Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 285


__ADS_3

Azan dhuhur berkumandang saat mobil kami memasuki area rumah sakit sejahtera. Akhirnya kami memutuskan untuk solat terlebih dulu.


Setelah beberapa menit, kami langsung menuju resepsionis untuk mendaftar ulang jadwal kontrol mas Aziz.


Karena memang sudah ada janji, kami bisa langsung masuk ke ruangan Revan.


Di perjalanan menuju ruangan Revan.....


"Bismillah, semoga semua berjalan dengan baik!", harapku dengan gumaman yang terdengar oleh Aziz dan Fai.


"Aamiin...!", sahut kedua pria itu. Aku menengok ke arah mereka. Diaz yang berada di gendongan ku seperti tahu apa yang bunda nya katakan. Ia turut tersenyum sambil memainkan wajahku.


Akhirnya kami pun sampai di depan ruangan itu.


Tok...tok...


Fai mengetuk pintu ruangan Revan.


"Masuk!", sahut Revan dari dalam ruangan. Fai mendorong kursi roda Aziz. Aku mengekor dibelakang nya.


"Siang dok!", sapa Aziz dan Fai ramah.


Revan tersenyum.


"Siang pak Aziz, pak Fai dan...Bu Dian!", jawabnya. Hatiku mulai jedag jedug. Aku teringat terakhir datang ke sini beberapa waktu yang lalu. Tapi, setidaknya aku tak khawatir karena ada mas Aziz dan mas Fai bersama ku.


Prosedur cek up kesehatan mas Aziz berjalan lancar. Ternyata semua hanya ketakutan kami yang terlalu berlebih-lebihan.


Nyatanya, Revan bekerja dengan profesional sejauh ini. Meskipun beberapa kali ia melirikku saat kami berada di ruangan yang di gunakan mas Aziz untuk terapi.


Mas Aziz mulai belajar berdiri, dibantu mas Fai dan perawat pria. Iya, karena postur tubuh mas Aziz yang tinggi besar. Kasihan jika di bantu perawat perempuan, selain takut tidak kuat dan...aku seperti nya tak mau perempuan lain menyentuh suami tampanku 😜.


Semua seperti mimpi. Mas Aziz dengan sekuat tenaga mencoba berdiri. Peluhnya membanjiri wajahnya yang putih dengan sedikit jambang tipis. Fai tak jauh-jauh dari mas Aziz berdiri. Dia sigap menjadi seorang sahabat yang selalu ada di sisinya.


Sudah lebih dari satu jam, terapi dan percobaan berjalan mas Aziz dilakukan. Kulihat mas Aziz sudah kelelahan.


"Dok, sepertinya suami saya sudah kelelahan dok. Bisa kah di istirahat sebentar?", tanyaku.


"baiklah. Silahkan istirahat pak Aziz!", pinta Revan.


Fai dan perawat pria itu membantu mas Aziz. Setelah mas Aziz kembali ke kursi roda nya, Fai duduk di depan Revan.


"Saya tidak menyangka jika perkembangan pak Aziz sangat baik. Jauh dari ekspektasi saya. Selama ini saya menangani pasien dengan diagnosis yang sama, belum pernah ada yang secepat ini kembali pulih!", Revan meletakkan kedua tangannya di atas meja. Wajah tengil nya kemarin tak lagi kulihat. Mas Aziz dan Mas Fa'i menyimak ucapan dokter itu.


"Alhamdulillah!", ucap kami bertiga serempak.


"Lalu bagaimana dok, apa yang harus di lakukan Aziz untuk memulihkan diri secepatnya?", tanya Fai yang antusias. Dan sebenarnya itu pun pertanyaan ku.


"Sejauh pengamatan saya, seperti nya pak Aziz bisa belajar perlahan di rumah. Mungkin setiap pagi, saat udara masih segar dan tidak terlalu panas. Pak Aziz jadi tidak terlalu kepanasan jika...lelah seperti tadi."


"Apa yang harus di siapkan untuk menunjang mas Aziz berlatih seperti tadi dok? Apa saya harus menyediakan alat seperti itu?", tanyaku sambil menunjuk alat yang tadi digunakan untuk belajar berjalan.


Revan menjelaskan apa-apa saja yang harus aku siapkan. Dia begitu berbeda dengan Revan kemarin, Alhamdulillah.


"Terimakasih atas waktu nya dok!", Aziz dan Fai menyalami Revan. Tapi tidak dengan ku.


"Sama-sama. Semoga lekas pulih ya pak! Kalau tidak.... siap-siap saja, bunda Diaz akan bersama ku!", Revan tersenyum smirk.


Ya salam, masih begini juga! Batin Fai.


"Insyaallah, saya akan segera pulih dok. Tenang saja, ucapan anda justru jadi cambuk penyemangat saya!", Aziz tak kalah membalas senyuman Revan.

__ADS_1


"Heheh baik lah, saya tunggu! Semoga Minggu depan anda sudah ada kemajuan lagi ya!"


"Insyaallah dok. Perawat saya di rumah selalu menjaga saya dengan baik!", Aziz menimpali lagi ucapan Revan.


"Kalau begitu, kami permisi. Selamat siang, terimakasih sekali lagi!", ucap Aziz.


"Sama-sama pak, selamat siang!", jawab Revan.


Kami bertiga keluar dari ruangan Revan. Diaz tertidur pulas di gendongan ku.


"Sini, Diaz sama papa. Kamu pasti capek Di!", Fai meraih Diaz dari gendongan ku.


"Makasih mas!", kataku. Dan kini aku beralih mendorongnya kursi mas Aziz.


"Ternyata, ketakutan ku yang berlebihan ya mas!", aku memulai obrolan.


"Iya, nggak cuma kamu dek. Hampir semua pasti akan berpikir seperti itu melihat kelakuan Revan sebelumnya. Tapi melihat keadaan saat ini, sungguh di luar pemikiran kita."


Di tengah obrolan kami, tiba-tiba ada seorang gadis yang menabrak Fai dan Diaz.


"Aw....!", pekik Fai dan otomatis Diaz terbangun lalu menangis.


"Maaf...maaf...!", ucap gadis itu.


Tanpa menggubris gadis itu, Fai mencoba menenangkan Diaz agar berhenti menangis.


"Lain kali hati-hati dong....mm!!!"


"Bos!!!", pekik gadis itu.


"Velly!", teriak Fai.


Aku dan mas Aziz tutup kuping.


"Untung itu kamu Vel, coba orang lain udah ku pites tahu ngga!"


"Ya maap mas bos! Jangan marah Mulu deh ah. Nggak di showroom ngga di mana, hobi banget marahin Velly!", kata gadis itu manyun.


"Udah mas nggak usah marah, kasian Velly nya. Lagian udah minta maaf juga!", kataku.


"Tapi kan anak papa jadi kebangun, iya sayang ya?", kata Fai ke Diaz.


Anak siapa sih? Batin Velly.


Diaz kembali rewel. Meminta kembali ke gendongan ku.


"Udah deh sama bunda lagi, papa mau dorong kursi ayah mu lagi!", kata Fai bersungut-sungut. Kami jadi tontonan orang yang ada di sekitar situ.


"Eh, mba Dian, pak Aziz!", Velly menyapa ramah. Aku dan Mas Aziz menganggukkan kepala.


"Kamu mau kemana sih?", tanya Fai.


"Ke ruangan calon suami saya!", kata Velly enteng.


"calon suami?!", Fai memegang dahi Velly. Tapi Velly menepiskan nya.


"Apaan sih mas bos, serius Vel mau ke ruang praktek calon suami Vel!"


"Kamu ngga lagi halu kan Vel? Perasaan selama ini kamu ngga pernah gandeng cowok!"


"Dih, bos mah sentimen banget sama Vel. Calon suami Vel itu dokter. Tuh ruangan nya!", tunjuk Velly ke ruangan Revan. Fai menengoknya ke arah yang Velly tunjuk.

__ADS_1


"Revan? Calon laki Lo?", tanya Fai.


Velly mengangguk.


"Udah ah bos, kasian calon suamiku udah nungguin makan siang dari calon istri Solehah nya ini!", kata Velly dengan penuh percaya diri.


"Heum! Iya udah sana. Kalo Lo bukan Soleha Vel, tapi soleho*. Pake baju yang rapi dikit napa!", protes Fai.


"Issshhh....bos. Ini di luar jam kerja ya, di larang protes! Bye...bos ganteng, eh...masih ganteng mas Aziz sih hihihihi.....!", kata Velly sambil berlari.


"Eh, reseh Lo Vel. Gue potong bonus Lo besok ya!", kata Fai. Tapi Velly hanya tertawa mengejek.


"Lo sama anak buah gitu amat FA!", kata Aziz.


"Apa mas? GeEr di bilang ganteng sama Velly?", tanyaku.


"Apa sih sayang.....!", Aziz mengelus lenganku.


"Velly itu udah ku anggap adik sendiri Di, Ziz. Meskipun dia lahir di keluarga berada, dia masih mau kerja lho sambil kuliah pula. Hebat kan?!"


"Iya ya, selain cantik dia juga pinter!", ucapku.


"Kaya kamu!", kata Aziz dan Fai bersamaan.


"Eh, Lo nggak usah muji-muji bini gue lu Fa!"


"Gue ngomong fakta Ziz! Udah ah, cepet pulang deh. Gue mau makan opor buatan Dian lagi. Ntar jam lima gue baru jemput Mika!"


"Iya...iya...ntar jemput mika sekalian mampir ke rumah lagi. Biar kita bisa makan sama-sama!"


"Oke lah....!", kata Fai.


"Seneng Lo?", tanya Aziz.


"Iya lah. Masalah buat Lo????"


"Eh, tapi tadi Velly bilang calon suaminya tuh...Revan bukan sih?", tanyaku.


"Kenapa? Cemburu?", tanya Aziz dan Fai sama-sama.


"Bisa kompak gitu sih? Nanya doang????!!!!", jawabku kesal. Lalu ku tinggalkan mereka berdua.


"Yah...marah bro!", kata Fai.


"Lo sih, ikutan aja!"


"Lo juga, ngapain ikut nanya gitu. Nggak kretaig banget Lo Ziz!"


"Udah ah, buruan. Ntar tambah ngambek. Kagak di jatah opor doang, Lo ga ngaruh. Kalo gue yang kagak di jatah 'anu' kan berabe!"


"Lagi kena musibah aja otak sama 'adek' Lo masih aja ngeres!", ucap Fai.


"Gue laki normal Fa. Nggak usah protes!", kata Aziz.


"Serah Lo....!", Fai mempercepat dorongan kursinya untuk mengejar Dian.


******


Fyuhhhh....bosen nggak????


Insyaallah menuju tamat ya, tapi ga tau berapa eps lagi 🤭🤭🙏🙏🙏

__ADS_1


Belum dapet ide buat endingnya sih ✌️


Betewe... makasih buat yang setia baca tulisan receh mamak ini. Ga kurang2 mamak harap kritik dan sarannya. Jangan lupa jempole yow......


__ADS_2