Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Keputusan seorang Imah


__ADS_3

"Mas Fa'i, anaterin ke rumah A Dadan aja ya. Imah mau ngobrol berdua sama A Dadan."


"Iya mah!"


Kini mobil itu sudah berhenti di depan rumah Dadan. Imah dan Dadan pun turun dari mobil.


"Mau di tungguin mah?", tanya Fai.


"Nggak usah, mas Fai pulang aja duluan. nanti gampang Imah bisa di anterin a Dadan atau jalan kaki juga biasa kok mas!"


"Ya udah, mas pulang duluan ya. Nitip Imah ya Dan!"


"iya mas!", sahut Dadan. Imah dan Dadan pun masuk kerumah untuk berbicara empat mata.


Fai pun meninggalkan rumah Dadan lalu menuju rumah Aziz untuk menukar motornya.


****


"A Dadan....em...mungkin... sebaiknya kita batalkan rencana pernikahan kita A!", kata Imah ragu-ragu.


"Apaan sih kamu Mah. Nggak. AA nggak mau batalin semua yang udah kita rencanakan!"


"Tapi A...Imah nggak mau menyakiti dan mengecewakan Farhan."


"Tapi kamu justru mengecewakan AA, Imah!", Dadan mulai tersulut emosi. Jadi ini yang Imah maksud ingin bicara berdua.


"Imah....!", Dadan menggegam kedua tangan Imah.


"A, Imah udah mikirin baik-baik dari tadi selama dirumah sakit, selama di perjalanan pulang. Imah memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana kita A. Maaf...!"


"Bagaimana mungkin kita membatalkan nya mah, AA sayang sama Imah!"


"Tapi aa memikirkan Farhan nggak A?"


"Iya...tapi suatu saat nanti, Farhan pasti ngerti mah. Dia hanya belum paham, dia masih terlalu kecil."


"AA tahu apa yang Farhan katakan ke Imah tadi di luar?"


Dadan menggelengkan kepalanya.


"Farhan merasa sendiri A. Dia menyadari bahwa dia bukan darah dagingmu. Dia tidak akan memaksa mu untuk menikah dengan mbak Feby lagi, karena dia merasa tidak berhak mendapatkan kasih sayang kalian yang utuh!Dia iri dengan teman-teman nya, dengan Diaz. Setidaknya, jika aa menikah dengan mamanya, Farhan merasa memiliki keluarga yang sesungguhnya."


"Tapi itu nggak mungkin Imah, AA nggak punya perasaan apa-apa sama Feby!"


"AA tahu....Imah juga pernah berada di posisi Farhan? Imah di besarkan oleh ibu tiri Imah. Bedanya...Farhan lebih beruntung, memiliki AA yang tulus menyayangi Farhan!"


"Imah, kita hanya perlu memberi pengertian sama Farhan. Tarik kata-kata mu Mah, AA nggak mau membatalkan pernikahan kita yang tinggal beberapa hari lagi."


"Apakah aa siap kehilangan Farhan?"


"Apa maksudmu Mah?"


"Apa AA siap, jika kita tetap menikah lalu Farhan memilih ikut dengan mbak Feby, tanpa pengawasan aa? Imah tahu, AA sayang sekali sama Farhan. Apa AA ikhlas, jika Farhan kembali ke keluarga kandungnya yah belum tentu mau menerima keberadaan Farhan yang dulu sempat mereka singkirkan?"


"Tidak, Farhan anak AA. Dia akan tetap bersama AA!"


"AA bisa bicara seperti itu, tapi ...apa AA akan terus memaksa Farhan untuk menuruti semua kemauan AA, sedang kan ada justru mengecewakan Farhan?"


"Apa itu artinya kamu tidak mencintai AA , mah? Kenapa mudah sekali kamu bilang kalau kita batalkan rencana kita?"


"A, Imah cinta sama AA. Imah sayang sama Farhan. Tapi, Imah tidak ingin menyakiti siapa pun A hanya demi kebahagian Imah!"


"Imah....!"


"A, tenang saja. Imah masih bisa jadi teman baik AA. bisa jadi tetangga AA. Mbak Feby dan Farhan jauh lebih membutuhkan AA. Bukan Imah nggak butuh AA, tapi.... percayalah Imah akan baik-baik saja!"


"Kenapa harus begini mah?", ucap Dadan sendu.


"Karena kita memang tidak bisa bersama sebagai sepatu suami istri A!"


Imah melepaskan cincin di jari manis nya, lalu memberikan di telapak tangan Dadan.


"Berikan ini buat mbak Feby A, tolong. Jangan buat Imah merasa bersalah!"


"AA nggak bisa Imah....!"


"Bisa, AA bisa. Demi kebahagiaan Farhan."

__ADS_1


Dadan menatap cincin pertunangan mereka.


"Imah pulang ya, A!", kata Imah sambil berdiri di depan Dadan. Tapi Dadan cepat-cepat merengkuh Imah dalam pelukannya, mereka tergugu bersama. Tidak ada kata-kata lagu yang bisa mewakili seperti apa perasaan mereka. Sampai akhirnya kecupan mesra mendarat di dahi Imah. Dan Imah pun membiarkan Dadan mencium dahinya. Setelah itu, mereka mengurai pelukannya.


"AA antar pulang ya."


"Nggak usah A, Imah jalan aja. Percaya lah, Imah ngga kenapa-kenapa!"


Kini mereka berdua keluar dari ruang tamu. Di saat yang bersamaan, Farhan turun dari motor bersama Aziz.


"Kak Imah...!", panggil Farhan.


"Sayang, kamu dari mana saja sama om aziz? Eh, habis makan eskrim kayanya nih?", Imah mengusap sudut bibir Farhan. Mata Farhan tertuju pada mata kedua orang dewasa di depannya. mereka habis menangis ya? batin Farhan.


"Iya ,kak. Om Aziz yang beliin."


"Makasih mas, udah mau anterin Farhan!"


"Sama-sama kang Dadan!"


"Mas, Imah nebeng boleh?"


Aziz menatap mata Imah yang sembab.


"Iya, ayok pulang!"


Imah langsung menaiki motornya tanpa melihat ke arah Dadan dan Farhan.


"Mas...!", panggil Imah.


"Hem?"


"Boleh pinjem punggungnya nggak?", tanya Imah sambil memeluk perut kakak sepupunya itu. Seperti nya Aziz paham dengan keadaan yang baru Imah alami.


"Iya!", jawab Aziz singkat. Ini untuk pertama kalinya, Aziz sedekat ini dengan Imah. Meskipun mereka bersaudara, tapi...adegan peluk memeluk sepertinya sangat tabu. Apalagi mereka sama-sama sudah dewasa.


Aziz merasakan punggung nya terguncang. Ia tahu, Imah butuh sandaran untuk menangis. Aziz yakin terjadi sesuatu diantara adiknya dengan Dadan. Tapi, Aziz tidak akan menanyakan apa pun sebelum Imah menceritakan sendiri.


****


Fai memarkirkan mobil Tante Farah tepat di depan kios. Lalu ia pun turun dan duduk di depan etalase.


"Tukeran Tante, Farhan pengen naik motor sana Aziz katanya."


Pertanyaan ku sudah di wakili mama, jadi aku tidak perlu bertanya lagi.


"Owh...begitu, sebentar ya Tante ambil minum dulu."


"Biar Dian aja ma!", terus terang aku tidak mau jika harus berdua dengan Fai meski sekarang Fai sudah berbaikan dengan mas Aziz.


"Udah mama aja, sebentar ini!", kata mama sambil berlalu menuju rumah induk.


"Di, gimana kaki mu? Sudah lebih baik?"


"Alhamdulillah mas!", jawabku singkat.


"Yang lain, gimana?",tanyaku basa basi.


"Imah...dirumah kang Dadan. Mungkin mereka butuh bicara berdua!"


"Kenapa? ada apa?", tanyaku penasaran.


Lalu Fai menceritakan yang ia dengar tadi diruang rawat Feby, Tante Farah pun turut mendengar kan penjelasan Fai.


"Nah, udah Fai. Mama pulanh ya Di? Tadi Mira bilang ada masalah di butik. Kamu ngga apa-apa kan ditinggal?"


"Ma, nanti saja menunggu mas Aziz atau Imah pulang. Masa mama mau meninggalkan kami berdua begini?", kataku.


"Memang kalian mau berbuat apa? Mama yakin kalau kamu nggak bakal macem-macem."


"Bukan gitu ma....!"


"Iya Tante, Fai jagain Dian sama Diaz kok!"


"Kami jangan macem-macem sama menantu Tante ya Fai!"


"Nggak Tante, Fai cukup mengagumi saja!", katanya nyengir.

__ADS_1


"mama pulang ya di!"


"iya ma...!"


Sekarang kami hanya berdua, eh...bertiga dengan Diaz.


"Di...!", panggil Fai pelan.


"Kenapa?", kataku ketus.


Di waktu yang bersamaan, Aziz dan Imah datang. Imah masih bersembunyi di punggung Aziz. Aziz menatap Fai tidak suka karena mereka hanya berdua, ditambah lagi dengan plat nomor motor Fai.


"Mas, itu Imah kenapa? Masih nemplok di situ?", tanyaku. Aku tidak cemburu saat Imah memeluk suamiku, justru aku penasaran mereka yang biasa bertengkar bisa seakur itu.


"Mah, kamu nggak mau turun?"


Imah menggelengkan kepalanya. Imah malu mau turun, matanya pasti bengkak karena sudah menangis dari tadi.


"Mah, nanti mbak mu cemburu...!", bisik Aziz pelan. Dan itu menyadarkan Imah.


Lalu iman pun turun dari motornya.


"Imah... kamu kenapa?", tanyaku cemas.


Imah hanya menggeleng dan bergegas masuk ke kamar nya di belakang kios.


"Mas, Imah kenapa?"


"Belum tau sayang, mas belum tanya macam-macamlah. Tadi dari rumah kang Dadan dia udah begitu!"


"Aku temenin Imah deh mas!"


"Nggak usah, nanti saja. Imah butuh waktu sendiri dek. Kalau sudah normal juga Imah bakal ceritain sendiri."


"Oh...ya udah, mas mau aku ambilin minum?"


"Itu aja di lemari pendingin."


Aziz mengambil sebotol air mineral.


"Heh...jomblo akut!", panggil Aziz ke Fai.


"Apa sih?"


"Maksud Lo apa tuh!", Aziz menunjuk plat nomor motor Fai. Aku pun yang duduk disamping mas Aziz turut melihat nya.


"Kenapa apanya?"


"Masih nanya lagi? Tuh, 5492 DS?"


"Kenapa sama nomor itu mas? mas mau pasang togel?", kataku meledek.


"Kamu dek...euuuggghhh...nggak ada Fai, udah mas cium dari tadi."


Wajahku memerah mendengar uacapan Mas Aziz.


"Emang apa yang salah sih Ziz?"


"Salah, itu hari lahir Diandra kan? Tanggal lima bulan empat tahun sembilan dua?Nah, DS Diandra Saputri. Iya kan? Ngaku nggak Lo?"


"Hahahah.... Lo emang kelewat pinter Ziz!"


"Tujuan Lo apa?"


"Ya elah Ziz, cuma plat nomor motor doang. Emangnya aku ngerebut Dian dari Lo? Motor...motor gue... dealer... dealer gue. Terserah gue mau pakai nomor berapa!"


"Dasar Lo, emang temen nggak ada akhlak! Buruan sana kawin Lo, biar ngga ngarepin istri gue Mulu!"


"Ya besokkkk...!"


"Udah sana pulang Lo. Nyesel gue temenan sama Lo lagi."


"Mas ...!", aku mengusap lengan mas Aziz.


"Iya gue pulang. Mana kuncinya?"


Aziz melempar nya di depan Fai. Aku cuma bisa menggelengkan kepalaku melihat kelakuan mereka.

__ADS_1


"Dah Diandra....mantan terindah ku....!", ledek Fai.


"Dasar...temen nggak ada akhlak!", teriak Aziz. Dan Fai pun melesat secepatnya dari kios Aziz.


__ADS_2