
Fai mengucek matanya saat mendengar alarm dari ponsel nya yang ia letakkan di atas nakas. Pria tampan itu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelum beranjak, Fai sempat memandang istrinya yang masih tertidur pulas. Dia terus mengingat kejadian panas mereka semalam.
Usai mandi wajib, Fai membangunkan isterinya agar tidak terlambat solat subuh.
"Mika....!", Fai berbisik di telinga Mika. Tapi Mika hanya melenguh sambil mengubah posisinya. Fai tahu, mika tidak bisa tidur jika lampu nya menyala terang.
Jetetkkkk.... saklar lampu ia nyalakan.
Seketika mika mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Siapa sih yang nyalain lampu? Tolong matiin dong ah...aku masih ngantuk!", kata Mika yang masih malas untuk membuka lebar matanya.
Fai mendekati mika lagi.
"Bangun sayang, solat dulu!", Fai mengusap kepala istrinya.
Mika masih tak memakai apa pun di balik selimutnya.
"Eh...!", mika terkejut dengan kehadiran Fai.
"Mas? Kamu ngapain?!", Mika menutupi bagian dadanya lagi.
"Sayang, bangun! Solat subuh dulu, nanti bisa tidur lagi !", bujuk Fai.
"Astagfirullah....aku lupa mas kalo kita udah menikah!", pekik Mika.
"Heummm! Dasar! Ya udah sana mandi, mas mau solat di bawah sama papa. Kamu di kamar aja kalau masih sakit buat jalan ke lantai bawah."
Ah...iya, bener juga!
"Iya mas, aku solat di kamar aja!"
"Aku turun dulu ya!"
"Iya mas!"
Mika pun turun dari ranjangnya dengan perlahan. Sisa pertempuran semalam sungguh membuat barang miliknya serasa porak poranda.
Mika mengambil handuk yang baru dari lemari. Tapi saat dia bercermin....
"Astagfirullah... masyaallah.....!", dia terpekik saking terkejutnya melihat stempel merah hampir di sekujur tubuhnya. Perbuatan mas Fai sampai begini banget sih????
Setelah itu, Mika baru benar-benar mandi. Membersihkan seluruh tubuhnya. Aroma sabun yang menenangkan membuat nya merasa terbuai dan mengingat aktivitas nya dengan mas Fai semalam. Dia tidak menyangka sama sekali. Belum sebulan penuh berkenalan dengan mas Fai, sekarang mereka sudah menjadi pasangan suami istri. Bahkan... tubuh mereka sudah menyatu semalaman.
Fai belum juga kembali meskipun Mika sudah selesai solat subuh. Sambil menunggu Suami, Mika bersandar di pinggir ranjang, tapi lama-lama ia kembali mengantuk. Mika kembali tertidur dengan mukena yang masih ia pakai.
Di bawah.....
"Kamu solat sendiri Fai, mika mana?", tanya papa.
"Mika solat di atas saja katanya Pa!"
"Oh....!", Umar hanya ber'OH' saja.
Mereka solat subuh berjamaah dengan beberapa asisten pria dan karyawan Umar yang lain.
"Fai, kita ngopi dulu mau?", tanya papa.
"Boleh pa!", sahut Fai.
Papa memandangku dengan tatapan entah apa itu lah. Tapi setelah itu, ia menyunggingkan senyumnya.
"Kita duduk di teras belakang aja ya Fai!"
"Iya pa!"
Tak berapa lama art mengantarkan kopi untuk kami berdua.
"Mbak...maaf, bisa tolong buatkan minuman hangat buat Mika?", pinta ku pada mbak Art.
"Baik Den. Nanti saya buatkan susu buat Non Mika!"
"Susu?"
"Iya den, non mika kalau pagi-pagi begini memang suka minum susu. Biasanya juga, non mika sudah joging di sekitar sini!", sahut art lagi.
"owh....!"kata Fai.
"Non Mika ngga ikut turun Den?", tanya si art.
"Emm...mika mau solat di kamar aja katanya mbak...!"
__ADS_1
"Panggil saja saya Bik Mumun!", kata mbak itu.
"Baiklah...bik Mumun!", Fai mengulang namanya.
"Saya permisi tuan, den!"
Papa dan aku hanya mengangguk.
"Bik Mumun belum terlalu tua seperti nya kok Pa!", kataku.
"Kenapa?"
"Kok mau di panggil bik? Padahal di panggil mbak saja masih pantas!"
Papa terkekeh.
"Kamu mau memanggil mbak juga nggak apa-apa. Orang usianya sama papa nggak beda jauh kok!"
"Masa sih? Ah...mana ada pa!", kataku tak percaya.
"Jadi, kamu mau bilang papa sudah tua banget gitu....?"
"Tua banget sih nggak Pa, sedikit lebih tua aja hahahahah!", candaku.
"Tapi...nggak masalah lah. Kali aja bentar lagi ada yang manggil...'Opa...opa...Umar yang ganteng' , gitu! Ya kan????", kata papa sambil menyeruput kopi nya. Aku jadi merasa tersentil.
"Doakan saja Pa!"
Umar pun tersenyum.
"Tentu saja papa selalu doakan anak-anak papa dong!"
"Oh iya pa, soal resepsi pernikahan kami? Apa persiapan nya sudah selesai? Kalau belum, biar Fai sama mika aja nggak apa-apa yang nyiapin pa?!"
"Kamu tenang aja, Papa sudah membereskan nya. Kalian tinggal jadi raja dan ratu sejagat hari itu."
"Makasih lho...Pa. Papa udah mau di repotkan!"
Umar menepuk bahu menantunya dengan lembut.
"Kalian kan anak papa. wajar papa ingin memberikan yang terbaik bukan? Dan... satu lagi. Cintai dan sayangi Mika, putri kesayangan papa. Jangan pernah menyakiti Mika ya. jika emang salah, tegur. Semarah apa pun, jangan pernah main fisik!"
"Insyaallah Pa!"
"Ya udah, papa mau joging keliling komplek."
"Iya pa. Fai juga mau bawain susu nya Mika ke kamar!"
"Oh iya Fai, maaf ya kalau putri papa ternyata ganas!", Papa kembali menepuk bahu ku. Ganas? Emang binatang???
Aku bawakan segelas susu dan telur rebus yang bik Mumun buatkan tadi. Jadi, istriku sarapan seperti ini? Padahal ini masih sangat pagi. Apa setelah ini, dia makan nasi juga waktu sarapan?
Ceklek....
Aku edarkan pandanganku ke dalam kamar. Ternyata, mika tertidur dengan masih memaksa mukena. Ku letakkan nampan yang berisi susu tadi di atas meja. Ku hampiri Mika yang tidur pulas sekali. Mika memang cantik, tanpa make up pun dia cantik. Hidungnya mancung, bibirnya yang merah tipis membuat ku ingin lagi memakannya seperti semalam.
"Sayang....!", ku usap puncak kepala nya.
Mika mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Eh, aku ketiduran lagi ya?", mika mengucek matanya.
"Lepas mukenah nya. Mas bawain susu, di minum dulu ya. Takut dingin."
"Kok kamu yang bawa sih mas? Kan harusnya aku yang bikinin kamu kopi, bikin sarapan..."
"Sssstttt....!", kuletakkan jariku telunjuku di bibirnya.
"Sudah ,lain kali kan bisa. Sekarang, kamu aja masih sakit kan buat turun ke dapur?"
Mika mengangguk.
"Ayok, lepas dulu mukenah nya!", pintaku lagi.
Mika pun menuruti perintah ku. Mika sudah berpakaian lengkap. Tinggal memakai jilbabnya.
"Kalau di kamar sama aku, nggak usah di pake jilbab nya Mika!"
Mika kembali meletakkan jilbabnya di meja rias.
"Iya mas!"
__ADS_1
Sekarang kami sama-sama duduk di tepi ranjang. Ku sodorkan susu dan telur kepada mika.
"Sarapan dulu!"
Mika tersenyum.
"Bik Mumun pasti yang bikin ya?"
"Iya lah. Siapa lagi? Emang mas boleh main di dapur juga ?"
"Boleh, kalau kita udah pindah rumah!"
"Emang kamu mau kita tinggal dimana Mika?"
"Kayanya...usulan mama ada bebernya deh mas. Kita pakai rumah mama aja yang deket rumah mas Aziz. Jadi, kita kan tetanggaan. Aku kan jadi nggak kesepian mas. Deket sama Dian, Imah...mbak Hayu!"
"Ya udah, nanti kita bilang ke mama Selly!"
Mika menyeruput susu nya yang masih hangat.
"Apa rencana kita hari ini mika?"
"Rencana?", mika balik bertanya kepada ku. Dia memindai wajahku. Lalu menyentuh pipi dan leherku.
"Apa sih mika???", kepalaku di tengokkan ke kiri dan ke kanan.
"Mas...apa ada yang melihatnya???!"
"Melihat? Melihat apa?"
"Itu mas! Lehermu!"
"Kenapa sama leherku Mika. Tadi aku mandi juga baik-baik aja!"
Mika bangkit membawa cermin kecil. Lalu menyodorkan nya padaku.
"Nih, lihat kan????"
Ingin sekali aku tertawa, tapi ku tahan. Oh, jadi yang papa maksud buas tuh ini???
"Kenapa sama ini?", tanyaku sambil mengusap leherku.
"Ihhh...mas Fai mah! aku malu tau mas!"
"Kok jadi kamu yang malu, mas aja yang jadi korbannya nggak malu!"
"Mas....!", mika menepuk lenganku. Aku kembali terkekeh melihat ia merajuk begitu.
Aku meraih bahu nya, lalu ku sandarkan daguku di pundak nya.
"Bahkan, bekas di tubuhmu lebih banyak Mika. Aku hanya ini saja!"
Wajah mika bersemu merah. Iya teringat dengan stempel buatan Fai di leher dan sebagian besar di dada dan perutnya. Bahkan sampai di paha! Entah di bagian punggung.
"Tapi aku kan pake jilbab mas ,nggak keliatan."
"Biarin lah sayang. Toh, kita juga pasangan yang sah kan???"
Mika menunduk malu.
"Cuti kamu masih lama kan Mika?"
"Iya mas!"
"Bagaimana kalau...kita lanjutkan yang semalam lagi. Mas masih mau!", bisikku. Mika membelalakkan matanya.
"Tapi mas...ini sudah pagi...malu."
"Malu sama siapa?"
"Malu sama.....!"
Aku tak akan membiarkan mika melanjutkan kalimatnya. Langsung ku bungkam bibirnya.
"Mas tidak suka penolakan Mika!!!", aku kembali menikmati bibir tipis nya.
Apa pesona Mika membuatku melupakan mu Diandra???..
******
Nah, Lo...doyan kan Lo Fai??. Makanya jangan sok2an. Sekalinya ngerasain aja, nggak cukup sekali kan Lo 😆😝👍👍👍👍
__ADS_1