
"Ada pekerjaan baru. Besok pagi, kembali kepada butik. Aziz pasti akan datang ke sana", titah seorang pria kepada perempuan yang bernama Sonia.
"Dengan senang hati bos!", sahut Sonia riang.
Aziz laki-laki yang sangat mempesona. Hanya perempuan yang tidak waras yang tidak tertarik pada pria itu.
"Apa yang harus saya lakukan bos? Tidak ada bonus biar aku bisa tidur bersama nya kah?", tanya Sonia.
"Dasar perempuan ga*Al. Itu urusan mu nanti, yang penting selesaikan pekerjaan dariku dulu", bentak pria itu.
"Oke ..oke...bos! Jangan galak-galak kenapa!"
"........."
Sonia mendengarkan instruksi dari bos nya itu.
"Mengerti?", tanya pria itu.
"Tentu sajalah. Tapi...bos yakin, dia akan kembali ke butik pagi begini?"
"Hem...! sudah jangan banyak bicara, lakukan saja perintah ku!"
"Iya bos...iya...!", Sonia pun meninggalkan pria yang dia panggil bos.
******
Pagi sudah menyapa. Diaz masih tertidur pulas, aku pun menjalankan ibadah dua rakaat ku sendiri. Entah, mas Aziz sudah bangun atau belum.
Ku buka pintu kamar ku. Televisi masih menyala, mungkin dari semalam mas Aziz tak mematikannya. Aku pun meraih remote, lalu kumatikan.
Mas Aziz masih tertidur di sofa, tangannya bersedekap di dada. Sepertinya ia begadang semalaman, pasti dia belum solat subuh.
"Mas, bangun. Solat subuh dulu!", aku menggoncang bahunya.
"Mas....!", panggil ku lagi.
Dan kini mas Aziz merespon.
"Hem...iya!", Aziz pun bangkit.
"Solat subuh dulu!", usai mengatakan nya aku pun beranjak ke dapur. Tapi mas Aziz meraih tanganku.
"Dek, mas mohon. Percaya sama mas!",mas Aziz menatap ku penuh harap.
"Sudah lewat jam lima, keburu habis waktu subuh nya", aku mencoba melepaskan cekalan tangannya.
"Mas akan buktikan kalau mas benar-benar nggak kenal sama perempuan itu. Nggak ada hubungan apapun dengan perempuan itu."
"Kamu kenapa nggak mau mendengarkan penjelasan mas Dek?"
"Sudah mas. Aku males debat."
Setelah bisa melepaskan tangan mas Aziz dari tanganku, aku pun melanjutkan kewajiban ku. Menyiapkan sarapan dan kopi untuk mas Aziz.
Semarah apa pun, aku akan tetap menyiapkan untuk nya.
Mas Aziz bergegas menuju kamar.
Kopi untuk mas Aziz sudah ku seduh dan ku letakkan di meja makan. Sekarang aku berkutat di meja dapur kembali.
__ADS_1
Di sela-sela memasak, mas Aziz memelukku dari belakang. Menciumi tengkuk ku yang memang tak berjilbab.
"Mas kangen....!", bisik nya. Dia nggak tahu apa pura-pura nggak sadar. Aku kan lagi marah.!
"Awas mas!", kataku sambil mencoba membuat nya menyingkir dari punggung ku.
"Menolak, dosa lho....!", katanya lagi.
"Memaksa kehendak juga dosa!",kataku ketus.
Tapi mas Aziz seolah-olah tak menggubris Omelan ku. Dia masih setia mencumbui ku dari belakang.
"Mas!", suaraku mulai meninggi.
"Kenapa? Kamu masih belum percaya kalau mas cuma cinta sama kamu? Mas setia sama kamu! Kamu pikir, mas akan menyia-nyiakan kesempatan yang udah kamu kasih ke mas ,dek! Kamu tahu dek, sesulit apa perjuangan mas untuk mendapatkan kepercayaan lagi dari kamu dek?"
Aku terdiam. Mas Aziz pun melepaskan pelukannya ,lalu menuju meja makanm Menyesap kopinya sebentar.
Tak lama, ponselnya berdering.
"Oke, gue keluar!", mas Aziz keluar begitu bsjaa tanpa berkata apa pun padaku.
Siapa yang menelepon mas Aziz sepagi ini?
Karena penasaran, aku pun mengikuti mas aziz yang sudah berada di depan.
Ternyata, Mas Fa'i yang menghubungi nya barusan. Tapi, kenapa mas Fai sepagi ini sudah ada di sini? Mereka punya rencana apa sih?
Setelah ngobrol beberapa saat, mas Fai terlihat menepuk bahu mas Aziz. Aku tak mendengar hal apa yang mereka obrolkan. Apa tentang rumah tanggaku?
Sebenarnya mereka mau kemana? Ada urusan apa sepagi ini? Jam tujuh saja belum.
*****
Diperjalanan....
"Lo yang sabar dong Ziz. Dian itu pernah dikhianati. Liat Lo begituan sama Lili dan sekarang? Oke...video yang dia lihat saat ini, cuma tuh cewe lagi ngerayu Lo. Tapi bagi Dian, bisa saja kan kalian melakukan hal lebih di belakang Dian?"
"Tapi kenapa dian nggak percaya sama gue!"
"Udah, Lo tenang aja. Kita pasti tahu jawabannya setelah mengecek cctv. Lagi pula jam segini , pasti cuma sekuriti yang jaga butik kan?"
"Iya. Gue takut aja, ada yang berkhianat di belakang gue!"
Mereka berdua melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di butik, Aziz langsung menemui sekuriti. Aziz mengecek cctv di pintu masuk. Melihat kapan perempuan itu masuk..
Ternyata dia masuk ke butik setelah memastikan Dian dan yang lain keluar dari sana.
"Lo liat kan bro, dia mencurigakan sekali. Kenapa dia masuk ke butik, nunggu bini gue keluar sama Lo pada."
Fai pun menggut-manggut tanda sependapat dengan Aziz.
Di cctv dalam menunjukkan perempuan itu di layani oleh Rani beberapa saat. Sampai akhirnya, dia meminta Aziz menemani nya dengan alasan ingin bekerja sama. Setelah itu, barulah ia beraksi. Bergelayut manja ke lengan Aziz.
Aziz dan Fai menyapu ke semua titik. Mencari sosok yang merekamnya.
Salah seorang OB merekam kejadian itu. Aziz dan Fai saling berpandangan.
__ADS_1
"Pak, siapa nama ob ini?", tanya Aziz kepada sekuriti. Dia pun memberikan informasi tentang ob tersebut.
''Jadi gimana?", tanya Fai.
"Kita tunggu sampai dia datang "
Aziz dan Fai menunggu di pos satpam. Menantikan si perekam video itu.
Sampai akhirnya, ob yang di tunggu pun datang. Dengan santai, Fai merangkul ob itu. Dan ob itu terlihat cemas mendapati Bos nya sepagi ini di butik.
"Mas Aziz....!", ob itu tergagap.
Aziz melempar pandangan nya ke arah lain. Sedang Fai yang masih merangkul nya, mengajak si ob ke ruangan Aziz.
Pemandangan itu tentu saja menarik perhatian anak-anak yang lain. Tapi Fai memasang wajah so cool nya. Sontak, kaum hawa yang merupakan karyawan Aziz terkesima dengan pesona nya.
"Duduk!", titah Aziz.
Si ob gelagapan mendengar perintah bos nya untuk duduk di kursi ruangan bosnya.
"Maaf Mas Aziz, ke...kenapa saya di bawa ke ruang mas Aziz. Saya...salah apa?", tanya si ob dengan wajah tertunduk.
"Kamu bekerja untuk siapa?", tanya Fai pada si ob.
"Maksud mas apa?", tanya si ob pada Fai.
"Siapa yang nyuruh kamu, buat videoin Aziz sama perempuan seksi itu?", tanya Fai yang duduk di meja menghadap si ob. Gaya Fai sudah seperti bos yang sedang memarahi bawahannya.
"Saya...saya tidak tahu maksud mas apa?", si ob tergagap.
"Benarkah?", sekarang Aziz duduk di sebelah si ob. Si ob pun mengangguk takut.
"Fai...temen Lo yang kemaren suka gebukin orang, lagi butuh kerjaan nggak ya? Kayanya gue butuh deh!", tanya Aziz.
"Ntar gue telpon deh. Terakhir gue denger sih, tarifnya mahal bro'', Fai menimpali.
"Soal tarif mah gampang."
Si ob celingukan tidak tahu arah pembicaraan dua pria tampan di hadapan nya.
"Korbannya yang perlu Lo khawatirin. Kalau nggak patah tulang, paling koma. Hidup kagak, mati kagak!", kata Fai menakut-nakuti.
Si ob mulai paham. Wajahnya terlihat berubah pias.
"Gimana bro? Masih mau hidup? Apa mau koma? Kasian kan keluarga Lo yang di rumah?", Fai menepuk bahu si ob.
"Saya...saya...cuma di suruh sama orang yang nggak saya kenal. Itu saja", Jawab ob tergagap.
Aziz dan Fai menyungginggkan senyumnya.
"Siapa?", tanya Aziz dan Fai bersamaan.
"Saya nggak tahu namanya. Laki-laki itu memberikan saya uang, yang penting saya merekam mas Aziz dengan cewe seksi itu. Lalu saya kirim ke dia."
"Dia?"
"Tapi sumpah saya nggak kenal! Saya hanya kepepet, saya butuh uang buat beli obat anak saya!", jawab si ob.
******
__ADS_1
Alasan klasik!!!