
"Mama...? Udah rapi aja, mau kemana?", tanya Aziz pada mamanya yang sudah rapi di hari Minggu pagi ini.
"Mau ikut Imah ke malang", sahut mama santai.
"Ikut Imah? Ngapain?", Aziz penasaran.
"Mama pengin ikut aja Ziz. emang nggak boleh?"
"Bukan nggak boleh, tapi mama kan baru sampe sini kemaren. Masa mau pergi lagi?"
"iya nggak lama kok Ziz, cuma berapa hari sih? Paling dua atau tiga hari. Kalau dalam sehari bisa di selesaikan malah lebih baik."
"Apa mama cuma punya anak perempuan? Mbak Imas dan Imah saja?"
"Kamu tuh ya, kan udah bapak-bapak. Masih ngiri aja sih?", tepuk mama ke bahu Aziz.
"Ngiri sih nggak....cuma...?!", Azi terpaksa menggantung kalimat nya.
"Ayok ma...kita berangkat!", ajak Imah.
"Imah? Berangkat ke mana?", tanya Aziz heran.
"Mudik ke malang atuh maskuhhhhh!"
"Ngaco! Bisnya kan baru berangkat nanti sore !", sahut Aziz.
"Siapa yang mau naik bis, kita mau pake pesawat. Iya kan ma?"
"Iya Mah!"
"pesawat? Terus tiket bisnya?"
"Udah dibatalin mas. Mama udah pesenin tiket buat kita berdua."
"Iiih... kenapa nggak dari kemarin sih beli tiket pesawat aja." Aziz geregetan sekali dengan adiknya.
"Iya...kita juga dadakan ya mah!"
"Iya ma!"
"Dadakan kenapa?", tanya Aziz penasaran.
"Semalam, pak haji, abahnya Fai bilang besok Rabu malam mau lamaran ke rumah mika. Pak haji minta kita ikut ke sana, jadi rombongan keluarga pak haji."
Hah! Apa-apaan ini Fai? Aziz masih bingung.
"Imah juga disuruh ikut mas, A Dadan juga udah di bilangin sama mas Fai."
"What???"
"Udah ya mas, kita jalan dulu. Taksinya udah nunggu di depan!", kata Imah.
"Assalamualaikum!", Mama dan Imah mengucap salamnya.
"Walaikumsalam."
"Eh, mama sama Imah mau kemana?", aku baru keluar dari kamar ku.
"Mau ke malang Di. nemenin Imah ke sana." mama yang menjawab.
"Mama ikut? Bukannya bis nya baru jalan nanti sore?"
"Iya. kami mau naik pesawat aja Di."
Aku hanya ber'OH' saja.
"Dah...mbak Dian....!", Imah dan mama pun menuju depan. Taksi yang mereka pesan sudah di sana.
"Mas...kok mama mendadak ikut Imah sih?", tanyaku pada mas Aziz.
"Iya. Mantanmu mau lamaran Rabu malam. Mereka diminta ikut, jadi rombongan keluarga Abah."
"Oh...!"
"Kok cuma Oh....?"
"Terus suruh gimana mas?"
"Masa mama, Imah , kang Dadan...di kasih tahu. Kita...yang katanya sahabat nya malah nggak di kasih tahu sama Fai. Keterlaluan!"
"Ya udah sih mas, biarin. Mungkin, dia mau ngomong ke kita langsung. Nggak lewat hp mas. Positif thinking aja sih."
"Mas kesel aja gitu dek!"
"Nggak usah kesel-kesel mas. Mending olahraga aja sana, biar lemak di perut agak kendor dikit."
"Kamu seneng banget godain mas sih! iya mas sadar, mas udah nggak sixpack kaya Fai. Tapi ini kan juga karena kamu."
"Jadi nyalahin aku? Yang bandingin kami sama mas Fai itu siapa mas???"
__ADS_1
"Iya, kamu selalu masak enak. Selalu ngasih perhatian, terus...melayani mas dengan baik. Gimana nggak makin subur nih perut!"
"Alasan!", kataku.
"Iya iya...mas ke depan deh, nyari panas!"
"Mungkin....itu lebih baik."
Aziz keluar lewat ruang tamu. Di saat bersamaan, Hayu masuk lewat pintu gerbang dengan Faiz.
"Assalamualaikum om!", sapa Faiz riang.
"Walaikumsalam. Hai Faiz, ini Minggu lho...kamu tumben pagi banget ke sini?
"Kata Umi, umi pengen ngasih ini buat Tante Dian. Masakan umi enak banget lho!"
"Oh ya? Wah...boleh coba tuh!", sahut Aziz.
" Ya udah kalian masuk saja. Pintunya nggak di kunci kok!"
"Iya mas. Makasih!", ucap hayu. Aziz meneruskan niatnya untuk berjemur di halaman.
******
"Dek, mas mau servis motor dulu ya. Kan masih garansi!"
"Servis dimana mas?"
"Ya di tempat kamu beli dek."
"Oh, ya udah. Tapi ntar langsung pulang lho. Jangan kelamaan nongkrong sama orang-orang itu!"
"Orang-orang siapa?"
"Cowok kan kalau udah ngobrolin motor biasanya suka lupa waktu mas."
"Hem...mas kan bukan pecinta motor. Sekedar suka pake doang."
"Iya sih. Ya udah mas jalan ya!"
"Kok jalan sih, motor nya gimana?", candaku.
"Berangkat dek ....!"
"Hehehe iya iya ...ya udah sana, hati-hati!"
"Walaikumsalam."
******
Di bengkel....
"Mau servis mas!", kata Aziz.
"Iya mas. Tunggu sebentar ya!"
Aziz duduk di kursi tunggu. Sekali memainkan ponselnya, tapi saat lagi serius membaca berita terkini di situs terpercaya tiba-tiba ponselnya di rebut seseorang.
"Eh....eh...apaan nih!", teriak Aziz.
Dia terkejut saat mengetahui siapa biang keroknya. Calon mantan jomblo akut yang merebut ponsel itu dari tangannya.
Seketika itu pula, Aziz meraih ponselnya.
"Hobi banget sih Lo ngisengin orang!", toyor Aziz pada Fai. Anak-anak bengkel memandang ke arah mereka berdua.
"Baru servis? Sisa Dian jatoh kemaren?", tanya Fai.
"Iya!", jawab Aziz singkat.
"Ngobrol di sana yok, gue mau ngomong sama Lo!", ajak Fai.
"Ogah! Males gue sama Lo!"
"Lo kaya anak gadis aja ngambeknya di gedein? Makanya ayok ikut gue, gue mau jelasin ke Lo. Biar Lo ga salah paham."
Aziz pun terpaksa mengikuti Fai.
"Mas, kerjain yang rapi ya!", ucap Fai pada montirnya.
"Siap bos!"
*
*
*
"Vel, tolong bawain minum ke ruangan saya ya?", pinta Fai pada karyawan nya.
__ADS_1
"Siap bos!", sahut Velly.
Siapa ya yang sama pak bos? Bening gitu? Mirip dikit sama pak bos!
Velly mengantarkan minuman di ruangan Fai.
"Gue kecewa sama Lo!", tiba-tiba Aziz sewot.
"Lo jangan salah paham dulu kenapa sih. Sabar!", Fai mencoba menenangkan mantan rivalnya itu.
Velly memperhatikan dua pria tampan itu dari mejanya. Begitu juga dengan teman-teman sesama SPG nya.
"Gimana nggak salah paham, mama, Imah, kang Dadan...tahu semua! Gue sama Diandra nggak Lo kasih tahu! Ngakunya aja sahabat. Saudara. Saudara macam apa?!"
"Dibilang tenang dulu bro....!", Fai menepuk bahu Aziz.
"Justru karena Lo sama Dian itu sahabat gue yang spesial. Jadi gue sama Mika maunya ngomong langsung ke Lo berdua. Eh, Lo keburu sewot begini. Kaya anak kecil aja sih Lo!"
Nah lho...? Tebakan Dian bener kan???
Di sisi lain, SPG yang cantik-cantik itu menguping pembicaraan bosnya.
Diandra? Kayanya pernah denger nama itu? Batin Velly.
"Niatnya, ntar malem gue mau ke rumah Lo. Eh, kebetulan Lo ke sini. Ya udah gue ngomong aja disini."
"Lo...beneran udah yakin mau lamar Mika besok? Nggak kecepetan? Nggak mau saling kenal dulu?", cerca Aziz.
Mendadak perempuan-perempuan cantik di depan itu terdengar bisik-bisik yang lumayan mengusik telinga.
Pak bos mau melamar siapa?
"Ya...gue coba aja jalani dulu."
"Ya...bagus sih! minimal...sekarang Lo ada yang ngerem. Nggak gangguin istri gue lagi."
"Kalau itu sih...masih bisa aja gue Ziz!", Fai menunjukan senyum iseng nya.
"Maksud Lo???"
"Ya...gue masih cinta lah sama istri Lo hahahahahha!"
"Sialan Lo! Udah ah, Lo nggak usah dateng-dateng lagi ke rumah gue!", Aziz pun beranjak dari kursi nya.
"Dih...ngambek! Pokonya ntar malem gue ke sono sama Mika!", teriak Fai.
Fai senyam-senyum sendiri,puas mengerjai sahabat nya.
"Bos...bos...tadi Vel denger, bos mau lamaran ya?"
"Nguping aja Lo!"
"Nggak sengaja kali bos!"
"Iya. Kenapa?"
"Iya guys....bos kita mau lamaran huhuhuhu.....!"
"Dih...lebay amat sih pada!", ujar Fai.
"Sama siapa bos?"
"Namanya dokter Mika. Besok-besok kalau sempat gue kenalin sama Lo semua!"
"Terus.... mas-mas yang ganteng banget tadi itu siapa?"
"Harus ya pake kata ganteng banget?"
"Iya emang dia ganteng banget bos!", jawab Velly jujur.
Ah, Aziz gue masih kalah pamor sama Lo! Padahal ini karyawan gue yang menilai???!!!
"Suaminya mantan gue. Yang waktu itu beli motor sama Lo! Puas Lo!", jelas Fai.
"Wah.... pantesan.... tadi kaya nggak asing denger nama istrinya? Siapa pak? Diandra ya? oh...iya Diandra! Pantes aja istrinya cakep begitu, suaminya aja kebangetan gantengnya. Mereka serasai ya bos. Yang satu cantik yang satu ganteng. Saya juga mau jadi yang kedua. Bilangin deh bos....!", canda Velly. Velly hanya berusaha memancing emosi bosnya itu.
"Oh, maksud Lo...gue kalah ganteng sama dia. Gitu Vel?", Fai melipat tangannya di dada.
"Bos...mau jawaban jujur apa boong!"
Fai mendengus kesal.
"Tapi...mas tadi emang ganteng kok mas....!", sahut Velly.
"Bulan depan gaji Lo gue potong. gak ada bonus!" Fai pura-pura marah meninggalkan anak buahnya.
"Yah...jangan bos....iya deh... ganteng bos deh....jangan di potong ya bos....!"
Velly masih berusaha merayu bosnya itu sampai dia lelah sendiri.
__ADS_1