Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 119


__ADS_3

Suara azan subuh berjamaah. Aku mengerjap kan mata. Oh, iya aku sedang tidak berada di rumah ku sendiri.


Ku tengok sofa dan ranjang sebelah ku. Mas aziz mana? Aku tak melihatnya sejak semalam.


Aku bangun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ku tunaikan dua rakaat ku.


Diaz menggeliat, sepertinya ia minta bangun. Benar saja, setelah melipat mukena buru-buru ku hampiri Diaz ku.


"Anak bunda udah bangun?", sapaku. Aku menciumi dan menggedongnya. Diaz agak sedikit rewel, mungkin baru sadar kalau ini bukan kamar nya.


"Diaz ***** dulu ya, abis itu...kita baru keluar kamar. Cari ayah. Ayah nggak tahu kemana. Apa jangan-jangan ayah main sama om Fai? Ah...biarin aja deh, yang penting Diaz ***** nya kenyang ya. Abis itu kita pulang deh!"


Aku berusaha mengajar ngobrol anakku. Meskipun dia tak menjawabnya, setidaknya Diaz tahu kala bundanya sedang mengobrol dengan nya.


Diaz melepaskan dan menyudahi hisapan nya. Sepertinya Diaz ingin keluar dari kamar ini. Aku bingung, ingin keluar tapi nggak ada jilbab. Jilbab seragam kemarin pun sudah kotor. Mau tak mau, aku pakai saja mukena yang umi pinjam kan semalam. Minimal, tidak ada laki-laki lain yang melihat rambut ku selain suamiku.


"Bunda pakai mukena dulu ya. Biar rambut bunda nggak keliatan."


Dengan masih menggendong diaz, aku kembali memakai mukena ku. Setelah itu, kami berdua pun keluar kamar. Baru saja membuka pintu kamar, aku di suguhi pemandangan.


Pemandangan yang cukup nyaman di lihat mata. Mas Aziz dan mas Fai duduk bersebelahan. Sama-sama mengenakan baju Koko dan kopyah. Sedangkan Abah dan umi ada di kursi depan nya.


Aku berjalan mendekati mereka.


"Mas...!", panggil ku. Karena aku hanya memanggil 'Mas', kedua laki-laki itu menengok bersamaan.


"Dek, kamu udah bangun? Udah solat juga?", tanya mas Aziz sambil meraihku agar duduk di sampingnya.


"Sudah mas."


Tangan dan kaki Diaz bergerak-gerak lincah. Dia senang melihat banyak orang berkumpul seperti ini.


"Gimana Dian, pagi ini sudah lebih baik?", tanya Abah perhatian.


"Alhamdulillah sudah Bah. Maaf, kami sudah merepotkan."


"Kami malah senang lho kalau ramai begini",ujar umi.

__ADS_1


"Makasih umi."


"Kamu masih pakai mukena? Nggak ada jilbab ya? Maaf, umi lupa. Nanti umi ambilkan ya."


"Iya mi, sekali lagi terimakasih sudah bikin umi dan Abah repot."


"Nggak lah Dian, Aziz itu sudah kami anggap anak sendiri berarti kamu juga anak umi dan Abah lho!", kata umi.


"Umi....!", aku menyunggingkan senyum ku.


"Bibik, tolong buatkan teh hangat buat Diandra ya?", teriak Umi.


Dengan sigap bibi pun membawa teh itu di depan ku.


"Bik, cepet amat bikinnya?", tanya umi.


"Udah dari tadi Bu haji, tinggal tambahin air panas dikit," jawab si bibik.


"Di minum Dian!" ,umi mempersilahkan.


"Iya mi. Makasih!", aku pun meminumnya perlahan. Entah kenapa aku seperti melihat Abah sedang memperhatikan ku. Apa ada yang salah padaku?


"Dek, bentar lagi kita pulang ya?", ajak mas Aziz.


"Iya mas."


"Kalau pulang, bawa mobil gue aja Ziz. Ntar abis gue absen ke sekolah, gue ke sono. Sekalian takziah ke om Kendra", punya Fai.


"Gimana dek?", tanya mas Aziz padaku.


"Iya, boleh deh mas. Toh, rumah kita sudah kaya rumah kedua bagi mas Fai!"


Umi dan Abah tertawa dengan ucapan ku barusan.


Mas Aziz mengusap bahuku. Diaz kini beralih minta di gendong 'om' nya.


Muka Fai yang awalnya di tekuk, kini sedikit demi sedikit mulai menaikan sudut bibirnya.

__ADS_1


Diaz nemplok ke mas Fai. Jemari Diaz tak henti-hentinya menggerayangi wajah om nya itu


"Diaz! Jangan di grayangi gini kenapa? Nanti muka papa lecet gimana? papa kan mau nikah dek?", seru Fai.


Umi dan Abah melongo. Papa? Batin kedua manusia sepuh itu.


"Nggak usah kaget Bah, Mi. Anak Abah emang gitu. Ngaku-ngaku papa nya Diaz. Besok, kalau dia udah sah jadi suaminya Mika, Abah sama umi suruh aja buru-buru punya anak. Biar tahu rasanya jadi bapak itu kaya apa!" , seru mas Aziz. Mas Aziz pasti sengaja mengompori kedua orang tua Fai.


"Iya, tenang aja. Beres ijab qobul, gue langsung bikin anak sama Mika. Emang lo Ziz, puasa tiga bulan!', celetuk Fai tanpa rasa berdosa.


Mas Fai tahu dari mana? Masa iya sih mas Aziz cerita begitu ke mas Fai?


Aku melirik mas Aziz yang salah tingkah.


"Mas???" aku berusaha memastikan pada suamiku.


Mampus Lo ,Ziz! Batin Fai , merasa menang selangkah dari Aziz.


Dasar jomblo akut, nggak liat-liat sikon aja sih!Aziz hanya berkata di dalam hatinya.


"Udah dek, si jomblo akut nggak usah di dengerin deh. Maklum aja, belom pernah kepake ya gitu!", sindir Aziz.


"Dian?", panggil Abah tiba-tiba dan seketika mengentikan pertengkaran kecil dua sahabat itu.


"Iya bah?"


"Apa kamu yakin dengan mereka?", tanya Abah absurb.


"Yakin apa ya bah?", terus terang aku memang tidak mengerti.


"Kamu yakin kalau bisa tahan dengan tingkah mereka berdua?", tanya umi.


"Owh...itu mi. Udah biasa. Setiap mereka bertemu memang begitu. Kalau yang satu lagi lempeng, yang satu usil. Begitu juga sebaliknya Mi. Jadi , udah nggak pernah ambil pusing."


"Kalian hebat ya, bisa berteman seperti ini." Abah memuji pertemanan kami.


"Diaz ,papa mau siap-siap dulu. Kamu sama ayah apa sama bunda mu dulu? Kalau mama mu, masih otw nak!"

__ADS_1


Sontak kami berempat tertawa dengan ocehan unfaedah Fai.


Diaz kembali ke pelukan Aziz. Sedangkan Fai kembali ke kamar nya, bersiap untuk ke sekolah.


__ADS_2