Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
gara-gara cctv


__ADS_3

"Mbak Dian, misil kemaren ada cewe cantik mbak. Ngaku-ngaku pacare mas Aziz. Diih...guayane rek, moso mbak de'e ngajak kerja sama. Katanya mau ngasi duit ke Imah. Asal mau jadi mata-mata nya dia."


Cewe? Masa iya Lili masih berani ke sini? Kok mas Aziz ga cerita ya?


"Kamu mau?", tanyaku.


"Ya nggak lah mbak. Imah mah royal ke mbak Dian sama mas Aziz." katanya penuh percaya diri.


"Loyal....Imah." kataku membenarkan.


"Ya itulah, maksud nya setia mbak."


"Heem. Makasih Yo....".


"Iyo mbak. Tapi, mas Aziz tak kandani ngunu gur mesam mesem ga ada marah-marah nya lho mba."


"Oh ya? Kok iso?" sekarang aku ikut-ikutan dialek si Imah deh.


"Yo ga reti mbak."


Tiba-tiba mas Aziz nyeleonong masuk ke kios. Duduk di samping ku.


"Apa aku harus marah-marah sama kamu mah?", tanya nya tiba-tiba.


"Heheh...Yo Ndak toh mas. maksud Imah tuh, peyan kok ga nanya cewek iku sopo opo piye."


"Ngapain nanya-nanya." sahut mas Aziz.


"Tuh kan mbak....", rajuk Imah.


"Mas,emang tau siapa cewe nya? Lili bukan?" tanyaku.


Mas Aziz mengutak Atik ponselnya. Lalu menunjukkan padaku dan Imah.


Disitu terlihat jelas video Lili sedang berbicara dengan Imah. Pakaian nya pun benar-benar seperti kurang bahan. pantas aja seorang Imah jadi komen nya begitu.


"Kamu pasang cctv mas?" tanyaku.


"Iya lah."


"Kapan?"


"Kemaren, pas kalian ke bank."

__ADS_1


"Kok ga cerita mas?".


"Belom sempet cerita lah dek."


"Owh.... pantesan peyan Ndak kaget pas Imah cerita." kata Imah menengahi interogasi ku ke mas Aziz.


"Iya Imah. Alasan saya pasang cctv itu bukan karena ga percaya sama kamu lho ya. Saya cuma mau antisipasi biar ga ada kejadian seperti ini lagi. Kamu kelewat lugu jadi orang, takut gampang ditipu. Untung aja kamu pinteran dikit sekarang, sudah ada kemajuan."


"Ya Allah mas....ga ngunu juga toh. Imah ga bodo-bodo banget lah." kata Imah bersungut-sungut.


Aku dan mas Aziz tertawa bersama.


"Maafin mas Aziz ya mah. Sejak ada kamu lho mas Aziz punya jiwa humoris. Dulu mah beuuuhhh boro-boro mah." kataku.


"Tenane mbak? Waduh....Imah jadi hepi ndengernya." katanya dengan tangan gaya Ceribel.


"Lebay.....", kata Aziz.


"Imah, kepercayaan itu mahal lho. Sekali saja kamu menghancurkan kepercayaan itu, kesempatan kedua belum tentu datang padamu. Bekerjalah sebaik mungkin. Memang, kerjaan kamu yang cuma begini ini, tak bisa bikin kamu kaya. Tapi , bisa bikin kamu menjalani hidup. Meskipun sedikit, tapi bisa memenuhi kebutuhan kamu. Pengkhianatan itu sakit lho , memaafkan itu mudah, Yang sulit itu melupakannya. Bener ga mas?", tanyaku ke mas Aziz. Dia yang sedang meminum air mineral pun tersedak. Terbatuk-batuk beberapa saat.


"Iya mbak. Insyaallah Imah inget nasehat mba Dian. Imah janji, tidak akan mengkhianati kepercayaan kalian. Tapi, kalo suatu saat nanti Imah nikah apakah Imah masih boleh kerja disini?" tanya Imah.


"Nikah?", tanyaku.


"Iya, Imah punya kenalan di efbi ,mungkin aja itu jodoh Imah mba."


"Orang daerah sini mba. Kapan-kapan kesini katanya."


"Iya, kalau dia kesini mbak dikasih tau ya."


"Siap mbak!"


"Ya sudah, kamu jaga yang bener ya."


"Oke bos!"


"Udah selesai kan tersedak air putih nya! Untung cuma air putih ya mas ,bukan sambel.Kita ke rumah yuk mas." kupelankan suaraku tapi dengan nada mengintimidasi.


Mas Aziz terlihat cemas.


'Perang lagi deh ah. Salah lagi. Gara-gara cctv apa gara-gara Imah sih' mas Aziz bergumam tapi masih sempat ku dengar.


"Nggak usah nyalahin Imah." kataku dengan gigi gemeletuk.

__ADS_1


"Iya dek iya....kita ke dalem. Damai ya...".


"Liat ntar aja."


"Waduuuhhh.... perang dunia ke lima belas kayane iki gaes." kata Imah meledek. Mata mas Aziz melotot ke Imah.


"Ga usah melotot ke Imah. Ayuk mas, kita kerumah."ajakku sambil menyeret lengannya.


Sampai di kamar, aku berkacak pinggang.


"Dek, udah...jangan bahas lagi. Aku ga pernah hubungi Lili. Mas juga ga tau kenapa dia tiba-tiba ke sini lagi. Plis....", katanya menghiba.


"Kamu ga cerita ke aku mas, kalo tadi Imah ga bilang aku juga ga bakal tahu kalo mantanmu tuh kesini lagi."


"Kan mas udah bilang, mas belum sempet cerita sayang." Dia memeluk kakiku.


"Apaan sih, awas ah....!".


"Dek, udah dong. Mas usah taubat. Mas ga mungkin mau berurusan lagi sama makhluk yang bernama lili. Kamu kan tahu, selama ink mas selalu sama kamu. Bahkan ponsel mas juga bisa kamu liat setiap waktu. Ga ada yang mas rahasia kan dari kamu dek."


Aku duduk di sofa sambil mengulurkan kaki ku.


Duduk bersandar sambil mengatur nafas. Perutku tiba-tiba terasa kencang. Apakah ini yang dimaksud kontraksi palsu?


Ishh....desisku.


"Kamu kenapa dek? Apanya yang sakit?", kata mas Aziz mulai panik.


"Perutku kram. Kontraksi. Gara-gara kamu mas, aku jadi emosi. Jadi begini akibatnya." kataku sambil mengusap perutku. Usia kandungan baru tujuh bulan. Tapi ga tau kenapa jadi kram begini.


"Sayang...sayang....nya ayah. Maafkan ayah yah nak. Udah bikin bundamu marah. Kamu baik-baik ya nak diperut. Ayah sayang banget sama kamu sama bunda." kata mas Aziz mengusap perut ku. Dan, kram perut ku kembali membaik.


"Kalau masih sakit, kita ke dokter y dek. Mas takut kamu kenapa-kenapa."


"Nggak usah mas. Bentar lagi juga sembuh."


"Dek. Tolong....tolong banget. Kamu percaya sama mas. Ga ada niat sedikit pun dihati mas buat mengkhianati kamu. Mas cuma cinta sama kamu. Jangan begini lagi ya dek. Mas ga mau terjadi apa-apa sama kamu sama anak kita."


"Iya."


Mas Aziz memelukku erat. Mengecup kening ku berulang-ulang. Dan...mau mengarah ke bibirku. Cepat-cepat aku mengelak. SO....mas Aziz kecewa.


"Kenapa sayang?", tanyanya.

__ADS_1


"Kamu ga denger? Lagi azan ashar!", kataku.


Dia mengusap kasar wajahnya sendiri. Emang enakkkk....


__ADS_2