Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 182


__ADS_3

[Rasyyiiid]


Suara itu melengking ke seluruh penjuru ruangan.


Mas Aziz dan yang lain pun terkesiap.


[Hallo ma....mama sudah mendengar apa keinginan menantu laki-laki mama barusan]


Tanya ku pada mama lewat panggilan suara .


[Rasyid, mama nggak nyangka kamu sejahat itu. Tega-teganya kamu mau menghancurkan rumah tangga adikmu sendiri.]


[Mama yang tidak bisa berlaku adil Ma. Kenapa mama malah menyerahakan semua pada Aziz, Mama juga punya Imas mah. anak mama nggak cuma Aziz!]


[Adil katamu? Mama sudah membuatkan butik juga buat istrimu! Dan kamu Rasyid,memang mama kurang memberikan mu modal? Belum cukup dealer motor dan bengkel mu yang besar itu? Kamu masih mau mengusik hak adik iparmu?]


Wajah Rasyid memerah! Dia benar-benar merasa dipermalukan.


[Mama malu dengan kelakuan mu Rasyid. Bahkan mama tidak punya muka jika Imas sampai mendengar dan tahu kelakuan mu]


Rasyid tak menjawab apa pun lagi.


[Sekarang juga, kembali ke Surabaya! Istrimu sudah ada di rumah sakit! Nanti siang , akan operasi Caesar!]


Rasyid melongo. Dan tanpa bicara apa pun dia meninggalkan butik.


"Heh! kemana Lo hah!", teriak Aziz.Mama sudah memutuskan panggilan telpon nya.


Suasana butik kembali mencair.


"Kamu ngapain masih di sini?", tanya Dadan pada Sonia.


"Ah. ..baru sadar, ada pria tampan satu lagi.....!", Sonia menatap Dadan dengan pandangan kagum.


Ih.... amit-amit ,ada manusia begini! batin Dadan.


"Pulang lah mba Sonia, kami memaafkan mu! Dan satu lagi, suamiku , sahabatku dan juga adik ipar ku, tidak akan mempan di goda perempuan cantik seperti mu, sekalian pun kamu tak berpakaian di depan mereka", kataku padanya.


Mendengar ucapan ku, Sonia langsung pergi begitu saja.


Kini, hanya tinggal si ob yang ada akan di hakimi.


Aku mendekati si ob.


"Apa kamu sudah tidak membutuhkan pekerjaan mu di sini?", tanyaku pelan pada si ob.


"Masih mbak. Saya masih butuh pekerjaan, kemarin saya kepepet mbak."


"Alasan klasik. Ketahuan berkhianat saja, alasan anak sakit lah apa lah....!", sindir Fai.


Aku melirik Fai agar diam.


"Jadi, sekarang kami harus melakukan apa padamu?"


Dia mendongak, menatap ku dengan pandangan memelas.


"Tolong jangan pecat saya mbak Dian. saya butuh pekerjaan ini."


"Apa kamu pantas mendapatkan kesempatan kedua hah?", tanyaku pelan.

__ADS_1


"Saya tahu, kesalahan saya besar sekali mbak."


"Jadi, kamu bisa menarik kesimpulan kan?", tanyaku.


"Mbak....tolong maafkan saya!"


"Jangan memohon ke saya! Tapi coba kamu tanyakan pada anak istrimu! Apa mereka mau memaafkan mu ? Karena kamu sudah memberi uang haram pada mereka? Kamu bilang anak mu sakit bukan? Kamu bahkan mendapat kan uang itu dengan cara memfitnah orang lain. Bagiamana jika fitnah itu, berdampak buruk dengan keluarga kami?"


Si ob terkesiap. Kenapa bos nya malah berbicara seperti itu.


Aziz, Fai dan Dadan membiarkan aku menyelesaikan dengan caraku.


"maaf mbak Dian....!", si ob tertunduk.


"Aku serahkan pada mas Aziz. Apakah dia akan memaafkan mu?", aku pun kembali ke sofaku.


"Aku tidak ingin ada pengkhianat di sekitar ku. Mulai hari ini , kamu berhenti bekerja di sini. Nanti Rani akan mengurus pesangon mu!"


Si ob tertunduk dan menangis. Aku tidak akan melarang mas Aziz untuk memecat si ob itu. Mas Aziz memang berhak memecatnya.


"Keluar lah, sebelum saya berubah pikiran!", kata Aziz pada si ob.


"Sekali lagi saya minta maaf mas... mbak! Terimakasih tidak melaporkan saya ke polisi."


Dua orang teman si ob menghampiri si ob itu.


"Lo bener-bener keterlaluan tahu Jang! Bahkan kemarin siang saja, Bu bos yang bayarin makan siang kita. Dan Lo....Lo dengan sengaja berkhianat sama bos Lo???!", teriak teman ob nya itu.


Dua teman itu pun meninggalkan sahabat nya yang terlanjur kecewa pada Ujang.


Sepeninggalan mereka....


"Iya...aku percaya mas!"


"Kalau begitu, kira-kira apa hukuman yang pantas buat kamu?!"


"Hukuman? Hukuman apa?" tanyaku.


"Hemmm...mulai kan?! Gegara semalam teu di bere jatah mereun.....!", sindir Dadan. Fai dan Dadan terkikik geli.


"Ya udah, aku sama Dadan pulang deh. Terserah Lo berdua aja abis ini mau ngapain!'", sindir Fai.


Aziz melipat tangannya di depan dada.


"Aku lagi nunggu jemputan Julian, ada rapat bulanan di kantor sebentar lagi."


Aku pun melenggang menuju kamar mandi.


"Mampus Lo hahahahahha!", ledek Fai.


"Biarin. Masih ada ntar malem! Udah sana pulang Lo berdua. Btw makasih buat bantuan kalian!"


"Eh....tapi bentar!"


Dadan dan Fai balik badan.


"Lo, jangan coba-coba cari kesempatan deketin bini gue lagi ya. Mentang-mentang gue lagi emosi. Dan Lo Dan, bukannya ijin dulu sama gue mau boncengan sama Dian."


"Ya ampun....Lo masih aja cemburu sih, gue juga punya bini kali! Bini gue juga gak kalah cantik, hot pula. Gue emang perhatian sama Dian. Tapi ngga ada maksud apa-apa tuh!"

__ADS_1


"Ya maap mas Aziz, saya mah cuma bantuin kakak ipar doang. Masa mau nolak, yang ada adikmu ngambeknya nggak ngasih jatah lagi ke saya."


"Iiih ... Lo berdua sama aja!" kata Aziz ketus.


"Assalamualaikum!", sapa Damar.


"Walaikumsalam."


"Ah...telat Lo! Yuk pulang dan! Biarin ntar asisten nya Dian yang anterin mereka."


"Lho....kemana? Gue baru dateng, ngapa Lo pada pulang? Nggak asik banget sih!", kata damar.


"Gue kangen sama bini gue, mumpung dia belom mulai praktek lagi, gue manfaatin aja lah. Sayang di anggurin!", ledek Fai.


"Aku juga deh, nanti biar si Diaz titip ke Hayu aja! Mau proses bikin keponakannya mas Aziz."


"Ehhh....Lo...mau nitipin anak gue ke orang lain lagi awas Lo!", ancam Aziz.


"Ntar ada baby sitter mas. Aku udah minta cariin orang yang bantu jagain Diaz."


Aku menyela obrolan di antara keempat sahabat itu yang nggak jauh-jauh dari urusan ranjang. Dasar pria-pria mesum.


"Mas damar ngapain ke sini?", tanyaku.


"Tadinya mau main ke rumah mu Di. Tapi....kayanya kalian sibuk."


"Iya, aku mau ke kantor."


"Udah ya ...gue sama Dadan balik dulu. Bye!", ucap Fai.


Fai dan Dadan pun pergi meninggalkan butik.


"Terus gue?", kata Damar.


"Ya udah ikut mereka aja. Paling tujuan Lo juga ketemu Hayu kan???!", tanya Aziz.


Belum juga damar menjawab, Julian menghampiri kami


"Selamat pagi Bu Dian, mas Aziz!", sapa Julian.


"Pagi!", jawab mas Aziz dan aku bersamaan.


Julian tersenyum kepada damar, damar pun membalas senyuman asisten ku.


"Julian, ini dokter damar!", mas Aziz memperkenankan Damar pada Julian. Ekspresi damar biasa saja, berbeda dengan Julian.


Lelaki ini berkarisma, selain pekerjaan nya yang tergolong mapan dia juga rupawan. Pantas lah jika di sandingkan dengan Stevia.


"Senang berkenalan langsung dengan anda mister Julian!", sapa Damar.


"Julian saja. Jangan pakai mister. Bahkan saya sudah mulai terbiasa dengan panggilan mas Jul!", Julian terkekeh sambil melirik ku.


Akhirnya kami berempat tertawa.


******


Beneran damar jadi rival nya Julian buat memperebutkan Stevi alias Hayu????


Tunggu kejutan berikutnya!

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🏵️


__ADS_2