Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 282


__ADS_3

Ada yang kangen Fai dan Mika nggak sih???? Mereka masih adem ayem lho sejauh ini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭


.


.


.


[Sayang, mas udah di depan]


Fai menelpon istrinya, ia bermaksud menjemput istrinya yang baru saja pulang praktek di rumah sakit Persada.


[Iya mas udah, ini lagi jalan. Tunggu bentar ya]


[Ya udah.]


Panggilan pun selesai.


Fai menyandarkan tubuhnya ke mobil sambil sesekali menengok ke sekeliling parkiran. Sudah jam sembilan malam, parkiran sudah tak terlalu ramai. Berbeda saat wabah copid marak beberapa waktu yang lalu. Dan saat itu, Fai belum mengenal sang istri.


Fai mengembangkan senyum nya mendapati sang istri sedang berjalan ke arahnya.


"Assalamualaikum!", Mika memberi salam sambil mengecup punggung tangan Fai.


"Walaikumsalam!", Fai pun menyambut sang istri yang terlihat kelelahan.


"Langsung pulang?", tanya Fai.


"Makan di luar mau?", tanya Mika.


"Boleh deh! Sekali-sekali makan di luar di jam rawan begini."


"Nggak usah takut gendut mas. Gimana pun kamu aku tetap bilang I LoVe You!", canda Mika.


"Dih.....istri mas pinter banget ngegombal ya sekarang!", Fai mencubit pipi istrinya.


Fai membukakan pintu mobil untuk sang istri.


"Silahkan ibu ratu!", kata Fai.


"Makasih punggawa tampan!", ledek Mika.


Fai pun turut tersenyum mendengar candaan Mika.


"Makan di mana sayang?", tanya Fai sambil memasang kan seat belt pada sang istri lalu di susul dirinya.


"Enaknya makan apa mas?", tanya Mika balik.


"Memang tadi kamu buka pake apa?"


"Es buah sama risoles mas!", jawab mika.


"Eum....kasian istri ku belum makan, padahal capek ya????", kata Fai sambil mengusap kepala istrinya.


"Ya nggak lah mas, es buah satu mangkuk terus risol lima biji ya udah kenyang lah hahahaha!"


"Hahaha masa sih? Perasaan nih perut kecil, nampung sebanyak itu?", kata Fai sambil mengusap perut istrinya.


"Kecil orang nya, tapi daya tampungnya banyak mas heheheh!"


''Bisa aja kamu sayang!", kata Fai.


"Mas sendiri udah buka pake apa?"


"Tadi Velly beliin batagor sama es teh manis."


"Kirain mas ikut bukber di rumah mas Aziz, tadi aku liat story nya kak Damar.'"


"Ah...masa sih? Mereka bukber? Kok nggak ngajak-ngajak kita ya?"


"Mika mana tahu mas....! Ya udah lah ya, lain kali kan bisa!"


"Iya, yang penting sekarang kita makan berdua sayang!", kata Fai tersenyum manis.


"Mas, kamu kok ganteng sih?", rayu Mika.


"Masa baru nyadar sih? Dari kemaren ke mana aja Bu????"


"Dari kemaren ke mana ya????", Mika mengetuk-ngetuk dahinya dengan telunjuknya.


Tapi secepat kilat Fai mengecup kening sang istri. Mika jadi salah tingkah sendiri padahal ini hanya kecupan di kening.


"Nggak usah kelamaan mikir, soalnya kamu tuh udah menguasai hati suami mu ini. Jadi ngga menyadari bahwa kadar ketampanan suamimu ini di atas rata-rata!", kata Fai penuh percaya diri.


"Masyaallah...suamiku percaya diri sekali ya?????", kata Mika.


"Jelas dong, apalagi di tambah punya istri cantik dokter, sholeha pula. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan???"


"Huuuuummmm....so sweet....tapi masalah nya aku belum Soleha mas....!", kata Mika manja.


"Mas aja masih gini-gini aja. Kita masih perlu banyak belajar sayang!"


"Iya mas!"


"Gimana, Udah mutusin mau makan apa?"


"Emmm....soto mie Bogor kang Dadan aja mas. Kayanya enak nih seger-seger berkuah pedes. Tapi jam segini masih buka nggak?"


"Boleh deh, jadi nggak terlalu jauh dari rumah. Coba mas telpon Dadan dulu!"


Mika pun mengangguk setuju.


[Assalamualaikum] sapa Dadan.

__ADS_1


[Walaikumsalam, Dan.]


[Naon mas bro?]


[Warung masih buka nggak?]


[Masih, setengah jam lagi baru nutup. Kunaon ya?]


[Istriku pengen makan soto buatan mu. Harus kamu yang racik lho! Ini kemauan istriku]


Kata Fai melirik sang istri, tapi di balas cubitan oleh Mika.


[Wah... jangan-jangan ngidam nih Bu Dokter! Oke lah siap, udah di mana? Biar aku siapin jadi sampe sini tinggal makan. Nggak kelamaan nunggu]


[Ya...paling lima menit lagi sampe lah....]


[Siap bos, segera di buat khusus buat Bu dokter]


[Makasih kang soto...]


[Sana ustadz kawe....]


[Reseh Lo Dan....hahhhaa...y udah, Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Fai pun melanjutkan konsentrasi nya mengendarai mobil.


''Mas kok bilang gitu sih, ntar di kira Mika ngidam beneran lagi", kata Mika manyun.


"Lho...ya ngga apa-apa lah sayang, kali aja ku beneran hamil kan?"


"Iya ...aamiin mas...tapi kalo nggak, pasti kecewa kan???"


"Ya sabar lah sayang, yang penting mas nggak pernah lelah buat usaha bikin nya kok!", kata Fai mengangkat salah satu alisnya.


"Iiiih....itu mah emang maumu mas!", tepuk Mika mesra ke lengan Fai.


"Eits....jangan bilang cuma mas yang mau, ku juga lho sayang!"


"Heum....iya...iya...udah ah, konsen aja. Nggak usah ngomong begituan!"


"Dih...pengen ya....ntar ya kalo udah di rumah!", ledek Fai.


"Kamu mas iiiih.....!", mika mencubit perut suaminya.


"Aww....sakit sayang!!!!", kata Fai sok pura-pura kesakitan padahal mah nggak.


"Lebay!!!!", Mika melipat tangannya di perut.


"Nggak usah manyun, jadi pengen gigit kan bibir manyunnya???!!!!"


"Mas , mesum amat sihhhh!", kata Mika kesal dan bersamaan pula mobil berhenti di depan warung Dadan.


"Heum. Terserah kamu saja lah mas!", Mika pun turun mendahului Fai.


Mika langsung masuk ke warung Dadan yang masih ada beberapa pengunjuk.


"Assalamualaikum kang Dadan....!", sapa mika. Di ikuti Fai di belakang nya.


"Walaikumsalam Bu dokter!",sahut Dadan. Fai pun menyalami Dadan. Lalu Fai menggeser kursi untuk di duduki Mika, di susul untuk dia sendiri juga.


"Silahkan di nikmati soto mie spesial dari Dadan, khusus buat Bu dokter!", kata Dadan menyerahakan semangkok soto mie di depan Mika.


"Makasih kang Dadan!", kata Mika.


"Sama-sama dok!", lalu Dadan pun meletakan satu mangkok lagi di depan Fai.


"Makasih kang soto....!" ledek Fai.


"Sama-sama ustadz kawe....!", sahut Dadan yang membuat beberapa orang di situ tertawa. Meskipun Dadan di kenal ramah, tapi sebagian besar tidak tahu sisi humoris seorang Dadan.


Mika mengendus-endus bau sesuatu.


"Kang, Neng Imah mana? Udah tidur?", tanya Mika.


"Ada di kamar. Biasa lah kalau jam segini mual-mual. Tapi nanti kalo udah lewat tengah malam baru bisa tidur nyenyak."


"Bisa gitu ya?", tanya Fai.


"Namanya orang hamil bawaannya beda-beda mas!", kata Mika.


"Iya mas. Emosinya naik turun. Ya...sebagai suami, harus banyak-banyak bersabar!", keluh Dadan.


"Heum...kalian nyium bau bayi nggak sih?" tanya Mika.


"Emang bayi bau apa sih sayang?", tanya Fai sambil mengusap ujung bibir isteri nya yang kena kuah mie.


"Bau.....eum...kaya minyak telon gitu!", kata Mika.


"Bukan bau bayi Mika, tapi aku! Neng Imah minta aku pake minyak telon, semua parfum ku di kasih ke mereka semua!", tunjuk Dadan ke karyawan nya.


Fai dan Mika saling berpandangan lalu... mereka terbahak-bahak bersama.


"Kok bisa?????", tanya Fai dan Mika kompak.


"Ishhh....kalian kompak banget sih! Bisa lah, bawaan orok mereuuuun....!"


"Ya...ya...bisa jadi tuh Dan. Sayang, besok kamu ngidam ngga usah aneh-aneh ya?!", kata Fai.


"Moga ngidam nya mika lebih parah!", kata Dadan menyumpahi.


"Lo nyumpahin gue Dan?", pekik Fai.

__ADS_1


"Iya, biar tahu rasanya di kerjain istri", sambung Dadan.


"Mika aja ngga tahu kapan hamil nya mas, udah di bilangin ngidam jangan kaya Imah!", kata Mika manyun.


Tiba-tiba si bumil nongol di belakang Dadan.


"Jadi, AA nggak ikhlas gitu nurutin mau ku??", tanya Imah di belakang telinga Dadan.


Fai dan Mika melongo. Mereka jadi ngga enak sendiri.


"Neng, kok bangun sih neng? Bukannya istirahat aja di kamar!", Dadan terdengar gagap dalam berbicara. Takut jika istrinya emosi,tapi... ternyata tebakannya salah.


"Aku lagi pengen cium AA yang wangi bayi", kata Imah manja.


Sontak wajah Dadan memerah.


"Masa cium di sini Neng, malu atuh!", bisik Dadan.


"Dih...GeEr! Imah cuma mau ini!", kata Imah sambil mengambil botol minyak telon kemasan kecil di saku kemeja Dadan. Lagi-lagi Fai dan Mika di buat terbengong melihat kelakuan bumil.


"Eh, ternyata ada mbak Mika sama mas Fai!", kata Imah girang.


"Heheh iya Mah, kita lagi pengen makan di sini!", jawab Mika. Lalu Imah menatap Fai, memindai nya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Kamu kenapa liatin mas kaya gitu sih Mah? Firasat mas nggak enak nih!", kata Fai kepada Imah.


"Heheheh....mas Fai ganteng....!", rayu Imah. Sontak Mika, Fai dan Dadan mengernyitkan alisnya.


"Mas...mas Fai kan ganteng, biar makin maskulin...pake minyak telon kaya AA Dadan juga dong. Ya mas ya....?", kata Imah memohon di depan Fai.


Maskulin dari mananya???? Batin Fai.


Dadan dan Mika saling pandang lalu.... keduanya sama-sama tertawa.


"Hahahaha udah mas, turutin tuh mau nya adek mu. Kasian lho, ntar dedek bayi di perut ikutan sedih!"


"Maskulin dari mananya sih neng? Masa bau bayi maskulin sih? Ada-ada aja deh bumil satu ini!", kata Fai geleng-geleng.


"Jadi, mas Fai nggak mau???", Imah memasang wajah sedih dan tentu saja membuat Fai iba.


"Nggak apa-apa lah mas, bau minyak telon enak kok!", bujuk Mika sambil menahan tawanya.


"Iya mas bro, kasian atuh anak saya....!", kata Dadan ikut memohon.


"Iya...iya....!", kata Fai.


"Yeyeyeyeye....!", kata Imah girang. Keempat orang itu jadi tontonan di dalam warung Dadan.


"Sini, Imah yang pakein!", seru Imah. Mika melotot.


"Nggak usah, mas bisa sendiri Mah....!",tolak Fai. Tapi lagi-lagi Imah memasang wajah memelas. Dan...Fai pun meminta persetujuan dari sang istri, dan di jawab dengan anggukan.


Imah langsung menuangkan minyak itu di telapak tangannya lalu ia mengusapkan ke lengan Fai. Setelah itu meneteskan ke kemeja bagian punggung Fai.


"Udah deh. Tuh kan wangi!", kata Imah girang.


"Untung Lo adenya Aziz sekaligus istri sahabat gue mah, udah kaya adek gue sendiri. Kalo nggak ihhh....!"


"Whatever lah...makasih mas Fai ku....!", kata Imah dengan riangnya.


"Kok ada orang hamil kaya gitu ya????", tanya Fai.


"Ada lah mas, versi nya si othor heheheheh!", canda Mika.


"Ya udah Dan, kita pulang deh!", pamit Fai sambil meletakkan selembar uang berwarna biru.


"Iya, makasih bro. Makasih juga buat...em..


nurutin ngidam istriku!",kata Dadan.


"Iya, sama-sama!", keduanya pun berpamitan.


.


.


.


"Kok Imah ngidam begitu ya Sayang?", Fai membuka obrolan di dalam mobil saat pulang.


"Masih bagus ngidam begitu mas, nggak yang aneh."


"Iya sih! Kamu besok jangan gitu ya?", lirik Fai pada Mika.


"Liat aja besok lah mas. Emang bisa di rencana gitu???"


"Hehehe iya sih!"


"Ngomong-ngomong kamu wangi begini , jadi berasa imut gitu deh mas!", ledek Mika.


"Sayang, jangan ngeledek deh!", Fai cemberut.


"Oke, mulai besok kamu harus pake minyak telon ini buat gantiin parfum mahal kamu mas! Hahahahahja!"


"Nggak lucu mika!"


Keduanya saling bercanda hingga tak sadar sampe di depan rumah mereka. Setelah melewati banyak ritual sebelum tidur, mereka pun beristirahat agar tak kesiangan saat sahur nanti.


******


Ringan aja lah ya, takut bosan kalau Aziz lagi, Dian lagi, Revan lagi....


Tapi....tunggu aja kelanjutan mereka semua ya ...

__ADS_1


Haturunuhun yang berkenaan dan setia baca tulisan receh mamak ini 🤗🤗🤗🤗🤗✌️


__ADS_2