
Satu jam kemudian, Ujang berhasil membawa es cincau pesanan ku.
"Makasih kang Ujang. Kembali nya ambil aja. Sama ini...satu lagi, kalo kang Ujang mau ya ambil aja."
"Nggak usah mbak Di ..eh...Bu.... terimakasih."
Tolak Ujang .
"Mbak Di juga nggak apa-apa kaya biasanya kang Ujang. Jadi merasa muda aku nya heheheh....!"
Ujang pun turut tersenyum.
"Terima kasih mbak Di."
"Nggak usah makasih terus. Oh iya kang, sama minta tolong lagi!"
"Ya mbak Di, apa?"
"Kasihin ini ke mas Jul. Em... maksudnya Mr Julian."
"Baik mbak Di . saya antar ke sana "
"Makasih sebelumnya kang ....!"
Ujang pun meninggalkan ruangan ku. Ku nikmati cincau yang menggiurkan ini.
Sluuuurppp ....Ah ....
"Seger nya masyaallah.....!"
Dengan cepat sudah ku habiskan dua bungkus cincau, sisanya akan ku masukkan ke dalam freezer.
Ah, iya. Payudara ku sudah mulai keras, saatnya pumping asi buat Diaz.
.
.
.
Tok ...tok...
"Ya masuk!", pinta Julian.
Ujang pun masuk ke dalam ruangan Julian.
"Ya?"
"Maaf Mr Julian, saya di perintahkan buat memberikan es cincau ini kepada Mr Julian."
Ujang menyerahakan bungkusan itu pada Julian.
"Iya. sampaikan terimakasih."
Ujang pun mengangguk dan undur diri.
Julian yang tak pernah kenal dengan makanan eh...minuman seperti itu pun mengambil gelas lalu menuangkan nya.
Dengan ragu Julian mencoba nya. Sedotan pertama, lidahnya merasakan betapa manisnya minuman itu. Tapi.... akhirnya tandas juga.
Bu Dian, Kenapa kamu sukses membuatku semakin kagum sih bu? Aku saja ragu, perasaan apa ini? Sebatas mengagumi , atau.... perasaan lain?
Sharen yang bertahun-tahun menemaniku saja tak pernah membuat ku merasa seperti ini.
Ya Tuhan....kenapa aku begini????
Julian bermonolog dalam hatinya.
"Apa yang kamu minum Jul?", tanya Sharen tiba-tiba.
"Kapan kamu masuk?", tanya Julian datar.
"Sejak kapan kamu minum seperti ini?", Sharen mengangkat sisa minuman di gelas Julian.
"Apa urusan mu Sharen? "
"Julian! Kamu semak kesini semakin dingin tahu nggak!", Sharen duduk di meja berhadapan dengan Julian.
"Ini di kantor Sharen!", kata Julian sambil menyingkirkan gelasnya.
"Iya aku tahu. Tapi di luar kantor pun kamu sudah tak punya waktu untuk ku."
"Shar, kita bicara ini di luar. Tapi tidak sekarang!"
Sharen duduk di pangkuan Julian.
"Katakan padaku Julian, apa yang membuat mu seperti ini?", tanya Sharen lirih.
__ADS_1
"Tolong shar!", Julian mendorong pelan tubuh langsing yang ada di pangkuannya.
"Aku merindukan sentuhan mu Jul!", bisik Sharen yang terdengar sangat erotis bagi Julian.
"Tapi tidak sekarang, dan tidak di sini!", jawab Julian pelan.
Tapi Sharen tak menyerah, seketika ia raih bibir sensual tunangan nya itu. Menyesap beberapa saat lalu ******* nya.
Julian hanya membiarkan Sharen melakukan keinginannya. Semakin ia larang, ia yakin Sharen akan semakin nekat.
Tapi saat tangan lentik itu mulai menuju miliknya yang sudah on, Julian memegang tangannya. Dan melepaskan tautannya.
"Enough Shar!", kata Julian.
"Why?...", tanya Sharen kecewa.
"Kembali lah ke mejamu. Aku ada pertemuan dengan klien!", Julian berdiri meninggalkan kursinya.
Arggggghhhh.....! Teriak Sharen.
Kamu berubah Julian?! Apa karena Diandra???!!!!
Dengan langkah emosinya, Sharen keluar dari ruangan Julian dengan emosi.
.
.
.
"Mas, udah balik?", tanya ku yang terkejut tiba-tiba mas Aziz datang.
"Iya. Mas juga udah dari rumah. Tadi sekalian anterin belanjaan dulu, sama liat Diaz."
"Diaz nggak rewel kan?" tanyaku menghampiri mas Aziz yang duduk di sofa.
"Anaknya ayah Aziz mah pinter bunda.....", katanya sambil mengusap kepala ku.
"Hahah iya, pinter lah mas!"
"Oh ya, mau balik jam berapa?"
"Aku sih udah bilang mau balik duluan. Mas Julian juga udah mau gantiin pertemuan ku sama klien."
"Syukurlah. Kalo gitu, kamu bisa ikut mas dong?!"
"Mas udah pesen tadi dek!", kata Aziz sambil meraih tanganku lalu di ciumnya.
"Terus, ikut kemana?"
"Ke hotel!", bisiknya.
Aku menepuk pahanya.
"Kok mas di pukul dek?", tanya Aziz.
"Lagian, ngapain juga mesti ke hotel. Kaya nggak punya rumah aja."
"Pengen suasana lain dek....?", rayu Aziz.
"Nggak ah. Kita pulang aja!", aku mengambil tas kecil dan tas laptop ku.
Tapi mas Aziz segera membawakan tas laptop ku.
Belum sampai di depan pintu, mas Aziz meraih pinggang ku.
"Eh...???"
"Sebentar...!", bisik mas Aziz pelan.
"Kenapa?"
"Cium dikit....!", pinta nya.
Kenapa mas Aziz seagresif ini? Aku merasa de Javu dengan situasi ini. Aku yang minum es cincau, mas Aziz yang manja.
Ah....aku tak mau berpikir yang berlebih-lebihan.
Dengan singkat aku pun mencium bibir mas Aziz sebentar.
"Kok udah...?", tanya Aziz.
"Kan di rumah bisa mas????!"
"Tapi mas berangkat jam delapan dek. Mana sempet.... apalagi ada Diaz di rumah. Mas mau puas-puasin makan kamu sebelum berangkat ke Surabaya."
"Ishhhh....mesum Mulu ah!", aku menjewer kupingnya.
__ADS_1
Mas Aziz hanya terkekeh dengan matanya sedikit menyipit.
Kami berdua berjalan beriringan menuju lift. Di sana kami bertemu dengan beberapa karyawan yang menyapa kami berdua.
Kami menaiki lift khusus petinggi DWP. Sedangkan di sebelah, lift umum yang terlihat mengantri.
Karena lift sebelah penuh, salah seorang karyawan ketinggalan dan terpaksa tidak bisa masuk ke dalam lift itu.
Aku dan mas Aziz memasuki lift, ku lihat karyawanku itu terlihat gelisah. Aku menahan pintu lift agar tak tertutup.
"Kenapa dek?", tanya Aziz.
"Itu, kasihan dia mas. Kita ajak aja bareng ya?"
"Mas sih nggak keberatan, terserah kamu!"
Akupun keluar dari lift, kuminta mas Aziz menahan pintu lift.
"Mas...!", panggil ku di depan lift. Mas-mas yang ku panggil pun menoleh menghampiri kami.
"Ya Bu Dian....?''
"Ayo, bareng kami saja!" ajakku.
"Terimakasih Bu, saya menunggu lift ini saja", tolak mas itu .
"Masuk mas!", pinta mas Aziz dengan wajah dinginnya. Mau tak mau mas itu pun masuk ke dalam lift khusus kami. Aziz hanya merasa pegal menahan pintu lift terlalu lama.
"Terimakasih Bu Dian...pak Aziz."
Mas itu menunduk malu entah tak tak enak.
"Iya, sama-sama!", jawab kami kompak.
Ya Allah, benar kata orang. Mereka memang baik. Nggak pura-pura baik hanya karena ingin di lihat orang lain.
Pintu lift terbuka.
"Silahkan Bu, pak....!", kata mas itu mempersilahkan.
Aku dan mas Aziz tersenyum, lalu keluar terlebih dulu.
Mas itu jadi pusat perhatian karena keluar dari lift khusus petinggi DWP. Sekelebat aku mendengar mas itu di cerca banyak pertanyaan oleh rekan kerja nya .
Aku dan mas Aziz menuju lobi. Lagi-lagi kami hanya saling melempar senyum pada karyawan kami.
"Dek...mas ambil mobil dulu."
"Iya mas....!", aku pun menunggu mas Aziz di lobi.
"Pak Eko....!", panggil ku.
"Siap Bu Dian....!", kata pak Eko lantang.
"Nggak, cuma mau tes doang. Masih fokus nggak nih, udah jam segini?", candaku.
Pak Eko hanya tersenyum, Bu Dian masih sama seperti dulu. Hobi meledeknya.
Mas Aziz sudah membuka pintu mobil untuk ku.
"Saya duluan ya pak Eko....!", pamitku.
"Hati-hati Bu....!",ujar pak Eko.
Aku hanya mengacungkan jempol ku.
Mobil kami melesat menuju rumah yang berjarak lumayan jauh. Mas Aziz memainkan ponselnya sambil menyetir.
"Kalau kamu sibuk sama ponselmu, aku aja yang nyetir mas....?!"
Mas Aziz langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja.
"Nggak, kamu harusnya tuh dek. Pake bodyguard.Pake sopir pribadi. Pake mobil mewah...."
"Pssssttttt....stop!"
"Kenapa?"
"Kamu aja udah cukup mas!"
Mas Aziz tersenyum, meraih keningku untuk dikecup nya.
"Mas minta Imah ajak Diaz ke rumahnya. Jadi, setelah ini... kita punya waktu berdua."
"Ishhh....mulai deh!", aku mencubit perutnya.
"Mas begini karena kamu terlalu pintar memanjakan mas kan????", ia mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Aku memanyunkan bibir ku. Tapi setelah itu kami tertawa bersama-sama.