
"Shodaqouwllah hul adzim", Farhan mengakhiri sesi mengaji bersama ustadz Ahmad.
"Alhamdulillah, Farhan sudah juz dua puluh delapan. Bentar lagi khatam nih!", ustadz Ahmad mulai memuji.
"Alhamdulillah pak ustadz", ucap Dadan yang turut mendampingi putranya mengaji sore ini.
"Ayah nggak ke warung? Kayanya lagi ramai tuh?", tunjuk Farhan.
"Oh, iya ya Han. Ya udah ayah ke sana ya, maaf pak ustadz, saya tinggal nggak apa-apa ya?"
"Silahkan pak Dadan", ucap pak ustadz Ahmad.
"Farhan, kayanya kamu gelisah begitu? Nggak kaya biasanya deh?",tanya ustadz Ahmad.
"Pak ustadz, Farhan mau tanya boleh?"
"Boleh dong! Mau tanya apa sih anak Sholeh?", ustadz Ahmad menyilang kan kakinya yang sedari tadi memang duduk lesehan.
"Hari ini...Farhan ketemu sama Mama Feby. Mama kandung Farhan."
Ustadz Ahmad masih ingin mendengar kelanjutan cerita Farhan.
"Emmm....Farhan benci sama mama pak ustadz!"
"Astagfirullah...Farhan nggak baik lho ngomong kaya begitu!", ustadz Ahmad mengingat kan dengan nada yang lembut.
"Tapi...Farhan bukan anak yang diinginkan sama mama Feby. Farhan dibuang. Beruntung nya Farhan punya ayah yang baik seperti ayah Dadan."
Farhan menarik nafas panjang. Sedangkan ustadz Ahmad masih menatap bocah ganteng itu .
"Tadi saja....dia ke sini , minta uang lima puluh juta sama ayah. Bilangnya gara-gara ayah masih dikota ini. Padahal dia sudah membayar ayah agar membuang ku jauh-jauh." Farhan tertunduk lesu.
Ustadz Ahmad meraih pundak anak lelaki yang menjadi santrinya tiga tahun terakhir.
__ADS_1
"Farhan tahu, mama Farhan mengandung Farhan sembilan bulan diperutnya. Membawa Farhan ke mana-mana. Seandainya kalau bisa ya, tuh perut ditaroh dulu di kasur nanti di pasang lagi."
Farhan terkekeh.
"Setiap ibu itu... melahirkan dengan taruhan nyawanya lho. Berjuang sekuat tenaga agar anaknya lahir dengan selamat. Begitu pula dengan mama nya Farhan."
"Tapi, Farhan di buang."
"Siapa bilang di buang, buktinya Ayah Dadan sangat menyayangi Farhan."
"Iya, ayah sama Emak yang sayang sama Farhan. Tapi tidak dengan mama Feby."
"Aljanatu tahta akdamil Ummahat. Hadis Surga itu, ditelapak kaki ibu".( maapkeun othor kalau salah ya 🙏)
"Jadi, seperti apa pun mama Feby, surga Farhan ada sama mama Feby. Tugas Farhan adalah tetap mendoakan yang terbaik buat mamanya. Semoga Allah membukakan pintu hati mama Feby biar bisa sayang sama Farhan. Siapa sih yang tahan buat nggak sayang sama Farhan yang pintar ini?", ustadz Ahmad mencubit pipi Farhan yang menggemaskan itu. Ada senyum merekah di bibir mungilnya.
"Terus....kalau...Farhan punya mama selain mama Feby yang sayang banget sama Farhan, apa surga Farhan juga sama dia?"
Ustadz Ahmad terbelalak. Aduh, pertanyaan anak ini....
"Farhan, ustadz Ahmad kan harus mengajar ditempat lain. Kelamaan diajak ngobrol nya?", Dadan tiba-tiba ada di ruangan mengaji Farhan.
Alhamdulillah, pak Dadan hadir di waktu yang tepat.
"Hehehe maap yah. Ayah, kapan kak Imah jadi istri ayah?"
Wajah Dadan memerah, dia malu masih ada ustadz Ahmad di sini. Tapi, ustadz Ahmad memahami situasi. Dia hanya sedikit menyungginggkan senyum nya.
"Om Aziz bilang mau ngobrol sama Ayah, Tante Di juga udah nanya sama Kak Imah mau apa enggaknya jadi ibu Farhan."
"Oh ya?", Dadan bertanya pada Farhan.
Berbeda dengan ustadz Ahmad. Dia seperti tak asing mendengar nama Aziz dan Di. Apakah yang dimaksud adalah......
__ADS_1
"Pak ustadz kok melamun?", tanya Farhan tiba-tiba.
" Maaf Han!", ucap ustadz Ahmad cengengesan.
"Iya, nanti malam Ayah ke kios om Aziz!", kata Dadan.
"Aziz siapa ya pak Dadan?", tanya ustadz Ahmad penasaran.
"Itu pak ustadz, kios pulsa diujung sana. Kebetulan, saya sedang dekat sama karyawan pak Aziz, adik sepupunya pak Aziz sih sebenernya."
Ustadz Ahmad menggut-manggut meskipun dia sendiri belum yakin.
"Owh...pak Aziz dan siapa tadi Han? Tante Di?", tanya Ahmad lagi.
"Mbak Diandra pak ustadz!", jelas Dadan.
Masa iya itu Aziz dan Diandra, apakah orang yang sama atau hanya kebetulan?
"Baiklah, kapan-kapan saya mampir beli pulsa ke sana deh", ucap Ahmad tiba-tiba.
Dadan merogoh kantongnya, Imah minta diantar soto mi buat Tante Farah.
"Kalau mau kesana bareng aja pak ustadz, saya mau anterin soto mie juga buat Tante Farah. Mamanya mas Aziz."
Tante Farah? Mamanya Aziz?
Aziz, Diandra, Tante Farah. Nama itu kenapa sangat menggangu ingatanku.
"Baiklah kalau gitu, saya ikut saja."
Usai Dadan menyiapkan pesanan untuk camernya, Dadan dan ustadz Ahmad pun meluncur ke kios.
*****
__ADS_1
Kira-kira....apakah ustadz Ahmad kenal dengan nama-nama orang yang tadi disebutkan oleh Dadan?