
Kesalahpahaman antara Dian, Aziz , Fai dan Mika udah selesai lho. Tapi.... temen2 yang lain belom 🤗.
Ada kisahnya Hayu dan damar yang belum dapat restu ortunya. Ada Imah dan Dadan yang masih nunggu buah hati nya. Ada juga si Lili yang mungkin sudah tobat heheheh.
Sekarang....Damar sama Hayu dulu ya....🤭🤭🤭🤗
.
.
.
Damar baru saja membawa mobilnya keluar dari rumah Aziz. Insiden yang terjadi pada Fai nyatanya membuat semua menjadi lebih jelas.
Tidak ada lagi kesalahpahaman yang semakin hari pasti akan menjadi bom waktu di antara mereka semua.
Di perjalanan pulang, sepasang suami istri yang menikah Sirri itu belum membuka obrolan. Sampai di sebuah lampu merah, ada penjual balon yang melintas.
"Pa, beli balon yang warna Pink itu ya Pa!", kata Hayu pada damar.
"Umi mau beli balon? Buat Faiz? Faiz kan cowok, masa Pink?", tanya Damar.
"Buat umi lah ,Pa!", kata Hayu sambil membuka kaca mobil.
"Bang, berapa harganya?", teriak hayu. Si Abang pun mendekat mobil.
"Lima belas ribu Neng!", kata si Abang. Hayu pun menyerahkan uang berwarna hijau.
"Mau yang pink bang, ambil aja kembaliannya!", kata hayu setelah menerima balon bentuk hati berwarna pink.
"Umi...?", tanya damar sambil mengernyitkan alisnya.
"Umi pengen beli aja Pa, ngga boleh?"
"Boleh sayang...!", kaya Damar Mengusap kepala sang istri.
"Pa, umi mau ngomong...!", kata Hayu.
"Ini ngomong...!", kata Damar masih fokus ke kemudinya.
"Serius ih...!", kata Hayu kesal.
"Nggak usah manyun, papa jadi pengen gigit bibir monyong nya tahu nggak!", kata Damar.
"Apaan sih Papa mah ih....!", kata Hayu dengan kesal.
"Hahahah iya iya sayang, ngomong apa?"
"Lho, kita mau pulang ke mana Pa?", tanya hayu yang baru sadar kalau tidak ke arah kontrakan nya.
"Ke apartemen sayang....!", kata Damar sambil memutar setir nya menuju ke kawasan apartemen nya.
"Kenapa ke apartemen sih Pa?"
"Memang kenapa sih Mi kalo ke apartemen?", tanya Damar heran.
"Ya ngga apa-apa sih Pa!", kata Hayu. Mobil pun masuk ke parkiran apartemen. Damar membuka pintu untuk istrinya.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke unit mereka di lantai dua belas.
"Umi mau ngomong apa sih?", tanya Damar saat berada di dalam lift.
"Nanti saja di kamar Pa!", kata Hayu.
"Oke!", kata Damar lalu menggandeng hayu menuju unitnya.
Sesampainya di kamar mereka, sepasang suami istri itu duduk di sofa.
Keduanya duduk berdampingan.
"Umi mau ngomong apa heum?", tanya Damar sambil membelai kepala sang istri yang sudah melepaskan hijab besarnya.
"Pa...!", kata Hayu menggenggam salah satu tangan suami nya.
"Apa sayang? Jangan bikin papa mikir macam-macam deh Umi...!"
"Emang papa mikir apa?"
"Umi, kayanya ada yang serius ya?!", sekarang damar yang membalas genggaman tangan istrinya.
Hayu menghela nafas.
"Kapan kita akan meresmikan pernikahan kita mas...!", tanya Hayu.
Mas? Ah, panggilan papa terasa lebih romantis Stev. Keluh Damar di dalam hati.
__ADS_1
"Secepatnya sayang...!"
"Tapi kapan mas? Mas ngga ada niat buat....!?"
"Psssst....papa juga pengen segera meresmikannya umi. Sabar ya?!"
"Tapi berapa lama Pa, umi takut kalau...kalau anak kita lahir nanti di akte lahir nya....di kira aku hamil di luar nikah pa. Iya kalau anak kita laki-laki, kalau Perempuan gimana pa?", tanya Hayu dengan wajah memelas.
"Sayang...kamu mikirnya jauh sekali sih?", Damar menakupkan kedua tangannya di pipi sang istri.
"Umi hamil Pa....!", kata Hayu lirih.
Damar tercengang.
"Benerannn Mi....?!", tanya Damar girang. Hayu mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Ya Allah, Alhamdulillah!", pekik Damar sambil memeluk istrinya. Hayu di hujani ciuman di seluruh wajahnya. Tak juga terelakan ciuman bibir meski hanya sekilas.
Setelah itu ia berjongkok di depan sang istri.
"Sayang nya papa ...ada kamu di situ nak?", damar mengusap perut Hayu yang masih rata itu.
Hayu mengusap kepala suaminya yang sedang membaringkan kepalanya di atas pangkuannya.
"Sehat-sehat ya anak papa, papa sayang sama kamu Nak!", Damar mengecup perut rata itu.
"Umi kenapa ngga bilang dari kemarin sih???", kata Damar manyun.
"Ini kan bilang Pa...!"
"Memang umi tahu sejak kapan?", tanya Damar.
"Beberapa hari yang lalu Pa."
"Udah periksa ke Dokter?", tanya Damar.
"Kan suamiku dokter!", kata Hayu.
"Sayang...suamimu memang dokter, tapi kalo soal kehamilan....papa ngga terlalu tahu sayang!", kata Damar.
"iya, besok aku periksa Pa! Sekalian papa ke rumah sakit!", kata ku.
"Iya sayang, nanti aku kabari rekan dokter spesialis kandungan biar ada jadwal khusus buat kamu!", kata Damar semangat. Senyumannya tak terlepas dari wajah tampannya yang memakai kacamata minus itu.
"Sayang, dengarin papa. Papa akan mengurus nya Minggu ini juga. Semoga setelah tahu kamu hamil, papa dan mamaku akan merestui pernikahan kita sayang. Bersabar lah!", Damar mengusap kepala istrinya lalu meninggalkan kecupan di kening sang istri yang memberinya ketenangan.
"Umi takut kalau....!"
"Sssst...jangan berprasangka yang tidak-tidak Umi. Misalnya pun mereka tetap tidak merestui kita, pernikahan akan tetap berjalan. Papa laki-laki, ngga harus pakai wali kaya kamu!", Damar menowel mesra hidung mancung Hayu.
Ucapan seperti itu mampu membuat Hayu lebih tenang.
"Solat ashar yuk!", ajak Damar. Hayu pun mengangguk, mengikuti ajakan suaminya.
Di lain tempat....
"A, Alhamdulillah ya semua udah clear. Ngga ada lagi prasangka yang enggak-enggak antara mas Aziz dan Mbak Di ke mas Fai. Imah seneng gitu kalau mereka akur begini."
"Aa jiga seneng neng, ternyata insiden yang menimpa Fai ada hikmahnya juga!"
"Hikmah di balik musibah ya A?", tanya Imah sambil tersenyum.
"Hehehe mungkin begitu. Ngomong-ngomong anak kita lagi ga pengen makan apa-apa neng?", tanya Dadan.
"Ngga sih A. Cuma....?!", tiap Imah menggantung kalimat nya Dadan pasti deg-degan. Ditambah lagi wajah Imah sedikit berubah ekspresi.Berharap semoga permintaan nya masuk akal.
"Cuma apa neng?", tanya Dadan penasaran.
"Imah malu A!", kata Imah.
"Kunaon kudu era ih....!", kata Dadan.
Imah berbisik ke telinga suaminya. Sontak mimik wajah Dadan berubah.
"Ayeuna??? Hayoo atuh! Aa ge hoyong!", kata Dadan semangat.
"Tapi A.....!", kata Imah lagi.
"Naon deui neng?"
"Tapi...Imah maunya di kamar yang belakang kios A heheheh!"
"Hah???!", pekik Dadan.
"Gelem gak? Gak gelem Yo wes ....!", kata Imah mencebik.
__ADS_1
(Bingung-bingung deh, nanya Sunda jawabnya Jawa. Besok kalo mereka punya anak perempuan kemungkinan di kasih nama WaNda Jawa Sunda 😜😜😜😜)
"Ah... iya iya....oke kita putar balik ke rumah mas Aziz. Tapi AA ijin dulu sama mas Aziz ya?!", kata Dadan.
"Yo wes. Ojo suwi-suwi!"
"Nyak. Dagoan sakedeng!"
Beberapa menit kemudian Dadan selesai menelpon kakak iparnya itu. Tentu saja Azis mengijinkan nya.
"Yakin neng mau di sana?", tanya Dadan memastikan.
"Iya ...kenapa sih? Kamar Imah di sana juga nyaman kok. Lagian...ngga bakalan ada yang ganggu juga heheheh!"
"Dasar bumil!", kata Dadan.
Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam bekas kamar Imah. Tau lah ya Imah bisikin suaminya apaan sampe kang Dadan semangat empat lima????
Beralih ke Liliana....
"Dad!", panggil Lili .
Stevan yang sedang membaca tabloid bisnis pun menengok ke arah istrinya.
"Kenapa Li?", tanya Stevan sambil berdiri menghampiri istrinya yang sedang hamil besar itu.
"Perut ku sakit Dad. Apa jangan-jangan mau melahirkan ya Dad?", tanya Lili.
"Kita ke dokter Li?", tanya Stevan. Lili pun mengangguk.
"Tapi Dad, Faiz?", tanya Lili. Entah kenapa si ulat bulu itu begitu menyayangi Faiz. Anak tiri dari anak tirinya. Au...ah...apa sebutannya.
Stevan membawa Lili ke rumah sakit terdekat. Sakit yang di rasa Lili semakin menjadi. Benar saja, usai masuk ruangan Lili segera di ambil tindakan.
Lili benar-benar akan melahirkan. Tapi Stevan tak bisa menemani sang istri. Dia tidak tega melihat istrinya kesakitan begitu. Stevan mondar mandir di depan ruang bersalin.
"Om....?", sapa Aziz.
"Eh, Ziz!", Stevan mengulurkan tangannya.
"Maaf lahir batin ya om!"
"sama-sama Ziz!"
"Om, Dian juga mohon maaf lahir batin ya!", aku menyalami punggung tangan Stevan.
"Sama-sama Dian, justru om yang banyak salah sama kamu!"
Ketiga orang itu terdiam.
"Em...apa mba Lili di dalam om?", tanyaku pada om Stevan. Karena hanya itu kemungkinan paling kuat.
"Iya, om nggak tega melihat dia kesakitan begitu!", kata Stevan mengusap kepala nya. Mas Aziz melirik ku.
Ya, bagaimana pun juga mas Aziz pernah 'merasakan' tubuh seksi dari istri om Stevan itu.
Sabar Dian... sabar....batinku.
Tiba-tiba Aziz merengkuh pinggang ku. Terpaksa aku mendongak ke kepala nya.
"Maaf!", bisiknya pelan. Mungkin dia tahu apa yang ku pikir kan.
Aku pun menyunggingkan senyum sedikit.
"Em...om...maaf, kami tinggal ya? Soalnya Diaz tadi sama Mika di ruang rawat mas Fai. Sebelumnya, selamat ya om. Semoga persalinan mba Lili lancar."
"Makasih Di, om tahu kesalahan Lili tidak akan pernah bisa kamu maafkan. Tapi... terima kasih, kamu sudah mendoakan yang terbaik buat istri om. Padahal dia sudah sangat menyakiti mu Di!"
Aku hanya mengangguk. Mau jawab ngga apa-apa kok kesannya bohong banget. Mau marah pun rasanya sia-sia.
Hanya genggaman tangan dari mas Aziz yang membuat ku kuat.
"Terimakasih sayang, terimakasih atas kesempatan kedua buat mas!"
"Iya mas!", jawab singkat.
Berdamai dengan diri sendiri dan keadaan , itu yang seharusnya di lakukan 😍.
*****
Semoga di loloskan ya min. Rencananya mamak mau bikin Kisah Cinta Diandra dan Fai yang bikin mereka susah move on. Kira2 ada yang sependapat ngga ?
Kalo ada yang komen OK, insyaallah mamak mau bikin tulisan receh tentang mereka.
Haturunuhun 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1