
Neneng menggandeng suaminya untuk menemui ku dan mas Aziz. Ujang masih menundukkan kepalanya.
"Kang Ujang?", sapa ku. Ujang pun mengangkat wajahnya lalu matanya pun menatap ku.
"Mbak Dian...mas Aziz???", sapa nya pelan karena sangat terkejut.
"Akang teh kenal sama mereka?", tanya neneng. Ujang pun mengangguk.
Ya Allah, ternyata orang yang mau Neneng temui itu mereka? Harus ya ...malu bertubi-tubi begini? Batin ujang.
"Saya nggak tahu lho kalau ternyata kang Ujang suaminya teh neneng!", kata Aziz.
Imah dan hayu kembali di sibukkan dengan pembeli. Mereke berdua seolah tak menggubris keberadaan tamu ku saking sibuknya.
"Kamu jawab sendiri aja kang, gimana kang Ujang kenal sama kami", titah Aziz.
Ujang memandang istrinya dengan tatapan entahlah ....
"Neng....mas Aziz sama mbak Dian itu....bos akang di butik!", kata Ujang .
Neneng terkejut mendengar pengakuan suaminya.
"Ya Allah...kang....!", Neneng menutup mulutnya yang menganga saking terkejutnya.
"Mas...mbak ...tolong maafin suami saya!", kata Neneng.
"Kami sudah maafin kok teh!", kata Aziz. Aku pun mengiyakan dengan anggukan.
"Masyaallah... kalian memang baik sekali. Saya jadi malu mau meminta pekerjaan sama mba Di", kata Neneng menunduk.
"Kenapa harus malu?", tanyaku.
"Suami saya....udah bikin kesalahan besar. Bagaimana kalau gara-gara kesalahan suami saya, kalian.....",ucapan Neneng terpotong.
"Kami baik-baik saja teh!", kata mas Aziz merangkul ku. Dan aku pun hanya mengangguk.
"Ya udah, teh neng bantu Dian jagain Diaz. Tapi pagi-pagu udah ke sini ya. Pulang nya ya nunggu kami pulang kantor. Kami emang sengaja nyari yang bisa pulang pergi, nggak nginep."
Wajah Neneng berbinar.
"Beneran mas ?", tanya neneng.
"Bener atuh!", jawab Aziz.
"Ya Allah, makasih mas.... makasih mba....!", Neneng menangisi terharu. Sedangkan Ujang, dia diam. Dia terlalu merasa malu dan merasa bersalah pada keluarga ku.
"Kalau kang Ujang sendiri, sudah ada rencana apa?" tanyaku.
Ujang pun menggeleng pelan.
"Bisa nyupir?", tanya Aziz.
Mas Aziz nanyain kang Ujang bisa nyupir apa nggak? Apa....mas Aziz mau jadiin Ujang sopir kami?
"Bisa mas. Saya juga punya SIM nya", jawab Ujang takut-takut.
"Dek, gimana kalau Ujang jadi supir kita?", tanya Aziz padaku. Aku pun membelalakkan mataku.
"Hah? Supir?", tanyaku mengulang.
"Iya. Mas nggak mau ngerepotin Fai atau Julian terus. Mas cuma takut, nggak bisa nganterin kamu ke mana-mana kalau mas tiba-tiba ada urusan kan?"
"Tapi , kalau terpaksa aku juga bisa bawa mobil sendiri kan mas?"
"Iya sih dek....!"
Ujang dan Neneng saling berpandangan melihat sepasang suami istri yang sedang beradu argumen.
__ADS_1
"Em....gini aja deh. Kang Ujang Dateng aja ke kantor. Taroh aja CV nya di bag HRD. Kang Ujang mau kalau jadi ob lagi?", tanyaku.
Ujang pun menatapku.
"Tapi mbak....saya kan....!"
"Udah, kami sudah memaafkan kang Ujang. Tapi... lain kali, tolong jangan berbuat seperti itu lagi. Jangan sampai kesalahan yang kita buat justru merugikan orang lain."
"Iya mba, mas....!", Ujang pun menunduk.
"Ya udah, besok pagi kang Ujang anterin aja ke kantor ya."
"Kantor mana mbak?", tanya Ujang.
"Kantor DWP group", jawabku singkat.
Kantor DWP yang besar itu? batin ujang.
"Kang Ujang tahu gedung nya kan?",tanya Aziz.
"Tahu mas. Siapa yang nggak tahu perusahaan itu", Ujang mulai menguasai dirinya.
"Tapi mbak...kalau saya tiba-tiba ke sana menemui HRD........memangnya sedang membuka lowongan?", tanya Ujang lagi.
"Bilang aja rekomendasi dari saya atau mas Aziz."
Ujang pun mengangguk.
"Oh iya teh , kalau bisa mulai besok teteh ke sini jam enam. Keberatan nggak?", tanyaku.
"Beneran mbak? Alhamdulillah! Ya nggak keberatan atuh! Subuh ge teu nanaon mbak!," sahut neneng riang.
Aku dan mas Aziz tersenyum kompak. Bisa membantu mereka adalah kebahagian tersendiri buat kami.
"Ya Allah mas...mbak.... terimakasih. Dan.... saya minta maaf sekali sudah buat salah sama kalian."
Ujang tertunduk.
Usai berbasa-basi, mereka pun pulang.
Hayu dan Imah menghampiri kami.
"Jadi, suami teh neng yang jadi perekam video itu?", tanya Imah tiba-tiba.
"Kamu tahu mah?,"tanya Aziz.
"A Dadan yang bilang."
"Merekam apa ?", tanya hayu yang duduk di belakang Imah.
"Merekam adegan pemicu keretakan rumah tangga!", sahut Imah.
Hayu hanya mengernyitkan dahinya. Aku dan mas Aziz hanya tersenyum.
"Eh, itu mbak Hayu charger yang baru datang belum di packing!", kata Imah.
"Iya, aku mau packing Imah....!", hayu pun mendekati tumpukan kardus di dekat meja kasir.
"Udah mau Magrib, kami masuk dulu ya!", pamitku pada Imah dan hayu.
Mereka hanya mengiyakan ucapan ku dengan anggukan.
"Dek, kita pesan aja ya makan malamnya."
"Nggak usah mas. Lain kali aja. itu sayuran udah ada di kulkas. Sayang kalau nggak di masak."
"Tapi kamu capek dek....!", mas Aziz meraih bahuku.
__ADS_1
"Kan ada kamu mas. Nanti tinggal minta pijat plus-plus....!", kataku sambil mengedipkan sebelah mataku.
"Kamu lagi godain mas???", tanyanya menowel dagu ku.
"Goda suami sendiri nggak masalah dong?"
"Hah! Betul! Berati nanti hukumannya bertambah!"
"Kok gitu?"
"Iya lah. Hukuman karena kamu nggak percaya sama mas, dan hukuman udah godain mas!"
"Ish...mana ada begitu!", aku mencebikkan mulutku.
"Sama satu lagi."
"Apa?"
"Hukuman karena semalam bikin mas main sendiri!", katanya ngeloyor mendahului ku.
Apaan nih ???? Gila aja suamiku itu! Benar-benar minta di rukyah!
Tak berapa lam azan magrib berkumandang.
"Dek, mas ke masjid belakang ya."
"Iya mas. Diaz juga bobok nih!"
Mas Aziz mendekati kami.
"Diaz...kok jam segini bobok sih? Ngalamat palsu ini mah tengah malam!", kata mas Aziz kesal.
"Kenapa emangnya mas?"
"Kalau malam-malam bangun, batal dong mas ngasih hukuman sama kamu dek!"
"Ya Allah mas....baru libur tiga malam aja udah uring-uringan begitu. Dulu aja berminggu-minggu nggak apa-apa. Malah aku sering di tolak waktu minta hakku!"
"Dek ..jangan ingetin itu lagi. Mas ngrasa bersalah nih....."
"Udah sana berangkat ke masjid. Keburu iqomah"
"Iya...iya...mas jalan sekarang. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
Aku pun meletakkan Diaz di stroller. Dan aku pun mengambil wudu.
Aku solat magrib dengan Diaz berada di dekat ku. Bagaimana pun, saat magrib begini aku tidak boleh meninggalkan Diaz yang masih kecil ini sendiri. Terlebih lagi dia tertidur.
Terlepas dari mitos turun temurun yang memang masih dipercaya hingga sekarang ya. Tapi menurut logika ku, memang bayi sekecil ini harus di tungguin.
Hampir setengah tujuh, Mas Aziz pun pulang.
"Dek, mas jagain Diaz kamu masak aja ya."
"Siap bos!", kataku sambil berlalu.
Tapi baru saja keluar dari kamar, mas Aziz meraihku.
"Mas kangen....?!", katanya merajuk.
"Iya, nanti mas. Sekarang aku kan harus masak."
"Cium dulu.... sebentar aja....!", katanya merayuku.
Dasar...bayi gede!
__ADS_1
Cup....aku mencium pipinya. Dan segera berlari menuju dapur. Andai kata aku mencium bibir, sudah di pastikan gagal masak!
"Dek....!!!!!",panggil Aziz kesal.