
Aku dan Julian keluar dari hotel usai bertemu dengan Karen. Belum terlalu sore, hanya saja sebentar lagi pasti Azan ashar berkumandang.
Julian membukakan pintu belakang untuk ku .
"Mas Jul. Aku di depan saja!", kataku sambil membuka pintu depan. Alhasil, Julian hanya meletakkan tas laptop ku.
Setelah itu, ia pun menyusul ku masuk ke dalam mobil.
"Maaf Bu, Bu Dian ngga apa-apa duduk di depan sama saya?", tanya Julian ragu.
"Kenapa? Oh...kamu nggak nyaman aku duduk di sini, ya udah...aku ke belakang."
Ku hendak membuka pintu tapi Julian melarang nya.
"Jangan Bu, maksud saya bukan itu. Saya hanya takut....?!"
"Iya ,saya paham. Kamu takut Sharen liat kan? Nanti dia cemburu lagi sama aku heheheheh!"
Aku kembali meneruskan untuk membuka pintu lagi.
"Sudah bu, di sini saja!", pinta Julian pada akhirnya.
"Kenapa? Kok cepet banget berubah pikiran?", tanyaku.
"Nggak apa-apa Bu!", jawab Julian.
Mobil pun mulai keluar dari parkiran hotel. Aku dan Julian tak mengobrol apa pun. Sesekali Julian menatap spion.
Siapa yang mengikuti mobilku? Batin Julian.
"Bu, sepertinya keputusan ibu duduk di depan benar!", kata Julian dengan masih menatap spion.
"Kenapa?"
"Dari awal kita ke hotel, saya merasa ada yang sedang mengawasi kita bu."
"Hah? Masa sih?"
"Bu Dian lihat ke belakang? Mobil itu masuk dan keluar selalu bersama kita."
Aku melihat mobil di belakang mobil kami.
"Mungkin kebetulan saja mas Jul. Jangan su'udzon."
Julian terdiam. Matanya masih fokus dengan spion nya.
Eh, ada yang mengikuti pakai sepeda motor juga?! Batin Julian.
"Bu... apakah anda akan langsung ke kantor?", tanya Julian.
"Emm...aku belum solat ashar sih. Oh ya, kalo nggak keberatan mah.... anterin aku ke RS persada ya."
"Ibu sakit?", tanya Julian cemas.
"Nggak mas Jul. Kan kamu tahu, ada dokter Mika di sana. Pengen ketemu saja."
Aku nggak mungkin bilang kalo mau ngecek apakah aku benar hamil atau tidak pada Julian kan????
"Owh, baiklah Bu!"
Setidaknya, jika di rumah sakit orang -orang itu tidak akan berbuat macam-macam pada Diandra. Batin Julian.
Benar saja, saat mobil memasuki rumah sakit. Mobil di belakang tadi berhenti mengikuti kami.
"Apa saya perlu menunggu anda Bu?"
"Nggak usah, nanti pulang dari sini aku ke kantor buat ambil mobil."
"Tapi Bu.... sepertinya...dugaan saya benar bu. Ada yang sedang mengikuti kita. Jadi, maaf...saya tidak bisa meninggalkan anda. Apalagi.... pak Aziz sudah memperingatkan saya untuk menjaga anda."
"Mas Aziz bilang begitu?"
Julian mengangguk.
"Baiklah, silahkan menunggu di sini saja. Insyaallah aku nggak lama kok."
Julian pun mengiyakan dengan anggukan. Aku berjalan menuju loket pendaftaran.
Katanya mau ketemu Dokter Mika? kenapa ke loket pendaftaran?Batin Julian.
__ADS_1
Aku pun segera menuju ruang dokter Lala.
"Sore dok!" sapa ku.
"Selamat sore, Nyonya... diandra?", sapa dokter itu ramah.
"Gini dok, saya mau konsultasi."
"Silahkan nyonya. Anda memiliki keluhan apa?"
"Dok, saya kan pakai kontrasepsi IUD dok, apa masih ada kemungkinan hamil? Karena akhir -akhir ini saya merasa seperti sedang hamil dok."
"Anda sudah telat berapa bulan Nyonya?"
"Sejak pasang iud, saya nggak haid dok!"
"Em...anda memiliki batita?", tanya dokter itu lagi.
"Iya dok. Usia anak saya sembilan bulan."
"Mari, kita lakukan pemeriksaan."
Aku pun berbaring di brankar. Dokter memeriksa detak jantung ku dan lainnya.
"Anda sudah mencoba memakai tespek?"
"Belum dok. Saya kurang percaya diri saja dok. Bisakah kita langsung memeriksa lewat USG?"
Dokter itu mengernyitkan dahinya.
"Anda saja ragu apakah anda hamil atau tidak? "
"Tolonglah dok, coba di USG sebentar!", pintaku memaksa.
Perempuan aneh ! Batin dokter.
Mau tak mau , dokter pun menuruti keinginanku. Dan baru beberapa saat di mulai, wajah sang dokter terlihat sangat serius.
"Dok.... dokter? Kenapa? Apa saya benar-benar hamil lagi?", tanyaku penasaran.
Dokter itu tampak menghela nafasnya.
"Alhamdulillah!", desis ku.
"Tapi maaf nyonya....?!"
"Maaf kenapa dok?"
"Dari pemeriksaan barusan, anda....hamil diluar kandungan nyonya. Jadi, sebaiknya...anda harus melakukan kuret."
Wajah dokter cantik itu terlihat sendu.
"Kuret??? ", tanyaku terkejut.
"Benar nyonya. Seandainya di pertahankan pun, bayi anda tidak akan berkembang."
Ya Allah....kenapa bisa seperti ini? Aku mengusap wajahku.
"Yang sabar ya Nyonya. Dan sebaiknya, anda konsultasikan dengan suami Anda terlebih dahulu."
Aku pun mengangguk. Iya, aku harus mengatakan hal ini pada mas Aziz. Tapi ...nanti saja kalau dia sudah pulang.
Aku pun keluar dari ruangan dokter itu. Tak sengaja, aku menabrak seseorang.
"Maaf!", kataku lirih dan masih menunduk.
"Saya yang minta maaf nyonya....! Dian?", sapa orang itu .
Aku pun mendongak.
"Mas damar?", tanyaku.
"Kamu ngapain? Sakit?", tanya Damar.
Aku menggeleng.
"Terus ngapain?", Damar curiga melihat ku baru saja keluar dari ruangan dokter Lala.
"Nggak apa-apa mas damar."
__ADS_1
"Kamu dari ruangan dokter Lala?", tanya Damar dengan curiga.
Aku pun mengangguk.
"Sendirian? Aziz mana?"
"Sama Julian . Mas Aziz ke Surabaya, nengok mba Imas ."
"Kamu punya keluhan apa sampai menemui dokter Lala?", tanya Damar.
"Hah? Keluhan? Nggak kok mas!"
"Bohong! Apa kamu hamil?", tanya Damar.
Lagi-lagi dia menebak-nebak apa yang terjadi pada ku.
"Mas...aku....?!"
"Apa ada sesuatu? Katakan! Mungkin aku bisa membantumu!"
Aku menatapnya sekilas.
"Aku...hamil di luar kandungan mas."
Damar sedikit terkejut dengan ucapan ku. Tapi setelah itu, dia bisa menguasai dirinya.
"Jadi, menurut dokter Lala?"
"Harus dikuret mas !"
Damar menghela nafas nya.
"Bicarakan dengan Aziz secepatnya. Harus segera di ambil tindakan."
"Iya mas. Tapi ...aku takut kalo....!"
"Apa? Aziz kecewa? Ayolah, Aziz juga bakal ngerti kok. Dan kalian bisa merencanakan program memiliki anak lagi nanti."
"Iya mas."
"Ya udah, aku mau praktek lagi. Kamu pulang hati-hati ya. Bilang sama Julian, jangan ngebut-ngebut! Jaga kesehatan kamu!"
"Iya mas!"
Kami pun berpisah di lorong rumah sakit. Julian masih setia menunggu ku di sana.
"Mas Jul, kita balik ke kantor?!"
"Apa tidak sebaiknya anda pulang saja Bu? Biar nanti mobil anda di antar anak-anak!"
"Heum? Begitu ya? Baiklah!", kataku lesu.
Bu Dian Kenapa? Batin Julian.
Akhirnya, aku pun tak jadi ke kantor lagi.
.
.
.
Aziz sudah berada di bandara. Ia kembali menyalakan ponsel nya .
Baru saja menyala, ia dikejutkan dengan video dari nomor asing.
Gigi Aziz mengerat.
Apa lagi ini???? Tangannya mengepal menahan emosinya.
Siapa yang sedang bermain-main dengan ku? Tujuannya apa ? Dan ...Dian??? Siapa pria itu??? Kenapa harus ke kamar hotel? Dimana Julian yang bilang akan menjaganya???
Aziz langsung meraih ponsel Julian. Sayangnya, ponsel Julian tak bisa di hubungi.
Arghhhh! Teriak Aziz yang saat ini sedang ada di toilet bandara.
.*******
Sabar mas Bro....jangan kepancing emosi begitu!!!! 🤔
__ADS_1