
"Dek, mas pakai baju apa?", tanya Aziz yang baru saja keluar dari kamar mandi.
",Sudah ku siapin mas."
Aku masih sibuk mendandani anakku yang juga baru selesai mandi.
Aziz berjalan menuju pakaian yang ku gantung.
"Kita pakai batik sarimbit?", tanya Aziz lagi.
"Iya. kenapa? Apa mau pakai jas?", tanya ku.
"Mas ikut kamu aja!"
Aziz pun mengambil kaos oblong tipisnya, tetapi dia sudah memakai celana bahan berwarna hitam. Setelah itu, dia mendekati ku dan Diaz.
"Lho, kenapa nggak di pake sekalian bajunya?"
"Nanti aja kalau mau berangkat!"
"Oh, ya sudah. Aku mau mandi, Diaz sama ayah dulu ya."
"Ciyap bunda!", Aziz yang menjawabnya.
Aziz pun keluar dari kamar menuju taman belakang. Diaz pun meminta turun di lantai, kaki dan tangannya bergerak lincah sekali.
"Owh...Diaz mau lari ya???", tanya sang ayah.
Dengan gerakan yang semakin aktif, Diaz menggerakkan kaki dan tangannya bersamaan.
Aziz tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah sang anak. Kini mereka berdua duduk di teras belakang rumah. Dekat dengan tempat mesin cuci.
Beberapa menit berlalu, aku sudah selesai bersiap.
"Kamu pakai baju mas, Diaz ke siniin!"
Aku mengambil Diaz dari mas Aziz lalu menyerahkan pakaian yang tadi di kamar.
"Makasih sayang!", mas Aziz menerima pakaian itu. Lalu dia pun memakai nya di hadapanku.
"Dek, kamu pucat sekali?", tanya Aziz cemas.
"Aku nggak apa-apa mas. Aku memang sengaja nggak pake make up."
"Kenapa?", mas Aziz mengusap kepalaku yang sudah berhijab.
"Aku tidak ingin ada yang cemburu karena aku terlihat cantik di depan orang lain. Cukup suamiku yang menikmati kecantikan ku."
__ADS_1
Mas Aziz menepuk bahuku.
"Pake make up tipis aja nggak apa-apa dek. biar nggak pucat aja. Mau kamu make up atau nggak, kamu tetap cantik. Selalu cantik!"puji mas Aziz.
"Gombal!"
"Eh, iya beneran. Makanya, mas makin jatuh cinta sama kamu dek!", mas Aziz memeluk aku dan Diaz. Tapi ternyata Diaz tidak terima, dia memukul wajah sang ayah. Hal itu membuat aku dan mas Aziz tertawa. Aku mengajak Diaz kembali ke kamar. Setelah mendapat mandat dari suami jika aku boleh memakai make tipis saja.
Pukul setengah delapan, aku dan mas Aziz keluar dari rumah. Ternyata, dihalaman sudah ada Faiz dan Hayu. Setelah itu, disusul Dadan ,Imah dan Farhan dengan menggunakan motornya.
''Mbaj Hayu jadi ikut?", tanyaku. Hayu pun mengangguk. Berbeda dengan Farhan dan Faiz, dia memilih bergabung lalu berlari membuka mobil kami.
"Kang Dadan di depan aja sama Mas Aziz."
Aku ,Imah dan Hayu duduk di tengah. Sedangkan dua bocah tampan itu duduk di belakang.
"Diaz di depan aja sama saya mbak Di!", ucap Dadan.
"Iya, biar cepet nular punya anak", ledek Aziz.
"Iya mas, kita masih rajin berusaha kok mas. Iya kan neng?", tanya Dadan ke Imah.
"Iya dong A. Usaha tak mengkhianati hasil!", seru Imah.
Sontak kami turut tertawa, tak terkecuali Hayu.
"Nggak. ke rumah Abah dulu. naik bus lagi."
"Holang kaya mah bebas ya....!", celetuk Imah.
"Mbak mu suruh beli pesawat jet pribadi juga sanggup kok mah!", kata Aziz melirik ku.
Tapi aku ogah menanggapi candaan mas Aziz.
"Oh ya? Wah, iso nebeng ndek muleh Malang sesok!"( Wah, bisa numpang kalau pulang ke malang besok)
"Iso lah....!", sahut Aziz.
"Hati-hati mah, mas mu lagi berkhayal. jangan ikutan menghalu ya. Takut nya kalau nggak kesampaian malah berujung di RSJ!", kataku yang akhirnya terpancing dengan ucapan mas Aziz.
Mas aziz dan kang Dadan terbahak-bahak di depan kami.
Tak terasa, mobil kami sudah masuk ke kediaman Abah sultan. Tidak ada bus pariwisata, tapi ada mini bus yang apa ya sebutannya. Elf mungkin???
Kami semua turun dari mobil. Aku mengambil stroller dari bagasi. Tapi Diaz masih berada di gendongan Dadan. Jadi, aku dan mas Aziz melenggang santai masuk ke rumah megah Abah.
Situasi tak seramai saat kami akan melakukan lamaran, di sini hanya ada beberapa kerabat dekat Abah yang waktu itu juga ikut ke rumah mika.
__ADS_1
Kedatangan rombongan kami di sambut suka cita oleh Abah.
"Farah mana?", tanya abah pada mas Aziz.
"Mama di Surabaya Bah. Nemenin mbak Imas!", jawab Aziz. Abah hanya ber'OH' saja.
Kami semua di persilahkan duduk . Diaz masih nemplok sama om nya. Jiwa kebapakan Dadan memang sangat terlihat. Dia begitu menyukai anak kecil. Diaz dengan nyaman berada dalam gendongannya. Di samping Dadan, ada Tante Imah yang selalu mengajak nya tertawa. Mereka terlihat pantas sebagai keluarga kecil.
Entah kami akan berangkat jam berapa. Orang-orang Abah sudah membawa seserahan itu ke mobil Elf tadi.
Saat aku masih fokus dengan ponsel ku, karena tadi Julian mengirimkan email padaku tentang data-data pegawai yang sudah lama mengabdikan dirinya di perusahaan ku.
Aku selesai membaca email dari Julian, mataku terpaku saat mas Fai turun perlahan dari lantai dua. Dia mengenakan kain jarik dan beskap berwana putih. Di belakang nya ada seorang laki-laki yang membantunya.
Mataku tak teralihkan melihat Mas Fa'i dengan pakaian itu. Tampan. Harus aku akui, kali ini dia terlihat berbeda. Seperti nya, dia pun menatap ke arahku. Aku memilih menunduk, membaca email dari Julian.
Tangan ku memang membalas email Julian, tapi otakku terus saja terganggu. Lagi-lagi, aku kembali teringat tentang kenangan ku bersama Fai. Rencana demi rencana yang sudah tersusun rapi, nyatanya hanyalah isapan jempol belaka.
Kami berdua, aku dan mas Fai pernah membayangkan jika suatu saat nanti kami menikah. Kami akan menggunakan adat Sunda. Seperti yang ia kenakan saat ini. Sayang, itu hanya rencana kaum manusia. Kembali lagi kehendak itu hanya milikNya.
Aziz memperhatikan istrinya yang sibuk berbalas pesan dengan Julian.
Dian konsen banget sama email Julian, ada masalah di kantor? Batin Aziz.
"dek!", panggil Aziz. Aku yang sedang melamun pun tersentak.
"Hem. maaf mas.".
"Ada masalah di kantor?", tanya Aziz sedikit berbisik.
"Ah, nggak mas. Aku memang minta Julian memberikan data orang-orang yang loyal sama perusahaan kita. Aku ingin memberikan reward untuk mereka."
Mas Aziz mengusap bahuku. Aku memang sedang berbalas pesan dengan Julian, tapi pikiran ku masih di kuasai oleh masa lalu. Yang seharusnya sudah ku lupakan sejak dulu.
Aku tidak ingin tenggelam dalam masa lalu ku. Sampai akhirnya lamunan ku buyar saat Dadan menghampiri ku.
"Mbak Di. Diaz duduk sama Dadan aja ya? Farhan dan Faiz sama mbak Hayu kok!"
"Iya kang Dadan. Nggak apa-apa!"
Kami semua pun bersiap. Tak kalah juga dengan calon mempelai pria . Wajahnya yang biasanya usil bin tengil terlihat manis kali ini. Mungkinkah dia deg-degan akan menghadapi ijab qobul?
*****
Selamat malam semua. Dan selamat beristirahat.
Kita cukup jadi saksi pernikahannya Fai dan Mika ya, nggak bisa ikut kondangan. Kan lagi pandemi 😝😝😝
__ADS_1