Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 173


__ADS_3

Jam dua siang kami sampai di butik. Mas Aziz membukakan pintu untuk ku. Lalu dengan sigap, ia menutupi kepala ku dan Diaz dengan kedua tangannya. Memang, saat ini matahari terasa begitu terik. Mas Aziz begitu memperhitungkan kami. Apa pantas aku mengkhianati suamiku, meskipun hanya dalam hatiku saja pengkhianatan ini? Memelihara perasaan yang seharusnya sudah lama terkubur?


Mas Aziz merangkul ku dan membukakan pintu butik yang berbahan kaca.


"Dek, istirahat di dalam aja ya!", pinta mas Aziz.


"Iya mas!", sahutku.


"Selamat siang Mas Aziz, mbak Dian!", sapa Rani. Orang kepercayaan Mama Farah yang mengurus butik ini.


"Selamat siang mba Rani. Kami langsung ke ruangan saja ya!", kata Aziz.


"Silahkan pak, laporan nya sudah saya siapkan di meja."


"Makasih Mba Rani!"


"Sama-sama mas."


"Mmbak Rani, maaf ...kalau anak-anak biasanya makan siang belinya di mana?", tanyaku.


"Owh...di warteg sana mbak Dian." Rani menunjuk ke arah luar butik.


"Owh....!"


"Kenapa Bu, apa mau saya pesenin makanan? Pakai gofood aja mbak."


"Jangan mbak Rani. Saya kangen masakan warteg. Ada kali ya urap sama semur jengkol?", tanya ku. Rani yang ku tanya malah bengong.


"Mbak....mbak Rani?", aku menepuk bahunya.


Muka kece, masa makannya jengkol sih? Batin Rani.


"Hah...iya mbak ada. Maaf, saya cuma syok aja gitu mbak Dian."


"Ya udah saya mau beli ke sana deh."


"Eh... biar ob aja yang beliin mbak Dian!"


"Nggak apa-apa mbak Rani. Saya udah biasa kok! Tenang aja!", aku pun berlalu ke ruangan mas Aziz. Dia sedang berkutat dengan tumpukan laporan keuangan butik mama. Sejak dulu, mas Aziz memang sering membantu mama kalau mama sedang sibuk. Tentu saja di luar jam kerjanya mas Aziz di kantor yang lama.


"Kenapa sayang?", tanya mas Aziz saat aku masuk ke ruangan nya.


"Diaz kan bobo mas, aku nitip bentar aja. Boleh ya???!"


"Emang mau ke mana?"


"Laper. Pengen makan, tapi di warteg sana. Yang anak-anak suka pada beli mas."


"Kenapa nggak nyuruh ob aja?"


"Nggak bisa milih lauk apa dong mas....!"


Mas Aziz menghela nafas berat.


"Ya udah, tapi hati-hati ya."


"Siap mas....!"


"Eh, mas juga mau deh! Gimana kalau sebungkus berdua dek?"


"Boleh juga tuh. Biar irit ya mas, biar cepet kaya hahaha....!"

__ADS_1


"Nggak ngirit aja kaya kok!", sahut Aziz enteng.


"Iya dah....! Ya wes Yo mas, aku keluar dulu!"


"Iya."


Aku pun keluar dari ruangan mas Aziz. Beberapa kali bertemu dengan pelanggan butik yang sedang memilih pakaian nya.


Mas Fai sama mika kok belum datang ya? Bukannya tadi mereka naik motor? Harusnya mah udah sampai dari tadi.


Tapi ya wes lah... terserah. Bukan urusan ku juga!


Aku melenggang menuju warteg. Ada beberapa karyawan mas Aziz yang sedang makan disitu juga. Memang, istirahat makan siang biasa nya pada gantian.


"Mbak...saya mau nasi seporsi, ayam goreng yang dada satu, terus ...ada urap nggak mba?", tanyaku.


"Ada mbak!", sahut mbak warteg.


"Mau deh pake urap. Em...kalo semur jengkol?"


"Habis mbak, adanya semur tahu....!", jawab mba warteg.


"Yah.... ya udah deh nggak apa-apa."


Mbak warteg pun membungkus makanan yang ku pesan.


"Eh...maaf mbak, sama es teh manis dua ya!", kataku lagi. Dan setelah beberapa saat, pesanan makanan ku juga selesai.


"Berapa semuanya mbak?"


"Es teh dua....delapan ribu. Nasi sama ayam, lima belas ribu. Urap tiga ribu, semur tahu tiga ribu. Jadi semuanya dua puluh sembilan ribu."


"Ini mbak. Sisanya buat bayar mas dan mbak yang bertiga itu, kalau masih kurang mereka yang nambahin sendiri ya."


Si mbak warteg pun terbengong-bengong.


"Udah ya mbak, makasih!"


Aku pun meninggalkan warteg.


"Mbak Jum...Piro?", teriak salah satu ob.


"Udah dibayar sama mbak-mbak yang cantik tadi yang pakai jilbab pink. Tuh...orangnya!"


Kompak, mereka bertiga menengok ke arah yang mbak warteg tunjuk.


"Ini masih sisa lima belas ribu? Mau di ambil apa disimpan di sini?", tanya mbak warteg tadi.


"Di sini aja mbak!",jawab si cowok.


"Ya udah ,rejeki anak Soleh ini mah!", kata cowok satu lagi.


Sedang si cewek memperhatikan seksama siapa perempuan yang memakai jilbab pink tadi dan memasuki parkiran butik. Si cewek sempat melihat satpam menundukkan wajahnya saat menyapa perempuan tadi.


"Ya Allah....bro....tadi mbak Dian! Bu bos kita!", pekik si cewek.


"Bu Dian, istrinya mas Aziz?", tanya si cowok pertama.


"Iyalah....siapa lagi."


"Ayok buruan, ada bos lagi sidak ke butik dong!", kata si cewek.

__ADS_1


"Ahhhh...iya...iya... cepetan! Mbak...Jum...makasih ya....!", teriak mereka bertiga.


Itu yang punya butik? Baru tahu. Kok mau sih beli makanan warteg kaya gini? Udah orang nya cantik, ramah baik pula. Batin mba Jum.


Aku memasuki butik lagi. Mataku tertegun melihat seseorang yang sedang berdiri di resepsionis. Itu mas Fai . Lebih baik aku pura-pura tak melihatnya. Aku yakin, mika sedang mencoba pakaian nya diruang ganti.


Cepat-cepat aku menjauh dari sana. Tapi langkah ku terhenti saat mas Fai justru memanggil ku.


"Di... Diandra!", panggil Fai. Mau tak mau aku berbalik badan seolah baru tahu dia ada disini.


"Eh...mas! Kapan datang? udah lama?", tanyaku basa basi.


"Belum. Baru lima menit yang lalu."


"Oh...Mika mana?", tanyaku seriang mungkin.


"Di ruang ganti."


"Kami dari mana?"


"Itu...dari... warteg. Aku sama mas Aziz baru sempat mau makan."


"Warteg?", tanya Fai.


"Iya. Ya udah aku masuk duluan ya...!", kataku berusaha meninggalkan nya.


"Tunggi Di?!", Fai menghentikan kaki ku lagi.


"Ada apa lagi mas? Nanti kalau udah selesai fitting baju, masuk aja keruangan mas Aziz." Aku berusaha kembali untuk melanjutkan ke ruangan mas Aziz.


"Tunggu Di....!", mas Fai menarik tanganku.


"Apaan sih mas, lepas ih...nggak enak d lihat orang. Nanti dikira ada apa lagi."


Fai menatap ku.


"Terimakasih!"


"Buat?"


"Mika!"


"Kenapa sama mika?", tanyaku sambil celingukan mencari keberadaan mika.


"Kamu sudah memberi nasehat yang baik buat mika. Menyemangati mika."


Jadi...karena itu. Itu artinya....???


"Sudah kewajiban ku sebagai sahabat. Apa lagi aku lebih dulu berpengalaman kan? Apa salahnya berbagi pengalaman."


"Aku tahu seperti apa perasaan mu Di!", ucap Fai lirih.


Aku berusaha tertawa meski hatiku ngilu.


"Heheh perasaan apa sih? Udah ah...aku lapar mas. Permisi!"


"Dian....!", dia masih memanggil ku. Tapi aku sudah tak ingin menanggapi nya. Entah kenapa air mataku lolos begitu saja! Tapi buru-buru ku hapus air mataku, jangan sampai ada yang melihat nya. Apalagi mas Aziz atau mika.


******


Ngapain ditangisin ya? Namanya juga masa lalu. Ya nggak? Semua udah punya takdir masing-masing. Tinggal jalani saja, iye kannn?

__ADS_1


__ADS_2