang, biar aku yang jaga. Tapi dia menolak."


Mereka berempat hanya memandangi kedua sahabatnya itu yang tengah berada di atas satu bantal.


"Kasian ya Dian. Apa kira-kira mas Aziz tahu soal meninggalnya mama Farah?", tanya Mika.


"Aku rasa....belum!", sahut Fai .


"Ngomongin soal itu, gimana kalau nanti siang kita ke kantor polisi buat laporan kasus ini? Kalau Lo ngga mau, gue sama Julian doang nggak apa-apa!", kata Damar.


"Iya, nanti gue ikut. Lagi pula, pesan suara Aziz juga di kirim langsung ke gue", Fai menyetujuinya.


"Tapi sebagai barang bukti, kita bawa juga ponselnya Aziz!", kata Damar.


"Iya lebih baik itu!", sahut Fai.


Kini keempatnya sudah duduk di sofa. Hayu juga meletakkan Diaz di sofa yang lainnya. Agar badan nya tak terlalu lelah karena berada di dalam gendongan Hayu sejak dari rumah.


Tapi, ternyata Diaz justru tidak nyaman di letakan di sofa. Dia malah menangis.


Dan suara tangisan Diaz membangunkan Dian dari tidurnya.


Aku mengucek mataku, seperti nya aku mendengar suara tangisnya Diaz. Tangan kiriku masih menggenggam tangan mas Aziz. Saat aku menoleh, benar saja Diaz memang ada di sini. Dan keempat sahabat ku pun sedang memandangi ku.


"Diaz!", aku hendak bangkit. Tapi ternyata tanganku yang berada di genggaman mas Aziz justru tak bisa terlepas. Mas Aziz membalas genggaman ku. Aku jadi terduduk kembali.


Perlahan mas Aziz membuka matanya.


"Mas....!", pekik ku. Tak terasa bulir bening menetes di pipiku. Ternyata, tangisan Diaz yang cukup memekakan telinga justru memberikan respon positif pada mas Aziz.


Keempat sahabatnya pun beranjak mendekati brankar kami.


"Mas...kamu sudah bangun mas?", kuusap pipinya yang masih lebam.


"Auhhh....sakit dek!", kata nya lirih.


"Maaf sayang! Maaf!", karena terlalu senang mas Aziz bangun, aku justru menyakiti nya.


"Terimakasih mas ... terimakasih...kamu sudah berjuang buat kami."


Mas Aziz tersenyum tipis. Diaz menghambur ke pelukan ku. Sepertinya dia sangat merindukan ku, ah ...tidak, merindukan bunda dan ayahnya. Diaz berhenti menangis saat berada di pangkuan ku. Diaz pun menatap sang ayah yang lemah di atas brankar.


"Da...da....ya...yah...", celoteh Diaz.


"Mas, Diaz manggil bunda sama ayah!", kataku girang. Keempat sahabat ku pun tersenyum.


"Dek, haus!", kata Aziz.


"Ya Allah mas, sebentar aku ambilkan!", kata ku hendak berdiri.


"Aku saja?!", kata mika. Mika pun mengambil kan air mineral lalu dia berikan kepada mas Aziz, lalu mas Aziz meminumnya dengan sedotan.


"Makasih Mika....", kata Aziz lirih. Mika tersenyum simpul.


"Kami senang kamu udah bangun mas!", kata Mika.


"Tentu saja aku bangun Mika. Kamu mengancamku!", kata Aziz.


"Aku mengancam mu mas? Mana mungkin?",kata Mika lirih.


"Kalau aku nggak bangun, gimana nasib pernikahan kamu dan Fai. Kamu bilang begitu?!", kata Aziz. Mika dan Fai saling berpandangan.


Aku memang pernah berkata seperti itu dalam hati, tapi tidak ada yang tahu selain aku dan Allah! Batin Mika.


"Suami mu juga nggak pantas menjaga anak dan istri ku!", sahut Aziz pelan meskipun penuh penekanan.


Kini Fai yang terbelalak.


"Iya, aku yang menjaga istrimu!" kata Damar.


Aziz tersenyum tipis ke arah Damar. Tiba-tiba Diaz kembali menangis, mungkin dia haus pengen minum asi dari sumbernya. Karena sudah berapa hari ini Diaz tak bertemu dengan ku.


"Diaz mau nen?", tanyaku. Tanpa jawaban dari bibir mungil itu, Diaz menarik-narik bajuku.


"Mas, aku ke sofa dulu ya. Diaz mau ***** dulu!", pamit ku pada mas Aziz. Hanya anggukan yang mas Aziz berikan.


Aku dan diaz menuju sofa, di ikuti Hayu dan juga mika.


Sedang damar dan Fai masih berada di dekat brankar Aziz.


"Bro, kalo Lo masih belum cukup kuat. Mending Lo istirahat lagi!", kata Damar. Aziz menggeleng.


"Gue nggak apa-apa!", kata Aziz.


"Gue panggil dokter dulu ya!", kata Damar. Aziz dan Fai mengangguk. Sedangkan damar keluar mencari dokter Revan untuk memeriksa keadaan Aziz.


"Bro, kenapa tiba-tiba ada yang mau celakain Lo? Ngga mungkin kan tiba-tiba mereka muncul di depan Lo?", tanya Fai.


Aziz menghela nafas. Alas bantu nafasnya membuat ia sudah untuk bicara panjang lebar.


Tiba-tiba Julian masuk ke ruangan. Menganggukan kepalanya kepada kaum hawa yang ada di sofa. Dian menyusui Diaz dengan menutupi Diaz dengan jilbab lebarnya. Lalu Julian menghampiri Aziz dan Fai.


"Puji Tuhan, anda sudah siuman pak!", kata Julian.


"Kenapa kamu di sini? Bulannya kamu cuti?", tanya Aziz pelan.


"Maaf pak, gara-gara saya cuti...mereka mencari kelengahan anda. Anda jadi menghadapi situasi ini sendirian", kata Julian penuh sesal.


"Nggak Jul. Kamu juga berhak untuk mengurusi masa depan mu sendiri."


Aziz ,Fai dan Julian kembali terdiam. Setelah menarik nafas, Aziz kembali mencoba bercerita. Tapi Damar datang bersama seorang dokter.


"Maaf, saya periksa kondisi pasien dulu ya?", kata Revan.


Fai dan Julian pun menyingkir ke sofa yang memang agak jauh dari brankar. Sedang damar mendampingi Aziz.


"Bagaimana kondisi aziz dokter Revan?",tanya Damar usai Revan memeriksa Aziz.


"Perkembangan nya luar biasa bagus. Ini sebuah keajaiban, pasien bisa melewati masa kritis nya. Pasti...karena doa dan dukungan dari keluarga nya!", kata Revan.


Aku seperti pernah melihat dokter ini, tapi di mana? Batin Aziz.


"Alhamdulillah, makasih dokter Revan."

__ADS_1


Revan pun mengangguk.


"Kalau begitu, saya permisi!", kata Revan. Aziz dan damar mengangguk.


Revan sempat melirik Diandra yang sedang memangku seorang batita. Dian hanya mengangguk sedikit sebagai ganti sapaan pada Revan. Dan Revan pun tersenyum tipis. Lalu ,dia keluar dari ruangan Aziz.


Itu anaknya Dian dan Aziz? Tanya Revan dalam hati saat keluar dari ruangan Aziz.


Kembali ke kamar....


Kini Aziz di kelilingi tiga pria tampan. Mereka ingin mendengar kejadian yang sebenarnya.


"Ziz, Lo bisa ceritakan kejadian nya gimana? Kita mau laporin kasus Lo ke pihak berwajib!", kata Fai.


Aziz mengangguk.


"Beberapa hari sebelumnya, gue diikuti mobil setiap berangkat dan pulang kantor."


Julian terbelalak.


"Anda di ikuti, tapi kenapa anda nggak bilang ke saya pak?", tanya Julian.


"Saya nggak mau kamu cemas. Lagi pula, kamu juga ada urusan pribadi Jul. Saya nggak mau kalau gara-gara kecemasan saya, acara penting kamu malah gagal!", Aziz membela dirinya.


"Tapi setidaknya saya bisa menyuruh anak buah saya untuk melindungi anda pak!", kata Julian sedikit berapi-api.


"Sudah Jul, kamu belum tahu saja betapa keras kepala nya aziz!", kata Damar.


"Dia memang sering bahkan terlalu berpikir positif kepada semua orang!", sahut Fai.


Aziz merasa tersudut kali ini.


"Maaf, karena ketidakjujuran ku merepotkan kalian semua."


"Bukan masalah repot Ziz, tapi kami cemas dengan keselamatan mu! Pantas saja omongan Lo aneh abis kita bukber!", kata Fai .


"Omongan apa?", tanya Damar.


"Omongan orang yang seolah-olah dia mau pergi jauh!", jawab Fai kesal.


Aziz tersenyum tipis.


"Makasih, kalian semua peduli sama gue!"


Tapi Aziz mencari-cari keberadaan orang yang tak terlihat dari tadi.


"Imah dan Dadan mana?" tanya Aziz. Ketiga pria itu saling berpandangan.


"Mereka di rumah, kamu tahu sendiri perempuan hamil kan gampang lelah!", kata damar. Aziz hanya ber'OH' saja.


"Dek....!", panggil Aziz lirih. Tapi Dian tak mendengar nya.


"Diandra!", panggil Fai.


Aku pun mendongak. Lalu menyerahkan Diaz pada mika. Ku hampiri mas Aziz.


"Iya mas, kamu butuh sesuatu?", tanyaku. Aziz pun menggeleng.


"Kamu sudah memberi tahu mama ,mas di sini?", tanya Aziz.


Deg!


Jantung ku berpacu cepat, begitu pula dengan Fai, damar dan Julian.


"Kenapa diam Dek?", tanya Aziz. Aku belum bisa menjawab.


"Aku mimpi, mama dan mbak Imas pergi. Entah itu di mana, tapi...ada papa juga!", kata Aziz.


Air mataku meleleh seketika. Apa ini yang di namakan ikatan batin?


"Mereka baik-baik saja kan Dek?", tanya Aziz lagi.


Aku menghampiri mas Aziz, ku genggam erat tangan nya.


"Mereka sudah bertemu Papa mas, mereka di surga!", kata ku lirih.


Aziz terdiam, mencerna ucapan istrinya.


"Apa maksudmu dek?", tanya Aziz.


Aku tak tahan untuk tidak menangis.


"Mereka....mereka meninggal mas, di hari yang sama saat kamu kecelakaan!", jawabku.


"Innalilahi wainailaihi rajiun.....", kalimat itu lolos dari bibir Aziz.


"Mama Farah, mbak Imas, Aqeela dan mas Rasyid meninggal karena ruko nya kebakaran Ziz. Polisi sedang menyelidiki kasus itu", kata Damar karena ia melihat ku yang sudah tak mampu menjelaskan nya pada mas Aziz.


Tiba-tiba mas Aziz menangis tanpa suara. Aku tahu, seperti apa perasaan nya.


"Lalu, Imah di mana?",di sela tangisnya.


"Imah dan Dadan yang mengurus pemakaman mama Farah dari kemarin di rumah. Selain karena fisiknya yang lemah sedang hamil, Diaz juga rewel terus!", jawab Fai.


Tangis Aziz semakin menjadi-jadi.


"Ya Allah....ya Allah..... Astagfirullah.... astagfirullah.....!", kata Aziz.


"Sabar mas....sabar!", semakin ku genggam erat tangan suamiku itu. Suasana semakin haru diiringi tangis Diaz, yang mungkin turut merasakan kesedihan ayahnya.


****


Mas Aziz masih hidup kok, masa iya tokoh utama mau di matiin 🤭? Bisa aja sih? Tapi ...tunggu dulu, kehaluan mamak belum berakhir kok.


Btw....mamak promo novel baru mamak ya. Judulnya Aku Perempuan Tanpa Rahim. Tokohnya mamak ambil dari novel mamak yang sebelumnya. Karena terus terang, mamak ini pelupa.


Isinya tentang tokoh Maryam Az-Zahra ,salah satu tokoh di novel Cinta Kita Sama Iman kita Yang Berbeda, dan juga David di novel Perawan Tua.


Semoga kalian berkenan juga buat intip2 bacanya.


Oke deh....makasih yang sudah bersedia membaca tulisan receh mamak selama ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya say....


Selamat berpuasa.....

__ADS_1


__ADS_2