
Sudah 2 hari aku keluar dari rumah sakit. Yang kulihat, mas Aziz masih mondar mandir dirumah. Mau tanya kenapa dia nggak ke kantor, tapi enggan. Berusaha untuk tidak peduli dan tak mau tau itu ternyata sulit. sesakit apapun luka yang dia torehkan untukku, nyatanya hatiku masih menyisakan sedikit cinta pada lelaki yang selama ini menjadi pendamping hidupku .
Pagi ini ,saat menuju dapur kulihat mas Aziz tengah berkutat dengan beberapa bahan masakan. Tak lupa , ponsel pintar nya ia letakkan di tak jauh dari tempat nya berdiri.
Kulihat sebentar dari jarak lumayan dekat. Ternyata dia sedang menonton tutorial memasak ayam semur.
Asap diatas mejikom sudah mengepul. Dimeja dapur sudah ada sayur sop, tempe goreng dan mungkin mas Aziz akan memasak semur. Menu favorit ku . Cukup terharu sebenarnya dengan usahanya itu. Padahal aku tahu, meskipun dia pernah jadi anak kost tapi urusan masak memasak bukan lah bidangnya sama sekali.
Aku berjalan santai menuju kulkas. Pura-pura tak memperhatikan kegiatannya.
"Kamu udah bangun sayang?", sapanya.
Tak ku hiraukan, langsung ku teguk air dingin dari kulkas. meski ini masih pagi, kerongkongan ku minta yang segar-segar.
Setelah puas minum, aku berjalan menuju ruang depan. Saat akan melewati mas Aziz, pergelangan tanganku dicekalnya. Tangan mas Aziz yang satunya mematikan kompor.
"Cukup kamu cuekin mas seperti ini dek!" nada suaranya meninggi. Kutatap kedua manik matanya yang tajam.
"Lalu, aku harus apa mas? Berlemah lembut seperti kemarin-kemarin setelah kamu mengkhianati ku?" tanyaku padanya.
"Harus mas jelaskan berapa kali dek. Sumpah demi Allah demi anak kita yang ada dalam rahimmu. Ngga ada sedikit pun niat mas untuk berkhianat dek. Mas khilaf dek, tolong berikan mas kesempatan. Maafkan mas!"
Mas Aziz merengkuh ku dalam pelukannya. Ad rasa nyaman saat aku mendengar detak jantungnya. Laki-laki yang sudah berjanji dihadapan Allah untuk senantiasa menjaga ku mencintaiku membimbing ku ke surga bersamanya, namun Kenyataannya pil pahit itu harus kurasakan.
"Lepaskan mas!"
"Enggak. Mas nggak akan melepas mu!"
"Tapi aku mual, aku mau muntah ke kamar mandi!" bentakku.
Seketika itu pula mas Aziz melepas ku. Aku setngah berlari menuju kamar mandi. Air dingin yang baru kuminum kini sudah keluar lagi. Perutku yang memang masih kosong semakin tidak karuan. Badanku terkulai lemas bersandar pada pintu yang belum sempat ku tutup tadi.
"Dek....kamu kenapa dek. bangun! Jangan bikin mas cemas." Mas Aziz menepuk pelan pipiku.
Aku menepiskan tangannya. Matakau kembali terbuka.
"Awas, aku bisa sendiri ", kataku. Padahal badanku seperti tak bertulang . Baru jalan selangkah, kaki sudah lemas. Badanku mulai limbung. Dengan tangkas mas Aziz menangkap ku. Lalu dia membopongku ke kamar.
Aku menatap wajah tampannya yang terlihat panik dan cemas melihat keadaanku. Aku sadar, dia sangat mencintai ku. Dia selalu memperlakukan ku dengan kelembutan. Tapi perbuatannya dengan Lili......
Mas Aziz meletakkan ku diranjang. Mengusap kepalanya penuh kasih sayang. Duduk ditepian ranjang, sembari memegang erat tanganku. Menciuminya sesekali. Manis sekali perlakuan mu mas. Apakah lili juga mendapatkan perlakuan yang sama seperti ku? Saat otakku berpikir seperti itu, kuhempas tangan mas Aziz.
"Mas buatin teh hangat ya. Kasian Dede bayi nya kalau perut kamu kosong. Mas mau masak ayam semur , kesukaan kamu. Ya udah, kamu istirahat dulu ya. Mas ke dapur dulu. Nanti mas bawa teh nya ke sini."
__ADS_1
Dia meninggalkan ku di kamar. Beberapa bulan lalu, aku... seorang istri yang sering haus kasih sayang suami, yang sering merindukan nya, yang bahkan sering terabaikan hak batinnya. Kini, keadaan berubah. Ada rasa yang membuat ku enggan untuk sekedar bersentuhan. Apalagi jika sampai melakukan hubungan suami istri. Terbayang di pelupuk mata, pengkhianatan yang dia lakukan padaku.
Ceklek....
Pintu kamar terbuka. Mas Aziz membawakan secangkir teh panas. Dan ada pisang rebus. Entah darimana dia mendapat kan nya.
"Diminum tehnya y sayang, ini tadi dikasih pisang rebus sama tetangga sebelah."
Mas Aziz meletakkannya diatas nakas.
"Keluar lah! Aku pengen sendiri!"
"Mas nggak akan keluar sebelum kamu minum teh nya dan makan pisang nya. Kamu berhak marah sama mas, tapi tolong juga jaga kesehatan anak kita. Kamu juga harus memikirkan janin dalam rahimmu!"
Apa yang mas Aziz katakan memang benar, tapi.....
Dia menyodorkan teh hangat itu ke hadapan ku. Baiklah, untuk kali ini aku turun kan egoku demi anak yang ku kandung. Aku raih cangkir teh nya, lalu ku seruput perlahan. Perutku terasa hangat, nyaman. Mas Aziz mengupaska pisang rebus itu lalu menyuapakan nya padaku.
"Aku bisa sendiri!", tanganku bermaksud menepisnya tapi kalah cepat. Pisang itu sudah berada didepan mulutku.
Dia mengangguk kan kepalanya.
"Makanlah dek. Biarkan mas menyuapi mu dan anak kita!"
Dengan sedikit kesal akhirnya aku makan saja pisang itu.
Mas Aziz tersenyum padaku. Mungkin jumawa, karena berhasil membujuk ku.
"Aku sudah makan, tunggu apa lagi?"
Bukannya pergi mas Aziz malah mendekati ku.
Cup.....
Sebuah kecupan hangat mendarat di kening ku. Aku terpaku sesaat. Tak mau terbawa suasana, aku mendorongnya.
"Keluar lah mas, aku sudah minum dan makan seperti yang kamu minta kan? Jadi sekarang lebih baik kamu keluar. Biar kan aku istirahat!"
"Baiklah , mas akan keluar. Tapi berjanji lah,"perkataan nya terjeda .Lalu setengah berbisik ditelingaku.
"Tunaikan kewajiban mu dek, setelah kamu merasa lebih baik. Hak mas , yang wajib kamu patuhi!"
Aku terbelalak. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu. Mengangkat badanku sendiri saja aku sudah lemas, bagaimana bisa aku melayani nya.
__ADS_1
"Nggak. Aku nggak mau janji. Keluar lah mas."
"Baiklah. Kalau kamu ga mau. Tapi....mas memaksa! Ya sudah, mas lanjutkan masak buat kamu makan nanti. Oh iya, mas sudah resmi resign dari kantor. Setelah ini, mas akan fokus merawat mu!"
Mas Aziz bangkit lalu keluar kamar.
Tadi dia menghiba-hiba meminta ku memaafkan nya, tapi baru saja dia mengintimidasi ku . Istrinya sendiri. Mas Aziz kenapa kamu seperti itu mas???
Makanan sudah terhidang dimeja makan. Aku pun sudah mandi dikamar mandi dalam. Badanku sedikit lebih segar usai mandi dan perut sudah terisi sedikit makanan.
Saat sedang mengeringkan rambutku, tiba-tiba mas Aziz datang. Mendekapku erat dari belakang. Aku merasa risih dengan perlakuan nya.
"Lepasin mas!"sergah ku.
"Seperti yang mas bilang tadi , mas menunutut hak mas sebagai suami. Dan kamu dek, berkewajiban memberikan nya. Semarah apa pun kamu, kamu masih istri mas dek!"
"Maaf mas, aku ga bis...." ucapan ku terpotong. Tiba-tiba mas Aziz menyerang ku membabi buta. Dan akhirnya , mas Aziz menuntaskan nya tanpa perlawanan berarti dariku.
Kamu lemah Dian. Lemah sekali ! Aku merutuk diriku sendiri. Selemah ini dirimu Dian sampai tak berkutik dihadapan suamimu.
Aku menangis tak bersuara. Mas Aziz memelukku erat. Dagunya yang sedikit ditumbuh jenggot, menyentuh pundak ku.
"Maaf...!", bisiknya.
"Mas cuma cinta sama kamu dek. Maafkan jika mas menyakiti mu!"
Dia kembali menciumi pundakku. Aku hanya pasrah dengan perlakuan nya.
__ADS_1
"Beri kesempatan kedua buat mas memperbaiki semuanya. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari ku dek. Mas janji, semua permasalahan kita akan selesai. Dan kamu, akan tetap disamping mas. Membesarkan dan merawat anak kita!" bisiknya lagi.
Aku hanya sanggup memejamkan mataku, mantap langit-langit kamarku. Saksi bisu suka dan duka pernikahan ku denga mas Aziz. Layakkah kesempatan kedua ini buatmu mas?