
"Maaf mbak Di, tadi antri di kasir nya!", kata Imah saat baru saja tiba di kios.
Aku diam, sambil menyusui Diaz.
"Mbak...kenapa? Apa tadi kios ramai ya?", tanya Imah pelan.
"Enggak." Aku jawab singkat saja. Aku hanya tidak ingin Imah yang akan jadi sasaran emosi ku yang mungkin sebenarnya dia saja tidak tahu.
Imah yang merasa ada perubahan sikapku pun hanya bisa diam. Dalam pikiran imah, mungkin mbak Dian marah karena ia terlalu lama belanja. Andai saja ia tidak kapok naik sepeda motor lagi. Pasti bisa ke mana-mana cepet, gak harus jalan kaki.
"Ya udah Mah, mbak masuk dulu ya. Makasih udah bantuin belanja mbak."
"Iya mbak sama...sama...."
Aku pun meninggalkan kios dengan mendorong stroller Diaz dan menenteng belanjaanku.
Aku kepikiran tentang ucapan Lili tadi. Benarkah mas Aziz melakukan hal itu lagi di belakang ku?
Soal parfum itu, apa mas Aziz jujur padaku? Dia benar-benar inisiatif memberikan nya untuk ku? Atau...dia ingin mengelabui ku? Bibirnya yang pecah-pecah karena panas dalam atau...karena dia menggosok kasar?
Banyak sekali yang ingin ku tanyakan padamu Mas!
Apa aku masih kurang dalam melayani mu mas Aziz? Kenapa kamu munafik! Masih bermain dengan lili di belakangku mas!!!
****
Di Bogor
Aziz menemani mama mengecek butik mereka. Sambil menunggu mama nya yang sedang ngobrol dengan anak buahnya di sana, Aziz membuka ponselnya untuk memantau rumah sekaligus kiosnya.
Awalnya dia terlihat biasa saja. Sampai dia mulai menyadari jika yang berjaga kios adalah istri dan anaknya. Yang jadi masalah ialah kustomernya adalah Fai. Iya. Meskipun dia memakai masker, Aziz faham sekali dengan rivalnya itu. Terlihat juga betapa ketusnya Diandra melayani Fai.
Rasa cemburunya mulai terbaca. Tapi, kedatangan lili yang tiba-tiba justru lebih menarik perhatian Aziz. Sayangnya cctv tidak dilengkapi dengan audio. Jadi, ia tak mendengar obrolan mereka.
Perasaan Aziz sudah tidak enak. Pasti Lili sudah mengatakan hal yang tidak-tidak pada Dian, apalagi di sampingnya masih ada si Fai.
Dalam hati Aziz, dia harus buru-buru pulang. Dia harus menjelaskannya pada Diandra. Aziz tidak ingin ada lagi masalah dalam rumah tangga nya.
"Ma..mama masih lama?", tanya Aziz.
"Masih Ziz, kenapa?"
"Aziz harus segera pulang ke Jakarta Ma. Ada urusan penting!"
"Urusan apa? Apa ada sesuatu yang terjadi sama Diaz?"
"Nggak ma. Tapi Aziz harus secepatnya pulang. Mama nggak apa-apa akan kalau Aziz pulang duluan?"
__ADS_1
"Iya , ya udah kamu hati-hati saja. Jangan ngebut-ngebut. Mama bisa pulang sama anak-anak ntar!"
Anak-anak yang dimaksud adalah karyawannya yang juga dari Jakarta.
Aziz pun gegas menginjak pedal gas nya. Yang dia pikirkan saat ini adalah perasaan Dian seandainya Lili mengatakan hal bodohnya.
Arghhhh.....!
Aziz memukul setir mobilnya. Karena letak butik yang tak jauh dari jalan tol, Aziz tak butuh waktu lama untuk segera sampai ke Jakarta.
Pukul sebelas siang, Aziz sudah mendaratkan mobilnya di halaman rumah. Kios juga terlihat tak terlalu ramai. Dia memutar lewat lorong penghubung rumah yang langsung mengarah ke dapur. Sebelum masuk ke rumah, ia terlebih dahulu membersihkan diri di luar.
Tujuan Aziz pulang adalah langsung bertemu dengan Diandra. Televisi di ruang tengah menyala, tapi Diandra tidak ada disini.
Aziz pun menuju kamar tidur mereka. Dia mendapati istri dan anaknya sedang duduk di depan jendela menghadap ke luar.
"Assalamualaikum...", Aziz memberikan salam.
"Walaikumsalam." Dian menjawab singkat.
Aziz pun mendekati Dian dan Diaz. Kecupan lembut mendarat di pipi chubby Diaz. Berbeda dengan Dian, Dian melengos saat ingin di cium Aziz.
Apa Dian sudah tahu?
"Kenapa sayang, kok nggak mau di cium sama mas?", aku mencoba menggodanya.
"Apa ciuman mu itu juga masih kamu umbar-umbar selain padaku mas?", tanya Dian datar.
"Apa kamu masih bermain api dibelakang ku mas?"
"Demi Allah dek, mas nggak kaya begitu."
"Lalu ,kaya apa?"
"Kamu ngomong apa sih sayang?", suara ku kubuat lembut.
"Kamu sudah memantau nya dari cctv kan? Apa masih perlu kamu tanyakan padaku?", Dia menatapku dengan tatapan entah apa itu.
"Iya..mas liat...ada Fai dan Lili berkunjung ke kios. Tapi mas kan nggak tahu kalian ngobrol apa?"
"Apa masih perlu ditanyakan lagi Lili ngomong apa sama aku mas?"
"Dek... dengerin penjelasan mas dulu...."
"Kamu ketemu Lili di apartemen nya? Kamu melakukan hal gila itu lagi? Parfum? oh iya parfum itu kamu beli dengan merk dan wangi yang sama seperti milik Lili? Dan bibirmu yang katanya panas dalam? Mana dulu yang akan kamu jelaskan mas!"
Lili benar-benar sudah kembali membuat onar di dalam keluarga ku!
__ADS_1
"Jawab mas!", Dian membentak ku. Tapi dia menutup kedua telinga Diaz agar tak mendengar pertengkaran orang tuanya.
Aku berjongkok dihadapan Dian dan Diaz.
"Dek...mas nggak kaya begitu, sumpah mas cuma cinta sama kamu. Bu Tati dan lili bekerja sama buat ngerjain mas. Sumpah, nggak ada niat sedikit pun mas buat khianati kamu."
"Kenapa bawa-bawa Bu Tati?"
"Dia yang udah jebak mas masuk ke apartemen, bilangnya mau ngasih rawon buat kamu dan Imah. Tapi setelah mas di sana, mas tertidur. Mas nggak inget apa-apa lagi."
"Saat mas bangun...Lili sudah ada di samping mas. Tapi sumpah dek, mas tidak melakukan hal keji itu lagi dek. Mas masih berpakaian lengkap. Dan...Bu Tati juga sudah menunjukkan video itu cuma...cuma...adegan berciuman. Itu saja aku dalam posisi tertidur dek. Mas nggak ngapa-ngapain dek!"
Aku meraih tangannya. Tapi Dian segera menepisnya.
"Apa kamu bilang cuma ciuman? Cuma?"
"Dek, maafin mas dek...tapi demi Allah mas nggak pernah selingkuh dengan Lili apa lagi orang lain."
"Apa aku tidak cukup memuaskan mu mas? Sampai kamu harus terlibat dengan Lili lagi?"
"Ya Allah Dek, enggak. Enggak begitu dek. Mas harus ngomong apa lagi!"
Aziz kini mulai frustasi.
"Imah, kamu tanyakan pada Imah. Dia...dia yang sudah menghapus video itu dari ponsel Bu Tati. Kamu tanya saja sama Imah, tidak ada perbuatan lebih selain ciuman yang Lili lakukan padaku Dek. Mas nggak membalasnya!"
"Imah? Jadi Imah pun terlibat? Kalian sekongkol ? Kalian benar-benar jahat. Aku nggak percaya kalian bisa bekerjasama menutupi kebusukan kamu mas!"
"Ya Allah dek, bukan begitu...!"
"Berhenti menyentuhku!"
Aziz kini hanya bisa duduk terpekur menatap anak istrinya.
"Kamu keluar mas!"
"Dek...!"
"Aku bilang keluar!!!!"
"Baik...mas akan keluar. Tapi maksud Imah bukan seperti yang kamu pikir Dek."
"Baiklah. Keluar mas. Tutup kios. Dan bawa Imah ke mari. Kita selesaikan ini semua!"
"Imah nggak salah dek!"
"Keluar!", bentak Dian.
__ADS_1
Aziz pun keluar kamar dengan langkah gontai.
Dian meletakkan Diaz ke dalam boxnya. Dia masih terlelap dengan memeluk guling kecilnya. Usai kepergian Aziz, dian pun keluar kamar duduk di ruang tengah. Menunggu dia bersaudara itu untuk menjelaskan semuanya.