
Fai duduk di kursi kebesarannya. Biasanya jika weekend begini, showroom cukup ramai. Untung nya ia memiliki para 'merketing' yang bisa di andalkan. Bisa menghandle showroom nya.
Velly menghampiri bosnya yang sedang mengecek laporan dari nya meski ia tahu jika bos nya sedang tidak konsentrasi.
"Udah bos.Mending balik aja deh. Besok lagi kan bisa ngecek-ngecek nya. Besok mau ada pesta besar nya bos lho?! Nggak usah mikirin kerjaan terus."
"Hem...iya Vel. Sebenarnya aku malas melihat laporan mu ini. Tapi selesai resepsi aku mau bulan madu. Pasti kerjaan ku bakal makin banyak."
"Ya elah bos...nggak percaya amat sih sama Velly. Emang Velly mau korup gitu????"
"Aku nggak ngomong gitu!" kata Fai. Dia memang dekat dengan karyawannya yang satu ini. Salah satu orang kepercayaan nya.
"Dari pada ngomel-ngomel gak jelas ,pulang aja bos. Temuin nyonya Fai, biar tenang kalo berada di samping istri."
Fai menatap tajam karyawan nya.
"Iya...iya...Velly keluar deh!", kaya Velly sambil beranjak dari kursi yang berada di hadapan nya.
"Aku mau pulang. Nanti bayarin makananku vel!", titah Fai. Velly yang belum benar-benar keluar dari ruangan nya pun berbalik.
"Kok Velly yang bayar?????"
"Bonusmu kemarin kan banyak. Sekali-sekali traktir bos nya kenapa!", Fai pun berlalu meninggalkan Velly yang sedang ngomel-ngomel.
"Dasar ...bos nggak jelas!", umpat Velly.
.
.
.
Fai menghubungi Mika. Dia bilang sedang otw ke hotel di mana akan di selenggarakan resepsionis pernikahannya itu besok.
Fai menaiki mobil nya menuju hotel di mana istri nya berada. Karena tidak mungkin pagi-pagi sekali mereka mendadak ke sana.
Di sela-sela mengendarai mobilnya, Fai teringat tentang Dian. Apakah dia sudah pulang dari rumah sakit? Sepertinya gengsi sekali jika harus bertanya pada Aziz apa lagi istrinya .
Aha, tanya damar aja deh?! tiba-tiba Fai mendapat ide.
[Assalamualaikum]
[Walaikumsalam, apa Bro]
[Sibuk nggak Lo?]
[Gak. Lagi otw balik dari rumah Aziz]
[Ngapain]
[Ngapelin cewe gue lah!]
[Njir.... ketinggalan berita gue]
[Hem...Lo kan lagi sibuk sendiri bos Rifai!]
[Iya nggak juga sih]
[Gue tahu Lo mau nanya apa ke gue]
[Nanya apa? Sok tahu!]
[Gue terlalu peka jadi sohib Lo kali. Emang kita temenan dari kemaren? Udah dari jaman pra sejarah kali. Masa iya gue nggak tau Lo sih! Namanya kebangetan!]
__ADS_1
[Whatever lah!]
[Lo mau tanya soal Dian kan?]
[Siapa bilang?]
[Gue lah!]
[Oke...oke...gue mau tahu keadaan Dian.]
[Ngaku kan Lo????]
[Hem....]
[Dian udah pulang tadi siang]
[Owh... syukurlah kalo gitu mah]
[Ngapa Lo ga nengok aja? Berantem Lo sama Mika?]
[Nggak. Siapa bilang?]
[Gue barusan!]
[Apaan sih Lo ah!]
[Gue cuma mau bilang, kalo Lo masih aja mikirin bini sahabat Lo mending Lo lepasin Mika. Mumpung semuanya belum terlambat. Semakin lama kelakuan Lo begini ke Mika, dia makin sakit hati.]
[Ngomong apaan sih Lo Dam, ga asik Ah!]
[Lo paham maksud gue! Lo berdua janji, nggak cuma antara Lo berdua kalo kalian bakal belajar untuk saling mencintai. Tapi Lo berdua juga udah janji di hadapan Tuhan. Gue emang bukan orang suci, gue banyak dosa malahan. Dan Lo...Lo...justru lebih banyak menelan pendidik agama di bandingkan gue!Gue bilang gini, karena gue peduli sama Lo sama Mika juga sama Dian Aziz!]
Hening! Keduanya masih sama-sama terhubung sambungan telepon. Tapi keduanya diam.
[Walaikumsalam!]
Damar pun mematikan ponselnya. Begitu pun dengan Fai. Nasehat Damar kali ini benar-benar mengusik hatinya.
Benar! Alangkah tidak adilnya bagi seorang Mika jika mendapat perlakuan seperti ini darinya. Padahal di saat mereka selesai ijab qobul malam itu, Mika pernah berkata jika dia akan menyerahkan hidupnya hanya untuk mengabdi padanya.
Tak terasa, mobil Fai kini memasuki parkiran hotel yang akan sudah ia sewa untuk acara besok.
Usai memarkirkan mobilnya, Fai menghubungi Mika. Menanyakan dimana posisinya saat ini.
Mika membalas chat dari Fai. Dia mengatakan bahwa mereka sedang berkumpul di restoran hotel yang berada di lantai lima.
Fai pun berjalan menuju ke arah lift. Menekan tombol lift ke lantai lima.
Tringgg....
Fai melihat lima orang anggota keluarga nya sedang berkumpul di sebuah meja.
Mika melambangkan tangannya untuk memanggil Fai.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam."
Mika mencium tangan Fai. Setelah itu, Fai mengabsen tangan kedua orang tuanya dan juga kedua orang mertua nya.
''Kamu dari mana?", tanya Abah.
"Dari showroom Bah!"
__ADS_1
"Kamu sudah makan ? Kalau belum, biar Mika pesenin yang kamu mau?!", tanya Abah.
"Udah bah, tadi udah makan di showroom."
Obrolan mereka berenam pun menghangat. Fai dan Mika melupakan sejenak bahwa hari kemarin mereka sempat berdebat tentang kelangsungan kehidupan rumah tangga mereka.
"Kita lihat dekor nya yuk!", ajak Umi.
"Kalian aja dulu deh. Fai sama Mika nyusul. Lagi pula, kami mau ke kamar sebentar Mi!"
"Oh ...ya udah. Mari Jeng Selly!", ajak Umi menggandeng lengan besannya. Sedang Abah dan Papa Umar mengekor di belakang dua bidadari di depannya.
"Mau apa ke kamar Mas?", tanya Mika.
"Lihat aja sih, kamar pengantin kita udah di dekor apa belum."
Fai masih menggandeng tangan Mika. Sampai mereka menuju resepsionis untuk meminta kartu akses kamar.
Mika hanya mengikuti suaminya melangkah ke lift sambil terus menggandeng tangannya seolah-olah ia takut kehilangan sang istri.
"Mas....!"
''Ya??"
"Aku bisa jalan sendiri kok. Nggak usah di gandeng terus, nggak bakal ilang juga kan?"
Fai tersenyum tipis.
"Mas tidak akan melepaskan mu!"
Apa maksudmu sih mas???
"Kenapa? Memangnya aku mau kabur?"
"Nggak sih, mas takut aja kalo kamu lelah menghadapi keegoisan ku."
Mika menghela nafas panjang.
"Aku selalu memaafkan mu mas. Tapi setiap aku memberikan maafku, kamu sering kali menyepelekan ku. Karena aku mudah memaafkan mu. Tolong....jangan pernah sakiti aku dengan kesalahan mu yang sama. Hargai perasan ku, hargai perasan mas Aziz juga."
Fai menatap mata sang istri.
"Maaf....!", Fai meraih kepala sang istri untuk di benamkan di dadanya.
"Jika aku yang melakukan hal yang sama seperti mu ,apa kamu juga akan marah?"
"Hah? Maksud nya?"
"Nggak. Aku yakin kamu nggak akan marah. Karena...."
"Karena aku percaya padamu. Kamu tidak seperti aku."
Keduanya kini saling berpandangan.
"Jika suatu saat nanti kamu tidak bisa menerima ku, kembalikan aku ke papa baik-baik ya mas."
"Kamu itu bicara apa sih sayang?"
"Aku bicara kemungkinan yang bisa saja terjadi mas."
"Mas tidak akan pernah melepas mu!"
Fai pun meninggalkan Mika yang sedang duduk di ranjang pengantin mereka.
__ADS_1
"Mas...! Mas....!", tapi Fai mengabaikan panggilan istrinya. Dia lebih memilih mengambil air wudhu untuk segera menunaikan empat rakaat sorenya.