Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 138


__ADS_3

Masih di hari yang sama....


"Mama beneran gitu ke Surabaya sekarang?", tanya Aziz.


"Iya, kasian mbak mu Ziz!"


"Salam aja ya ma buat mbak Imas . Kapan-kapan kita kesana."


"Iya Di! Ya udah mama jalan ya! Titip mobil kaya biasa!", kata mama berpamitan.


"kan aziz bisa anterin, nggak harus naik taksi!"


"Kamu capek. Lagian nanti kalau kamu anterin mama, Dian sendiri. Kan Imah udah nggak tinggal di sini"


Akhirnya mama pun berangkat ke Surabaya.


"Kita istirahat yuk dek!"


Mas Aziz merangkul bahuku menuju kamar. Diaz sudah tertidur pulas. Sekarang aku dan mas Aziz duduk di sofa depan televisi.


"Mau aku bikinin kopi mas?"


"Nggak usah. mas mau bikin minuman sendiri!", mas Aziz meninggalkan lalu menuju dapur. Entah minuman apa yang dia buat.


"Udah?", tanyaku.


"Udah di minum."


"Emang kamu bikin apa mas?"


"Madu sama telor ayam kampung!"


"Hah?"


"Biasa ja keleus."


"Buat apa minum begitu...an?!"


"Mas kan nggak mau kalah sama Dadan!"


"Ish...mesum!"


"Ayolah dek....!", rengek Aziz.


"Iya, nanti mas. Istirahat sebentar."


Aziz pun kini duduk di sebelah sang istri.


"Buka jilbabnya ngapa?"


Aku pun menuruti nya.


"Mas...!"


"Hem...!", sahut Aziz sambil mengusap rambut panjang ku.


"Masa kamu liat Hayu nggak pakai jilbab doang udah nafsu sih? emang...dia begitu menggairahkan di mata mu mas? Kalau aku nggak?"


"Hey...kata siapa. Kamu yang paling bisa bikin mas pengen Mulu."


"Terus, kemaren kenapa? Timbang hayu buka jilbab doang? Kamu langsung nyosor ke aku?"


"Mending nyosor ke kamu dek. Dari pada ke dia?"


Aku mencebikkan mulutku.


"Dia nggak cuma nggak pake jilbab, tapi pakai daster dengan tali kecil di bahu. Mata lelaki manapun pasti tergiur lah. Termasuk mas, mas nggak munafik kan? Dari pada nglihatin yang bukan haknya, mending hajar aja yang mas punya di rumah."


Mas Aziz mulai menciumi tengkukku.


"Mas....di kamar aja!", bisikku.


"Di sini saja, cari suasana baru. Toh, tidak ada lagi selain kita!",mas Aziz kembali menelusup kan kepalanya ke tengkukku.


"Mas ...sshhh!"


"Dek ..ayolah....!"


"Mas...kamu kok jadi nafsuan banget sih. Padahal dulu kamu selalu menolak waktu aku minta nafkah batinku!"


Mas Aziz mengehentikan ciuman di leherku.


"Iya, mas minta maaf. Dan mas akan menebus nya sekarang. Kamu tidak perlu minta hakmu, kamu cukup perlu menjalankan kewajiban mu sama mas!"


Aku tak bisa menjawab lagi. Kini mas Aziz sudah berhasil membungkam ku.


Mas Aziz benar, kami akan mencoba sensasi dan suasana baru.


"Mas....!"


"Hem...aku yang mengendalikan permainan gimana?", tanyaku vulgar.


"Tentu saja, dengan senang hati!"


Kami berdua memadu cinta di ruang televisi ini untuk pertama kalinya. Tidak hanya puas dengan sekali permainan, kami pun mencoba hal-hal baru yang membuat kami berdua merasa puas satu sama lain.


Masih hareudang mereun.... kebawa suasana Imah dan Dadan sih....😁😁😁😝

__ADS_1


****


Masih di hari yang sama....


Fai mengantar Mika ke rumahnya. Masih jam tujuh malam, belum terlalu larut.


"Mampir mas?", tanya Mika.


"Boleh deh!"


Akhirnya dua sejoli itu turun dari mobil menuju rumah.


"Papa mama bik?", tanya mika pada Art nya.


"Bapak belum pulang non!"


"Owh...ya udah deh!"


Fai duduk di sofa ruang tamu.


"Mas, kita ngobrol di balkon aja ya."


"Kenapa harus di sana mika, kan papa nggak ada di rumah!"


"Ya ...nggak apa-apa sih, biar leluasa aja kalau ngobrol di sana."


Fai pun mengekor calon istrinya itu. Mereka berdua masuk ke kamar mika.


"Pintunya buka aja ya mas!", kata Mika.


"Yang mau nutup juga siapa!"


"Hahaha.... becanda mas. Di tutup ya silahkan. Toh kita nggak ngapa-ngapain. Kita ngobrol di luar ini!"


"Emang kamu nggak takut aku ngapa-ngapain kamu?", Fai bersandar ke pagar balkon.


"Emangnya kamu mau ngapain? Mas ustadz mah nggak bakal aneh-aneh kali."


Fai tersenyum.


"Aku bukan ustadz Mika. Aku sama seperti kamu juga!"


"Tapi kan pernah mondok!"


"Hem...!"


"Seneng ya .. akhirnya Dadan sama Imah nikah!"


"Kita juga sebentar lagi nikah!"


"Insyaallah!"


"Heheeh gegara di ledekin Imah ya?"


"Nggak lah."


"Terus?"


"Ya...nggak ada terusnya!"


"Ishhh...mas Fai gitu ah!"


"Gitu kenapa?"


"Gak apa-apa!"


"Oh iya, kamu minta mahar apa Mik?"


"Mika mas, jangan cuma Mik!"


"Oke...oke...Mika, kamu minta mahar apa?"


"Seperangkat alat sholat aja mas. Biar bisa di pake berjamaah sama kamu."


"Bisa aja, udah masuk ke circle kami ternyata!"


"Hahaha...gimana nggak, gaulnya sama kalian yang pada gesrek!"


Fai tersenyum sambil mengusap kepala mika.


"Dian juga katanya ikhlas kalau kamu nikah sama aku mas!"


Fai menatap mika sebentar.


"Dia bilang gitu?"


"Iya. Katanya biar kamu nggak ganggu rumah tangga nya lagi hahahaha....!"


Fai menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar si Dian tuh!"


"Tadi, Imah juga nyeletuk."


"Soal?"


"Kak damar, Imah bilang kalau Dian ikhlas kamu nikah sama aku , aku ikhlas juga dong kalau hayu sama kak damar."

__ADS_1


"Lalu?"


"Hayu cuma jawab nggak bisa sama damar lagi. Tapi nggak tau alasannya kenapa."


"Kamu ikhlas kalau damar sama hayu?"


"Iya lah, kan aku udah memutuskan untuk memilih mu sayang.....!", kata Mika menggoda.


"Bisa aja ngegombal kami Mik!"


"Mak...Mik...Mak...Mik...Mika mas!!!!!"


"Hahahah....iya...mika sayang....!". Tiba-tiba saja tangan Fai spontan menyentuh Mika yang hampir terjengkang saking terbahaknya. (Lebay!!!!)


Entah kenapa mereka berdua jadi terdiam, sedikit demi sedikit badan mereka saling mendekat. Hanya berjarak beberapa centimeter.


Otaknya mulai ngga waras, Fai sedikit menundukkan wajahnya sedang Mika sedikit mendongak. Wajah mereka saling beradu. Mata mulai saling terpejam.


Sedikit...lagi...dikit...lagi....


Ehem....!!!


Suara deheman sang papa mengejutkan mereka berdua.


Spontan mereka mundur dari posisi semula.


"Makanya, buruan nikah. Mau ngapain aja terserah!", kata papa dari luar kamar. Kedua manusia dewasa itu saling melempar senyuman.


"Kamu sih mas, bikin baper!"


"Kok aku sih?"


"Iya lah!"


"Ya udah, kita ke luar. Papa udah pulang!", Fai mendahului Mika. Tapi buru-buru Mika menarik tangan Fai.


Cup....


Sebuah kecupan mesra mendarat di pipi Fai. Sekarang mika yang mendahului Fai.


Fai tertegun dengan tindakan mika barusan, di usapnya pipi bekas kecupan sang calon istri. Fai pun akhirnya tersenyum.


*****


Masih di hari yang sama lho .....


Faiz tertidur di pangkuan Hayu. Damar mengantarkan Hayu ke kontrakan nya.


"Makasih mas udah nganterin!", ucap Hayu yang berusaha untuk turun dari mobil damar.


"Ke dalamnya masih jauh? Aku aja yang gendong Faiz. Berat!"


Damar keluar dari mobil lebih dulu, membual pintu untuk hayu. Lalu membawa Faiz dalam gendongannya.


"Nggak usah mas, aku bisa sendiri!"


"Dimana rumah mu?", tanya Damar sambil terus berjalan meninggalkannya Hayu di dekat mobil. Mau tak mau, hayu pun mengikuti Damar.


"Nanti, di ujung gang. Belok kanan!"


Mereka tak bicara apa pun.


Di depan sebuah rumah sederhana, hayu berhenti.


"Sini mas Faiz nya!"


"Jangan, berat. Aku aja yang naroh ke kamar Faiz."


Hayu pun membukakan pintu rumah nya, lalu menuju kamar Faiz.


Dalam hati damar, kenapa anak konglomerat plus pengusaha kaya seperti Stevi mau tinggal di sini.


"Sebaik nya kamu pulang mas!", kata Hayu usai menutup pintu kamar Faiz.


"Kita perlu bicara stev...!"


"Hayu!"


"Oke...kita perlu bicara sayang!"


Apa katanya? Sayang? Batin Hayu.


"Tidak sekarang. Pergi lah!"


"Jadi, kamu akan ada waktu untuk bicara dengan ku?", tanya Damar girang.


"Iya! Lain kali!"


Brukkk!


Hayu menutup pintu rumah nya. Tanpa mengucapkan terimakasih , Hayu pun berlalu menuju kamar nya.


Dia terngiang dengan ucapan Imah tadi siang. Apa aku harus membuka hati untuk damar? Seperti nya damar sudah banyak berubah. Jangan sampai ada perasaan lebih kepada Aziz. Tidak ! aku tidak boleh memelihara perasaan ini! Batin Hayu.


*****


Udah kan, kebagian jatah semua???

__ADS_1


__ADS_2