Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 117


__ADS_3

"Kamu istirahat dulu di sini dek!"


"Diaz mana mas? Aku mau sama Diaz!"


"Iya, mas ambil Diaz dulu. Kamu tunggu sebentar ya sayang."


Aku pun mengangguk. Sekarang aku berada di salah satu kamar, di rumah mewah mas Fai.


Aziz pun keluar dari kamar yang ku tempati.


"Ma, Dian nyariin Diaz ma. Kalian pulang saja duluan. Nanti kalau memungkinkan, Aziz akan mengajak Dian pulang."


"Dian kenapa Ziz?", tanya mama cemas.


"Dian nggak apa-apa kok ma. Kang Dadan, nitip mama dan yang lain ya."


"Iya mas!", Dadan pun menerima kunci mobil Aziz. Sekarang Diaz sudah dalam dekapan ayahanya.


"Pak haji, Bu haji...kami permisi pulang dulu. Maaf, jika kami merepotkan pak haji sekeluarga", kata mama Farah.


"Justru kami yang berterimakasih, kalian sudah menyempatkan waktunya untuk bisa ke sini."


Akhirnya mama dan yang lain pun pulang.


"Ziz, ini kasih ke Dian. Biarkan Dian ganti pakaian. Pasti dia tidak nyaman Kalau pakai pakaian seperti tadi."


Umi menyerahkan pakaian yang masih terlihat baru kepada Aziz.


"Lo pake baju gue, ntar gue ambilin!"


Aziz hanya mengiyakan ucapan Fai.


Aziz membawa Diaz kepadaku.

__ADS_1


"Diaz sayang....!", aku menciumi pipi anak ku. Diaz tiba-tiba menangis, mungkin ngantuk.


"Kita bebersih dulu ya nak. Baru deh bobo!", kataku. Aku mengajak Diaz ke kamar mandi. Di dalamnya ada fasilitas air hangat juga. Jadi aku tak perlu cemas Diaz akan kedinginan. Untung saja, aku selalu membawa pakaian Diaz jika bepergian.


Mas Aziz memandangku tak tahu seperti apa.


"Kamu juga mandi dek, ini umi ngasih baju. Pakai ya? Abis itu solat terus istirahat sama Diaz."


"Iya mas!"


Aku kembali menyerahkan Diaz pada mas Aziz. Aku tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan semuanya.


"Diaz mau mimik nggak?", aku menghampiri Diaz lagi. Dengan manjanya Diaz menyusu, mungkin dari siang dia sudah merindukan ku. Tak tahan dengan kantukku, aku pun tertidur sambil terus menyusui Diaz.


Aziz menutup dada istrinya yang masih terbuka karena tadi menyusui anaknya. Di pandang nya berulang-ulang wajah cantik istrinya itu.


Kamu tadi kenapa sih dek? Kamu seperti bukan kamu yang biasanya? Om Kendra itu siapa? Apa yang Fai tahu dan aku gak tahu dek?


Mengecup pipi putra semata wayangnya, lalu mengecup kening istrinya.


Maaf, mas sudah membentak mu dek. Harusnya mas tidak seperti itu hanya karena kamu merahasiakan sesuatu. Harusnya mas bisa bertanya lebih dulu padamu. Aziz mengusap kepala istrinya penuh kasih sayang.


Fai!


Aziz harus mencari tahunya dari Rifai. Dia akan menjelaskan semuanya. Aku harus berusaha menekan emosi ku.


Dengan perlahan Aziz keluar dari kamarnya menuju kamar Fai di lantai atas. suasana sudah sepi di jam sebelas malam ini.


Tok...tok...


"Lo udah tidur Fai?"


Si penghuni kamar pun membukakan pintu untuk Aziz. Aziz pun masuk ke dalam kamar yang bernuansa abu dan putih. Warna khas laki-laki pada umumnya.

__ADS_1


Aziz melihat ke sekeliling kamar Fai, sampai akhirnya dia mengikuti Fai yang berdiri di balkon.


"Apa yang gue nggak tahu Fai?", tanya Aziz mulai obrolan mereka. Fai mengambil rokok, lalu menyalakan nya.


"Maaf! Tadi gue reflek memeluk Dian. Harusnya gue nggak ngelakuin itu."


"Gue memaklumi nya!"


Fai menengok ke arah Aziz.


"Apa ini pertama kalinya Lo bentak Dian?", tanya Fai.


"Pertama dan terakhir. Gue nggak akan pernah bicara kasar apa lagi membentaknya lagi."


Fai mendesah sambil menyesap batang rokok yang ada di jarinya.


"Maaf, bukan maksud gue bikin Lo cemburu. Tapi... ini juga salah gue Ziz! Andai dulu gue nggak ninggalin Dian. Dian pasti tidak akan sulit untuk percaya pada orang lain."


Aziz diam saja mendengar ucapan maaf dari sahabat nya itu.


"Diandra punya trauma Ziz!", kata Fai. Seketika Aziz menatap sahabatnya itu.


"Trauma apa? Apa hubungannya dengan pengacara Kendra?"


"Dian punya trauma di masa remajanya dulu. Ayah dan ibunya sering sekali bertengkar di depan nya. Bentakan-bentakan , kata-kata kotor dan kasar menjadi nyanyian baginya tiap hari. Dian bukan orang susah seperti anggapan orang pada umumnya. Dia lahir dan di besarkan dengan bergelimang harta. Hanya saja....sejak peristiwa itu...Dian memilih untuk mandiri tidak ingin berada di istana yang seperti neraka baginya."


"Maksudmu, orang tua Dian cukup berada?", tanya Aziz. Fai pun mengangguk.


"Pagi itu, kedua orang tua Dia bertengkar hebat. Ayahnya selalu menuduh ibunya selingkuh dengan mantan kekasihnya itu. Kedua orang tua Dian memang menikah karena di jodohkan. Ibunya diam-diam masih suka menemui mantannya itu. Sampai akhirnya ,ayahnya tahu. Ayahnya bermaksud untuk memperbaiki semuanya, demi Diandra. Tapi kenyataannya, ibunya menyalahkan Dian. Ibunya tidak pernah menginginkan Dian. Ibunya tetap ingin berpisah dari ayahnya. Pertengkaran kedua orang tuanya pagi itu membuat dian merasa semua memang karena kehadirannya. Ibunya ingin pergi dari rumah. Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Di depan rumah mereka, kedua orang tuanya meninggal tergilas truk yang lewat di sana. Diandra merasa semua karena kesalahannya. Dia merasa kalau dirinya memang tidak diingkan. Dan om Kendra, dia pengacara keluarga nya. Usia Dian yang baru lima belas tahun itu, tentu saja belum bisa di serahi tanggung jawab perusahaan ayahnya. Dian memilih menyingkir, mengasingkan diri, dan belajar mandiri. Sampai kami saling bertemu. Dian menceritakan semua bebannya padaku. Di usianya yang sudah dewasa, om Kendra bermaksud menyerahkan hak Dian. Tapi Dian menolaknya. Dian bilang akan menerimanya jika dia menikahi nanti, menikah denganku. Itu yang kami rencanakan. Sayang nya, aku malah tidak menepati janjiku padanya. Aku pikir, Dian sudah meceritakan semua pada mu Ziz!"


"Dian tidak percaya padaku?"


"Mungkin belum. Karena dia pernah kecewa padaku. Mungkin itu penyebab nya. Dia tidak ingin kecewa lagi , atau dia merasa malu dengan masa lalunya Ziz!"

__ADS_1


__ADS_2