
Aku sudah tiba di mobil terlebih dulu di banding mas Aziz dan mas Fai. Aku membuka pintu belakang, lalu duduk sambil memangku Diaz.
Fai membukakan pintu depan untuk mas Aziz, dengan perlahan ia membimbing suamiku untuk duduk terlebih dahulu. Mas Aziz jauh lebih baik di bandingkan saat berangkat tadi. Minimal, ia sudah percaya diri untuk berdiri sebelum masuk ke mobil.
Fai menyimpan kursi roda di bagasi, lalu mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi.
Tak lama kemudian, Fai menyalakan mobil kami dan keluar dari area rumah sakit. Rumah nah sakit sejahtera memang lebih jauh di bandingkan dengan rumah sakit Persada di mana Mika dan Damar praktek.
"Sayang, jangan marah dong??!", rayu Aziz padaku. Sebenarnya aku tidak marah, hanya saja kesal dengan ucapan mereka berdua yang kompak menanyakan kecemburuan ku pada Velly tadi. Kenapa aku harus cemburu coba????
"Nggak!", jawab ku singkat. Dan di saat yang bersamaan, Diaz rewel minta asi. Kebetulan asi dari yang di botol sudah habis.
"Nen...nen...da...!", kata Diaz rewel.
"Sayang, diaz minta nen itu !!!", kata Aziz.
"Susu yang di botol abis mas!", jawabku.
"Ya udah tinggal susuin aja!", kata Aziz dengan entengnya.
Aku jadi bingung sendiri, antara malu dan kasian sama Diaz.
"Malu sama aku ya Di?", tanya Fai. Tak ku jawab, tapi justru mas Aziz yang jawab.
"Ah, iya mas lupa. Ada Fai ya dek makanya kamu malu!", tak ku sahutin ucapan mas Aziz karena aku konsen dengan Diaz yang rewel.
Di lampu merah, Fai melepaskan jaketnya.
"Nih, pake buat nutupin pas Diaz nen!", Fai menyerahkan jaketnya padaku. Bahkan mas Aziz membantuku menerima jaket itu. Diaz semakin rewel. Mungkin karena tidur nya tadi terganggu. Mau tak mau aku menerima uluran jaket itu.
Aku menutupi Diaz terlebih dulu sebelum membuka kancing kemeja ku. Diaz langsung melahap sumber kehidupan awalnya. Dia sudah tidak rewel seperti tadi.
"Nggak usah malu kali Di, kaya aku nggak pernah aja kaya Diaz!", celetuk Fai. Sontak wajahku memerah di buatnya.
Pletak.....
Sebuah jitakan terdengar nyaring mengenai kepala Fai.
"Adddooooohhhh....sakit *ego!", pekik Fai.
"Lo kalo ngomong yang sopan kenapa!", kata Aziz marah.
"Ya ampun Ziz, gue becanda kali. Ngga usah di anggap serius. Aww...sakit tahu Ziz. Ini kepala baru di fitrahin semalam lho!", kata Fai sambil terus memegang kepalanya.
"Lagian becanda Lo ga di ayak banget. Ngga usah bahas masa lalu kenapa sih! Bikin malu bini gue aja! Kita abis maaf-maafan nih tadi!", kata Aziz penuh emosi.
Fai melirik ku dari spion.
"Iya...maaf Ziz, maaf Di. Lain kali ngga lagi-lagi gue becanda kaya gini!", kata Fai penuh sesal.
"Awas Lo ya FA!", kata Aziz penuh penekanan.
"Iya, di bilang maaf !", sahut Fai lagi.
Suasana kembali hening. Aku masih konsen menyusui Diaz. Dua pria tampan itu pun kini sama-sama terdiam.
"Mas, kapan kita ziarah makam mama dan ayah ibuku?", tanya ku memecah keheningan.
"Mas terserah kamu aja dek!"
"Kalo hari ini kayanya kamu capek banget ya mas? Besok aja gimana?"
"Ya udah nggak apa-apa, kita ke makam mama dulu yang lebih dekat dari rumah. Sekalian nunggu Imah, kali aja dia mau ikut bareng kita. Baru deh , habis itu ke makam ayah sama ibu!", kata Aziz.
"Iya mas!"
Tiba-tiba ponselku berdering. Ada video call dari Julian.
"Tumben mas Jul video call aku?", gumamku.
"Angkat aja dek, barang kali penting!", kata Aziz. Fai masih terdiam, mungkin masih merasa bersalah dengan candaannya tadi.
[Hallo...mas Jul]
Ucapku saat pertama kali kulihat wajah indo nya yang tampan.
[Hallo Bu Dian. Maaf lahir batin ya!]
Julian terlihat sangat tampan kali ini, setelan Jaz berwarna putih menambah nilai ketampanan nya.
[Ah, iya. Sama-sama mas Jul. Maaf juga barangkali saya juga sengaja nggak sengaja bikin salah sama mas Jul]
Tiba-tiba di layar muncul wajah Sharen.
[Hai , Diandra!]
sapa Sharen padaku.
[Hai ,Miss Sharen. Cantik sekali?]
[Hehehe makasih Di. Em...kami baru saja menikah]
Ucap Sharen malu-malu.
[Oh ya? Kok ngga kabar-kabar sih? Wah, mas Jul mau main rahasia-rahasia an dari aku ya?]
Tampak wajah Julian memerah menahan malu.
[Sengaja Di, biar surprise. Biar ngga terendus sama netijen. Mengingat kejadian kemarin. Kami antisipasi gitu deh]
Iya, mungkin Julian takut jika terjadi sesuatu lagi pada kami, terlebih kejadian yang menimpa mas Aziz.
[Iya ga papa miss Sharen. Btw , selamat menempuh hidup baru ya mas Jul dan Miss Sharen. Semoga bahagia selalu dan segera diberikan momongan]
__ADS_1
[Aamiin] ucap keduanya.
Di sela obrolan kami, Karen bergabung.
[Dian ....]
Pekik Karen.
[Santai woi....]
Karena mendengar Karen , Diaz sedikit terusik.
[Hahaha sore neng! Maaf lahir batin y zeyeng....]
[Hahaha iya Nek! Gue juga ya]
[Aspri Lo ga ijin mau nikah ya?]
[Ngga apa-apa lah, hak nya dia kok]
[Eh, Ntar Revan juga ke sini Lo sama calon istri nya. Tau Revan ini mantan Lo yang di kira meninggal itu, gue kasih tahu Lo dari dulu]
Aziz menengok ke belakang, menatap ku tajam. Aku pun tersenyum kikuk.
[Apaan sih Ren.]
[Eh, Lo di mobil ya? Ada mas Aziz dong? Denger gue ngomong barusan?]
[Denger lah Ren, suara Lo kaya gledek]
[hahaha ya maap. mAs Aziz, maap ya!]
[Ya] Sahut Aziz.
[Lo di duduk di belakang, yang nyupir siapa Di? Mas Aziz belum pulih kan?]
[Mas Fai!]
Kujawab singkat.
[What???? Keren Lo, masa lalu dan masa depan Lo akur begitu]
Karen terdengar sangat bersemangat mendengar jawaban ku.
Ehem.....kedua pria di depan ku berdehem ria, dan Karen pun merasa tak enak sendiri.
[Hehehe sori....Di. Ya udah ya, gue takut pawang Lo marah sama gue! Ntar adik ipar gue di pecat sama Lo berdua!]
[Sialan Lo Ren, gue ngga segitunya juga kali. Udah sini, balikin hp nya sama mas Jul lagi. Ngomong sama Lo bikin suasana panas aja]
[Hehehe iya, nih gue balikin sama Mas Jul Lo]
Karen kembali menyerahkan ponselnya kepada julian.
[Sekali lagi selamat ya mas Jul , Miss Sharen]
[Iya Bu. Terimakasih]
[Di, kok ngga enak banget sih manggil nya mas Jul, Miss Sharen?] Sharen terdengar protes.
[Hahah iya ya. oke deh mulai sekarang aku panggil nya mas Jul dan mbak shar. Enak kan di dengar nya?]
[What????]
Pekik Sharen di ujung sana. Dan kompak, Julian serta Karen menertawakan nya.
[Hahaha...kan cocok gitu, mas dan bule]
Sahutku tanpa merasa bersalah.
Obrolan kami pun di akhiri saat mobil kami memasuki komplek perumahan kami.
Fai kembali membantu Aziz turun. Tapi kali ini dia belajar duduk sendiri ke kursi rodanya. Sebelum aku turun, mas Fai juga mengambil Diaz dari pangkuan ku.
Kami bertiga masuk ke dalam rumah, seperti biasa lewat pintu samping.
Fai meletakan Diaz di dalam box bayinya yang sekarang ku letakkan di ruang televisi.
"Kamu jadi makan dulu mas?", tanya ku ke Fai.
"Boleh ngga Ziz?", justru Fai tanya ke Aziz.
"Ya, sekalian. Gue juga laper."
"Ya udah, tapi tunggu bentar. Aku hangatkan sebentar kuah opornya."
Beberapa menit kemudian, makanan untuk mas Aziz dan mas Fai sudah tersedia di meja makan. Mereka terlihat sangat lahap memakan nya.
Usai makan, Fai menuju ke teras belakang di ikuti oleh mas Aziz. Seperti biasa, dia pasti akan merokok.
"Kebiasaan Lo ngga ilang sih Fa. Ngerokok Mulu, bini Lo dokter juga!"
"Ziz, mulut gue asem kalo ngga ngerokok tahu nggak!"
"Nggak tahu, gue kan ga kaya Lo"
"Heum! Iya deh!"
Mereka kembali terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Di tengah keheningan, ponsel Fai berdering.
"Dari rumah sakit?", gumam Fai.
''Angkat lah!"
__ADS_1
Fai pun mengangkat telpon nya. Wajahnya berubah pucat. Lalu ia pun menutup telponnya.
"Ada apa Fa? kenapa Lo panik?"
"Mika pingsan Ziz! Gue pinjem mobil. Tadi pagi gue anter mika pake motor."
"Bawa gih!"
"Makasih Ziz!", Fai pun bergegas menuju tempat menggatung kunci.
"Ada apa mas? Kenapa panik begitu?", tanyaku saat Fai mengambil kunci lagi.
"Mika pingsan Di. Gue pinjem mobil mu ya!"
"Astagfirullah! ya udah sana bawa aja!"
Fai pun melesat keluar, setelah itu terdengar deru mobil keluar dari halamanku.
Mas Aziz menghampiri ku.
"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Mika ya dek!", kata Aziz.
"Iya mas. Mungkin mika kecapekan ya mas, tugas di posko kan pasti lelah!"
"Kita doakan yang terbaik saja dek!", Aziz mengelus lenganku.
.
.
Jarak rumah sakit Persada dari rumah Aziz hanya memakan waktu dua puluh menit. Fai langsung menuju tempat istrinya di periksa.
"Dok, istri saya kenapa?", tanya Fai panik. Tapi dokter Lala yang memang sudah mengenal Fai justru malah tersenyum.
"Pak Fai ngga usah panik. Dokter Mika dan calon bayinya baik-baik saja. Dia hanya kelelahan saja pak Fai!", kata dokter Lala seraya berlalu dari brankar Mika.
"Calon bayi?", Fai membeo.
Lalu Fai menghampiri istrinya yang sedang berbaring.
"Sayang...!", Fai mengusap kepala istrinya. Dan Mika pun membuka matanya.
"Mas...!", kata Mika sambil tersenyum.
Fai menangis, menciumi wajah sang istri. Dia menangis haru mendengar kabar jika istrinya tengah hamil saat ini.
"Mas, kok nangis ? Aku nggak apa-apa kok mas!", kata Mika. Fai masih tersedu-sedu tapi dia juga tersenyum di tengah tangisnya.
"Mas cemas waktu dengar kamu pingsan, tapi mas bahagia ternyata mas sebentar lagi jadi ayah. Mas bahagia Mika. Terima kasih!", Fai memeluk Mika dengan erat.
Ya Allah mas, kamu sebahagia ini mendengar aku hamil? Bahkan sampai menangis terharu seperti ini? Apa aku salah jika...aku berharap kamu benar-benar sudah mencintai ku??? Batin Mika.
"Iya mas. aku juga bahagia, kita akan segera menjadi orang tua mas!", ucap Mika lirih.
"Sayang, pokoknya mas ngga mau kamu kecapekan lagi. Kamu harus banyak istirahat, makan makan yang sehat...!"
"Pssssttttt!", mika menutup bibir Fai dengan telunjuknya. Saat ini , Mika berada di ruang VVIP.
"Aku tahu mas, dan aku akan menjaga anak kita sebaik mungkin!", kata Mika.
Fai mengusap perut istrinya yang masih rata itu. Lalu ia mengecup nya sambil berbisik.
"Yang sehat ya Nak! Abi sayang sama kamu!", Fai menciumi perut Mika. Mika mengusap kepala suaminya yang ada di atas perut nya.
"Panggilan nya Abi? Bukan papa?", tanya Mika.
"Iya, Abi. Khusus buat anak-anak kita. Biar Diaz aja yang manggil kita papa dan mama!"
Mika pun tersenyum.
"Sayang, kita bisa pulang kok. Aku ngga apa-apa. hanya butuh istirahat. Dan besok aku juga cuti."
"Benarkah? Ya udah, kalo gitu kita pulang!", Fai membantu Mika bangun.
"Mas urus administrasi dulu ya?"
"Udah di urus mas. Kita bisa langsung pulang ko."
"Owh , ya udah."
"Em....kita naik motor lagi mas?", tanya Mika.
"Nggak. Mas pinjem mobil Aziz. Motor mas di tinggal. Tadi mas baru sampe anterin Aziz kontrol."
"Owh gitu. Hasilnya gimana?"
"Alhamdulillah, insyaallah secepatnya Aziz akan bisa berjalan lagi."
"Alhamdulillah, aku senang dengernya mas!"
"Iya. Mas juga senang. Aziz akan segera berjalan normal. Dan mas lebih senang lagi, di sini...ada calon anak kita!", Fai kembali mengusap perut mika. Lalu tanpa aba-aba, ia mel*mat lembut bibir mika. Dia tak peduli ada dimana, yang dia tahu dia hanya ingin menyalurkan kebahagiaan nya saat ini.
Mika berusaha melepaskan tautan dari suaminya.
"Mas....!"
"Mas terlalu bahagia!"
Keduanya pun tersenyum.
*****
Happy ngga???
__ADS_1