Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 290


__ADS_3

Maafkeun jika endingnya tidak seperti yang kalian harapkan. Karena kehaluan mamak sebatas itu ✌️🙏🤭.


Jika ada kalimat atau bagian2 tertentu yang tidak masuk akal, mohon harap di maklumi. Dan satu lagi, semoga ini hanya terjadi di dunia novel dan tidak akan pernah ada di dunia nyata ya 🤗.


Happy reading .......


.


.


.


"Aku tahu seperti apa perasaan kalian!", kata damar lirih. Aku menatap nya dari samping.


Damar mendampingi ku saat melakukan transfusi darah karena memang sudah meminta ijin kepada rekan dokter yang menangani Fai.


Ekspresi wajah Damar begitu datar kali ini. Mungkin ini yang Imah bilang saat itu, Damar itu dingin. Di kira tidak bisa tertawa saat konsen mengerjakan tugas nya .


Setetes demi setetes darahku mulai masuk ke kantong darah.


"Mas....!", panggil ku pada damar. Dia pun menatap ku. Saat ini kami hanya berdua di dalam ruangan ini.


"Apa kami terlalu egois?", tanyaku padanya.


Damar menatap ku lekat. Ku dengar helaan nafasnya sesaat.


"Iya!", jawabannya singkat.


Aku pun terdiam. Damar kembali melirik ku.


"Ini bukan soal siapa yang cinta dan tidak cinta Di. Tapi ingatlah, janji suci yang kalian ikrar kan terhadap yang di atas. Jika cinta memang egois, tidak akan pernah ada kesetiaan di dalam hidup ini."


Aku menunduk.


"Tapi kami tak mengkhianati pasangan kami."


''Secara tidak langsung? Tak perlu mencari pembenaran di atas kesalahan! Karena sekali salah tetap salah ,Di. Tidak ada yang memaksa mu untuk bertahan dengan pasangan mu. Begitu pun sebaliknya. Semua hanya atas kesadaran mu. Jika kamu dan Fai bersama , dan itu membuat mu bahagia, tidak kah terpikir bagaimana dengan Aziz dan mika?",ia menatap ku tajam.


"Aku....aku....!"


"Itu lah egois yang sebenarnya. Bukan cinta yang egois. Tapi kalian yang egois!", kata Damar pelan penuh penekanan.


"Aku tahu mas. Aku pun mencintai mas Aziz mas!".


"Aku tahu itu. Yang kamu maksud egois di sini, soal perasaan mu kan? Apa kamu ingin mengatakan mencintai keduanya?", dia berbalik tanya padaku.


"Tidak mas. Aku mencintai mas Aziz, suamiku."


"Lalu, kalimat yang tadi terlontar dari mulut mu apa?"


"Aku hanya masih peduli pada mas Fai, karena dia rela mengorbankan dirinya demi aku."


"Lalu, apa kamu ingat apa saja yang sudah Aziz korbankan untuk mu?"


Aku membeku. Damar benar, aku memang egois.


"Kamu tahu, di luar sana seperti apa perasaan Aziz dan Mika?"


Diam, aku hanya bisa diam.


"Pakailah hati nurani mu Di. Jangan mengorbankan apa yang sudah terjadi sekarang hanya demi sebuah perasaan di masa lalu."


"Aku harus apa mas?", tanyaku padanya. Dan ternyata tanpa ku sadari, kantong darah sudah penuh. Damar membantuku untuk melepaskan slang kecil itu.


"Tanya pada hati nurani mu. Cinta bisa berkorban untuk orang di sekelilingnya. Begitu pun kamu,Di. Tidak bisakah kamu melihat seperti apa ketulusan Aziz, ketulusan Mika?"


Aku terduduk. Lalu Damar,duduk di brankar ku. Kami saling berhadapan.


"Aku tak bisa memilih antara Aziz dan Fai, bagiku mereka berdua saudara ku. Aku tak ingin berpihak kepada salah satunya. Tapi aku hanya melihat dari sisi lelaki dan suami."


"Maaf mas....!"


"Kamu jangan minta maaf padaku, Di. Bukan padaku."


"Tapi pada suamimu dan istri nya Fai", lanjut nya lagi.


Aku menatap kosong tanganku yang saling bertautan.


"Bagiku, kamu dan Mika sudah kuanggap adikku sendiri. Jadi tolong, jangan khianati persaudaraan kita dengan hal yang menyakiti satu sama lain."


"Bagaimana aku bisa menghilangkan perasaan ini mas? Aku sudah menepisnya sejauh ini. Dan kalian semua tahu."


"Itulah, seberapa penting nya saling mempercayai. Kamu tahu rasanya tersakiti saat Aziz berbuat salah dengan Lili. Begitu pun Aziz, dia pun sebenarnya merasa terkhianati. Beda nya, kamu bisa lihat bukti pengkhianatan Aziz. Tapi tidak dengan Aziz. Karena kalian menyimpannya."


Astagfirullah......batinku.


"Di....!", Damar memegang kedua bahuku.


"Fai terlihat kuat, terlihat selengekan. Tapi aku tahu ,dia itu rapuh." Kemudian ia melanjutkan lagi nasihat nya padaku.


"Bebaskan hatimu dari belenggu yang kamu ciptakan sendiri. Allah maha pembolak balik hati!"


"Apa aku salah jika ingin memberikan darah ku pada mas Fai, orang yang sudah mengorbankan diri untuk menyelamatkan ku?", tanyaku pelan.


"Tidak, tidak salah sama sekali Di."


Kami berdua terdiam, larut dalam pikiran kami masing-masing.


"Minta maaflah kepada suami mu dan jiga istri Fai. Tanpa kamu sadari, kamu sudah menyakiti mereka dengan sikap mu yang ingin balas Budi pada Fai."


Kutatap lekat pria dewasa di hadapan ku itu.


"Terimakasih mas."


"Untuk apa berterimakasih padaku ,Di. Bahkan aku rasa suami mu akan melakukan hal yang sama dengan apa yang Fai lakukan jika kesempatan itu ada di depan matanya."


Lagi-lagi ucapan Damar benar menurut ku.


"Iya, kamu benar mas!", kataku pelan.


"Kita keluar, semua menunggu mu!", ucap damar sambil membantuku turun dari brankar.


.


.


.


"Dengan saudara Dadan Ramadani?", sapa seorang pria dengan jaket kulit berwarna hitam.


"Betul pak!", sahut Dadan.


"Saya Salman. Dari Polsek Xxxx!", kata polisi itu mengulurkan tangannya.


"Terima kasih pak!"Dadan mengulurkan tangannya.


"Kamu udah lapor polisi Dan?", tanya Aziz.


"Sudah mas!", jawab Dadan.


"Jadi bagaimana pak?", tanya Dadan.


Lalu Dadan menjauh dari Aziz dan yang lainnya. Setelah beberapa saat, Dadan meminta ijin agar bisa ikut ke kantor polisi untuk melaporkan secara tertulis dan juga mendengar kemajuan kasus yang dia laporkan tadi.


"Mas ikut ya Dan!", kata Aziz.


"Jangan mas, aku titip Imah ya mas. Nanti aku balik lagi kok. Semoga semua secepatnya terungkap."


Dadan menepuk pelan bahu kakak iparnya.


"Kamu hati-hati?!", kata Aziz.


"Iya mas, mobil ku bawa ya!"


Aziz mengangguk. Belum jauh Dadan melangkah, ponsel di tas Diandra berbunyi. Dengan cepat Aziz mengambilnya. Ada nomor asing yang tak ada namanya di ponsel Dian.


"Angkat saja dulu mas?!", pinta Dadan.


Akhirnya Aziz mengangkat panggilan itu.


[Assalamualaikum]


[Dimana Rara?]


[Anda siapa?]


Aziz menatap ke Dadan. Bagi Aziz, yang memanggil Rara hanya orang-orang di masa lalu Diandra.

__ADS_1


Dadan meminta Aziz meloudspeaker panggilan nya itu. Aziz pun mengangguk paham.


[Anda siapa? Ada kepentingan apa anda dengan istri saya?]


[Hahahaha ternyata kamu masih punya nyali untuk bertanya Ziz!]


Polisi yang awal nya hendak pergi, di tahan Dadan sementara waktu. Dengan tangan Dadan merekam percakapan itu.


[Apa maksud anda?]


[Kenapa kamu tidak mati saja saat itu?]


Deg! Semua mata saling berpandangan.


[Maksud anda apa? Dan siapa anda?!]


Aziz berbicara lebih tegas.


[Bagaimana kejutan dari ku Ziz? Ibu dan kakak mu mati bersama-bersama? Hahaha , itu karena kamu berani-beraninya memenjarakan ku!]


Mata Aziz melebar.


[Om Ronald?]


Pekik Aziz. Sedang damar masih merekam pembicaraan itu.


[Hahahaha hebat sekali tebakan mu.]


[Jadi...semua yang terjadi dengan ku dan keluarga ku karena ulah om?]


[Heum. Tentu saja!]


Bagaimana mungkin, om Ronald kan di penjara?


Aziz mengepalkan tangannya.


[Aku bisa melakukan apapun Ziz , orang-orang ku banyak! Penjara? Tidak masalah bagiku, hahahahah]


Aziz sudah tak tahan ingin meluapkan emosi nya. Tapi Dadan berusaha menenangkan nya lagi.


[Sekarang apa mau mu om?]


[Kamu tanya apa mauku? Baiklah, awalnya....aku ingin Diandra mati]


Astagfirullah....Imah ,Mika dan Hayu menutup mulutnya.


[Apa salah Diandra terhadap Om! ]


[Orang tuanya yang membuat Adik perempuanku bunuh diri, Dia penghalang ku untuk menguasai DWP]


[Orang berpendidikan seperti anda sepicik itu!]


[Hahaha kenapa? Bahkan aku tidak hanya picik bahkan licik. Awalnya aku ingin membunuh Rara, tapi kekasih hatinya sudah mengorbankan dirinya. Dan....kisah mutiara Dirham kembali terjadi. Terlalu menyenangkan jika Rara mati begitu saja, bagaimana kalau kita lihat dia kembali gila seperti dulu. Bukankah itu lebih menyenangkan????]


[Anda sudah keterlaluan Om]


[Psssst....sabar anak muda. Sadarlah....kamu hanya di peralat istrimu. Andai kamu tak ikut campur, ibu dan kakakmu pasti masih hidup hahahahahaha]


Tut....Tut....Tut.


Panggilan berakhir.


Dadan pun menyerahkan bukti rekaman itu pada polisi.


Aziz masih syok dengan apa yang terjadi. Untung saja dia masih duduk di kursi roda nya. Hayu meminta Diaz dari Imah, agar Imah bisa menenangkan kakaknya.


"Mas....!", Imah memeluk kakaknya itu.


"Mama Mah, mbak Imas....!", kata Aziz sendu.


"Sudah takdirnya seperti itu, kita harus sabar mas. Saat ini, mbak Dian juga butuh support. Jangan biarkan mbak Dian kembali seperti waktu itu. Itulah yang Om Ronald inginkan mas. Kalian pisah, dan Mbak Dian hancur. Tolong jangan seperti ini mas",Imah merengkuh bahu kakaknya.


"Neng, AA ke kantor polisi dulu ya!", kata Dadan. Imah pun mengangguk.


Sepeninggal Dadan dan polisi, Aziz masih terdiam di hadapan Imah.


"Apa kamu akan menyalahkan mbak Dian mas?", tanya Imah. Aziz menggeleng.


"Dian tidak bersalah Mah. Benar kata mu, mas seharusnya mendukung Dian agar tidak sampai seperti dulu."


"Apa yang aku pikirkan, apa kah sama dengan yang kamu pikirkan mas?", tanya Mika pada Aziz. Keduanya saling menatap. Hayu dan Imah tak mengerti apa yang Mika maksud.


Aziz tak menyahut ucapan Mika.


"Apa yang kamu pikirkan Mika?", tanyaku yang muncul tiba-tiba di belakang nya bersama Damar.


"Dian....!", panggil Mika lirih.


"Dek....!", Aziz meraih tanganku. Tapi ku lepas perlahan. Aku memilih duduk di hadapan Mika.


"Apa yang kamu pikirkan Mika? Kamu pikir aku akan melepaskan mas Aziz untuk kembali pada mas Fai, begitu juga dengan kamu? Mau merelakan mas Fai untukku?", tanyaku penuh penekanan.


"Dian...aku....!", kalimat Mika terhenti.


"Maaf Mika, aku akui dihadapan kalian semua. Maaf jika aku lancang, aku egois. Tapi aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri, aku belum bisa sepenuhnya melupakan mas Fai, pun sebaliknya. Tapi kami sadar, kami pun memiliki cinta yang lain yang lebih berhak dan lebih sakral di bandingan dengan cinta 'egois' kami. Maaf!", ku takupkan kedua tanganku.


Tapi Mika meraih tanganku, lalu memeluk ku erat.


"Tidak Dian, tidak?! Perasaan memang tidak bisa di paksakan. Dan kami tahu, kalian sudah mencoba sejauh ini. Hanya keikhlasan yang belum bisa kalian rasakan."


Aku tergugu di pelukan Mika. Rasa bersalah di dalam dadaku semakin menjadi. Kalimat pelan Mika justru terasa menusuk jantung hatiku.


Mika mengurai pelukannya dariku, sambil mengusap air mataku.


"Jangan menangis Di, terimakasih sudah mendonorkan darah mu buat mas Fai."


"Ini kewajiban ku Mika. Andai kamu memiliki darah yang sama, kamu pasti juga akan melakukan nya." Mika menggenggam tanganku.


Damar melipat kedua tangannya di dada menonton pertunjukan ini.


Kini aku beralih ke mas Aziz.


"Mas....maafkan aku, selama ini aku selalu menuduhmu mengkhianati ku. Tapi kenyataannya, justru aku yang mengkhianati mu mas! Bahkan aku tak menyadari nya !", aku menangis di pangkuan suamiku.


"Sayang...bagi mas, kamu tidak pernah mengkhianati mas. Mas tahu, kamu juga mencintai mas. Kesempatan kedua dari kamu dek, itu lah bukti bahwa kamu benar-benar sangat mencintai mas. Dan ...soal perasaan pada Fai, benar kata Mika. Kalian hanya perlu saling mengikhlaskan."


Aku mendongak menatap wajah tampan suamiku.


Apa cinta lelaki sebaik ini masih perlu kamu pertanyakan Diandra? Batinku.


"Makasih mas....!", aku memeluk tubuh suamiku.


"Jangan menangis lagi Dek, kita buka lembaran baru agar kedepannya lebih baik lagi."


Aku mengangguk. Di saat yang bersamaan, dokter keluar dari ruangan.


"Bagaimana dok?", tanya Mika.


"Alhamdulillah, semua lancar. Dan pak Fai sudah melewati masa kritis nya."


Alhamdulillah, kami semua mengucapkan syukur. Mika tak buru-buru menemui suaminya, karena dia paham prosedur rumah sakit ini.


Dia akan menjenguk suaminya di ruang rawat nanti.


Dadan menghubungi Aziz. Dia menjelaskan jika orang-orang yang mensabotase butik mama di Surabaya hingga menyebabkan kematian mama dan mbak Imas, orang yang mencelakai Aziz, dan menembak Fai adalah orang suruhan Ronald. Dan mereka sudah tertangkap, berdasarkan plat nomor mobil serta cctv dan rekaman percakapan tadi.


"Jadi....om Ronald yang sudah melakukan ini semua?" kataku tak percaya.


"Iya dek!"


"Astagfirullah....kalau om Ronald memang menginginkan DWP, kenapa tidak langsung memintanya dariku. Kenapa harus mengorbankan orang-orang yang aku sayangi!Ini semua salahku", aku terduduk lesu dengan air mata yang masih menetes.


Imah memeluk ku erat.


"Mbak, jangan menyalahkan diri seperti ini. Tolong kontrol emosi mu mbak! Imah nggak mau mbak Dian kambuh lagi, itu yang om Ronald inginkan Mbak. Tolong....jaga emosi mu mbak. Ada Diaz yang juga membutuhkan mu!", Hayu membawa Diaz ke pangkuanku.


"Diaz....maafkan bunda nak...!", aku mengusap pelan kepalanya dan mengecup nya.


"Umi, ajak Dian makan ke kantin. Dia tak mau makan usai transfusi tadi", titah Damar pada istrinya.


"Iya ,pa!"


"Aku ngga ingin makan mas Damar, aku hanya ingin memastikan jika mas Fai sudah keluar dari ruangan ini, baru aku makan!"


"Dian ,jangan seperti ini. Aku tahu kamu cemas sama mas Fai. Kalau terjadi sesuatu padamu, nanti bisa-bisa dokter yang meminta donor darah dari mu malah di salahkan!", Mika membujukku.


"Maafkan aku mika!"

__ADS_1


"Ayo, kita makan sama-sama!", ajak Mika.


"Iya, biar aku dan Aziz di sini."


"Oh iya kak, tolong nanti jika suster keluar, tolong mintakan ruangan VVIP buat mas Fai!", ucap Mika.


"Udah, kamu tenang saja Mika. Masa kritis Fai sudah di ,lewati. Kita tambah saja doa nya kepada Sang Khalik, agar Fai lekas sadar dan sembuh."


Mika mengangguk. Kami semua pun menuju kantin rumah sakit. Dan tidak sengaja kami bertemu Abah umi dan papa.


Lalu untuk beberapa saat, kamu bertegur sapa dengan beliau semua. Hingga akhirnya, kami semua melanjutkan menuju ke kantin. Dan tiga orang tua itu menemui damar dan Aziz.


Sesampainya di kantin....


Imah memesan makanan cukup banyak untuk ku, alasannya aku...habis dia sedot darahnya jadi harus makan banyak.


"Di, boleh aku tanya?," tanya Mika.


"Ya?"


"Kamu tahu golongan darahmu sama dengan mas Fai?"


"Iya, dulu aku pernah kecelakaan Mika. Dan kebetulan, mas Fai yang mendonorkan darahnya untuk ku waktu itu."


Apa karena ini mereka masih tak bisa saling melepaskan? Ada darah yang sama, mengalir di tubuh mereka? Batin Mika.


"Sekali lagi terimakasih ya Di!", kata Mika.


"Berhenti mengucap terima kasih Di."


"Iya, tapi entah apa yang terjadi jika kamu...."


"Mas Fai hanya melakukan apa yang bisa ia lakukan Mika, seandainya saat itu mas Aziz di posisi yang sama, aku yakin dia pun akan melakukan apa yang mas Fai lakukan."


Mika tersenyum padaku. Kami semua saling berpelukan. Hingga nada di ponsel Mika berdering.


[Ya kak?] kata Mika. Bisa kami tebak, itu dari damar. Wajah Mika berbinar.


[Baiklah, kami ke sana!] kata Mika.


"Kenapa Mika?", tanya Hayu.


"Kata kak damar, mas Fai sudah di pindahkan ke ruang rawat dan hebatnya lagi...mas Fai udah siuman."


"Alhamdulillah....!", kata kami kompak. Kami pun menuju ke ruangan mas Fai.


skip


skip


skip


"Abi....!", panggil Mika lirih.


"Uma, Abi baik-baik saja sayang!", kata Fai sambil mengusap kepala istrinya.


"Dian yang sudah mendonorkan darahnya buat kamu Bi!", kata Mika lirih. Mereka hanya berdua di ruang itu.


"Iya, mas tahu. Karena golongan darah kami sama ,dan langka."


Fai mengusap pipi sang istri.


"Abi kangen sama Uma...!", kata Fai.


"Abi, ih.... bisa-bisanya becanda di situasi begini."


Fai tersenyum tipis.


"Kak damar bilang, Abi memanggil Uma saat baru sadar?"


"Benarkah? masa iya begitu?", tanya Fai.


"Abi....!", kata Mika manja.


"Tentu saja Uma, bagaimana dengan uma dan Dede utun kalau Abi ngga kuat, heum???"


"Makasih ya Bi...!", kata Mika. Fai pun mengangguk.


"Kalo mau ini bertemu Dian, boleh?", tanya nya ragu-ragu. Tapi mika tak buru-buru menjawab.


"Ya udah, kalau Uma ngga ngijinin."


"Kata siapa Uma ngga ngijinin Bi?", tanya Mika. Fai menyambut ucapan mika dengan senyuman.


"Boleh Abi minta ini....!", ia menunjuk bibirnya.


"Lagi sakit juga ih...!", ucap mika manja.


"Sedikit, nggak lebih!", kata Fai. Mika pun menuruti nya. Lalu ia pun segera keluar dari ruangan itu, lalu menyuruh Dian masuk.


"Mas Fai...!", ucapku lirih.


"Dian...!", panggil nya. Kini aku duduk di samping brankar mas Fai.


"Terimakasih!", ucap nya.


"Aku yang harusnya berterimakasih!"


Mas Fai tersenyum manis.


Ya Allah, andai....


"Mulai saat ini, kita harus benar-benar saling mengikhlaskan mas. Aku tidak ingin lagi menyakiti siapapun."


"Iya Di. Maaf kan aku jika selama ini aku....!"


"Aku pun sama mas....!"


Kami berdua sama-sama tersenyum.


Selang beberapa waktu, mas Aziz dan Mika pun masuk.


Mas Aziz menggandeng Mika. Dan itu membuat Fai melotot.


"Lepasin istri gue!", kata Fai lirih tapi terdengar menekan suaranya.


Aku tersenyum, bukan malah tersenyum. Dan mas Aziz melepaskan tangan mika.


"Cemburu kan Lo? Sama, gue juga kalo Lo gitu ke istri gue!", kata Aziz yang kini meraih bahuku.


"Sialan Lo ngeprank gue?", tanya Fai.


"Menurut Lo?", ledek Aziz.


"Lo ga kasian sama gue Ziz, tega Lo ya. Padahal gue udah selamatin nyawa istri Lo! Gue masih sakit nih!"


"Oh...mau itung-itungan, dek...ambil balik darah mu !", titah Aziz padaku. Tapi justru aku dan mika tertawa.


Mas Aziz merengkuh bahuku, dan Mika bersandar di bahu suaminya.


"Mulai saat ini, berjanjilah kalian. Bahwa kalian sudah saling mengikhlaskan. Aku dengan Diandra, dan kamu Fai... dengan Mika. Jangan ada lagi perasaan yang di tutup-tutupi!", kata Aziz.


"Insya Allah Ziz!", kata Fai, lalu ia mengecup kening istrinya.


Dan akhirnya ruangan VVIP itu berubah seperti pasar dadakan.


Namanya juga di novel ya, di dunia nyata mana ada. ya kan????


Dan pada akhirnya....


Ikhlas adalah kunci dari permasalahan mereka selama ini. Mempercayai pasangan itu kewajiban suami istri. Jika salah, tegur lah. Jika masih bisa di perbaiki, maka perbaiki lah. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.


Kepercayaan itu mahal cyin....yang murah itu senyum dan colek tanda jempo 👍 buat tulisan receh mamak ini .


...TAMAT...


Terimakasih buat kalian-kalian semua yang udah bersedia membaca karya mamak yang masih amburadul ini, harap di maklumi jika banyak typo dan kalimat atau apapun itu yang kurang bagus. Karena kemampuan mamak memang belum sebagus othor yang lain.


Berhubung kisah Dian, Aziz , Fai dan Mika udah selesai. Mamak bakal konsen ke karya selanjutnya,


AKU PEREMPUAN TANPA RAHIM.


Dan semoga, pembaca setia di kisah Dian berkenan baca juga ya 🤷🤷🤗


Terimakasih juga sebanyak-banyaknya buat mak2 semua yang udah dukung karya mamak dari awal sampe eps terakhir, yang nggak bisa mamak tag satu2. Karena dukungan dari kalian sangat berharga buat tulisan mamak yang lain.


...Haturunuhun 🙏🙏🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2