Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 142


__ADS_3

"Sayang!" panggil Fai padaku.


"Kenapa mas!"


"Mas mau ngajak kamu kenalan sama sahabat-sahabat mas!"


"Oh ya? siapa!?"


"Nanti lah! Kamu juga bakal tahu!"


"Baiklah!"


Kami pun berjalan beriringan. Mas Fai merangkul bahuku selama berjalan.


"Oh iya, soal magang kamu gimana?" tanya Fai.


Gak gimana-gimana mas, aku magang di kantor ayahku sendiri. Tapi aku nggak mau melanjutkan untuk mengurusi nya. Aku cukup jadi karyawan bawah saja sudah cukup.


"Em...baik mas. Mungkin setelah wisuda, ku bisa jadi karyawan tetap di sana hahahha....!"


"Bisa aja kamu Di!"


Panggilan 'Di' adalah panggilan kesayangan dari Fai. Fai menilai, nama Rara akan membuat ku terkenang dengan masa lalunya yang menyedihkan.


"Nah, itu mereka!"


mas Fai menunjuk dua pria tampan yang sedang duduk di bangku kafe.


"Assalamualaikum!", sapa Fai.


"Walaikumsalam." Jawab Damar dan Aziz.


"Bro, kenalin ini Diandra."


Mereka berdua menganggukkan kepalanya, begitu pun aku. Sesi perkenalan dengan teman Fai tak berlangsung lama. Fai bilang, aziz harus kembali ke kantor dan Damar kembali ke rumah sakit.


Mas Fai pun mengantar ku pulang ke kosan ku.


Malam hari nya... sebelum Fai memperkenalkan Dian dengan temannya....


"Bah...Fai sudah dewasa bah. Tolong jangan terlalu mengatur Fai!"


"Apa katamu? Mengatur? Fai, Abah bicara seperti ini karena peduli dengan masa depan mu!"


"Masa depan apa Bah..?"


"Abah sudah memutuskan, bulan depan Abah akan mengirim mu ke solo. Ponpes kyai Ali!"


"Apa bah? Ponpes? Bah! Fai sudah tua! Apa pantas Fai ikutan mondok dengan anak-anak kecil bah?"


"Kenapa memangnya? Kamu merasa sudah punya ilmu yang tinggi? Sudah pintar?"


"bah....!"


"Abah minta kamu mengajar di sana sambil menimba ilmu. Kamu ajarkan apa yang jadi kemampuanmu. Dan kamu belajar apa yang banyak tidak kamu ketahui disana!"


"Tapi Bah...Fai....!"


"Tidak ada tapi-tapian Fai. Buktikan baktimu pada Abah dan Umi mu!"


*******


Hari sudah mulai gelap. Seperti nya akan turun hujan sore ini.


"mas, kamu langsung pulang aja ya. Mau hujan nih?!"


"Iya."


Baru saja menjawab iya, hujan benar-benar turun dengan derasnya.


"Aku ujan-ujanan aja deh Di!"

__ADS_1


"eh, jangan lah mas. Nanti kamu sakit!"


"Terus gimana?"


"Ya udah atuh, masuk aja dulu."


Akhirnya kami berdua masuk ke kamar ku. Meskipun kami sering berduaan di kamar kos ku. Tapi aku merasa hari ini hawanya beda. Kamar sebelah masih pada sepi, mana hujan deras lagi.


"Aku bikinin kopi ya mas?"


"Boleh deh!"


hujan ,dingin, gludug menyambar bersahutan membuat suasan semakin...syahdu.


"Ini mas kopinya!"


"Makasih sayang!"


Mas Fai menyeruput kopinya pelan-pelan. Aku hanya memandang kagum dengan pria tampan ku.


"Mas tahu kok kalau mas ganteng, tapi Nggak usah di lihatin sampe segitunya lah!"


"Dih...geer!"


Tiba-tiba angin berhembus membuat pintu kamar ku tertutup.


Brakkkk


"Astagfirullah!", spontan kami berdua beristighfar.


Ucapan Abah semalem, membuat Fai terngiang-ngiang. Apakah Abah akan tetap mengirim nya ke solo jika ...Fai sudah menghamili anak orang? Pikiran yang pendek dan tak masuk akal seketika menguasai otak Fai.


Tapi, apakah Diandra mau??? batin Fai. Tidak! Diandra bukan perempuan seperti itu. Otak dan perasaan Fai saling beradu.


"Mas? Kamu kenapa?", aku mendekati nya yang sejak tadi terdiam.


"Mas.....!!!!", aku mengibaskan tangan ku di depan wajahnya.


Tidak hanya *******, mas Fai sudah berhasil menguasai rongga mulutku. Mas Fai kenapa? Tidak seperti biasanya dia begini?


Aroma kopi dari mulutnya membuat ku semakin menikmati lu*atannya. Sampai aku merasa, ada sesuatu mengeras di bawah sana yang menekankan tubuh bagian bawahku dan tangan mas Fai menelusup ke dalam kemejaku.


Spontan aku berusaha mendorong tubuh kekar nya itu. Dan aku berusaha melepaskan pagutannya.


Setelah aku berhasil lepas dari tindihan Fai, aku pun bangkit dari kasurku. Tapi , tangan mas Fai meraih ku dan membuatku jatuh terduduk di samping nya. Dia memelukku erat tubuhku.


"maaf!!!", bisiknya di belakang telinga ku.


"Lepas mas! aku nggak mau kita kebablasan mas! Cukup dosa kita selama ini .melakukan ini dan ciuman saja kita sudah salah mas. Jangan Bebani dengan dosa besar itu mas!", aku tergugu.


"Maafin mas Di. Maaf.....!!!!", Fai memelukku erat, semakin erat. Aku tahu, dia begitu menyesali perbuatannya.


Setelah kejadian itu, aku berusaha bersikap biasa saja. Aku memaafkannya. Tapi , tidak dengan nya.


Sampai akhirnya, hari dimana ia memutuskan hubungan kami tanpa sebab yang jelas. Memutuskan ku hanya lewat pesan singkat. Menyakitkan bukan? Yang lupa drama perpisahan Fai dan Dian ada di episode


'Dunia itu Kecil' ya.


*******


AziZ mengepalkan tangannya saat istrinya bercerita tentang...Dian dan Fai hampir melakukan hal bodoh itu. Suami mana yang tidak cemburu???? Meskipun itu hanyalah sebuah masa lalu. Tapi masa lalu seperti itu tidak akan mudah di lupakan bukan?


Dan...Aziz sudah berjanji untuk tidak marah pada istrinya setelah mengetahui kebenarannya?


Dan soal hak istrinya, harusnya Diandra memikirkan orang-orang yang bergantung dengan pekerjaan nya di perusahaan nya bukan?


***""


Aku menatap mas Aziz yang entah kemana pandangan nya tertuju. Tapi aku masih mau melanjutkan cerita ku.


"kamu tahu mas? Saat mas Fai meninggalkan ku tanpa kejelasan, duniaku terasa runtuh. Aku hampir tidak bisa percaya dengan siapa pun lagi. Aku minta om Kendra untuk tidak menghubungi ku jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Sampai akhirnya....aku mengenal mu mas. Kamu membuat ku merasa nyaman."

__ADS_1


Mas Aziz menatap mataku.


"Diawal pernikahan kita, memang belum ada cinta yang luar biasa mas. Mungkin sebatas mengagumi. Sampai...kamu berpuasa selama tiga bulanan untuk bisa mendapatkan hak mu kan?"


Aziz hanya mengangguk.


"Aku hanya merasa belum siap waktu itu. Aku pernah hampir berbuat kesalahan dengan mas Fai. Aku...aku tiba-tiba merasa tak pantas buat kamu mas!"


Mas Aziz merengkuh ku dalam pelukannya.


"Tapi...mas kan yang buka segel nya dek?", mas Aziz mencoba menghibur ku. Padahal aku tahu, batinnya pasti sudah emosi.


"Iya. Tapi kamu butuh waktu lama untuk mendapatkan nya."


"Tak masalah!" mas Aziz mencium bibirku beberapa saat.


"Kamu tahu mas, seperti apa rasanya saat mama menantang pernikahan kita? Sakit mas. Aku tahu, mama hanya berusaha agar di suatu hari nanti, tidak ada pertengkaran antara kamu dan Fai jika kita bisa bertemu dengannya. Lagi pula...mama juga tidak tahu asal usul ku."


Mas Aziz menggenggam erat tangan ku.


"Tapi...itu semakin menguat kan ku untuk bertahan bersama mu. Yang penting aku memiliki mu. Menantikan kehadiran anak yang yang tidak kunjung Allah titipkan pun, salah satu cobaan buatku mas. Apalagi sikap Mama saat itu."


Aku menarik nafas ku dalam-dalam.


"Maafkan mama ya sayang....!", mas Aziz mengusap lengan ku.


"Aku masih bisa bertahan mas. Tapi...saat kamu mulai jarang menyentuh ku, aku merasa....aku sudah tidak di butuhkan. Aku sempat berpikir, aku ingin mengakhiri semuanya!"


"Astagfirullah!"


"Tapi aku berusaha keras. Aku sudah sembuh! Aku tdiak ingin trauma ku kembali, dan melibatkan om Kendra."


"Tapi itu belum seberapa Mas....di bandingkan saat aku melihat adegan menjijikkan mu dengan Lili."


Mas Aziz tiba-tiba duduk di depan kakiku.


"Kamu tahu mas, saat itu aku merasa...itulah titik terendah dalam hidupku. Kamu satu-satunya yang ku miliki mas. Sakit...sakit...luar biasa!"


Aku kembali terisak. Mengingat betapa menyedihkannya saat itu.


"Mas minta maaf Sayang....Maas minta maaf!", mas Aziz meletakkan kepalanya di pangkuan ku. Mas Aziz menangis???


"Tapi... aku bertahan demi Diaz ,anak kita. Aku tidak ingin Diaz merasa kan hal yang sama seperti aku mas!"


Mas Aziz tergugu di pangkuan ku.


"Dan sekarang...kita bahagia dengan kehidupan kita kan mas? Aku mencintaimu, begitu pun kamu mas!", aku mengusap lembut kepala mas Aziz. Dia masih tergugu di atas pahaku.


"Mas sangat mencintai mu Dek. Sangat!"


"Bangunlah mas! Malu sama Diaz!"


Mas Aziz pun kembali duduk di sebelah ku.


"Sayang...maafin mas. Mas sering menyakiti mu!", mas Aziz memelukku.


"Iya mas. Aku juga minta maaf, jika aku sering mengecewakan mu!"


Kami larut dalam pikiran kami masing-masing.


Ya Allah....kenapa aku baru tahu jika istri ku melewati masa-masa sulit itu. Kenapa aku baru tahu sekarang? Aku bahkan pernah amat sangat menyakiti batinnya. Batin Aziz.


****


Hah! Fai dan Dian pernah hampir begituan..????


Dasar Fai! Tapi...Fai kayanya udah tobat, kayanya lho ya....


Kita semua manusia biasa, sudah pasti tempatnya khilaf dan dosa .


Btw....apa Aziz akan marah ke Fai setelah tahu kalau istri dan sahabatnya itu pernah.... sedalam itu???? Weistttt.... perasaannya yang dalam.

__ADS_1


Thx sudah baca ya! Semoga tidak mengecewakan. Dan semoga mamak bisa dapet ide yang lebih baik lagi ✌️✌️✌️✌️🤗


__ADS_2