
Masih suasana pengantin baru ya cuyyy...🙈😝
Kayanya setelah ini, nggak beginian lagi ✌️✌️✌️✌️
*****
Usai bergelut sejam yang lalu, sepasang pengantin baru itu masih bersembunyi di balik selimut. Matahari yang mulai meninggi seolah tak mereka hiraukan.
Fai masih terlelap sambil mendekap Mika. Petualangan cinta mereka sejak semalam hingga beberapa saat lalu membuat mereka berdua sedikit kepayahan meskipun mereka sangat menikmatinya.
Fai terbangun karena dering ponselnya di atas nakas yang berbunyi sejak tadi.
Dengan terpaksa, Fai pun mengubah posisinya untuk duduk bersandar di kepala ranjang.
Dadan??? Ngapain jam segini telpon? Batin Fai. Tapi di lirik nya, jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan.
Fai membenarkan posisi duduknya. Mika yang tadi berbantalan di tangannya, kini malah menelusup ke tubuhnya. Tepat nya di bagian pinggang Fai.
Otomatis, tangan Mika menyentuh adiknya yang sebentar lagi pasti bakal terbangun.
Ishhh.... mika!
[Hallo Assalamualaikum Dan?], kata Fai dengan serak suara khas bangun tidur.
[Walaikumsalam. Masih tidur nih pengantin baru? Maaf ganggu ya....]seru Dadan dari sebrang sana.
[Ah...iya dan. lagi tiduran aja sih]
Mika yang merasa terusik dengan suara suami mengeratkan pelukannya ke pinggang ku.
Aku mengusap kepala nya dengan tangan satu lagi.
[Ada apa Dan?]
[Nggak ada yang penting banget sih. Em...kalo di tempat Lo, bisa kredit mobil kan ya?]
Fai mengernyitkan dahinya.
[Iya, kenapa? Lo mau beli mobil? Tinggal dateng aja sih, pilih sendiri. Ada anak buahku di sana!]
[Iya tahu....tapi nanya dulu ngga apa-apa kan?]
[Nggak boleh. Lo harus langsung beli!]
[Ih...pak ustadz Kw mah gitu! Hahahha]
[Sekali lagi ngomong gitu awas ya! Nggak ingat Lo gue guru ngaji anak Lo!?]
[Hahahaha iya iya....]
[Udah Lo Dateng aja k sana. Pilih sendiri!]
Tiba-tiba Mika meremas adiknya yang mulai bangun. Ingin sekali ku pelototi istri ku itu, tapi sayangnya dia masih memejamkan matanya. Semakin lama, remasan mika semakin membuat gairahku bangkit lagi. Aduh, mana si Dadan lama banget lagi telponnya.
[Gue cuma punya peGo dapet apa bro?]
Ssssh....! Aku mendesis saat Mika benar-benar sudah meremas nya dengan kuat.
[Lo kenapa?]
[Mules!]
[Oh...]
[Udah Lo dateng aja ke sana. Pegawai gue ntar gue bilngin Lo temen gue. Lo cari aja Velly!]
Kini Mika sudah bangun, tapi di berpindah. Wajahnya tepat berada di atas adikku.
Aku hanya melotot, mengisyaratkan untuk apa di situ. Tanpa menjawab, Mika meng*isap adikku yang sudah bangun itu.
Akhhhh....aku sudah tak tahan.
__ADS_1
[Oke...oke... ya udah sana ah! Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Aku pun meletakkan ponselku kembali.
"Mika....shhh...kamu ngapain sih?"
Tubuhku menggelinjang mendapat perlakuan Mika. Mika bukannya melepaskan hi*apannya. Dia semakin dalam memakan adikku.
"Mika....!", kini kuusap kepalanya yang bergerak maju mundur itu. Ingin ku minta Mika menghentikan nya ,tapi ini terlalu nikmat.
Aku hanya bisa memejamkan mataku. Entah lah rasanya terlalu nikmat jika Mika sampai melepaskan nya.
Akhirnya, mika melepaskan kulumannya. Lalu memasang wajah tanpa berdosa.
"Gimana mas?", tanya mika.
"Gimana apanya?"
Mika duduk mensejajarkan tubuhnya di samping ku.
"Mau lanjutin kaya tadi, atau mau kaya semalam?", bisiknya.
"Memang nya mas punya pilihan lain?", aku memutar posisi. Sekarang aku yang sudah menguasai kembali keadaan.
"Kamu udah mengusik adikku Mika!!!", kataku berbicara di depan bibir nya. Mika justru malah tersenyum.
"Kalau mas mau, mas kan bisa menolaknya. Tapi mas diem aja tuh!"
Aku sudah tidak sabar untuk segera mel*matnya. Istriku benar-benar luar biasa.
Penyatuan kembali terjadi. Ini yang keempat kalinya sejak pertama kali kami melakukannya.
Dan saat ini...aku benar-benar sudah kelelahan. Aku terbaring lemas sambil memeluk istri cantik ku.
Aku memejamkan mataku beberapa saat sampai mika mengusap rahangku.
"Masa segitu nya mas?"
"Iya. Entah lah, mas juga nggak tahu!", akhirnya ku buka perlahan mataku.
Mika bersandar di kepala ranjang sambil menatapku.
"Makasih mas!"
"Buat apa lagi sayang? Kamu sudah mengucapkan kata itu berkali-kali."
Mika mengusap rambut ku yang basah oleh keringat.
"Makasih aja!"
Aku memeluk pinggang nya.
"Aku pikir, saat kamu melakukannya dengan ku, kamu bakal menyebut nama Diandra mas!"
"Astagfirullah Mika!"
"Sssttt.... nanti dulu, aku belum selesai."
Mika menutup bibirku dengan jari telunjuknya.
"Tapi...dari semenjak pertama kita melakukan nya semalam, kamu selalu menyebut namaku mas. Dengan sadar. Jadi...aku memeberi kesimpulan."
"Kesimpulan apa Mik?"
"Di bilang jangan panggil Mik doang. Mika gitu kan bisa????"
"oke...maaf sayang...maaf.... kesimpulan apa?"
"Kamu...sudah mencintai ku!", katanya sambil menyeringai memperlihatkan gigi putih nya yang rapi.
__ADS_1
"Dari mana kamu bisa menyimpulkan seperti itu? GeeR!"kataku sambil menowel pipinya.
"Heheh iya lah. Buktinya kamu selalu menyebut namaku tiap kita melakukannya? Itu artinya, namaku sudah ada dalam otakmu dan hatimu mas!", Mika menunjuk dadaku.
Aku merapatkan tubuhku padanya.
"Aku sudah jatuh cinta sama kamu Mikayla!", aku mencium keningnya.
"Apalagi aku mas....aku sangat amat sangat mencintai mu sekali!"
"Gombal banget sih istriku.....! Siapa yang ngajarin!"
"Kalau aku jawab, kamu marah nggak mas?"
Aku mengernyitkan dahi ku.
"Kenapa harus marah?"
"Oke ...Diandra yang ngajarin aku."
Aku memperbaiki posisi dudukku.
"Diandra?"
"Heeum! Dian bilang ke aku. Kalau aku pasti bisa mendapatkan hatimu mas. Dia selalu mensupport ku. Kamu itu, lelaki yang baik. Kamu itu imam yang tepat buat ku. Saat aku menyerahkan semua pada mu, aku yakin kamu juga akan melakukan hal yang sama! Begitu yang di bilang ke aku!"
Aku tersenyum mendengar ucapan nya. Dian...kamu masih saja peduli padaku.
"I love you Mika!"
******
Kios hari ini cukup ramai. Dari kemarin tutup terus, jadi sebagian pelanggan mungkin menunggu kios kami buka.
Mas Aziz, aku , Imah dan mbak Hayu sudah bersantai. Diaz dan Faiz sedang bermain di lantai.
"Mbak Hayu, jadi...Miss Sharen itu masih sepupu mu?", tanyaku membuka obrolan.
"Iya Di. Mamihku adik om Ronald. Maafin kelakuan om ku kemarin ya. Aku tahu, ucapannya sangat buruk!"
"Nggak apa lah mbak!"
"Kalian sudah bertemu lagi?"
Hayu menggeleng.
"Kok kamu tahu Sharen?", tanya hayu padaku.
"Sharen bekerja di kantor kami mbak Hayu. Dia sekertaris Julian. Asisten kami."
Kenapa Dian selalu bilang 'kami'? Bukan kantor ku, asisten ku??? Batin Aziz.
"Julian Benedict?", tanya Hayu.
"Mbak kenal juga?"
"Ah, iya. Kami satu angkatan. Dari dulu, mereka memang di jodohkan. Aku pikir, mereka malah sudah menikah."
"Owh ....", kata kami kompak.
"Dan kamu sama Lili sedekat apa dulunya? Sampai... sekarang dia malah jadi ibu tiri kamu mbak Hayu?", tanya mas Aziz.
"Kami kan emang satu angkatan mas. Kos nya juga bareng."
"Tapi kenapa dia sepertinya benci banget?"
Hayu menjawab nya dengan tersenyum.
"Mbak Lili belum terima aja tuh karmanya!", celetuk Imah.
"Imah...karma itu nggak ada, yang ada hukum sebab akibat. Kalo kamu jahat, nanti juga dapat balesan. Begitu juga sebaliknya Imah!",nasehatku.
__ADS_1
"Iya mba ku??!!!!!!"