
"Sakit mas....!", kata Mika terdengar lirih di samping telingaku. Tangannya menjambak rambutku yang sudah basah oleh keringat.
"Maaf...tapi...mas tidak akan menghentikan nya. Seperti yang mas bilang tadi, mas akan berhenti sampai kamu sendiri memohon untuk menghentikan nya."
Pinggul Fai masih naik turun di sana. Mengayunkan dengan mempercepat atau mengurangi ritme permainannya. Sesekali mata Mika terpejam, kadang pula melotot. Hal itu membuat Fai semakin tertaantang mengerjai istrinya.
"Mas...aku...udah...or*asme beberapa kali dari tadi, kamu belum mas?", tanya mika di sela g*njotan ku.
"Sebentar lagi." Fai berbisik pelan ditelinga Mika.
Benar saja, ada sesuatu yang ingin segera keluar dari dalam tubuhku. Dengan lebih cepat ku ayunkan dan kuhentakkan milikku ke dalam milik Mika. Ku tekan sekuat tenaga dengan memegang pinggang mika.
Arggghh.... akhirnya ada rasa lega yang Fai rasakan, sesuatu menyembur di dalam sana. Tubuh nya meregang , menikmati sensasi memuntahkan calon bibitnya ke dalam rahim sang istri.
Rasa hangat terasa mengalir di dalam rahim Mika. Sedangkan Mika sendiri masih berada dibawah kuasa suaminya.
Tubuh mereka yang masih menyatu, menyisakan hembusan nafas yang bersahutan. Rasa puas, rasa memiliki dan rasa tak tergambarkan oleh apa pun selain rasa bahagia di dalam hati mereka.
Cup....
Fai mengecup kening istrinya itu.
"Terimakasih sayang. I love you!", kata Fai tepat di depan wajah mika.
Mika merasa tersanjung dengan ungkapan cinta suaminya itu. Dia mengangguk pelan.
"I love you to mas Rifai!", balas Mika.
Aku berharap setelah hari ini, aku hanya mencintai mu Mikayla Hanum Al Umar Abdullah, batin Fai.
Terimakasih mas, entah kalimat itu benar-benar ungkapan cinta mu yang sesungguhnya atau bukan, aku tetap bahagia. Aku serahkan hati dan tubuhku, untuk mu mas Ahmad Rifai Sulaiman Al Munawar.
Fai pun turun dari tubuh mika. Dia bangkit, lalu meraih boksernya dan berjalan menuju kamar mandi. Fai membersihkan diri terlebih dahulu.
Mika membenarkan posisi tubuhnya. Rasa nyeri di **** ***** nya begitu terasa saat ada pergerakan kecil, meskipun itu hanya menggeser posisi badannya.
Aishhh....sakit sekali rasanya, tapi... nikmat! Ternyata rasanya tak sehoror seperti di novel-novel online yang sering ku baca, batin Mika.
Mika pun tersenyum, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia merasa malu, sudah meminta haknya lebih dulu.
Setelah beberapa lama, Fai keluar dari kamar mandi. Mika mendongakan wajahnya, tapi tak berani menatap suaminya yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Mika berusaha untuk turun. Tapi ku cegah.
"Mau ke mana sayang?"
Aku masih memakai bokser ku tapi tak memakai baju.
"Ke kamar mandi mas, mau bebersih dulu."
"Nggak perlu, kamu rebahan aja. Mas yang bersihkan!"
Mika terperangah saat aku memaksanya untuk kembali berbaring. Ku singkap selimut yang tadi di pakai untuk menutupi tubuh polos kami.
__ADS_1
"Kamu mau apa mas?", tanya mika.
Aku mengambil handuk yang ku basahi sebelumnya untuk mengelap area inti mika.
"Mas....!", desis mika.
"Aku tahu, kamu sakit kan? makanya mas aja yang bersih kan!"
Aku mulai mengelap bagian inti mika. Terlihat ada noda darah dan sisa sp*rma ku di dekat sana. Mika hanya terlihat pasrah dengan yang kulakukan padanya.
Aku menggeser tubuh mika agar aku bisa membersihkan noda tadi. Usai membersihkan area pribadi mika, aku kembali mengusap seluruh badan istri ku dengan handuk basah yang baru. Setelah itu ku kering kan kembali.
Tapi dasar otak hobi traveling, yang kulakukan pada istrimu justru membuat adikku bangkit lagi.
Anjirrrr....dasar Lo ya, nggak bisa banget sih nyante bentar! Liat begini aja langsung bangun! Aku mengumpat dalam hati.
Susah payah aku menahan hasrat ku, sampai aku kembali menaiki tubuhku mika.
"Mas....!", pekik mika.
"Untuk malam ini, mas minta sekali lagi ya mika. Please....! Mas mohon!"
Mika membelalakkan matanya.
Sisa tadi saja masih jelas terasa sakit nya, mau lagi??? Batin Mika. Tapi, dia juga tidak bisa menolaknya bukan?
"iya mas, terserah kamu saja mas!", kata Mika pasrah.
Dan....penyatuan itu kembali terjadi.
"Kalau apa?"
"Aku yang di atas!", bisiknya. Aku pun tak menyangka Mika bisa mengatakan itu padaku.
"Tentu saja, tapi ...memangnya kamu nggak sakit?", aku mencoba bernegosiasi.
"Sakit sih, tapi kalau sudah di lunasi dengan baik oleh suamiku, pasti tidak ada kata sakit. Tapi nikmat....!", bisik Mika tepat di telingaku.
Di skip aja ya....mamak capek suwerrrr....apa lagi pejuang LDR begini hyakkkkk.....😝😝😝😆😝
******
"Dek....!", bisik Aziz pada ku yang saat ini tidur bersama dengan Diaz dalam satu ranjang. Karena sedari pagi, Diaz belum menyusu langsung padaku.
"Apa mas?", kataku dengan masih memunggunginya.
"Soal tiket bulan madu itu?"
"Iya. Aku pakai uang tabungan ku kok mas, nggak pakai uang kebutuhan pokok kita dan juga nggak pakai uang perusahaan."
"Bukan soal uangnya dek, tapi...Bali?"
"Oh...itu, iya aku hanya ingin mereka berempat mengenang bulan madu mereka di awal pernikahan. Bali kan emang terkenal tempat yang romantis kan mas?"
__ADS_1
Mas Aziz memeluk pinggang ku.
"Maaf!", bisik Aziz.
"Maaf kenapa mas?"
"Selama kita menikah, tak pernah sekalipun mas ngajak kamu bulan madu. Boro-boro bulan madu, mas bahkan jarang menyentuhmu!"
Mas Aziz menenggelamkan kepalanya ke punggung ku.
"Mas....!", bisikku.v Fu
"Mas terlalu sibuk mengumpulkan pundi-pundi uang yang mas pikir bisa membahagiakan mu dek. Mas pikir, uang bisa menggantikan waktu ku sama kamu. Tapi...ternyata mas salah! Mas malah mengabaikan mu selama ini!"
Aku melepas hisapan Diaz yang sedang menyusu tadi karena Diaz sudah terlelap.
Aku balik badan menghadap mas Aziz. Ku takupkan tanganku ke wajahnya. Rahang kokoh nya selalu berhasil membuat ku ingin selalu menyentuhnya. Jambang tipis menghiasi wajah tampannya yang putih.
"Mas...aku tidak ingin mengungkit hal itu lagi. jadi tolong, jangan bahas ya mas!"
Mas Aziz menggeleng kan kepalanya.
"Bahkan ... ternyata istriku jauh lebih memiliki segalanya dibandingkan dengan apa yang sudah pernah ku berikan!"
"Ngomong gitu lagi, jangan harap ada jatah dari ku mas!"
"Kamu maha gitu dek! Dikit-dikit ngancem!", kata Aziz mendengung kesal.
Aku mencubit pipi nya yang tampak mengembang menahan marah.
"Kalau aku yang minta hakku sekarang gimana?", kataku berbisik pada mas Aziz.
Seketika wajah mas Aziz berubah!
"Mau.....!!!!", katanya manja.
"Ish ... bukannya lagi ngambek????", ledekku.
"Dikit...dikit doang kok!"
Hemm...dasar laki mesum! Di pancing dikit aja lagi "ON"! Tapi nggak apa-apa sih, toh sama aku . Istri sahnya!
"Ya udah, tapi ada syaratnya!"
Aziz menautkan kedua alisnya.
"Apa sih dek?"
"Kamu diam aja, aku yang bekerja!", kataku menyeringai.
Aziz pun mengiyakan dengan senang hati.
******
__ADS_1
Jyahhhh... pengantin lama nggak mau kalah sama pengantin baru cuyyyy!!!!
😆😆😆😆😆😝😝😝😝