Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 272


__ADS_3

Diaz sudah bangun sekitar jam enam pagi. Setelah mengumpulkan nyawa, barulah ku ajak Diaz mandi. Sedangkan mas Aziz sudah mandi sebelum subuh tadi, jadi mungkin agak siang nanti mas Aziz baru mau mandi lagi.


Ku lihat mas Aziz sudah tampan di kursi roda nya menghadap meja kerja nya. Ada beberapa berkas di atas meja. Kemarin ada orang suruhan teh Rani mengantarkan berkas itu kemari.


Tiga butik mas Aziz cukup berantakan setelah mama tiada. Tapi, mulai hari ini mas Aziz bertekad untuk kembali bangkit. Aku lebih beruntung, masih memiliki Julian. Jadi aku masih bisa fokus mengurus suami dan anakku. Entah besok-besok, aku harus bisa membagi waktu ku untuk perusahaan dan juga keluarga ku.


Aku tak ingin mengganggu mas Aziz yang sedang fokus, jadi aku membawa Diaz keluar. Teh neng pun sudah ada di dapur.


"Den Diaz udah mandi!", kata Neng meraih Diaz dari gendongan ku.


"Iya teh, tadi subuh saya udah siapin buat Diaz sarapan. Ajak main aja dulu nggak apa-apa. Saya mau nyuci baju."


"Iya mbak!", teh neng pun membawa Diaz ke taman depan.


Di saat yang bersamaan, Mika dan Fai keluar dari kamar.


Aku meminjamkan pakaian ku untuk Mika, dan juga pakaian mas Aziz untuk mas Fai. Itu pun sudah ijin dari mas Aziz.


"Dian, aku bantu ya?", kata Mika menawarkan diri.


"Bantu apa sih Mika? Orang nyucinya aja pake mesin hehehe!", kataku.


"Ya udah, aku ngapain dong?"


"Nyantai aja lah!", sahutku sambil memasukkan pakaian kotor kami.


"Oh, ya udah abis ini aku nyuci sekalian aja deh. Nanti siang bisa ku pakai lagi, aku ada praktek ntar sore. Masih boleh main di sini kan? Mu ikut mas Fai ke showroom males banget! Di rumah juga sendirian!"


"Boleh Mika... nggak usah di jabarin sampe segitunya juga ngga masalah kali!", kata ku cengengesan.


"Bukan gitu Di, kan rumah ku deket. Lagi pula aku udah nginep semalam di sini."


"Kan udah di bilangin, anggap aja ini rumah kedua mu seperti suami mu tuh!", sindir ku yang melihat mas Fai sedang menonton TV.


Mika meringis.


"Maafin kelakuan mas Fai ya Di. Aku ga tau dia dulu seperti apa waktu sama kamu!", kata Mika.


"Nggak usah bahas Mika. Bikin sakit hati aja!"


"Ye...tenang aja Di. Aku udah nggak cemburu kok. Lagian aku tahu banget, kalo kamu sama mas Aziz saling cinta. Kayanya kamu udah nggak peduli sama mas Fai."


"Mika!", pekikku.


"Maaf Di, sebenarnya aku hanya ingin lebih dekat dengan mu. Biar aku tahu aja seperti apa suamiku ke kamu. Dan....aku rasa, mas Fai sudah mulai berubah. Bisa menjaga perasaan ku."


Aku tersenyum tipis.


"Alhamdulillah! Namanya berumah tangga memang harus saling percaya Mik. Kejadian demi kejadian kemarin, aku anggap sebuah pelajaran. Betapa pentingnya rasa saling percaya terhadap pasangan kita."


"Iya Di, aku banyak belajar dari kamu kok. Belajar memaafkan, menerima, dan semuanya lah!"


"nggk usah berlebihan memujiku Mika. Kamu belum tahu aja jeleknya aku gimana!"


"Emang gimana? Apa perlu aku tahu tanya sama suamiku?"


"Dih...apaan sih mika. Jangan sok tegar deh!"


"Hahahah....kamu mah lucu deh Di!"


"Ishhh...dasar, dokter aneh! Baru tahu aku lho kamu kaya gitu Mik. Cocok lah sama Ustaz kw hahahahah!"


"Hahahah...itu yang namanya jodoh Di!"


Candaan garing kami yang di selingi tawa membuat Fai tertarik untuk menghampiri kami.


"Rame amat sih timbang berdua doang?", tanya Fai mendudukan diri di lengan bangku sebelah Mika.


"Rame lah mas, tuan rumah nya ramah banget!", kata Mika.


"Apa hubungan nya sama tawa kalian?"


Aku dan Mika berpandangan lalu kompak menyahuti,


"Kepo!", kata kami.


"Dih, bisa kompak begitu!", kata Fai mencebikkan bibirnya.


"Ada apa sih?", tanya mas Aziz tiba-tiba sambil mendorong kursi rodanya sendiri.


"Tau nih ibu-ibu?!", kata Fai.

__ADS_1


"Mas, udah kelar ngecek kerjaan nya?", tanyaku pada mas Aziz.


"Butik mah udah, kios mah gampang. Ada Hayu yang ngerjain. Cuma mas heran aja, dokter Damar gitu lho masih biarin istrinya kerja di tempat receh seperti ini."


"Eh, kamu mah mas. Jangan gitu ah. Mbak Hayu hanya ingin membantu kita. Duitnya mah banyak, belum dari mas Damar apa lagi dari Stevan. Nggak kekurangan duit lah. Cuma, kata mbak Hayu tuh dia pengen bantu kita aja soalnya kita pernah bantu dia."


Hah! Aziz menghela nafas.


"Kenapa aku jadi bikin semua orang repot sih?! Gara-gara aku...!"


"Kamu lupa mas???", ku pelototi matanya.


Mas Aziz terlihat salah tingkah. Aziz ingat apa yang ku katakan kemarin saat dia mulai putus asa.


"Iya sayang, maaf!", Aziz meraih tanganku lalu mengecup punggung tanganku.


"Sekali lagi ngomong gitu....awas aja!", bisikku ke telinga mas Aziz.


"Udah dong, jangan ngancam lagi!", rengek Aziz.


"Dih, kenapa manjanya melebihi Diaz sih?", ledek Fai.


"Biarin, manja sama istri sendiri kok nggak boleh! Eh, lu ngapain masih di sini? Kerja sana Lo!", usir Aziz pada Fai.


"Ya emang mau jalan kok bentar lagi. Tapi bini gue masih mau di sini, mulai praktek nya ntar sore."


"Ya udah kalau Mika mah nggak apa!", kata Aziz.


"Emang kalo gue yang di sini kenapa? Ngerugiin Lo gitu????", kata Fai mulai sewot.


"Terserah gue , rumah...rumah gue!"


"Iiiihhh....gue gibeng juga Lo Ziz!", kata Fai geregetan.


"Udah mas, udah...nggak usah pada kaya anak kecil deh. Sana berangkat!",ujar Mika.


"Kamu ngusir kamu juga sayang?", kat Fai memelas.


"Iya!", jawab Mika singkat. Aziz tersenyum, merasa menang kali ini.


"Baiklah, gue jalan Ziz! Puas Lo!"


"Sayang, mas jalan ya!"


Mika menganggukan kepalanya lalu meraih punggung tangan suaminya.


"Assalamualaikum! Titip istri ku ya Di!" kata Fai."


"Walaikumsalam. Heum!", jawabku.


Fai pun meninggalkan rumah kami. Dan Mika pun mulai mencuci pakaiannya dan pakaian Fai.


Aku sendiri mulai menjemur pakaian ku. Tapi sebelum nya, aku mengajak mas Aziz ke meja makan. Memberi nya sarapan, agar dia bisa minum obat teratur. Dan aku berharap, mas Aziz segera pulih seperti sedia kala.


Di saat aku menjemur pakaian, Mika duduk bersama Aziz.


"Mika, udah ada info soal dokter untuk ku?"


"Belum mas. sementara sama Dokter Revan dulu nggak apa?"


"Kalau bisa nolak mah, aku pilih Dokter lain mik. Tapi kalau sementara ya udah, mau gimana lagi."


"Aku usahakan ya mas, nanti aku tanya-tanya sama yang lain."


"Iya Mik. Makasih sebelumnya. Eh, iya Minggu depan pas aku kontrol kan pas lebaran Mik. Gimana? Bisa di ganti lusa nya lagi nggak?"


"Coba aku hanya dokter Revan ya mas!"


Aziz mengangguk. Lalu mika mencari nama Dokter Revan di kontak ponselnya.


Setelah itu, ia menghubungi Revan.


[Halo, dokter Revan selamat pagi!]


[Pagi dokter Mika. Tumben telpon saya?]


Revan baru saja selesai mandi saat Mika menghubunginya.


[Gini dok, maaf sebelumnya saya mau tanya. Jadwal kontrol mas Aziz kan Senin depan ya. Kebetulan kan lagi idul Fitri, bisa di ganti nggak jadwalnya?]


Revan menggosok-gosokkan rambutnya dengan handuk kecil.

__ADS_1


[Yang istrinya kan Diandra, kenapa malah dokter Mika yang menghubungi saya?]


[Maaf Dok, kebetulan saya sedang bersama mas Aziz di rumahnya.]


[Kalau mau, suruh aja Diandra telpon sendiri ke saya]


Mika membelalakan mata nya. Mika tak habis pikir dengan jalan pikiran dokter satu itu. Pantas saja suaminya menyebutnya dokter somplak.


[Maaf dok, kalau saya sudah mengganggu!]


Mika mematikan ponselnya.


"Kenapa manyun gitu Mika? Gimana katanya?", tanya Aziz penasaran.


"Benar kata mas Fai, Revan Dokter somplak!"


"Kok gitu?"


"Orang aku tanya jadwal kontrol mu baik-baik, eh...dia malah bilang yang istri nya kan Dian kenapa aku yang minta jadwal ulang! Kalau mau, Dian suruh telpon sendiri!"


Aziz tersenyum.


"Maaf Ya Mika....!", kata Aziz.


"Heumm Ngga apa mas!"


Aku datang ke meja makan saat keduanya terdiam.


"Ada apa?", tanyaku pada mereka.


"Kamu suruh telpon dokter Revan. Tanya bisa nggak aku ganti jadwal kontrol nya. Tadi mika udah nanya, tapi katanya harus kamu yang tanya. Yang istri ku kan kamu dek, gitu katanya. Makanya Mika kesel tuh!"


Ya ampun.....


"Maaf ya Mika!",kataku tak enak hati. Aku benar-benar tak menyangka jika Revan akan seperti itu.


"Nggak apa Di. Aku heran aja kok Revan bisa kaya gitu. Setahu ku dia dokter yang di kenal ramah selama ini. Julukan dokter somplak dari mas Fai emang cocok lah!"


"Hehehhe emang kamu tahu somplak itu apa?"


Mika menggeleng dengan wajah polosnya.


"Ya wes ga usah bahas Revan."


"Nanti kamu tanyakan ke Revan ya dek? syukur-syukur bisa ganti dokter langsung!"


"Iya mas. Insyaallah nanti aku telpon!"


"Ya udah, mas ke kamar ya. Mau lanjutin ngecek yang tadi."


"Oke mas!"


"Di, aku ke belakang ya. Selesaiin cucian!", kata Mika berlalu.


Baru ingin duduk, Julian muncul di ruang tamu.


"Selamat pagi Bu Dian!", sapa Julian .


"Pagi, eh..mas Jul. Silakan duduk!"


Julian pun duduk. Di tangan nya ada beberapa map yang ku rasa itu adalah pekerjaan ku yang tertunda.


"Maaf Bu, mengganggu waktu nya....ini..


ada berkas yang harus ibu tanda tangani!", kata Julian menyerah kan map nya.


"Abis libur lebaran, aku kerja lagi deh mas Jul."


"Tentu saja Bu, saya akan dengan senang hati menemani anda!"


Aku mengangkat kedua alisku.


"Maksud saya...saya siap membantu ibu. Iya, begitu maksud saya! Bagaimana keadaan pak Aziz Bu?"


"Alhamdulillah, sudah mulai membaik!"


Setelah itu, kami mengobrol banyak hal dari pekerjaan sampai kasus yang terjadi di keluarga ku hingga saat ini belum menemui titik terang.


*****


🙏🙏🙏🤗🤗🤗 thx for reading 🤭

__ADS_1


__ADS_2