Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
part 116


__ADS_3

"Mbak Hayu, bagaimana kalau kita nyamperin Mika aja?!", ajakku. Maksud hati, agar mereka juga bisa akrab. Seperti aku yang mulai dekat dengan mika dan Hayu.


"Tapi mbak...aku nggak enak sama mba Mika!", Hayu terlihat sangat ragu.


"Kenapa? Karena dia pernah punya perasaan sama mas Damar?"


Aku mengangguk.


"Tapi kan hari ini kamu juga lihat mbak, mas Fai sudah melamar Mika untuk menjadi calon istrinya? Itu tandanya, Mika sudah harus move on dari mas Damar."


Benar juga sih, tapi...soal hati siapa yang tahu?Batin Hayu.


Aku menggandeng Hayu untuk mendekati Mika. Dari jauh, Mika sudah menyunggingkan senyum manisnya. Begitu pula dengan Hayu.


Kamu bisa menaklukkan mbak Hayu secepat itu Dian? Padahal semua tahu, tadi suasananya sangat sulit. Apa ini yang membuat mas Fai dan mas Aziz sangat mencintai mu Di? Batin Mika. Mika menoleh kepada Fai yang sedang mengobrol dengan Papanya.


Mas, aku memang tak sebanding dengan Diandra mu. Apa iya aku bisa berjuang mendapatkan hatimu mas Fai? Apa aku akan siap jika nantinya kamu juga tak kunjung mencintai ku? Hati Mika bergejolak.


"Mika....!", aku menghambur ke pelukan perempuan cantik itu. Sejak datang ke rumah ini hingga acara selesai, aku dan mika baru bebas mengobrol begini.


"Makasih ya...kalian sudah datang!", kata mika dengan suaranya yang khas ceria. Hayu hanya tersipu malu.


"Mbak Hayu, mika teman mu juga kan???", tanyaku. Mika dan Hayu malah memandangku.


"Kenapa melihat ku begitu sih?", tanyaku. Anehnya, mereka berdua kompak menggeleng.


"Kalian lucu banget sih!", aku merangkul mereka berdua. Aku hanya berusaha mengikis jarak di antara mereka berdua agar mereka tak canggung satu sama lain.


Alhasil, kami jadi pusat perhatian.


Ya Allah, aku merasa paling kerdil di sini. Aku diapit dua perempuan cantik yang tinggi semampai. Sedang aku? Aku produk SNI, tinggi ku Indonesia sekali. Perlahan aku melepaskan rangkulan ku.


"Kok di lepas? Katanya kita bertiga teman?", ledek Mika. Kami bertiga benar-benar seperti anak SD yang sedang bermain ala-ala Teletubbies.


"Nggak ah. Aku minder." Aku sok-sokan sedih. Padahal aku mah percaya diri dengan tinggi badanku yang tak seberapa di bandingkan mereka. Bahkan aku seketeknya mas Aziz dan mas Fai.


"Kenapa harus minder?", tanya Hayu.


"Lihatlah, aku diapit oleh dua perempuan yang cantik dan tinggi semampai, sedangkan aku...?"


"Tapi, kamu tetap primadonanya Diandra...", seru mika. Akhirnya kami bertiga bisa tertawa bersama.


Dari kejauhan, Damar dan Aziz memperhatikan Dian dan Hayu serta Mika.


"Istrimu memang luar biasa Ziz!", puji Damar.


"Ish....jangan bilang Lo naksir sama bini gue!", sentak Aziz.


"Nggak lah, gue tetep cinta sama Hayu!", sahut Damar.


"Dan lihatlah, betapa cantiknya Mika. Semoga Lo nggak nyesel. Mika sudah berpaling dari Lo dan memilih Fai, tapi Lo nggak ngedapetin Hayu. Gue yakin, penyesalan Lo bertubi-tubi!"


"Lo nyumpahin gue Ziz? Harusnya Lo sebagai temen tuh dukung gue biar bisa bersatu sama Hayu. Malah Lo bikin nyali gue menciut!"


"Sabar bro...coba Lo deketin aja dulu bokapnya."


"Anaknya aja ogah ngomong ke dia, lha gue suruh deketin bokapnya!", bisik Damar.


Mereka berdua kembali ngobrol dengan bisikan-bisikan yang sesekali terdengar oleh orang lain.


Sementara itu, di sebuah bangku. Seorang Fai sedang memandang tiga perempuan cantik yang sedang ber-haha-hihi di depan dekor.


Diandra, mantan terindah yang tidak akan pernah terlupakan. Hayu, pernah terbersit untuk mengaguminya sebelum tahu jika Damar mencintai perempuan itu. Dan....Mika. Gadis agresif itu yang akan menjadi masa depannya kelak.


Waktu terus bergulir, sampai akhirnya kami semua harus berpamitan.


Aku lihat mas Fai dan mika tampak sama-sama menyunggingkan senyum nya. Fai pun berpamitan pada mika.


"Mas pulang dulu mik. Sampai jumpa besok!", kata Fai.

__ADS_1


"Iya mas. Hati-hati semua nya ya. Kalau sudah sampai, tolong kabarin aja."


"Siap nyonya! Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Rombongan kami kembali ke rumah Abah karena mobil kami berada di sana.


"Kita langsung pulang ya mas!", ajakku. Belum juga di jawab, Abah sudah mencegah ku.


"Jangan Dian, kita makan malam saja dulu sama-sama. Lagipula sebentar lagi magrib."


"Iya dek, bentar lagi magrib. Habis kita solat magrib disini, kita baru pulang."


"Iya deh mas. Ya udah bah, kami pulang nanti aja."


Akhirnya aku dan yang lain pun bergantian solat magrib di mushola Abah yang berada di samping taman.


Usai solat, Abah meminta kami untuk kembali duduk di meja makan.


"Terimakasih buat Bu Farah sekeluarga ya."


"Sama-sama pak Haji.", jawab mama Farah.


"Lho mi, Rifai mana?", tanya Abah.


"Tadi langsung ke kamar bah. Mungkin ganti baju." Umi menjawab begitu. Benar saja, Fai turun sudah berganti pakaian.


Aku menggendong Diaz karena dari tadi dia terlihat sangat lelah mengikuti acara lamaran tadi. Tiba-tiba saja ponsel ku berdering.


Om Kendra? Ada apa ya? Tumben? Batinku.


Dengan ragu-ragu aku mengangkat telpon dari om Kendra.


"Halo om?", sapa ku pelan. Aku tidak ingin mengganggu Diaz ku yang sedang tertidur. Dan aku juga tidak mau mengganggu yang lain saat sedang makan malam ini.


[Ini Tante Mila Rara!]",sahut seseorang dari sana.


[Ada masalah apa Tante?"]


[Om Kendra... sudah meninggal Di.]


[Me... meninggal Tante?]


[Iya Rara. Dan... beliau ingin mengembalikan semua hak mu Ra.]


[Innalilahi wa innailaihi Raji'un. Tapi maaf Rara tidak menginginkannya Tante.]


[Tapi maaf, om Kendra sudah tidak bisa lagi menjaga amanat mu Rara. Begitu juga Tante, Tante tidak tahu apa yang terjadi jika Tante yang mengambil alih pekerjaan om Kendra.Sekarang, kami masih di Singapura Ra. Nanti malam, akan pulang ke Indonesia.]


[Turut berdukacita Tante, maaf...!]


[Terimakasih Rara. kalau sempat kamu bisa kerumah kan? Semua berkas mu akan Tante serahkan.]


[Insyaallah Tante.]


Percakapan pun di akhiri.


"Siapa om Kendra?", mas Aziz tiba-tiba bertanya padaku.


"Itu..."


"ada yang kamu sembunyikan dari mas , dek?"


Aku menggeleng.


"Jadi, siapa om Kendra?"


"Dia....dia...."

__ADS_1


Apa mungkin Diandra menutupi semuanya dari suami nya sendiri? Batin Fai.


"Dia pengacara keluarga Diandra Ziz!" sahut Fai yang masih duduk di meja makan.


"Pengacara? Pengacara apa?", tanya Aziz.


"Pak Kendra orang kepercayaannya almarhum ayahnya Dian!", Fai mencoba menjelaskan. Aku bingung bagiamana cara menjelaskan pada mas Aziz.


"Orang kepercayaan?" tanya Aziz lagi.


"Ada apa ini dek?"


Aku menggeleng.


"Jawab mas Dek! Apa ada lagi yang Fai tau dan aku yang suami mu malah tidak tahu Dek! jawab mas!". Bentakan mas Aziz membuatku merasa seperti berada di kejadian waktu itu. Seketika air mataku luruh. Aku terpaku. Bayangan masa lalu kini menderaku. Masa sulit yang pernah aku alami. Tak pernah sekalipun mas Aziz emosi sampai membentak ku seperti ini, apalagi di depan orang lain.


"Aziz, jaga sikap mu!" bentak mama Farah.


Fai tiba-tiba berdiri dari meja makan. Lalu menghampiri Aziz yang baru saja meninggikan suaranya di depan Dian.


Kerah pakaian Aziz ditarik kasar.


Buggg! Sebuah pukulan mendarat tepat di rahang aziz.


"Apa-apaan Lo hah? Apa yang Lo tahu tapi gue nggak tahu Fai?Apa?", Aziz bermain membalas pukulan Fai.


"Jangan pernah lagi berteriak apalagi membentak Dian seperti tadi Ziz!"


"Dian itu istri gue!"


"Iya , Diandra itu istri Lo ! Gue tahu. tapi gue gak rela kalau Lo bentak-bentak Dian seperti tadi."


"Aku...aku...bukan anak yang di inginkan. Aku...aku... penyebab kematian ibu dan ayah. Mas Aziz marah padaku. Mas aziz membentakku?"


Aku mulai menggigit kuku ku sendiri.


"Mas Aziz marah padaku!"


Fai meraih Diandra dalam pelukannya. Persetan dengan mata yang menghakiminya.


"Tidak Di, tidak. Kamu anak yang mereka banggakan. Kamu bukan penyebab kematian mereka. Tidak Di...tidak begitu!", Fai menenggelamkan wajah Dian di dadanya.


"Mas Aziz...mas Aziz marah padaku mas? Mas Aziz membentakku. Kamu liat kan mas?"


"Tidak, Aziz tidak marah sama kamu Di. Tidak. Dia hanya sedang emosi. Mana mungkin dia marah padamu, dia mencintai mu."


Dada aziz bergemuruh melihat Fai yang masih memeluk istrinya itu.


"Lepaskan Diandra Fai!" kata Aziz pelan.


Dengan perlahan, Fai melepas pelukannya.


"Lihat, Aziz tidak marah padamu!"


"Benarkah?", aku memandang suami ku. Ya Allah , apa baru saja aku memeluk laki-laki selain suami ku. Aku memeluk mas Rifai?


Ya Allah, aku seperti ini lagi. Astagfirullah....


"Astagfirullah.... astagfirullah....", desisku.


"Dek, mas minta maaf!", Aziz memelukku erat. Pelukan seorang suami yang mencintaiku.


"Astagfirullah... astagfirullah...", kata itu terus saja terucap dari bibirku.


Diandra ku kenapa? Kamu kenapa sayang? Batin Aziz.


Dian, seharusnya aku yang menjagamu. Aku tahu semua tentang mu. Kamu mempercayakan semuanya padaku. Tapi...aku malah meninggalkan mu Di!


"Aziz, bawa Dian ke kamar saja. Biarkan Dian istirahat. Seperti nya tidak memungkinkan jika Dian di ajak pulang sekarang!", kata Abah.

__ADS_1


"Iya bah, terima kasih." Aziz pun membawa Dian ke kamar tamu.


What happened with you Dian? 🤔


__ADS_2