
"Hah?", Imah terkejut saat tahu si ulet bulu ternyata mantan istri dari kekasihnya.
"Maksudnya apa kamu kenalin aku sama dia?", tanya Feby pada kang Dadan.
"Biar Imah nggak mikir yang bukan-bukan tentang saya."
"Heyy Dadan, kamu lupa kita memang pernah menikah tapi tak pernah terjadi apa-apaan diatara kita."
"Iya, saya tahu Nona Feby yang terhormat. Saya hanya suami diatas kertas. Saya hanya perlu membalas budi pada keluarga kalian uang sudah mempekerjakan emak saya dan juga membiayai kuliah saya."
"Bagus lah kalau kamu sadar diri."
"Kamu dengar kan Imah, tak pernah terjadi apa-apa diantara kami."
"Owh....jadi, cewek udik ini kekasih mu Dan? Cocok. Sama-sama kampungan."
"Jangan menghina adik saya Feby!", Aziz berdiri dihadapannya.
"Dia cuma adik sepupu Ziz."
"Sepupu atau kandung, dia itu adikku. Dan aku ngga suka kalau ada yang menghina keluarga ku."
"Iya mbak Feby, kami memang udik. Tapi kami punya harga diri."Imah mulai angkat bicara.
"Berapa harga dirimu hah?"
"Feby, sudah habis kesabaran ku." Nafas Aziz naik turun. Nggak Lili , nggak Feby sama-sama gilanya.
"A Dadan, kalau tidak pernah terjadi apa-apa diantara kalian lalu Farhan?", tanya Imah.
"Coba kamu tanyakan kepada perempuan di depan mu yang memiliki harga diri!",Dadan mengarahkan pandangannya ke Feby.
"Farhan anak mbak Feby?", tanya Imah.
Kini Feby menatap mantan suami nya penuh emosi. Bagaimana dia tak emosi, dia dan keluarganya sudah membayar mahal agar Dadan membawa jauh-jauh Farhan dari ibukota.
"Dia bukan perempuan Imah. Dia bukan manusia. Karena manusia, tidak akan tega membuang darah dagingnya sendiri."
"Jaga bicaramu Dadan, kamu lupa sedang bicara dengan siapa hah?", ucap Feby lantang. Imah pikir, Feby itu perempuan yang lemah lembut. Siapa sangka ia jadi segarang ini.
"Saya bicara dengan orang yang nggak punya hati nurani. Yang sudah membuang anaknya sendiri."
"Kalau kamu memang sudah ngga sanggup buat merawat Farhan, kenapa tidak kau buang saja dia!"
"Astagfirullah hal adzim....", kompak kalimat istighfar itu meluncur dari mulut kami.
"Dasar nggak punya hati kamu Feb!" jari telunjuk Dadan mengarah ke wajah Feby.
"Bisa gila lama-lama aku disini!", kata Feby menghentakkan kakinya. Disaat yang bersamaan, ada anak kecil berusia sekitar tujuh tahun turun dari motor yang diantar boleh seorang laki-laki.
__ADS_1
"Ayah....!", panggil bocah tersebut menghampiri Dadan.Feby yang tadinya sudah berjalan, kini berbalik arah. Ayah? Desis Feby.
"Farhan!", panggil Dadan.
Apa...dia Farhan anakku? Batin Feby.
"Ayah, kenapa lama sekali sih? Farhan lama tahu yah nunggunya."
"Iya maaf sayang....!", Dadan meminta Farhan duduk dikursi bekas ibu kandungnya tadi duduk.
"Hai kak Imah, om Aziz?!", sapa Farhan.
"Iya sayang!", imah mencubit pipi chubby Farhan .
"Dadan!", panggil Feby yang kini tiba-tiba di belakang mereka. Aziz dan Imah mengira ulat bulu itu sudah pergi, ternyata masih disini. Menjadi penonton drama antara mantan suaminya dan anak kandungnya.
Dadan yang dipanggil pun menengok, diikuti Farhan. Farhan familiar sekali dengan wajah wanita yang ada dibelakangnya.
"Ini Farhan?", tanya Feby sambil mengusap rambut anak itu. Ya Tuhan...anakku tampan sekali, terlihat begitu terawat. Dadan pandai sekali mengurus Farhan.
"Jangan sentuh saya Tante!", ucap Farhan . Kami berempat terkejut mendengar ucapan Farhan barusan.
"Nak...nggak boleh kasar begitu?", bisik Dadan.
"Dia yang ada didalam foto itu kan yah?", tanya Farhan tanpa menengok ke arah ayahnya.
"Farhan benci sama dia yah!"
"Jangan bicara seperti itu Farhan, ayah nggak pernah mengajari seperti itu!"
"Kak Imah. Bilang sama ayah, jangan bela perempuan jahat ini. Sekarang ayah malah bentak Farhan!", kata anak kecil itu sembari berdiri hendak meninggalkan kios.
"Han... Farhan...sini sayang sama kakak.", Imah meraih pundak anak kecil itu. Sedangkan Feby hanya diam terpaku menyaksikan drama dihadapan nya. Dia tak menyangka, putranya sudah sebesar ini.
Kini Farhan sudah ada didalam kios bersama Imah, Dadan mengangkat Farhan melewati etalase.
Tiga orang dewasa lainnya hanya menunggu apa yang akan Imah katakan pada Farhan.
"Kalau Kak Imah mau tau sekarang umur Farhan berapa boleh nggak?"
"Boleh. Tujuh tahun Kak!"
"Wah...udah besar ya."
"Iya kak."
"Sini liat Tante deh."
Imah mengajak duduk dibelakang kasir. Mengeluarkan sebuah buku dan pulpen. Disana sudah ada lembaran yang berisi penuh dengan corentan.
__ADS_1
"Kak Imah, kalau marah sama om Atau ayah Farhan, biasanya suka coret-coret begini."
Imah menunjukan cara mencoret bukunya.
"Farhan mau coba?"
Si kecil Farhan pun mengangguk. Dia mulai mencoret halaman demi halaman. Dia meluapkan emosinya diatas kertas itu. Perlahan-lahan, Farhan menghentikan aktivitas nya. Terlihat wajah nya lebih baik.
"Farhan tahu, kenapa kak Imah kasih Farhan pena sama kertas putih?"
Farhan menggelengkan kepalanya.
"Nih, anggap aja pena ini Farhan, tintanya itu marahnya Farhan dan kertas itu adalah pikiran Farhan. Coba lihat, sekarang kertas yang Farhan coret!"
"Udah, kenapa?"
"Kertas itu udah nggak berbentuk, udah nggak bisa dipake buat nulis kan?"
Farhan mengangguk, tapi anak itu pasti belum paham dengan ucapan Imah.
"Sama, kaya Farhan.Pikiran Farhan kalo isinya cuma marah dan benci, jadinya apa? Jadi marah ke semua orang kan? Beda lagi kalau Farhan nulis pelan dikertas putih ini."
Imah menulis kan kata demi kata.
"Tulisannya bisa dibaca kan? Rapi dan enak dilihat. Sama...kaya perasaan Farhan. Coba Farhan yang nulis!"
Anak itu pun mengikuti instruksi Imah.
"Udah kak, tapi tulisan Farhan jelek. Tapi...masih bisa dibaca sih."
"Nah, sama kaya Farhan sekarang. Biarpun mama Feby bukan ibu yang 'baik' buat Farhan, Farhan masih bisa kasih kesempatan Mama Feby buat memperbaiki. Seperti tulisan Farhan nih." Imah melirik ke ulet bulu yang ia juluki ke Feby.
"Kalau tulisan begini, Farhan kan masih bisa lihat...'Oh...yang ini salah, Farhan benerin ah'
Nah, kalau kaya tadi kertas isinya coretan semua, gak bisa dipakai apa lagi di benerin. Paham kan maksud Kak Imah?", Farhan mengangguk.
"Nah, sekarang karena Farhan anak hebat...minta maaf sama mama Feby. Tadi Farhan sudah marah-marah. Minta maaf juga sama Ayah, Farhan tadi juga marah sama Ayah."
Tiba-tiba Farhan memeluk Imah.
"Kak...kenapa bukan kak Imah aja yang jadi ibu Farhan? Bukan Mama Feby?"
Imah melirik ke arah Dadan dan Aziz. Sedangkan Feby masih tertunduk,tak berani mengangkat wajahnya.
"Hem, iya besok-besok kalau ayah Farhan yang minta."
Ada senyum terukir di wajah Aziz dan Dadan. Siapa yang menyangka, seorang Imah bisa menaklukkan hati Farhan. Apalagi dengan cara yang tak pernah kita duga sama sekali.
Imah...yakin bisa jadi ibunya Farhan?
__ADS_1