Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 171


__ADS_3

"Mas Jul, udah anterior sampe sini aja. Mas Jul bisa kembali ke ruangan."


"Baik Bu , kalau ada yang ibu butuhkan silahkan hubungin saya."


"Iya mas Jul, kami juga sebentar lagi mau ke butik kok. Nanti kalau mau balik, saya bilang ke mas Jul".


"Baiklah kalau begitu Bu, saya permisi!"


Aku pun mengangguk. Pasti Julian juga lelah kan mengikuti acara tadi. Di tambah lagi, pekerjaan nya memang banyak. Tapi setidaknya, setelah aku di sini, bisa lah yang mengurangi beban kerjaannya.


Aku pun membuka pintu ruangan ku.


Ceklek....


Kulihat Diaz sudah berbaring di sofa, sedangkan mas Aziz sibuk berbalas pesan di ponselnya sampai tak menyadari kehadiran ku.


"Assalamualaikum!", kataku sambil menghampiri mas Aziz.


"Walaikumsalam, dek! Gimana tadi?",mas Aziz meletakkan ponselnya lalu menggenggam tanganku.


"Alhamdulillah mas, semua berjalan lancar kok."


"Alhamdulillah, mas ikut seneng lho dengernya."


"Iya mas, kan berkat doa kamu juga. Allah yang mengabulkannya."


"Bisa aja kamu dek!"


Aku memeluk suamiku.


"Diaz nggak rewel kan?"


"Nggak dong, jagoan ayah gitu lho!"


"Capek ya mas? Kamu udah jagain Diaz dari pagi?"


"Capek tapi seneng lah sayang!", mas Aziz mengusap kepalaku.


"Apa kita udah butuh baby sitter mas?"


"Untuk sekarang mungkin belum,tapi nggak tahu beberapa hari kedepan."


"Iya sih mas. Aku cuma nggak tega aja kalau liat kamu di sibukkan dengan mengurus Diaz. aku malah sibuk sama kerjaanku."


"Hey.... jangan bilang kaya gitu lagi ah. Kita udah sepakat di awal kan?"


"Ya sih. Tapi....!"


"Sssttt...nggak ada tapi-tapian. Kamu saja masih bisa menjalankan peran mu jadi ibu rumah tangga, jadi istri, jadi CEO. Masa iya ,mas nggak bisa bantuin kamu timbang jagain Diaz!"


"Tapi kan mas, pada dasarnya emang ibu itu bertugas mengurusi anak-anak nya!"


"Kamu juga ngurusin anakmu kan? Jangankan anak, mas aja kamu urusin!", mas Aziz menowel hidung ku.


"Mulai deh....inget ini dimana?!"


"Ah...iya...mas lupa? Dimana ini?", katanya sambil memegang kepalanya.


"Mas....!", aku mencubit pinggangnya.


Sedangkan mas Aziz hanya terkekeh geli.


"Kita mau ke butik jam berapa mas?"


"Nanti aja abis solat dhuhur. Sekalian nunggu Diaz bangun."


"Siap Ndan!"


"Minum dulu dek, tadi ada ob yang nganterin ke sini!"


Aku mengambil minuman di meja dan ada juga Snack box nya.


"Mas? Ada lagi nggak?"


"apanya dek?"

__ADS_1


"Snack box nya? Mau aku bawa buat Imah....!"


Jawabku sambil menahan tawa.


"Ya kali dek lagu rapat di balai RW!", mas Aziz mengambil makanan yang ada di tangan ku.


"Selalu begitu deh!", aku memanyunkan bibirku.


"Hahahha... sayang....mas gemes banget deh !", mas Aziz mencubit pipiku.


"Mas ..inget, kita wes tuwek! Kata Imah gitu!", kataku.


"Yo wes Ben!", mas Aziz nggak mau kalah.


"Udah azan dhuhur dek. Mas solat dulu deh. kamu istirahat sambil jagain Diaz!"


"Siap bos?!!"


Mas Aziz pun keluar dari ruangan kami. Aku usap pipi Diaz yang menggemaskan itu.


Ponsel mas Aziz berdering. Dia gak bawa hp ke musholla kantor nih? Kebetulan mushala kantor di sediakan di tiap lantai. Jadi memudahkan penghuni lantai tersebut untuk beribadah.


Nama Rifai muncul di sana?


Ada apa ya? Batinku. Dengan ragu, aku mengangkat telpon nya.


"Assalamualaikum!", aku menyapa nya. Ini untuk pertama kalinya aku menyapa Fai sejak pernikahannya beberapa hari yang lalu.


"Walaikumsalam, Di!", katanya lirih.


Fai sendiri bingung, kenapa tiba-tiba pikirannya tak sinkron. Ada perasaan aneh yang membuat ia enggan untuk bicara.


"Ada apa mas? Maaf, mas Aziz lagi solat. Nanti kalau dia udah beres solat, aku bilangin deh!"


"Em...itu Di. Aku sama mika mau ke butik mama Farah yang di Sunter. Bisa nggak ya, em...Aziz nemenin kami?!", kata Fai terbata-bata.


Ya Allah, mereka mau fitting baju buat resepsi besok. Ayolah Diandra, semuanya sudah selesai! Ikhlas lah ya. Kamu juga sudah memiliki Aziz yang sangat mencintai mu. Lupakan kisah cinta mu dengan Fai. Jangan sampai...cerita Stevan dan Mutiara Kemabli terulang. Astagfirullah..... astagfirullah.....


"Oh, kebetulan kami juga akan ke sana."


"Ya."


"Di...!", panggil Fai lagi.


"Kenapa?"


"Terima kasih!"


"Untuk apa kamu ucapin makasih ke aku mas?"


"Pokoknya , terimakasih !"


"Ya udah deh. Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!"


Di waktu yang hampir bersamaan ,mas Aziz masuk ke dalam ruangan kami.


"Mas, tadi mas Fai telpon."


"Terus, dia bilang apa?"


"Mau ketemuan di butik mu yang di Sunter "


"Owh...kirain ada apa. Ya udah sana gantian kamu yang solat."


"iya sayang."


Aku mengeluarkan mukenah mu dari tas ku.


Setelah itu, aku keluar ruangan menuju mushola. Dan mas Aziz bersandar ke punggung sofa.


Aku berjalan menuju mushola kantor. Beberapa orang menyadari kedatangan Ceo baru. Ada yang kenal selebihnya hanya ikut-ikutan.


*****

__ADS_1


"Permisi mbak!", sapa seorang lelaki menghampiri Imah dan hayu .


"Iya mas!", kata Hayu


"Saya orangnya koh Alan. Mau anterin barang buat pak Aziz."


"Oh ..iya mas, makasih ya!" ,Imah pun menerima paketan itu. Ada logo apel kegigit diluar dus nya.


Imah membaca sekilas. iPhone 12 max pro!


"Oh...isinya hp mbak Hayu!"


"Eh, itu hp mahal mah. Setara sama harga motor!", kata Hayu.


"Astagfirullah...! Moso seh mbak????"


"Iya, aku pernah baca mah!"


"Tapi ini buat siapa? Mana ada sih sengaja buat konsumen. Keliatan harganya berapa."


"Punya mas Aziz sendiri kali."


"Mungkin gitu kali ya mah"


Imah pun menyimpan kotak tersebut. Di saat yang bersamaan, Dadan duduk di luar kios.


"Kalian udah pada makan belom?", tanya Dadan.


"Udah A."


"Neng , AA mau lihat-lihat mobil di showroom nya Fai boleh?"


"AA mau beli mobil?"


"Liat dulu mah , AA menyesuaikan sama tabungan kita."


"Imah sih setuju aja A. Tapi nggak tahu sih nanti kaya gimana."


" Gimana apa nya?"


"Ya... mobilnya A, kan kamu tahu aku ini tukang mabuk kendaraan"


"Neng, kalau punya sendiri lama-lama juga ilang tuh mabok kendaraan."


"Masa sih????"


"Iya bener!"


"Ya udah, sama mobil bak terbuka aja deh biar nggak mabuk?"


"Kalian berdua sama ?"


Akhirnya....


Dadan pun menemui Velly, anak buahnya Budi.


"Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu?", tanya Velly.


"Iya, saya liat-liat dulu ya mbak Velly?"


"Silahkan pak!"


Dadan pun berkeliling memindai tiap-tiap mobil yang ia inginkan. Tapi, mau ngutang buat beli mobil kayanya ngga masuk rencana sana sekali.


"Gimana pak???"


"Ada yang tertarik sih mbak. Tapi nanti dulu deh.!"


"Silahkan bapak lihat mungkin yang lain lagi!"


Dadan masih fokus memperhatikan sebuah mobil. Honda jazZ..Bagi nya, sebuah mobil yang terlihat kecil tapi luas dalamnya.


*****


Hah! kelar ngga tuh???? LLDBK, liat-liat doang beli kagak ☺️☺️☺️

__ADS_1


Dasar Dadan!


__ADS_2