Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 278


__ADS_3

Julian sudah meletakan beberapa berkas di mejaku. Aku pun mempelajari dan menandatangani nya.


Setelah selesai semuanya, aku mengambil ponsel ku di dalam tas.


Ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari mas Aziz. Dan tentu saja rentetan chat di aplikasi biru.


Langsung ku video call dengan suamiku tercinta.


[Assalamualaikum mas....]


[Walaikumsalam, kamu dari mana aja sih Dek? Sibuk banget sampe nggak bisa di hubungi.]


[Maaf sayang....iya, tadi emang sibuk sih. Terus hp ku di tas. Jadi nggak denger deh, maaf ya hehehehe]


[Ya udah mas maafin, untung Julian bilang kamu lagi sibuk di ruangan mu]


[Nah, mas udah telpon mas Jul masih nggak percaya juga?]


[Bukan ngga percaya, tapi hanya ingin memastikan bahwa istri ku baik-baik saja, emang salah?]


[Ishhh....suamiku so sweet banget sih....????]


[Mas ngga lagi ngegombal ya Dek!]


[Iya....mas...iya....]


[Terus gimana, udah selesai kerjaan di DWP?]


[Baru aja selesai, makanya aku telpon kamu mas. Diaz mana?]


[Di teras belakang sama teh Neng]


[Owh...kirain lagi bobo siang!]


[Mungkin bentar lagi]


[Mas, habis ini aku mau langsung ke butik. Maaf ya, sepertinya aku nggak bisa pulang cepet. Tapi aku usahakan deh mas....]


[Dek....maaf ya...]


[Lho....lho...kok malah melow! Aku cuma ijin aja mas takut pulang nya telat. Malah minta maaf sih kamu mas???]


[Harusnya itu tugas mas]


[Iya, nanti kalau mas udah sehat lagi mas yang kerja. Aku mau di rumah ngurus anak-anak kita, ngurusin semua kebutuhan kamu]


Aziz tersenyum tipis, tapi kadar ketampanan nya tak berkurang.


[Ya udah, kamu istirahat dulu deh. Jangan terlalu di forsir , pokoknya kalau capek istirahat dulu]


[Iya sayang ku]


[Ya udah dek, mas mau ke kios dulu]


[Iya, hati-hati ya mas]


[Kamu yang hati-hati, mas kan di rumah. Sedangkan kamu jauh dari mas]


[Hehehhe bisa aja mas. Ya udah ya, assalamualaikum]


[Walaikumsalam!]


Di saat yang bersamaan, Julian mengetuk pintu.


Tok...tok..


"Permisi bu, anda jadi ke Nugroho's butik?"


"Iya jadi mas, ini saya lagi beresin berkas tadi. Semuanya sudah selesai. Libur lebaran dimulai besok kan?"


"Betul Bu!", sahut Julian.


Kami berdua pun keluar dari kantor DPW menuju butik di Sunter. Ada teh Rani yang menjadi orang kepercayaan mama Farah dan mas Aziz selama ini.


Kedatangan ku di sambut hangat oleh karyawan butik. Tak terkecuali teh Rani.

__ADS_1


"Makasih teh Rani, sudah membantu kami mengurus butik dengan baik."


"Sama-sama mbak Dian. Saya akan loyal dengan butik ini. Karena...saya berhutang budi banyak sekali terhadap almarhumah nyonya Farah. Beliau orang yang sangat baik!", kata Rani.


"Sekali lagi terimakasih banyak!", aku menepuk bahu Rani.


"Oh iya mbak Dian, semua laporan sudah saya siapkan di ruangan. Dan... rancangan mba Imah pun sudah kami realisasi kan. Alhamdulillah, pelanggan meresponnya baik sekali. Bahkan kami nanti akan membuat nya lagi, meski tidak sama persis!"


"Oh ya? Bagus dong kalau begitu!", aku dan Rani berjalan beriringan menuju ruangan almarhum Mama Farah.


Rani menunjukkan beberapa model pakaian yang Imah rancang. Semuanya terlihat bagus , sederhana namun elegan.


"Mbak, setelah libur lebaran seperti nya kita membutuhkan karyawan lagi. Ada sebagian yang keluar dengan berbagai alasan tentunya."


"Ya....teh Rani atur aja. Saya percaya kok sama Teh Rani."


"Terimakasih mbak!"


"Sama itu Teh, em...saya rasa... anak-anak yang baru lulus SMK jurusan disain pun bisa masuk ke sini deh Teh!"


"Lulusan SMK?"


"Heum! Kalau dia memang berbakat, kenapa tidak. Justru kita yang berada di posisi lebih beruntung dari mereka, harus bisa menyalurkan bakatnya. Dan kalo perlu, nanti dari kantor ku akan memberikan kesempatan pendidikan gratis buat mereka yang memang berbakat!"


"Subhanallah!", kata Rani bergumam.


"Kunaon Teh?"


"Mba Dian baik banget sih....!", puji Rani .


"Teh Rani apaan sih????! Saya nggak sebaik itu, nggak usah muji saya berlebihan. Kamu nggak tahu aja jeleknya saya kaya apa!"


"Hehehhe Mbak Dian emang terbaik lah !"


Aku mengulum senyum.


"Terserah padamu lah Teh!"


"Oh iya mbak Di, thr dan gaji anak-anak sudah di berikan kemarin."


"Iya Mbak. Alhamdulillah, sudah selesai semua. Rencananya...hari ini kalau mbak Dian udah selesai mengecek pembukuan, saya pengen mba Dian Zoom sama anak-anak cabang!"


"Heum! Boleh tuh! Tapi saya selesaikan kerjaan ini dulu ya?"


"Siap lah mbak Bos!", kata Rani.


"Gatel telinga saya denger nya tau nggak teh!", kataku melotot.


"Heheheh ya udah, kalau gitu saya keluar ya?"


"Iya teh. Nanti kalau udah selesai teh Rani saya panggil deh!"


Rani pun meninggalkan ruangan ku. Beberapa laporan sudah di cek mas Aziz. Meskipun bisa saja di kirim melalui email, tapi bagi ku bukti hitam di atas putih itu penting. Bukan tidak percaya pada orang lapangan tapi kadang kita perlu melihat dan meneliti sesuatu hal yang nyata. Jika masih bisa di perbaiki, toh akan lebih mudah menunjuk bagian mana saja yang harus di perbaiki. Itu prinsip dari seorang Aziz, begitu pun aku. Aku mengikuti jejak suamiku.


Urusan mengecek laporan sudah selesai. Azan ashar pun berkumandang. Aku menunaikan shalat ashar terlebih dulu. Sedangkan Julian, aku meminta nya kembali ke kantor setelah aku sampai ke butik.


Usai solat, aku dan Rani benar-benar Zoom dengan anak-anak cabang. Mereka begitu antusias saat melakukan siaran langsung dengan ku. Aku tak begitu banyak mengenal mereka, karena aku memang belum pernah ke sana. Hanya Sunter yang sering ku kunjungi.


Pekerjaan ku sudah selesai, baru saja ingin memesan taksi, sebuah mobil berhenti di pelataran parkir butik.


Kaya mobil nya...?


"Sore Di?", sapa nya.


"Sore, om Stevan?"


"Mau pulang?", tanyanya.


"Heeum. Iya om!"


"Oh, biar om antar ya? Sekalian om pengen ketemu Stevi!"


"Oh...boleh deh, kalo om ngga repot."


"Ya nggak lah!"

__ADS_1


"Om ada keperluan ke sini?"


"Iya, Lili sudah protes. Pakaian nya mengecil. Jadi dia meminta om untuk membelinya di sini."


"Oh ya? Memang sudah berapa bulan usia kandungan Lili om?"


"Masuk delapan bulan Di. Kamu tahu lah, bisa kira-kira Segede apa."


"Iya om. Mau Dian temenin?"


"Nggak, om tinggal ambil kok. Tadi udah telpon sama Rani."


"Oh, ya sudah. Saya tunggu di sini."


Stevan pun masuk ke dalam butik. Tak berapa lama, dia keluar dengan membawa beberapa paperbag berisi pakaian Lili.


"Sudah om?"


Stevan pun mengangguk. Lalu ia mempersilakan aku masuk ke mobil.


"Lho...om, om nyetir sendiri? Bukannya biasanya sama....?"


"Wawan pulang kampung ke Medan."


"Oh, pak Wawan lebaran juga?"


"Hehehe ya nggak sih, tapi apa salah nya ikutan mudik kaya yang lain?"


"Hehehe iya sih Om."


"Dian...?"


"Ya Om?"


"Maafkan semua kesalahan om ya, yang sudah membuat kamu kehilangan ibu dan ayahmu!"


"Sudah lah om, sudah takdir nya seperti itu. Tidak ada lagi yang perlu di sesali. Kita hanya perlu belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dian udah maafin Om kok!"


"Makasih ya Nak!", kata Stevan. Aku pun membalasnya dengan tersenyum.


"Dan....om juga minta maaf untuk....", Stevan menggantung kalimat nya.


"Untuk apa lagi?", aku mengernyitkan alisku.


"Kesalahan istri Om!"


Aku menghela nafas berat. Bagaimana pun, aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Adegan suamiku dan istri om Stevan masih teringat jelas di pelupuk mataku. Meskipun aku sudah memaafkan kesalahan suamiku, tapi tak bisa ku pungkiri. Aku tidak akan mungkin bisa melupakannya.


Sakit, sakit sekali jika mengingat hal itu. Tapi, kesempatan kedua yang ku beri untuk mas Aziz adalah pilihan ku sendiri. Aku yang memutuskan untuk bertahan hingga detik ini, hingga keadaan mas Aziz yang tak lagi seperti dulu.


"Di...Dian? Kok melamun?", Stevan mengguncang pelan bahuku.


"Ah...iya om, maaf!", kata ku tergagap.


"Om tahu, Lili sudah sangat menyakiti mu. Mungkin, kamu memang bisa memaafkan nya om tahu kamu anak yang baik, tetapi sebagai seorang perempuan khususnya seorang istri. Om yakin, kamu tidak akan pernah melupakannya."


Ku tatap mata pria yang pantas menjadi ayah ku ini dengan tenang.


Om Stevan benar, aku mungkin mudah memaafkan tapi tidak dengan melupakan. Aku tersenyum tipis kepadanya.


Jalanan ibu kota sudah mulai macet. Apalagi di beberapa tempat, ada pasar dadakan yang menjajakan menu berbuka puasa.


"Kamu mau beli takjil Di?", tanya Stevan.


"Kalau om stevan nggak keberatan sih heheheh!"


"Jelas ngga lah, sekalian beli buat Stevi dan damar ya?!"


"Iya om!"


Kami pun mencari tempat parkir. Aku memilih beberapa menu untuk berbuka puasa. Tentu saja tidak hanya untuk ku, tapi orang-orang yang ada di rumahku.


Karena yang ku pilih cukup banyak, aku meminta penjual nya memasukkan ke mobil. Dan saat aku ingin membayar nya, om Stevan melarang ku.


"Om saja. Biar om juga dapat pahala memberi orang yang berbuka puasa!"

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar alasannya. Kami pun pulang ke rumah ku dengan makanan yang banyak.


__ADS_2