Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 133


__ADS_3

Di sebuah altar sepasang suami istri baru saja mengucapakan janji suci. Janji suci terhadap Tuhannya. Meskipun, entah... setelah itu bahkan entah dalam hatinya....janji itu akan benar-benar di tepati atau hanya sebuah ucapan di bibir saja.


Dengan berjalan beriringan, mereka berdua meninggalkan bangunan suci nan megah itu. Siapa lagi mereka? Mereka ialah tuan dan nyonya Winata.


Saat sudah di dalam mobil, Stevan hanya menatap jendela luar. Raganya ada disini, tapi entah dengan jiwa nya.


Menikahi seorang perempuan muda seumuran dengan putrinya bukanlah salah satu rencana dalam hidupnya.


Mungkin, perasaan lelah dan menyesal adalah salah satu pemicu kenapa pernikahan yang tidak diinginkan ini terjadi.


Menyesal! Karena ulahnya, Stevan sudah menghancurkan dua keluarga serta masa depan dua anak perempuan yang sebenarnya tidak memliki salah apa pun.


Dari cerita damar, Damar meminta Stevi menggugurkan kandungannya yang sebenarnya tidak Stevi inginkan. Hal yang sama ia lakukan pada Lili, sang istri. Stevi jadi korban lelaki yang sebenarnya mencintainya. Berbeda dengan Lili, Lili hanyalah alat pelampiasan nafsunya belaka. Lili memang terlihat arogan, tapi dia sama sekali tidak silau dengan harta yang Stevan miliki. Sisi lain seorang Lili, dia hanya anak perempuan dari ibu yang tidak tahu keberadaannya. Dia dewasa oleh lingkungan. Harta bukanlah satu-satunya yang ia prioritas kan. Lili hanya butuh pengakuan.


Meskipun Stevan bukan pria yang romantis, tapi selama Lili bersamanya,Stevan merasa dia dibutuhkan.


******* nafasnya sendiri membangunkan ia dari lamunannya.


"Sayang ...kenapa dari tadi diam aja sih???", Lili bergelayut manja di lengan sang suami.


"Hem...!", hanya itu sahutan Stevan.


"Apa om tidak senang kita menikah?", tanya lili manja.


"Menurut mu?", Stevan kembali membalikan pertanyaan.


"Om...memangnya aku nggak berhak bahagia?", tanya Lili sendu. Dalam relung hatinya, meskipun ia bahagia karena akhirnya menikah tapi harus di akui. Perasaan sedih jelas berada di sudut kecil hatinya. Tidak ada pesta meriah, tidak ada keluarga. Keluarga? Bahkan Lili tidak tahu siapa keluarganya.


Pertanyaan Lili tentang 'Hak bahagia' membuat Stevan berpikir. Betapa tidak adilnya ia selama ini. Putri kandungnya hidup dalam kesederhanaan, meskipun harta ayahnya berlimpah. Sedangkan Lili, meskipun baru tiga tahun ini menjadi partner ranjang nya dia mendapat kan apa pun yang dia inginkan.


"Kamu berhak bahagia!", kata Stevan mantap.


"Setelah ini, aku janji akan berubah om!"


"Terserah kamu saja!"


"Om...!", lili masih bergelayut manja di lengan Stevan.


"Apa kita akan menemui putri bersama-sama?"


"Belum ku pikirkan!"


"Om tahu, kenapa aku membenci Stevia?"


Stevan melepaskan diri dari Lili.


"Benci??", tanya Stevan.

__ADS_1


"Iya! Aku benci dengan putri mu om!"


"Tapi sekarang, dia juga putri mu meskipun kalian seumuran."


"Ya...aku tahu itu!"


"Hapuskan kebencian mu padanya, aku akan berusaha mencintai mu sebagai istri dan ibu dari anakku. Bukan hanya sebagai teman tidur ku!"


"Entah lah om, apa aku bisa?"


"Kenapa tidak?"


"Om tahu...Stevi selalu merebut apa yang aku senangi? Apa yang ku miliki? Apa yang aku sayangi?"


"Itu hanya masa lalu kalian saat masih remaja."


"Ya...mungkin begitu menurut mu om. Tapi tidak bagiku."


Stevan menatap istrinya yang kali ini terlihat berbeda. Bukan hanya karena tampilannya, tapi karena ucapan nya.


"Dulu, saat aku bersama Aziz...Stevi datang menggoda mas Aziz sampai kami berpisah."


"Aziz?? Aziz suami Diandra?", tanya Stevan.


"Om kenal dengan Aziz?"


"Iya."


"Om tahu...aku merasa tidak berharga sama sekali. Aku hanya sampah yang mudah dipungut dan dibuang ke segala tempat. Tidak ada yang membutuhkan ku, tidak ada yang menginginkan ku."


"Bertahun-tahun aku berpindah-pindah dari lelaki yang ku pikir akan membuat masa depanku cerah. Tapi ternyata semua zonk. Aku sempat berpikir, aku ingin kembali pada Aziz. Aku membuat masalah di keluarga Aziz, tapi Diandra bertahan dengan pernikahan mereka sampai saat ini. Aku mulai berpikir, usia ku tak lagi muda Om. Aku juga ingin punya kehidupan yang layak. Ada yang mengakui ku sebagai istri ,sebagi ibu. Meskipun aku tahu, om terpaku menikah dengan ku. Tapi...tetap ku ucapkan terimakasih, karena om sudah memberikan aku status!"


Kalimat demi kalimat yang lili ucapkan seperti butiran garam yang ia taburkan di atas luka Stevan.


Lili tak seburuk yang ia bayangkan. Dia juga korban. Korban dari kebodohannya sendiri, yang menganggap dia tidak berharga.


Kini, Stevan merengkuh bahu istrinya yang jauh lebih muda itu.


"Aku akan mengakui keberadaan mu. Mulai saat ini, kamu satu-satunya nyonya Winata. Aku berjanji, aku tidak akan bermain di luar sana nanti. Tapi, aku harap setelah ini...jangan lagi ganggu kehidupan rumah tangga Aziz dan Dian, apalagi kehidupan putriku!"


Lili mengangguk dalam dekapan sang suami. Tapi Lili sendiri tidak bisa berjanji, suatu saat nanti apakah dia akan berubah pikiran atau tidak.


"Wan, kita langsung pulang ke rumah. Nggak usah ke apartemen!", titah Stevan kepada Wawan , asistennya.


"kita ke rumah om? Aku tidak tinggl di apartemen lagi?"


"Rumah kita!", jawab Stevan datar.

__ADS_1


Sebuah senyum terukir di wajah cantik Lili. Pelukan terhadap suaminya semakin dieratkan. Meskipun Suami nya jauh lebih dewasa, tapi dia lah satu-satunya lelaki yang mau mengakui keeksistesiannya.


********


"Mbak Hayu! Imah tidur duluan ya!", kata Imah sambil nguap.


"Iya, saya bentar lagi juga tidur kok!", sahut Hayu. Malam ini, hayu dan Faiz menginap di kamar Imah. Besok pagi adalah hari pernikahan Imah. Hayu diminta tidur di sini, agar besok pagi dia bisa membantu Imah bersiap-siap.


Hayu membuka hijab lebarnya. Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Pasti semua penghuni rumah ini sudah tertidur.


Saat hayu akan berbaring, dia melihat ada segerombolan semut sedang mengerubungi sisa makanan Faiz tadi sore. Hayu pun bangkit dari pembaringan nya untuk menyapu.


Setelah selesai menyapu, Hayu bermaksud membuang sapuan semut itu. Tapi alangkah terkejutnya saat dia berpapasan dengan mas Aziz yang baru saja keluar dari kios.


Mata mereka saling beradu. Untuk sepersen detik, mereka membeku. Tapi, dengan cepat Aziz meninggalkan lorong itu.


Lelaki tampan itu hanya memakai sarung dan kaos singlet. Naluri wanita yang sudah lama tak tersentuh membuat jiwa Hayu berontak.


Astagfirullah.... astagfirullah....Hayu berusaha menguasai dirinya. dia pun segera masuk ke kamar Imah lagi.


Di sisi lain, Aziz yang sempat terkesima dengan Hayu yang sudah tak berhijab membuat ia 'ingin' menyalurkan segera kepada istrinya. Ia tidak ingin, pikiran nya menjadi kotor karena memikirkan wanita yang tidak halal baginya.


Aku masih duduk bersandar di kepala ranjang. Memangku novel yang mas Aziz belikan berapa hari yang lalu.


Tiba-tiba saja mas Aziz menghambur ke pelukan ku. Dia menyerang ku tiba-tiba. ******* habis bibirku yang membuat ku tak sempat bertanya, dia ini kenapa?


Nafas mas Aziz terengah-engah. Kami menyatukan dahi kami.


"Ada apa mas?", tanyaku pelan.


"Maaf...maaf dek!"


"Iya, kenapa?"


"Tadi...mas nggak sengaja melihat Hayu tanpa Hijab dek."


Oh, karena itu? Apa hayu sebegitu menarik nya sampai jiwa kelelakian mas Aziz bangkit? Tapi... setidaknya, mas Aziz sudah jujur padaku. Dan .... melampiaskan nya padaku, perempuan yang halal baginya.


"Makasih mas! Makasih! Meski dia lebih terlihat menggoda, tapi kamu memilih aku disini." Ku benamkan kepalanya di dadaku.


"Berjanji lah dek, jangan pernah mengijinkan wanita manapun tinggal di sini lagi. Selain mama dan Imah. Aku hanya takut. Takut sekali jika imanku goyah dek!"


"Hayu juga tidak bermaksud menggoda mu mas. Dia pikir, kamu juga sudah tidak akan ke kios jam segini kan? Iya. Aku minta maaf. Ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya aku minta mbak Hayu menginap di sini."


Ku elus-elus kepala suamiku ini. Benar-benar berasa punya dua bayi.


"Masih boleh lanjut kan dek? Naggung!", katanya nakal.

__ADS_1


"Lanjut kan sepuas mu mas!", bisikku.


Kami berdua saling tertawa. Dan... setelah itu, sesuatu yang tadi sempat tertunda kini kembali di lanjutkan.


__ADS_2