Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Masa lalumu membuatku ragu


__ADS_3

Aku menarik lengan Imah untuk duduk biar lebih tenang.


"Lalu, mau mu apa mbak?"


"Udah sering gue bilang, gue mau Aziz balik lagi sama gue!"


"Mbak, aku hanya berusaha memaafkan mu ya. Tapi jangan harap aku lupa dengan semua yang sudah terjadi!"


"Bagus lah!"


"Sekarang, maumu apa mbak?", sekali lagi kutanya.


"Sudah ku bilang, aku belum ada rencana apa pun!", Lili meletakkan tangannya di atas etalase. Dia memperhatikan seseorang yang sedang bermain dengan Diaz di lantai.


"Via?", panggil Lili.


Si empunya nama pun menengok ke arah yang memanggil namanya. Kenapa ada yang memanggil dengan nama itu?


"Lili?", hayu pun bangkit dari lantai. Kini Imah yang duduk bersama Diaz dan Faiz.


"Heh! Merubah penampilan mu seperti ini, memang bisa merubah masa lalu mu yang buruk Hayu!"


Aku bingung melihat ekspresi Lili dan Hayu bergantian.


"Aku memang sudah berubah Lili, sejak mengenal mas Royan!"


"Apa selama sepuluh tahun menjadi istri Royan, kamu bisa menjadi muslimah yang ....yang....!"


"Aku memang belum baik Lili!"


Oke, kali ini aku yang akan jadi penonton diantara mereka. Mereka saling mengenal?


"Dian... sebaiknya kamu berhati-hati dengan perempuan ini!"


"Kenapa aku harus berhati-hati dengan mbak Hayu, bukankah kamu yang lebih agresif mendekati Suamiku?"


"Ya...tapi minimal, gue to The point sama Lo!"


"Maksud kamu apa sih mbak?"


"Apa kamu akan menceritakan sendiri via?"


"Via?" tanyaku menatap Hayu.


"Imah, bawa anak-anak kebelakang ya!"


"Iya mbak!"


Imah pun membawa dua bocah kecil itu ke kamarnya.


"Sudah kubilang Dian, berhati-hati lah dengan orang munafik yang sok alim ini!"


"Astagfirullah mbak Lili!"


"Kamu belum tahu saja dia seperti apa!"


"Apa pun itu, itu bukan urusan mu mbak Lili!"


"Terserah! Gue nggak peduli sama Lo. Gue cuma peduli sama kekasih gue."


Lili pun meninggalkan kios dengan sombongnya.


Lagi-lagi obrolan kami terjeda karena ada pembeli. Memang,paling enak itu ngobrol di rumah. Bukan di depan kios begini.


"Mbah Hayu, ada yang mau anda ceritakan?"


"Saya bingung mbak, memulai dari mana?"


Aku menarik nafas panjang.


"Kalau mbak Hayu sudah siap, ya cerita aja. Tapi kalau belum, ya udah nggak usah nggak apa-apa kok!"


"Maaf mbak Dian, mungkin saya belum bisa ceritakan sekarang."

__ADS_1


"Iya mbak Hayu! Tenang saja."


"Mbak Dian baik sekali ya....!"


"Aku? Baik? Baik dari mananya sih Mbak?"


"Iya, baik saja."


Aku tersenyum, tapi entah kenapa aku melihat Hayu justru aneh.


"Mbak Dian kenal sama Lili?"


"Iya. Kok kamu juga kenal sama dia mbak?"


"Cerita nya panjang mbak." Mata hayu menerawang jauh ke depan.


"Its oke!", aku mulai menyibukkan diri dengan daganganku di etalase.


"Mbak, apa suami mu itu Aziz Abisatya Nugroho?", tanya Hayu. Aku menatapnya sekilas, lalu menghentikan aktivitas ku.


"Mbak Hayu kenal suami saya sebelum nya?"


"Enggak sih mbak, tapi cuma tahu .. saya cuma ragu-ragu apakah dia orang yang sama."


"Maksud mbak?", aku mulai berpikir yang macam-macam.


Hayu menarik nafas perlahan.


"Mungkin saya harus cerita ya mbak."


"Itu terserah mbak Hayu saja, saya tidak akan memaksa."


Hayu pun mulai bercerita.


Dua belas tahun yang lalu, saat Aziz dan lili masih berpacaran Hayu sering bersama mereka. Aziz mengenal nya sebagai Via. Teman kos Lili.


Tapi saat ini, Aziz sama sekali tidak mengingat via sama sekali. Melainkan kenal sebagai Hayu.


Tak terkecuali, saat via berusaha menggoda Aziz. Amarah Lili memuncak saat Aziz justru membela Via, neraka tidak melakukan hal apa pun. Lalu, lili pun memutuskan untuk pindah dari rumah kos itu.


Perkataan demi perkataan yang lili lontarkan , membuat Via menyadari betapa bodohnya ia selama ini. Menyukai pacar temannya sendiri.


Tapi, suatu hari ia bertemu dengan lili lagi yang sudah menggandeng laki-laki lain. Lalu bagaimana dengan Aziz?


Via berusaha mencari tahu, tapi ternyata kabar mengejutkan justru dia dengar. Lili meninggalkan Aziz begitu saja, demi laki-laki yang lebih mapan. Dialah mas Royan, almarhum suami Hayu.


Via yang saat itu tidak bisa berpikir panjang, kembali berulah. Dulu, saat Via menginginkan Aziz ,Lili datang bagaikan seseorang yang teraniaya yang sedang di sakiti.


Ternyata, Royan tak kalah menarik. Mas Royan memilik berjuta pesona. Selain wajahnya yang rupawan, dia juga sangat sopan. Dia berasal dari keluarga yang baik. Tidak seperti Via, gadis urakan yang besar karena keadaan.


Suatu hari, via mencoba berkenalan dengan Royan. Pura-pura tidak sengaja menabraknya.


Royan pun menyambut baik perkenalan itu. Semakin hari, semakin dekat. Sampai akhirnya, Royan menjauh dari Lili.


Lili kembali melakukan hal yang sama padaku.


"Via, Lo emang keterlaluan tau nggak?! Kemaren, gue sama Aziz Lo gangguin. Sekarang gue sama Royan, Lo gangguin juga?Apa di hati Lo itu cuma pengen nyaingin gue? Salah gue apa ke Lo Via?"


"Lili!", bentak Royan.


"Royan, kamu lebih memilih perempuan ini di bandingkan aku?"


"Lili, berhenti lah berbicara yang buruk seperti itu. Via tak seburuk dugaan mu!"


"Kenapa kamu lebih memilih dia Royan?"


"Karena dia tidak keras kepala seperti mu, yang hanya mau dituruti keinginan nya. Tapi tidak mau mendengar kan orang lain!"


"Kembali lah pada Aziz, jika kamu mau!"


"Royan!"


"Kita putus!", Royan menggandeng lengan Via menjauh dari Lili. Lili yang gampang, hanya teriak-teriak tidak jelas.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, mas Royan membuat Via merasa nyaman. Sampai akhirnya, Royan memutuskan untuk menikah dengan Via. Meskipun awalnya pernikahan mereka di tentang keluarga Royan, tapi mereka tetap bertahan bahkan sampai pada akhirnya hayat Royan. Via yang urakan, perlahan merubah sikapnya, tutur katanya hingga penampilannya seperti sekarang. Penampilan muslimah dengan jilbab lebarnya. Solat wajib, sunah bahkan puasa sunah pun sering ia lakukan. Royan membawa perubahan besar dalam hidup nya.


Hayu mengakhiri ceritanya.


"Mbak hayu, pernah menyukai suamiku?", tanyaku was-was.


"Saya nggak tahu mbak, saya rasa saat itu... karena saya hanya ingin bersaing dengan Lili."


"Tapi, kalau sekarang tidak ada niatan apa pun kan mbak?", aku bertanya pelan namun penuh penekanan.


"Nggak mbak. Kalian sudah berbaik hati menampung saya bekerja di sini, adalah kebahagian tersendiri bagi saya mbak. Saya sudah sangat bersyukur."


Aku mengangguk pelan. Apa kah aku juga harus berhati-hati juga pada Hayu? Bisa saja kan mas Aziz tergoda, lagipula mbak Hayu juga ngga kalah cantik dari Lili.


"Mbak Dian, nggak apa-apa? Maaf ,kalau cerita saya membuat mbak Dian...!"


"Nggak mbak, tenang saja. Heheheh!"


"Eh, tapi kok Lili panggil mbak dengan nama Via? Lalu Nama mbak siapa sebetulnya?"


"Nama saya Stevia Winata. Tapi, saya berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Mas Royan mengganti nama saya dengan nama Rahayu. Tapi, di kartu pengenal nama saya masih Stevi mbak!''


"Owh...!"


*******


Ponsel ku berdering di saku gamis ku.


Karin? Tumben dia telpon.


[Halo, Karin?]


[Hei, ibu rumah tangga tulen. Lo bener lupa banget sama gue. Berapa taun Lo ga ketemu gue hah?] Teriak Karin dari sebrang sana.


Suara Karin membuatku lupa sejenak dengan kekhawatiran ku tentang mas Aziz yang pernah Hayu sukai.


[Lo main aja ke rumah. Ponakan Lo udah gede!]


[ Bener? Oke, gue otw!]


[Haha, yang bener aja. Emang Lo dimana?]


[Gue baru mendarat, sesekali pulang ketanah air nggak masalah dong?]


[Terserah Lo]


Kami mengakhiri percakapan kami. Gara-gara aku meminta Hayu menceritakan tentang masa lalu nya dengan lili, kini aku justru di landa kekhawatiran.


"Mbak, aku masuk dulu ya?", pamitku.


"Mbak, Dian...maaf ya...kalau cerita saya kurang berkenan."


"Santai aja mbak, saya sudah biasa menghadapi semuanya kok mbak!", aku mencoba tersenyum.


Aku mengambil Diaz dari kamar Imah.


"Diaz mbak bawa masuk ya, mbak pengen rebahan."


"Iya mbak!"


Aku mengusap kepala Faiz.


"Faiz kalau mau tiduran nggak apa-apa, Tante tinggal ke depan ya ?!"


"Iya Tante."


Saat Imah kedepan, Hayu sudah sibuk melayani pembeli.


***"""


Jadi gimana guys? 🤔


Fai or Dadan nih?

__ADS_1


__ADS_2