Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Kembalinya Mama


__ADS_3

Aku dan mas Aziz saling berpandangan. Masih menebak-nebak siapa tamu yang datang ke rumah kami.


Lalu, seorang perempuan berhijab ala sosialita pun turun.


"Mama", desis kami berdua,lalu saling berpandangan. Mama datang menghampiri kami.


"Assalamualaikum....Dian...aziz...",sapa mama.


"Walaikumsalam. Mama....", jawab kami kompak. Lalu kami pun bergantian mencium tangan mama.


"Mama apa kabar? Kok pulang ga bilang-bilang?", tanya Aziz.


"Mama baik. Perutmu sudah sebesar ini ya Di?", tanya mami sambil mengusap perutku. Aku tersenyum tipis.


"Iya mah, udah 30 Minggu." jawabku.


"Mari ma, kita masuk. Jangan diteras begini. Kami juga baru pulang." ajakku menggandeng tangan mertuaku.


Mama pun merangkul bahuku. Sambil sesekali mengusap perut ku . Lalu kami bertiga duduk di sofa ruang tamu.


"Bagaimanapun usaha mu Ziz? Lancar?" tanya mama.


"Alhamdulillah ma."jawab Aziz singkat.


"Sebentar ma, Dian ambil minum dulu."


"Nggak, nggak usah Dian. Kamu juga capek kan.Nanti kalau mama mau, mama bisa mabuk sendiri."


"Ya udah Aziz aja yang ambil." kata Aziz berdiri. Dia pun berlalu meninggalkan aku dan mama. Sejak kejadian itu, aku merasa jarak antara aku dan mama semakin jauh.


"Di, mama minta maaf."


"Sudah lah ma, mama tak usah minta maaf begitu. Dian paham sekali keinginan mama. Tapi... sekarang kan mama lihat, ada Dede bayi diperut Dian. Jadi, tolong.... berhenti meminta maaf ke Dian ma."


"Mama minta maaf, tidak bisa mendidik suami kamu."


"Ma....", kataku pelan sambil mengusap tangan mama.


"Terimakasih Di. Kamu memang istri yang baik, yang sabar dan shalihah. Terimakasih, sudah memberikan kesempatan kedua buat anak mama. Mama merasa sangat bersalah telah zalim padamu selama ini."


"Iya ma. iya, Dian sudah maafkan. Tolong jangan bahas lagi ya ma."


Mas Aziz membawa nampan dengan tiga buah gelas berisi teh manis hangat.


"Diminum ma." kata mas Aziz mempersilahkan.


Mama pun menyesap sedikit teh nya .


"Mama beli mobil baru lagi?", tanya Aziz.


"Hem...itu, mama tukar tambah. Mama kan kemana-mana sendiri jadi pakai mobil lebih kecil saja lah."


"Selama ini mama ke mana?", tanya mas Aziz. Sekarang aku hanya jadi penonton obrolan emak dan anaknya.


"Ke Surabaya. Imas dan suaminya mengajak mama tinggal disana beberapa waktu. Mama ceritakan kondisi kalian. Dan....Imas meminta mama untuk tinggal disana, agar mama tak perlu ikut campur urusan rumah tangga kalian."


Mama menarik nafas panjang, lalu mas Aziz memandang ku sekilas.

__ADS_1


"Di sana, mama membuka butik baru lagi. Butik yang ada di sini, mama serahkan sama Vivi untuk mengelolanya. Jadi,mama cukup memantau tak perlu sering-sering ke sana."


"Bagaimana kabar mba Imas ma?",tanya Aziz.


"Dia baik-baik saja."


"Oh iya Dian, ini mama sengaja beli buat kamu."


Mama menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.


"Ambillah, anggap ini hadiah dari mama buat anak perempuan mama." kata beliau menyerahkan kotak itu diatas tanganku.


"Apa ini ma?", tanyaku.


"Bukalah."titah mama.


Aku pun membuka nya. Satu set perhiasan emas ada kalung, cincin, anting dan gelang dengan motif yang sama. Cantik sekali.


"Sebenarnya tak perlu ma....", kataku.


"Terimalah, ini hadiah dari mama karena kamu sudah memberikan kesempatan buat anak mama."


Aku melirik mas Aziz yang tertunduk malu.


"Terimakasih ma."


"Sama-sama sayang."


Tiba-tiba ada Imah yang sedang membereskan makanan di dapur.


"Oh...itu Imah ma. Dia yang sudah membantu kami menjalankan usaha kecil-kecilan kami." kataku.


"Mah, Imah....tolong ke sini." panggil ku. Mas Aziz ternyata ke kamar, menyimpan perhiasan dari mama.


Lalu Imah pun mendekat pada kami.


"Imah, ini kenalin mama mas Aziz." lalu Imah pun mengulurkan tangannya pada mama. Mama menelisik Imah dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Sini duduk mah." pintaku. Dia pun duduk disebelah ku.


"Imah sudah seperti adik buat Dian ma. Begitu pun dengan mas Aziz." Imah pun hanya tersenyum ,menyimak obrolan ku dengan mama.


"Kamu nggak khawatir jika Aziz berulah lagi? Apalagi, Imah masih muda begini?", tanya mama padaku. Aku dan Imah saling berpandangan.


"Jangan terlalu dekat dengan anakku ya Imah." pinta mamaku.


"Apalagi kalian tinggal serumah, apa kamu nggak khawatir Dian?", tanya mama lagi. Imah yang merasa jadi tersangka pun hanya diam, tak sanggup menyanggah tuduhan orang tua majikannya.


"Ma, Imah tinggal di depan. Di ruang belakang kios. Imah yang membantu Dian selama ini."


Lalu mama memandang Imah lama sekali.


Wajahnya kenapa tak asing bagiku, dia mirip seseorang. Tapi siapa? Batin mama.


"Asal kamu dari mana?", tanya mama ke Imah.


"Dari Malang , Bu!" jawab Imah. Malang?

__ADS_1


"Kalau boleh saya tahu, dimana alamat kamu?"


"Desa Sumberejo Bu."


"Sumberrejo??"


"Iya Bu."


"Siapa nama bapak dan ibu kamu?"


"Almarhum bapak saya Setiawan Bu, kalau ibu saya Ismayanti Bu."


Apa? Benarkah? Apakah ini kebetulan?


"Tapi, ibu saya sudah lama meninggal. Bapak saya nikah lagi, sama Bu Tati. Terus waktu saya SMP bapak juga meninggal."


Setiawan? Ismayanti? Tati? Apakah semua hanya kebetulan? batin mama .


"Wajah kamu mirip sekali dengan tantenya Aziz. mirip sekali Imah." kata mama.


"Tapi, Tante nya Aziz sudah meninggal."


"Masa sih Bu? Apakah saya terlihat setua itu, seperti tantenya mas Aziz?", kata Imah manyun. Aduh, kumat lagi Lola nya si Imah.


"Sebentar, mama punya foto Ismayanti di ponsel mama." Lalu mama pun mengambil ponsel nya dan mulai membuka-buka galeri foto.


Mas Aziz kembali muncul, lalu duduk disebelah mama.


"Nah, ini ...ini foto Ismaya." kata mama menunjukan padaku dan Imah.


"Ini...ini foto ibu saya Bu!", kata Imah.


Aku dan Imah saling berpandangan. Lalu ku serahkan kembali ponsel mama.


Mas Aziz yang sedari tadi tak tahu cerita nya pun turut meraih ponsel mama.


"Coba liat, foto apaan sih? Penasaran."


Mas Aziz melihat foto itu, lalu melihat imah.


"Imah, mirip banget sama kamu. Eh, tapi...ini kan foto Tante Ismaya ya ma?", tanya Aziz pada mamanya.


Mama masih terbengong-bengong setelah menunjukkan foto itu pada ku dan Imah.


"Jadi...kamu anak Ismaya mah?", tanya mama. Imah pun mengangguk.


"Iya Bu, Ismaya ibu saya dan tadi itu foto ibu saya."


Aziz pun baru paham.


Mama menghambur ke pelukan Imah. Menciumi puncak kepalanya. Usai puas berpelukan, mama mengusap pipi Imah.


"Ternyata kamu keponakan tante, adik Aziz. Jalan Tuhan memang penuh kejutan ya."


Owh....jadi, Imah itu sepupu mas Aziz. Pantas saja diwajah mereka ada kemiripan.


Aku hanya jadi penonton di adegan pertemuan antara Tante dan keponakan nya. Aziz pun hanya memandangi mereka.

__ADS_1


__ADS_2