
"Gue tahu. Gue jahat! Udah bikin rusak masa depan anak orang, dia bunting gue minta gugurin. Udah gitu gue tinggalin! Sumpah, waktu itu gue belum siap dalam segala hal!", kata Damar menyesal.
Aziz dan Fai menyimak perkataan sahabatnya itu.
"Stevia, hidup dilingkungan yang tidak harmonis. Mamanya meninggal, papanya suka gonta-ganti pasangan. Gadis itu menaruh harapan besar sama gue. Sampai...dia pun menyerahkan miliknya yang berharga ke gue!"
Aziz dan Fai belum bisa komentar apa pun hingga detik berikutnya Imah mengirimkan pesan jika dia akan ke Bogor karena Farhan sakit.
Aziz pun membalas pesan Imah, dia mengijinkan Imah untuk ke Bogor bersama Dadan.
"Terus, kalau cuma karena Lo pindah kampus kenapa harus di tinggalin tuh Stevia? Lo kan bisa LDR?", tanya Fai kali ini.
"Lo tahu bokap gue kan bro??? Bisa di bunuh di tempat gue , kalau gue ga bisa jadi dokter yang kaya beliau mau!", Damar kembali meraih sebatang rokok.
"Ya...gue juga pernah sama di posisi tertindas begitu, ga bisa perjuangan kan cinta gue!", kata Fai melirik Aziz.
"Heh, kita lagi ngomongin Damar ya? Nggak usah playing victim deh Lo!", sindir Aziz.
"Stevia bilang, dia hamil. Saat itu...gue ga bisa bilang apa-apa lagi. Gue minta di gugurin anak yang nggak berdosa itu. Stevia pun menyetujuinya, dengan terpaksa! Dia pun masih ingin melanjutkan kuliahnya. Sampai akhirnya gue bener-bener ninggalin dia. Yang gue denger dari anak-anak, setelah gue tinggal Stevi berubah. Dia jadi menjalani kehidupan nya yang bebas. Gonta ganti pacar, bahkan...suka bawa masuk cowok ke kosannya."
Ya, ini Stevia Winata yang sama! Rahayu! Batin Aziz.
"Lo nyesel udah bikin dia begitu, kenapa Lo ga usaha buat tanggung jawab?", kata Aziz. Fai pun setuju dengan yang Aziz pertanyakan.
"Gue telat. Gue datengin dia, tapi dia sudah menikah. Gue bisa apa?", sekali lagi, Damar mematikan rokoknya di dalam asbak.
"Setelah dia menikah, apa Lo tahu apa yang terjadi padanya?"
Damar menggeleng.
"Gue bener-bener lost kontak sama dia. Mungkin dia sudah bahagia dengan kehidupan nya yang sekarang. Gue harap begitu?!", damar mendesah sambil menyadarkan punggungnya ke sofa .
"Kalau Lo ketemu lagi sama Stevia sekarang, Lo mau apa?", tanya Aziz.
"Ya...nggak tahu lah. Nggak mungkin juga gue ketemu sama dia! Kalau pun ketemu, terus gue minta maaf...emang Lo pikir suaminya mau terima gitu?", jawab Damar.
"Kalau gue mau ketemuin Lo sama dia, gimana?", tanya Aziz sambil melipat kedu tangannya di dada.
Damar menyunggingkan senyuman sinisnya.
"Lagak Lo, mau nemuin Damar sama Stevia?", tanya Fai.
"Ish...Lo tuh ya emang! Lo aja udah ketemu sama orang nya Fai. Tiap bulan, Lo yang udah nafkahin dia!"
Fai dan Damar melotot seketika!
"Nggak usah ngasal deh Lo, sumpah Dam. Gue nggak tahu. Itu bisa-bisanya Aziz aja tuh!", kataa Fai sambil mengibaskan kedua tangannya.
"Fai...si ustadz kawe, kan Lo emang tiap bulan transfer gaji Lo buat almarhum istrinya Royan!", kata Aziz.
"Iya, istrinya Royan. Bukan mantan pacarnya damar kan? Siapa tadi namanya, Stevia?", Fai tak mau kalah.
"Lo berdua ngomong apa sih?", damar mulai pusing mendengar perdebatan dua sahabat nya itu.
"Oke...oke...gue jelasin!", Aziz merubah posisi duduk nya.
"Fai, si Hayu ... istrinya almarhum Royan adalah Stevia Winata!"
"Maksud Lo???", Fai terkejut.
Begitu pula dengan damar. Hayu itu siapa? Dan...kenapa Fai juga tahu hal ini?
"Stop! Sumpah gue bingung sama Lo berdua! Gue pusing!", kata damar.
"Makanya.... dengerin gue dulu!", kata Aziz geregetan.
__ADS_1
"Stevia, tidak ingin ada yang memanggil dengan nama itu. Royan, memberi nya nama Rahayu. Yang aku panggil Hayu. Dan, almarhum suami Hayu adalah salah satu pengajar di yayasan Abah Fai. Karena kebijakan yayasan yang di rasa kurang, Fai memberikan gajinya selama enam bulan buat si Hayu. Tapi , Fai tidak tahu siapa yang di beri gajinya selama ini.Be*o kan?", jelas Aziz.
"Iya...kan gue bilang, itu gue serahin sama orang TU!", Fai tak mau mengalah.
"Jadi, suami Stevia sudah meninggal?", tanya Damar.
"Iya, empat bulan yang lalu!", sahut Aziz mantap.
"Ya Allah....!", desis damar.
"Lo kenal Stevia di mana?", tanya Damar.
"Dia kerja di kios gue!", kata Aziz.
"Ditempat Lo?", tanya Damar.
"Iya, baru-baru ini. Itupun karena Dian yang meminta nya sama gue.. Awalnya sih...gue rada gimana gitu, status nya kan janda. Gue ga mau nantinya bakal ada omongan yang enggak-enggak!", jawab Aziz.
"Gimana keadaan dia sekarang? Dia udah punya anak berapa?", tanya Damar antusias.
"Ya... kapan-kapan Lo liat aja sendiri. Dia nggak punya anak sama almarhum suaminya", jawab Aziz.
"Nah, bocah yang gue liat di ajarin ngaji sama dia siapa?", tanya Fai.
"Anak angkatnya", jawab Aziz singkat.
"Baru...aja gue pikir gue nemuin tambatan hati yang baru, nggak tahunya.... sudah ada yang bersiap menunggu nya. Apes amat sih jadi gue!", kata Fai.
"Sabar bro, dokter Mika nggak kalah cantik!", Aziz menepuk bahu sahabatnya itu.
"Sakit dodol!", pekik Fai.
"Nggak apa-apa lah, kan ada dokter Mika?!", ledek Aziz.
"Ishhh! Lo tuh emang ya!", kata Fai ketus.
"Ya...gue nggak tahu, kalau Lo ke rumah gue ya... insyaallah ketemu!"
"Oke, besok pulang praktek siang gue ke rumah Lo!", kata Damar semangat.
"Huh! Gue pikir, Hayu yang salihah itu ...jodoh gue!", kata Fai besungut.
"Eh, belum tentu juga Hayu mau sama damar, apalagi Lo? Mendingan,Lo usaha deketin dokter Mika. Lo mau bantu kan Dam?", Aziz menaikkan sebelah alisnya.
"Bisa di atur!", sahut Damar.
"Nggak ah, gue maunya sama istri Lo!", kata Fai berdiri.
"Beneran gue mutilasi Lo ngomongin bini gue Mulu!", kata Aziz.
"Lagian Lo berdua, dokter Mika...dokter Mika...! Emangnya Lo pikir, dokter Mika mau sama gue? Ogah, gue cukup sekali aja sakit hati sama bini Lo Ziz!"
"Dih...itu mah sakit hati bikinan Lo sendiri, ngapain nyalahin bini gue. Belom jelas juga, kalau gue tuh yang terbaik buat bini gue?"
"Tau ah...!", kata Fai merajuk.
"Siap dokter Mika?", tanya Abah yang tiba-tiba turut bergabung di teras tempat mereka bertiga ngobrol.
"Abah nguping?", tanya Fai.
"Nggak sengaja, iya!", sahut Abah.
Lalu Abah pun mendekati anak semata wayangnya.
"Maafkan Abah ya Fai, selama ini Abah selalu memaksa kemauan Abah ke kamu. Nggak pernah mau pikirin perasaan kamu."
__ADS_1
Fai terdiam. Akhirnya, Abah menyadari juga. Sayangnya telat bah, Dian udah jadi istrinya Aziz. nggak mungkin juga nunggu jandanya kan bah? Batin Fai.
"Tapi, dokter Mika itu siapa?", tanya Abah lagi.
"Bukan siapa-siapa bah!", jawab Fai.
"Calonnya Fai bah!", sahut Damar dan aziz kompak.
Nah, Lo?????
"Nggak bah, boong. Fai aja baru kenal tadi. Dokter itu temen nya Damar Bah!", kata Fai menggeleng.
Tiba-tiba ponsel Fai berdering, sebuah panggilan video tertera di ponsel Fai. Tidak memakai nama, tapi foto profilnya menunjukkan si pemilik nomor itu. Dokter Mika?
Karena Fai hanya terbengong-bengong, Damar inisiatif mengambil ponsel Fai. Lalu mengangkat panggilan Mika.
"Hallo Assalamualaikum dokter Mika!", sapa damar. Fai pun terbelalak.
Berbeda dengan Aziz yang berusaha menahan tawanya, sedang Abah...beliau tersenyum mendengar nama yang baru saja damar sebutkan.
"Walaikumsalam kak Damar. Kok ponsel mas Fai, sama Kak damar?", tanya Mika yang saat ini terlihat cantik menggunakan mukena.
"Emh, ini...kita lagi kumpul-kumpul. Gue, Aziz sama Fai di rumah Abahnya Fai!", jawab Damar.
Fai masih diam mematung. Kok mika tahu sih nomor gue? Gue aja nggak tukeran nomor sama dia? Batin Fai.
"Owh...ya udah maaf ganggu, ini...tadi tas nya mas Fai ketinggalan di mobil Kak Damar. Lupa bawa turun pas ke rumah mas Aziz!", jelas Mika.
"Kamu tahu nomor ponsel nya Fai dari mana?", tanya Damar sambil melirik jahat pada Fai.
"Heheh sori kak, aku buka-buka tasnya. Habis bingung, mau balikin ke mana?",jawab Mika.
Gadis pintar, batin Abah!
"Ya udah, gue mau ngobrol dulu sama Aziz ya. Kamu lanjutin aja ngobrol nya sama Fai!", Damar menyodorkan ponsel itu pada Fai. Fai hanya menggeleng-geleng malu.
"Udah buruan nih!", Damar meletakkan ponsel itu di telapak tangan Fai.
"Hhhalo dokter Mika!", sapa Fai.
"Halo mas, maaf ya. Tadi lupa nggak nurunin tasnya waktu ke rumah mas Aziz!"
"Iya, nggak apa-apa", jawab Fai gemetar.
"Apa besok Mika anterin aja?", tanya Mika.
"Hah? Nggak usah, aku...aku aja yang ambil ke...ke rumah sakit. Iya...ke rumah sakit."
"Oh...ya sudah kalau begitu."
Di belakang Fai, Abah memunculkan wajahnya.
Hal itu membuat Mika tersenyum manis.
"Halo, assalamualaikum. Abahnya mas Fai ya?", sapa Mika. Fai pun menengok ke belakang.
"Astagfirullah Abah!", pekik Fai.
"Nggak apa-apa ya Calon mantu, masa Abah nggak boleh kenalan sih?", ledek Abah. Mika yang bingung pun hanya bisa mengangguk pelan.
Calon mantu? Batin Mika.
"Ya udah, lanjut aja ngobrol nya!", kata Abah meninggalkan teras.
"Ya udah bro, gue pulang. Kangen sama anak bini gue!", kata Aziz.
__ADS_1
"Gue juga, emak gue nungguin!", kata Damar.
Dan sekarang...dua orang beda profesi dan beda usia tentu juga beda gender, sedang bingung akan mengobrol apa.