
"Assalamualaikum!", Aziz memberi salam saat memasuki pintu samping.
"Walaikumsalam." Jawab Hayu.
"Udah malem, tutup aja!", kata Aziz.
"Iya mas!", Hayu pun membereskan uang hasil dagangannya.
"Ini mas, omset hari ini. Dan ini laporan stoknya!", kata Hayu.
"Oh, iya. Makasih mbak Hayu."
"Iya mas sama-sama! Saya permisi dulu mas!", hayu berpamitan.
"Mbak...Faiz nya mana?", tanya Aziz.
"Faiz tadi ikut tetangga saya pulang mas, mau ngaji di mushola deket rumah", jawab Hayu sopan.
"Kok di bebasin gitu, kamu nggak khawatir mbak? Bukan mengharapkan yang jelek-jelek tapi kan...Faiz cuma punya mbak Hayu disini?", tanya Aziz. Sebenarnya dia ingin bertanya perihal masa lalunya, tapi sepertinya saat ini belum tepat.
"Faiz di ajak oleh ustadz Zaky mas, guru ngajinya."
"Owh...ya sudah kalau begitu. Ini yang makan hari ini, hati-hati pulang nya ya?!", kata Aziz.
"Terima kasih mas. Mas Aziz memang dari dulu orang yang baik!"
"Dari dulu? Memang dulu mbak Hayu kenal saya?", tanya Aziz pura-pura.
Apa mbak Dian belum cerita? Atau tidak bermanfaat bercerita ke mas Aziz? Ah, itu lebih baik. Alhamdulillah. Batin Hayu.
"Eh, nggak mas. Maaf, mari mas. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
Hayu, dia memang sudah berubah. Mudah-mudahan niat Damar untuk meminta maaf padanya bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Aziz pun mengunci kiosnya dari dalam.
******
"Assalamualaikum, Dek!", panggil Aziz.
"Walaikumsalam mas. Baru pulang? Tadi imah pamit ke kamu kan mas?"
"Iya, Imah udah wa tadi dek."
"Ya udah bebersih dulu deh mas, nanti aku temenin makan. Maaf, tadi aku makan duluan", kataku.
"Maaf dek, mas juga udah makan tadi di rumah Fai."
"Oh, ya sudah kalau gitu. Tau gitu mah, tadi aku bawain Faiz aja pas dia pulang. Faiz kan seneng banget ayam goreng."
"Ya udahlah dek, di simpan aja. Besok pagi masih bisa di angetin kan?"
"Iya mas. Ya udah, aku beresin meja makan dulu ya."
Aku pun berlalu menuju meja makan. Memasukan sebagian makanan ke kulkas, besok pagi tinggal ku hangatkan di microwave.
"Dek!", panggil Aziz.
__ADS_1
"Iya mas, kenapa?", aku menghampirinya yang ternyata dia malah menyusul ku ke dapur.
Dengan manjanya, ia melingkarkan tangannya ke perutku.
"Mas....!", panggilku .
"Kenapa? Nggak boleh?", tanyanya manja.
"Ya bukan nggak boleh...!"
"Terus kenapa? Kamu kan istriku, ya terserah aku dong!", mas Aziz mengecup leherku.
"Jangan bilang, mau minta hak mu ya mas!"
"Itu tahu....!", kata Aziz sambil mengusap lenganku yang polos karena sudah memakai pakaian dinasku.
"Emang kamu nggak capek, dari pagi pergi Mulu lho!"
"Nggak, kalau ngerjain yang lain mungkin capek. Tapi, kalau buat begituan mah enggak lah."
"Ih, dasar kamu mas!", aku mencubit perutnya.
"Dek, kebiasaan deh. Nyubitin perut mas!"
"Habisnya gemes mas, makin kesini makin tebel!", candaku.
"Oh...makin berat makin enak ya? Makin terasa tertantang gitu ya?", Aziz mulai memancing.
"Apaan sih mas!"
"Udah buruan ke kamar, ntar Diaz keburu bangun minta *****."
"Nggak, barusan udah *****."
"Iya...iya...!"
"Ya udah, mas tunggu di kamar ya!"
"Iya mas. Bentar lagi aku nyusul."
Aku pun membereskan sisa makan tadi. Setelah kurasa cukup, aku pun beranjak ke kamar. Sudah jam sembilan lewat. Kios tutup lebih cepat karena tidak ada Imah.
Bagiamana kalau Imah udah sama kang Dadan, apa kios akan tutup lebih sore terus ya? Kasian yang lagi butuh pulsa dadakan. Tapi, kan ada mbak Hayu? Apa bisa mengandalkan dia seperti mengandalkan Imah?
"Mas, ini aku bikinin teh anget!"
"Makasih sayang. Tehnya buat ntar aja. Mas mau minta itu dulu. Bentar kok, satu ronde doang. Janji!", kata Aziz.
"Iya, janji. Cuma sekali!"
Aziz pun mengangguk riang seperti anak kecil yang di beri permen.
*******
Ting...Tong...Ting....Tong....
"Ya Allah , siapa sih yang bertamu jam segini?", kata aziz ngedumel. Dia melirik jam dinding sudah jam sepuluh malam. Diandra pun audah tertidur pulas usai permainan tadi.
Dengan malas, Aziz pun keluar menuju pintu. Diintip nya dari jendela,siapa yang sudah memencet bel di depan gerbang.
__ADS_1
"Ah...si jomblo akut! Ngapain sih dia ke sini lagi, ganggu orang tidur aja! Untung gue sama Dian udah kelar, kalau ngga mah . Ihhhh....!", Aziz geregetan tapi langkahnya tetap maju menuju gerbang.
"Buka Ziz. Lama amat sih!", teriak Fai. Sambil membuka gerbang dengan malas, Aziz pun ngomel.
"Lo ngapain sih ke sini lagi hah? Lo tahu kan ini jam piro????", kata Aziz dengan ketusnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gue mau nginep sini!", jawab Fai sambil masuk terlebih dulu.
"Woy....woy....!"panggil Aziz sambil kembali menutup pintu gerbang.
Fai langsung nyeleonong masuk ke dalam ruang tamu.
"Heh, nggak sopan amat sih Lo, masuk rumah orang bukannya assalamualaikum kek!"
"Oh iya, assalamualaikum!", kata Fai sambil menjatuhkan bobotnya di sofa ruang tamu.
"Walaikumsalam. Telat Lo!"
"Dari pada kagak!", sahut Fai tak mau kalah.
"Ngapain Lo ke sini? Bawa-bawa ransel lagi?"
"gue mau nginep sini!"
Aziz meraba kening Fai. Nggak panas, batin Aziz.
"Lo kesambet jin apa Fai? Ngapain Lo nginep-nginepan di rumah gue. Lo punya rumah mewah, punya kosan. Ngapain Lo kudu nginep di sini Bejo!!!!!", teriak Aziz.
"Astagfirullah Ziz. Gue bingung. Makanya gue ke sini."
"Kalau Lo bingung, harus gitu ke sini? Iya? Enak aja mau nginep!"
"Semalem doang kok. Lo temenin gue tidur sini, biarin mantan gue sama ponakan gue tidur berdua. Atau...Lo mu ijinin gue tidur di kamar sebelah?"
"Eh...ngapa Lo yang ngatur sih? Ini rumah gue!"
"Pokoknya gue mau tidur disini. Titik!", Fai menjulurkan kakinya sambil sandaran ke sofa.
"Nih bocah bener-bener ya, bocah gemblung!"kata Aziz.
"Lo aja kalo yang gemblung!", kata Fai.
Dengan terpaksa, malam ini Aziz tidur di sofa menemani Fai. Kayanya ada yang serius sama si jomblo akut ini. Tapi apa? Aziz bertanya pada diri sendiri.
"Lo nggak mau minjemin gue selimut? Kalau ntar tengah malem dingin gimana?", kata Fai sok imut.
"Najis Lo, ngga usah sok imut. Iya, gue ambilin. Nggak inget tangan Lo lagi sakit, gue suruh pulang Lo!", kata Aziz meninggalkan ruang tamu untuk mengambil selimut. Iya, seperti nya ada sesuatu yang Aziz tidak tahu sampai Fai harus ke sini lagi. Tanpa kendaraan apapun. Ku rasa, dia naik taksi ke sini.
"Nih, masih untung gue berbaik hati sama Lo gara-gara Lo masih sakit."
"Makasih bro!"
"Heran gue, ganggu hidup gue Mulu Lo ah Fai! Kesel gue sumpah deh!", kata Aziz masih terus ngomel kaya emak-emak gak kebagian minyak goreng yang lagi promo di indoapril sama Alpagustusπππππ(ini mah othor nya π)
"Besok pagi gue ceritain . Sekarang ijinin gue tidur, gue ngantuk bro. Efek minum obat!", kata Fai sambil memejamkan matanya.
Benar saja, suara dengkuran halus sudah mulai terdengar.
"Lo lagi kenapa sih Fai?", batin Aziz.
__ADS_1
Akhirnya Aziz pun turut merebahkan diri di sofa lainnya.
Demi Lo Fai, gue nggak tidur sama bini gue. Dasar Lo!, umpat Aziz di dalam hati.