
"Makasih ojekannya ya A", ucap imah ke AA Dadan.
"Sama-sama mah, lain kali kalo butuh apa-apa bilang aja ke AA." Dadan menawarkan diri, hemm....kaya udah jadian aja.
"Hehehe iya a,ya udah Imah masuk ya", pamit Imah.
"Iya, ya udah kamu masuk. Kasian mbak Di nungguin kamu kelamaan."
Dadan pun meninggalkan halaman rumah Aziz. Imah langsung menuju ke kios.
"Nih, struk belanjaannya. Ganti rugi mas!" kata Imah menodongkan tangan.
Aziz meraih struk belanjaab dari tangan Imah.
"Ya elah mah, nombok dua puluh ribu doang juga."
"Enggak lah, itu dua puluh ribu nombokin sing dua puluh ribu lagi, gantiin ongkos jalanku.Buruan, aku capek nih."
"Iih... lama-lama gue pites Lo Mah. Sama bos Lo aja gini amat sih!"
"Yey...sekarang aku kan lagi jadi saudara bukan lagek dadi kang kuota, beda dong. Sini buruan duitnya ,nanggung empat puluh ribu genepin aja jadi lima puluh ah."
Aziz menggeleng kepalanya. Mau diterusin juga dirasa percuma. Males ngeladenin Imah.
Uang lima puluh ribu pun berpindah tangan.
"Makasih mas Aziz." Imah mengibas-ibaskan uang lima puluh ribuan tadi.
Sejenak langkahnya berhenti,berbalik ke arah kakak sepupu nya.
"Oh iya, tadi di indoapril aku ketemu sama duo ulet bulu mas."
"Hah?", Aziz tak paham.
"Itu...mbak Feby sama mbak lili. Berebutan pengen bayarin belanjaku. Dengan pedenya, bilang kalau mereka mau bayarin belanjaan calon adik iparnya. Maksude aku ngono? Aku tuh heran yo mas mbi peyan Iki, lha po Yo ga enek cewe sing waras ngunu lho."
"Lu ngomong apa sih bocah Jawir?"
"Aku heran mas, fans sampeyan kok model ngunu. Wes ngerti peyan punya istri, masih ae go rebutan. Apa bagusnya sih kamu mas?"
"Ya mana gue tahu, emang mas mu ini nyuruh mereka biar ngefans gitu?"
"Sama satu lagi, Lili bilang dia pernah hamil anakmu mas? Yang bener aja sih?" ,Imah melipat tangan di dadanya.
"Gak bener itu, nggak usah dengerin."
Sejak tahu mereka sepupuan,kata Lo gue sudah jadi panggilan sehari bagi Aziz ke Imah.
__ADS_1
"Ohh....ya wes lah."
Imah meninggalkan Aziz di kios sendiri an. Beberapa hari sampai waktu yang tak ditentukan,Imah akan lebih fokus mengurusi Diaz dan mbak Di. Urusan kios biarlahbmas Aziz yang menanganinya.
"Mbak, Iki pesenane."
Imah mulai menurunkan barang belanjaannya.
Dari pembalut, minyak dan lain sebagainya.
"Maaf ya mah, gara-gara nambah daftar belanja kamu jadi keberatan ya bawa pulangnya?"
"Nggak berat kok mbak, aku diantar sama a Dadan."
"Owh....!"
"Diaz bobo mbak?"
"Iya, habis ***** langsung bobo."
"Mbak Di, tadi aku ketemu sama duo ulet bulu di indoapril."
"Hem? Apa? ulet bulu? gimana bisa di minimarket ada ulet?"
"Iih...bukan mbak. Maksud Imah, ulet bulu yang waktu itu jenguk Diaz mbak.Feby sama Lili, teman mas Aziz."
"Mereka berantem, berebut pengen bayarin aku. Tapi, demi harga diri seorang Imah mabuk Di. Imah bayar pake duit sendiri, bahkan nombok gara-gara mas Aziz."
"Berantem mau traktir kamu?"
"Hooh mbak. Rebutan kok mas Aziz, mereka kan cantik-cantik ya mbak. Kenapa kudu naksir laki-laki beristri."
"Iya mah, kalau lili mbak sudah lama tahu. Tapi kalau Feby, mbak baru kenal."
"Makanya mbak Di harus waspada, takut mas Aziz berubah haluan."
"Lili bilang...dia pernah hamil anak mas Aziz?"
Aku terdiam.Apa ini saatnya aku bercerita sama Imah?
"Kalo mbak Di diam, berarti iya?" tanya imah bertanya penuh selidik.
Aku menarik nafas dalam-dalam.
"Begini mah, mas Aziz memang pernah melakukan perbuatan menjijikan itu mah. Tapi, soal anak yang lili kandung....mas Aziz tidak mengakuinya. Karena menurut mas Aziz,dia hanya melakukan hal itu sekali jauh beberapa bulan dari usia kandungan Lili yang saat itu masih terlalu muda." Aku mengambil jeda sesaat.
"Jadi mas Aziz pernah berzinah dan mbak Di memaafkan mas Aziz?" mata imah mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mbak pernah diposisi sulit mah, mama selalu memintaku agar mas Aziz bisa menikah lagi. Mama sempat berpikir kalau lili adalah perempuan yang kala itu mama anggap paling tepat untuk menjadi maduku."
"Tante Farah minta mas Aziz poligami gitu?"
Aku mengangguk.Kulihat ekspresi wajah Imah berubah seperti orang yang menahan emosinya.
"Awalnya iya mah, tapi setelah...Lili menunjukkan video...itu mama marah besar.Mama hanya ingin mas Aziz menikah sah ,bukan zinah seperti itu."
"Keributan dirumah ini, membuat mbak sempat jatuh pingsan. Ternyata...mbak hamil Diaz. Mbak sempat galau, bahkan sudah bertekad akan mengajukan gugatan cerai.Bagiamana nanti kalau kami berpisah, kasian diaz.Tapi ternyata Allah masih memberikan kesempatan untuk kami memperbaiki semuanya. Tanpa sengaja, mbak lihat hasil USG Lili. Usia kandungan Lili, jauh lebih muda dibandingkan kejadian saat mereka melakukan itu. Dan ,karena hal itu pula...mas Aziz kekeh mempertahankan pernikahan ini. Mbak juga masih terus belajar untuk bisa menerima dan memaafkan mas mu Mah."
Akhirnya...rahasia rumah tanggaku ku ceritakan pada Imah.
"Ya Allah mbak, kok kamu bisa setegar itu? Kalo aku jadi mbak Di, sudah ku remas itu mas Aziz sama ulet bulu itu." Sekarang Imah benar-benar terlihat emosi.
"Sudah mah, mbak Di baik-baik saja. Mama jiga sekarang sudah bersikap baik kan? Jadi, sekarang mbak hanya ingin mencoba kembali memberikan kepercayaan pada mas mu.Semoga dia tidak akan jatuh di lubang yang sama."
"Tapi mbak, gimana bisa mas Aziz selingkuh sama Lili. Mas Aziz kan dirumah jaga kios sama mbak?"
"Kios ini baru Imah, bahkan masih baru sekali sampai akhirnya kamu dateng."
"Terus, gimana bisa mas Aziz sama lili?"
"Lili mantan mas Aziz waktu kuliah,dulu...lili meninggalkan mas Aziz karena ada laki-laki lain yang lebih dari mas Aziz. Tapi, beberapa waktu lalu... Lili menjadi salah satu anggota tim mas Aziz di kantor. Kantor mas Ali juga Mah.
Dari situ, mas Aziz yang sering keluar kota bareng dengan teman tim nya dan kejadian itu bermula. Waktu dinas di malang, lili sempat memberikan obat khusus pria ke minuman mas Aziz. Dan...ya...begitulah."
"Obat perangsang maksudnya?Ya ... kenapa nggak ditahan aja sih sampe mas Aziz pulang nemuin mbak Di?"
"Efek obat itu gak seperti orang kebelet pipis, kalau tidak disalurkan nanti akan menyiksa mas mu. Mungkin kamu nggak bakal ketemu dia sebagai saudara mu Mah."
Imah terdiam. Mungkin mencoba memahami perkataan ku.
"Udah sana,kamu kembali ke kamar aja. Istirahat. Capek kan?", tanyaku.
"Nggak mbak. Aku mau ke kios."
Imah berdiri meninggalkan ku.
"Imah...!", panggil ku. Dia menengok sebentar.
"Nggak usah bahas ini sama mas mu, anggap saja semua sudah selesai. Biarkan dia menjalani kehidupan barunya. Jangan diungkit-ungkit kesalahannya lagi ya mah."
Aku menghampiri dan mengusap bahunya.
"Insyaallah mbak."
Imah pun meninggalkan kamar ku. Ku pandangi punggungnya sesaat sebelum hilang dari balik pintu dapur.
__ADS_1