Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 289


__ADS_3

Dua sahabat yang curhat tentang kehidupan pernikahan nya sudah mulai memejamkan mata, berbeda lagi dengan dua bumil di kamar sebelah.


Dua bumil muda itu sangat antusias dengan kehamilan mereka yang bersama-sama. Dengan 'ngidam' yang katanya sama juga.


Entahlah, padahal Mika juga seorang dokter. Padahal tidak ada penelitian khusus yang menunjukkan jika orang ngidam yang tidak keturutan nantinya bakal punya anak yang ileran. Bayi kalo mau tumbuh gigi emang hobi ngeces kan??? Bukan karena emaknya ngidam ga keturutan??!


Tapi belum tengah malam kedua nya juga mulai memejamkan mata. Beruntung nya Mika, tak mengalami mual dan muntah parah seperti Imah. Tapi... entah nanti 🤭🤭🤭.


Sekarang beralih ke empat kaum Adam yang terpaksa rebahan di lantai beralaskan karpet.


"Jadi inget jaman SMP ya bro, sering banget kita tidur kaya ikan pepes begini!", kata Fai membuka obrolan.


"Iya, dan istana Abah Lo itu bascamp kita!", sahut Damar sambil merebahkan diri, menjadikan kedua tangannya untuk bantalan.


"Siapa yang sangka kita bisa bakal kumpul begini lagi ya!", Aziz turut menimpali.


"Jadi berasa asing, paling tua deh gue!", kata Dadan. Ketiga sahabat itu menengok ke arah kang soto itu.


"Eh...jangan gitu dong, Dadan mah tetep sahabat kita juga. Walopun kenal nya belum lama banget!", ucap Fai sambil membenarkan posisi telentang nya.


"Heheheh di pikir-pikir kita ini lucu ya. Semua saling berkaitan tau nggak. Kita bersahabat dari kecil, tiba-tiba Fai jadi guru ngajinya anak Dadan, Mika rekan kerja nya damar, Hayu kerja sama gue....", kata Aziz tapi buru-buru di hentikan tiga sahabat nya.


"Takdir!!!!!", kata mereka kompak.


Hahahaha.... keempat nya pun tertawa.


"Besok rencana kalian apa?", tanya Aziz.


"Apa Dam?", tanya Fai pada damar.


"Belom tahu sih! Gue sih Off!", sahut Damar.


"Aku sama Dadan mau ke makam mamah sama mertua gue!",kata Aziz.


"Ya udah, kita ikut aja juga ngga apa-apa kan?", tanya Fai.


"Emang Lo ngga mau sungkem sama orang tua Lo, mertua Lo?", tanya Damar.


"Aba umi sama papa kan lagi ke solo Dam, mungkin habis tujuh harian kyai Ali, baru mereka balik ke sini."


"Owh....!", gumam Damar.


"Ya udah kalo kalian mau ikut juga nggak apa-apa sih."


"Gimana kalo habis dari makam kita refreshing ke mana gitu?", tanya Damar.


"Kemana?", tanya yang lain.


"Makan bareng aja, aku punya temen yang punya restoran khas Sunda. Itu juga kalo kalian mau!", kata Dadan.


"Boleh juga tuh!",sahut Fai.


"Dadan yang traktir!", sahut Fai lagi.


"Iya deh, beres itu mah gampang! Nanti tagihan nya juragan mobil yang transfer balik sama gue!", Dadan cengengesan.


"Heum! Sama aja!", Fai mencebikkan bibirnya.


"Em....Dan, ngomong-ngomong kamu kuliah jurusan apa Dan?", tanya Damar.


"Ekonomi!", sahut Dadan.


"Di mana?", tanya Damar lagi.


"UPI Y*I!", jawab nya singkat.


"Widih.....!", kata Fai,damar dan Aziz.


"Biasa aja keleus. Itu ge di biayain sama ortu nya almarhum Feby."


"Makanya pas Feby hamil bukan anak Lo , Lo mau gitu nikahin dia. Balas Budi?",tanya Aziz.


"Ciye yang inget mantan....?", ledek Damar dan Fai.


"Gue sambit Lo berdua ya!", kata Aziz.


"Psssst.... sabar bro!", kata Damar.


"Lama Lo nikah sama Feby?", tanya Fai.


"Nggak. Sampe Farhan lahir doang, abis itu di suruh cerai dan bawa Farhan jauh dari mereka."


Ketiganya mengangguk.


"Eh...tapi....masa iya sih, Lo ngga pernah ngapa-ngapain almarhum?", tanya Damar iseng.


"Maksud Lo??? Eh, biar gini-gini juga Imah itu yang pertama ngrasain gue. Boro-boro mau nganu sama Feby. Rumah aja pisah kok."


Ketiga sahabat nya saling pandang.


"Hebat!", sahut mereka bertiga kompak.


"Eh, bentar deh. Kayanya gerbang belom di gembok, gue cek dulu ya!", kata Dadan sambil berdiri meninggalkan ketiga sahabat nya.


Dadan mengunci gerbang dengan memasang gembok. Dia melihat mobil yang terparkir sejak sore tadi.


'Mobil siapa sih, tumben mobil orang belakang parkir lama banget?Mana mewah, plat nomornya cakep lagi' gumam Dadan. Tapi dia tak mau ambil pusing dan tak menaruh curiga. Usai menggembok ,ia pun berjalan kembali menuju dalam rumah.


Dadan tak menyadari jika di dalam mobil, ada beberapa pria yang tengah mengawasi rumah yang dia masuki.


"Kita pergi, sepertinya pria itu menyadari keberadaan kita!", kata Orang di dalam mobil itu.


"Siap bos!" sahut pria lain lalu melajukan mobilnya.


Dadan yang baru mau masuk pun menengok ke arah mobil yang berjalan, yang tadi parkir di depan gerbang.


Tanpa memperdulikan lagi, Dadan pun masuk ke dalam rumah. Dilihatnya ketiga sahabat nya itu ngorok bersahutan.


"Kaya lagi di pengungsian!", kata Dadan. Tapi dia pun turut membaringkan diri di sebelah Damar.


.


.

__ADS_1


Azan subuh berkumandang saling bersahutan. Keempat ciwi-ciwi sudah melaksanakan solat subuh nya di kamar. Begitu pula dengan kaum Adam yang melaksanakan solat subuh di ruang tengah.


Diaz pun turut bangun seperti biasanya. Suasana rumah begitu hangat. Biasa aku haha bertiga dengan Mas Aziz dan Diaz. Tapi kali ini bersembilan. Bisa di bayangkan seperti apa hebohnya?


Aku menitipkan Diaz pada mas Aziz yang sedang berlatih jalan meski pelan. Tapi ternyata Fai mengambil alih tugas Mas Aziz.


Kami berempat, kaum hawa berbagi tugas. Aku dan mbak Hayu masak. Mika dan Imah yang tak hobi di dapur memilih mencuci pakaian Ki semua.


Berhubung ukuran tubuh Imah tak beda jauh dari Hayu dan Mika, kedua orang itu pun memakai gamis Imah yang masih baru-baru, yang sengaja di tinggal di kamar depan.


Jangan di tanya, kenapa mereka tak memakai pakaian ku saja! Hum! Aku paling kecil di antara mereka, entah dari tinggi badan sampai berat badan mungkin. Nasib jadi manusia SNI 🤭🤭🤭🤭.


Hampir pukul tujuh kami siap bersarapan. Sarapan hari lebaran ke dua cukup sederhana. Karena stok sayur di kulkas cukup untuk memenuhi kebutuhan seminggu ke depan.


Usai sarapan kami bersiap untuk pergi ke makam. Rencananya, kami mau ke makam mama dulu yang lebih dekat dari rumah barulah nanti ke makam ayah dan ibu.


Aku bersyukur, memiliki sahabat dan saudara yang setia kawan seperti mereka.


Setelah semua siap, kami satu persatu keluar dari rumah.


"Mbak Di, Diaz sama aku aja ya di mobil mas Damar sama Mbak Hayu!", kata Imah.


"Iya Mah!", jawabku.


Satu persatu memasuki mobil. Rencana, Fai yang akan membawa mobilku karena mas Aziz memang belum bisa membawa mobil untuk saat ini.


Di mobil lain, Dadan yang akan membawa nya.


"Kapan lagi coba gue bawa mobil mahal gini!", celetuk Dadan kepada Damar. Iya, mobil Damar yang mewah untuk sekelas dokter spesialis semacam Damar.


"Bisa ae Lo Dan, Lo juga bisa beli. Minta aja dulu ke Fai. Juga di kasih!", kata Damar.


"Nggak boleh Mas Damar, beban hidup mas kalo utange banyak!", sahut Imah yang duduk di kursi belakang bersama Hayu.


Entah kenapa Dadan merasa ingin menengok ke depan gerbang.


Mobil itu lagi? batin Dadan.


Di sisi lain, Fai tengah mengelap kaca mobil. Dan aku barusan saja keluar dari pintu ruang tamu. Kali ini kami semua keluar dari ruang tamu, tidak lewat pintu penghubung kios.


Dengan tunik berwarna putih, aku padankan dengan celana joger. Biar tak berkesan terlalu tua. Entah kenapa Fai menatap ku aneh.


Jangan bilang dia terkesima melihat ku. Astagfirullah!


Fai kembali menatap Dian. Dia melihat seperti titik merah bergerak di pakaian putih Dian. Lalu Fai mengikuti dari mana titik awal merah itu ,hingga ia menyadari ada sebuah ujung senapan muncul di jendela mobil yang mengarah pada Dian.


Fai melempar kain lap itu ke sembarang arah lalu berlari ke arah Dian.


"Dian awas .....!", Fai memelukku erat dan tak lama kemudian terdengar suara letusan.


Duarrrt......


Aku yang dalam posisi di pelukan Mas Fa'i pun terkejut. Memutar badanku lalu menyadari ada warna merah membasahi pakaian putih ku.


"Mas Fai!", ucapku lirih.


"Abi.....!", teriak Mika buru-buru keluar dari mobil, di ikuti Aziz yang keluar perlahan.


"Fai!", pekik Dadan. Seketika itu pula, Dadan melihat mobil yang semalam parkir.


"Astagfirullah Fai!", pekik Damar dan Aziz.


Imah di minta di dalam mobil saja oleh Hayu.


"Abi.....!", kata Mika menghampiri suami nya yang terluka.


"Damar , telpon ambulans!", teriak Aziz. Damar pun menghubungi ambulan Rs persada yang gak jauh dari kediaman Aziz.


"Sssshhhh...aku nggak apa!", kata Fai lirih.


"Abi....!", Mika menangis mengusap pipi suaminya.


"Abi nggak apa-apa Uma....!", katanya lagi.


Sedangkan aku, aku justru membeku. Mas Fai berada di pangkuan ku ,tapi aku tak bisa berucap apa pun.


Mas Aziz meraih bahuku.


"Syukurlah kamu selamat Di!", kata Fai lirih.


"Mas ...kenapa kamu lakuin itu mas!", akhirnya kata-kata itu keluar dari bibirku. Tapi Fai justru malah tersenyum.


"Aku ngga apa-apa Di!"


"Kak, kapan ambulan ke sini kak?" , tanya Mika pada damar.


Hayu turut jongkok di samping Mika.


"Sebentar lagi Mika, bersabar lah!", kata Damar menguatkan.


Darah mengucur begitu saja dari tubuh Fai, entah bagian mana yang terluka, yah jelas pakaian ku sudah berlumuran darah Fai.


"Abi... bertahan lah, demi anak kita Bi", kata Mika sesegukan.


"Iya, Abi kuat Uma....!", kata Fai yang suaranya semakin melemah tapi masih bisa mengusap lembut perut Mika.


"Ini salah gue!", teriak Dadan.


"Apa maksud Lo Dan?", tanya Aziz.


"Gue udah curiga dari semalam, ada mobil yang mengintai kita. Tapi gue nggak sadar juga!", kata Dadan penuh frustasi.


"Sudah Dan, bukan saatnya menyalahkan diri seperti ini!", Damar mencoba menenangkan sahabat nya itu.


"Tunggu! Gue inget plat nomor mobil itu, iya. Gue inget! Kita harus lapor polisi sekarang!", kata Dadan lalu menelpon polisi yang tak jauh dari rumah. Damar melakukan pertolongan pertama dengan alat seadanya yang biasa ia bawa di mobil. Minimal, bisa mengurangi pendarahan Fai.


"Terimakasih mas....!", ucapku lirih. Fai menggeleng tapi tersenyum dan tangan nya menggenggam erat tangan sang istri.


"Maafkan mas yang egois!", menatap Mika dan Dian bergantian. Tapi lama-lama ia memejamkan matanya.


"Abi! Jangan tidur Bi, bertahan lah!", mika menepuk pelan pipi suaminya.


Dari jauh terdengar sirine ambulan. Rumah kami mendadak di kerumuni para tetangga.

__ADS_1


Genggaman tangan Fai terlepas begitu saja dari tangan Mika.


"Abi....!", pekik Mika dan tiba-tiba ia pun pingsan.


Damar membawa Mika ke mobil ku bersama Hayu, lalu meminta Imah turut pindah pula yang membawa Diaz.


"Dan, kamu bawa mobil Aziz. Ikuti ambulan. Biar aku , Aziz dan Dian yang di dalam ambulan."


" iya Dam" , Dadan pun menuruti Damar.


Mas Aziz memelukku erat saat petugas ambulan mengangkat tubuh Fai.


"Bertahan Fai!", kata Damar yang duduk di sebelah Fai bersama petugas.


Ya Allah, kenapa harus begini? Mas Fai mengorbankan dirinya demi aku?


Aku menangis tersedu-sedu di pelukan suamiku.


Demi kamu,Fai merelakan nyawa nya Dek! Batin Aziz.


Secinta apa pun Lo ke Mika, tetap saja lo ga bisa ngilangin rasa cinta Lo sama Dian ,Fa! Batin Damar.


Di sepanjang perjalanan, semuanya terdiam. Tapi tidak dengan Dadan. Dia terus menjelaskan kepada polisi lewat sambungan telepon dan meminta polisi bertemu di rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, Damar sendiri yang turut menangani Fai.


"Mika belum siuman!", kata Hayu pada suaminya.


"Bawa dia juga ke dalam. Biar di periksa dokter kandungan!", pinta damar pada istrinya.


Hayu pun menuruti.


Aku melihat mas Aziz kepayahan berjalan , akhirnya aku meminjam kursi roda untuk nya.


Ku lihat damar sedang berdebat dengan rekan dokter lainnya. Akhirnya Damar pun ikut ke dalam ruangan tindakan.


Dadan membawa Mika ke brankar yang menuju UGD agar di periksa dokter kandungan seperti titah Damar, dan kebetulan Dokter Lala yang tengah berjaga.


Hayu , Dadan dan Imah menunggu di depan ruangan Mika.


Sedang aku dan mas Aziz menunggu di depan ruangan Fai.


"Mas, ini salah ku! Semua yang dekat dengan ku pasti celaka mas!",ucapku sambil bersandar di dinding.


"Dek, jangan bicara seperti itu!", kata Aziz.


"Aku pembawa sial mas!", ucapku lirih.


"Astagfirullah dek. Jaga ucapan mu!", bentak Aziz yang sudah tak sanggup berkata apapun.


Aku menenggelamkan kepalaku di kedua lututku.


"Maaf kan mas udah bentak kamu dek. Tapi mas mohon, tolong....kamu jangan bicara seperti itu!", kata Aziz. Setelah itu , kami sama-sama terdiam. Larut dalam pikiran kami masing-masing.


Di ruangan lain, Mika pun siuman.


"Abi....!", panggil Mika lirih.


"Mika!", Lala mengusap lengan Mika.


"Mas Fai, La!", kata nya.


"Dokter damar dan dokter lain sedang menangani mas Fai , Mika!", kata Dokter Lala pelan.


"Aku mau ke sana!", kata Mika bangkit.


"Tapi kamu masih lemah Mika!", cegah Lala.


"Pokoknya aku harus ke sana!", Kata mika memaksa. Dan akhirnya Lala mengalah.


"Oke! Tapi pakai kursi roda!", kata Lala tegas. Dan mika pun setuju.


Dokter Lala sendiri yang mengantar Mika, diikuti Dadan dan yang lain.


Di saat yang bersamaan, damar keluar dari ruang tindakan Fai.


"Gimana Dam?", tanya Aziz. Damar tidak menjawab, tapi dokter yang di belakang Damar menjawabnya.


"Pasien kehilangan banyak darah, dan secepatnya segera di operasi!", kata Dokter itu.


"Lakukan yang terbaik untuk suami saya Dok!", kata Mika.


"Insya Allah dokter Mika. Kami akan berusaha, tapi persediaan darah yang cocok untuk pasien sedang habis", kata dokter itu.


"Ambil saja darah saya Dok!", kata Mika.


"Mika, kamu lagi hamil. Lagi pula memang golongan darah kalian sama?", tanya Lala.


"Golongan darah mas Fai sama dengan saya Dok, AB + kan? Ambil saja darah saya!", ucapku.


Semua mata menatap ku tak percaya.


"Baiklah kalau begitu, mari kita periksa ya Bu!", ucap dokter itu.


"Dek!", kata Aziz.


"Di...!", Mika tercekat.


"Mas Fai berkorban demi aku!", kataku sambil berlalu. Dan damar pun berjalan beriringan dengan ku.


"Aku tahu seperti apa perasaan kalian!", ucap damar lirih. Lalu ku tatap wajah dokter itu dari samping.


******


Mau happy ending apa sad ending nih?????


Setelah ini last eps ya ????


Hampir 300 eps mesti pada bosen kan, ya kan?????


Nantikan eps terakhirnya ya. Jangan lupa pantengin, like & kritik saran nya juga ya....


Haturunuhun nuhun 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2