
"Kita siap-siap takziah ya? Kamu mau ganti baju dulu kan?", tanya mas Aziz.
"Sebenarnya...ada yang pengen aku bilang mas, tapi...nanti aja deh pulang takziah."
"Iya. Kamu punya hutang penjelasan sama mas."
"Mas...kamu nggak marah sama aku?", aku tatap mata suamiku yang tampan ini.
"Sebenarnya marah dek, kamu merahasiakan nya dari mas. Tapi mas tahu, pasti kamu punya alasan kenapa sampe nggak bilang sama mas."
Iya, benar mas. Dan aku menunduk. Aku harusnya jujur dari awal.
"Maaf mas...!"
"Iya, sekarang kita siap-siap aja ya!", mas Aziz mengusap kepala ku. Lalu dia bangkit dari ranjang. Tapi aku meraih tangan nya, sampai dia terduduk kembali.
"Kenapa sayang?", mas Aziz mengusap pipiku.
"Apa mas Aziz mau menerima ku seperti kemarin-kemarin setelah tau keadaan ku yang sebenarnya?"
"Keadaan apa sayang? Kamu baik-baik saja!", mas Aziz merengkuh ku dalam pelukannya.
Apa mas tahu? Apa mas Fai sudah menceritakan nya pada mas Aziz?
"Mas Fai mengatakan sesuatu pada mu mas?", aku mendongak sedikit. Membuat ku bisa menyentuh jakunnya.
"Mengatakan apa?", tanyanya. Aku bisa merasakan getaran kita suaranya.
Aku menelusupkan kepala ku di dada mas Aziz. Mencari kenyamanan dari laki-laki yang sudah sah menemani ku selama ini.
"Dek...!", bisik nya.
"Kenapa? Aku nggak boleh peluk kamu mas?"
Aku melerai pelukannya.
"Kalau begini terus, nanti mas pengen itu...Kita bisa telat pergi takziah nya dek." Suara Aziz seperti anak kecil yang sedang merajuk minta permen.
"Begini maksudnya???", aku menakupkan kedua tanganku ke pipinya. Lalu ku raih bibir seksinya itu. Hahahahah.....
Saat mas Aziz sudah mulai terpancing, aku melepaskan nya. Terlihat ada raut kecewa di wajah mas Aziz.
"Kamu dek!'', mas Aziz kesal.
''Nanti lagi kan bisa? Kamu bilang kita harus bersiap untuk berangkat takziah kan?", ledekku.
"Tapi kamu yang mulai....!"
"Sssstttt.... nanti malam aja lanjut nya. Sekalian kita ngobrol tentang aku yang mas tidak tahu. Sama....."
"Sama apa?", mas Aziz terlihat penasaran.
"Sama...kamu juga belum siapin telur madu kan?"
"Ya ampun, istri ku!!!!", mas Aziz memeluk ku erat sekali.
"Maaf...maafkan mas ya dek!"
"Maaf untuk apa lagi?"
"Sudah lah. Obrolan kita nggak bakal ada habisnya kalo gini terus."
__ADS_1
"Ya udah lepasin. Aku mau ganti baju."
"Oke...mas tunggu di kios ya. Kita naik motor aja."
"Iya."
Aziz pun keluar kamar menuju kiosnya. Di kios hanya ada Hayu sendirian.
"Mbak Hayu, Faiz mana?"
"Itu mas, ikut Imah."
"Owh....!"
"Saya sama Dian mau takziah ke depan sana. Titip kios ya mbak!"
"Iya mas!"
"Em...mbak...maaf, apa mbak masih mau kerja di sini? Pak Stevan kan....?"
"Iya mas. Saya akan tetap bekerja di sini. Insyaallah, berapa pun yang saya dapatkan di sini menjadi berkah buat saya sama Faiz."
"Tapi saya nggak enak mba. Pak Stevan itu kan ..."
"Daddy saya memang memiliki harta yang berlimpah, tapi dia tidak punya hati apa lagi rasa kasih sayang terhadap orang lain."
"Maaf mbak Hayu!", kata Aziz sedikit menyesal.
Aku datang ke kios saat mas Aziz dan hayu sama-sama diam.
"Ada apa?", tanyaku.
"Mbak Dian?", hayu bangkit dari kursi nya.
"Alhamdulillah, mbak Dian baik-baik saja?", tanya nya cemas. Ya Allah, ternyata banyak yang mengkhawatirkan aku.
"Aku baik kok mbak!", aku berusaha tersenyum di hadapan Hayu. Gimana nggak??? Malu dong aku!
Saat hayu sedang merasa kalut, aku datang seperti orang yang bija, menasehati hayu. Tapi, justru setelah itu...aku yang jauh lebih mengenaskan.
"Mbak, kami mau takziah dulu ke depan. Ngga apa-apa kan di rumah sendiri?"
"Iya, tenang saja mbak!"
Akhirnya aku dan mas Aziz berangkat menggunakan motor. Selain lebih cepat, juga tidak susah mencari tempat untuk parkir.
Beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di halaman rumah pengacara terkenal itu.
"Dek, mas nggak kenal sama keluarga ini!"
"Mas, kamu kan ke sini sama aku!"
Aku pun menggandeng lengan suamiku. Menyungging kan senyum kepada sesama pelayat.
Tadi di depan, aku dengan percaya diri mengajak mas Aziz masuk. Sekarang, aku justru jadi ragu-ragu.
Keraguan ku sirna, saat mas Fai menghampiri kami.
"Mas Fai...?!"
"Tenang Dian, semua baik-baik saja!", Fai mencoba meyakinkan ku. Sedangkan mas Aziz mencoba menguatkan ku dengan merangkul bahuku.
__ADS_1
"Kamu nggak sama Mika?"
"Mika sama Tante Selly, gue sengaja nunggu Lo berdua. Gue ngga enak, mungkin Tante Selly sedang butuh waktu berdua sama anaknya."
"Jadi, Lo belum ketemu sama calon mertua Lo?"
"Belom. Mungkin waktu nya belom tepat."
"ngomong-ngomong, om umar mana? Nggak ke sini?"
"Papa ada urusan kerjaan, nggak bisa ke sini. Ya...kali, mau melayat ke suami dari mantan istri nya."
"Hush! Itu mulutmu mas, kaya nggak pernah di sekolahin."
"Iya maap...maap...!"
"Terus, Tante Selly mana?"
"ada di ruang tengah. Kalau gitu, kita liat jenazah om Kendra aja dulu!", ajak Fai. Fai emang beberapa kali pernah bertemu Kendra, saat menemani Dian mengurus hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan keluarganya.
Aku dan kedua laki-laki tampan ini mendekati Jenazah om Kendra yang ada di dalam peti.
Om Kendra adalah sahabat ayahnya. Beliau orang yang sangat amanah. Andai kata om Kendra itu serakah, pasti dia tidak akan memaksaku untuk menerima warisan papa. Dia kuasai saja dari dulu.
Om Kendra juga yang sudah membawa ku ke psikiater. Berusaha membantu ku agar aku sembuh dari traumaku.
Pernah, suatu hari om kendra dan Tante Selly memintaku untuk tinggal bersama mereka. Tapi aku berusaha untuk mandiri di usia ku yang masih belia. Om Kendra masih mengawasi ku sampai beberapa waktu lalu. Dulu, aku sering menemui om kendra di temani Mas Fa'i. Om Kendra sempat tidak percaya, saat aku menikah dengan mas Aziz bukan mas Fai. Padahal, saat itu aku dan mas Fai sudah terlanjur dekat dan saling terbuka satu sama lain.
Lamunan ku buyar saat Mika dan Tante Selly datang ke arah kami.
"Diandra!", sapa Mika pelan. Aku lihat Tante Selly sedang menangis tersedu-sedu di pelukan Mika.
Mungkin Tante Selly belum menyadari keberadaan ku.
Aku pun mendekati Tante Selly.
"Tante, saya turut berdukacita ya?", aku mencoba memeluk Tante Selly.
"Rara?", tanya tante Selly. Rara adalah panggilan dari kedua orang tuaku. Tapi setelah beliau tidak ada, aku ingin orang lain memanggil ku diandra.
"Iya Tante!"
"Mama kenal Diandra?", tanya mika.
"Iya nak. Kalian berteman?", Tante Selly balik bertanya.
"Iya ma. Diandra teman Mika."
"Kamu ke sini sama mas Aziz Di?"
"Iya."
"Terus mas Aziz nya mana?", tanya Mika lagi.
"Di depan, sama mas Fai!", jawabku singkat.
"Rifai?", tanya Tante Selly.
"Iya Tante!"
"Mama kenal juga sama calon menantu mama?", tanya Mika.
__ADS_1
"Calon mantu mama?", di tengah masa berkabung nya, Selly pun dikejutkan dengan fakta bahwa ternyata tunangan anaknya adalah mantan kekasih Rara. Bahkan putrinya pun berteman dengan Rara?