
"Ma, Imah udah cantik kan?", tanya Imah pada mama Farah.
"Cantik lah, anak mama Farah gitu lho."
Mama pun nampak mematutkan diri di depan cermin. Wanita lima puluh tujuh tahun itu terlihat cantik di usianya yang sudah tak muda lagi.
"Sayang ya Mah, mama nggak ada pasangan nya. Kalau ada, pasti pakaian mama juga ada pasangan nya." Sambil sesekali memutar badanku di depan cermin.
"Ma, kali aja ntar di sana ada yang pake baju samaan kaya mama. Ntar di kira pasangan mama hahahahahh!", seru Imah.
"Hush! Sembarangan! Baju dari mika ini beli nya di butik Imah. Bukan di pasar yang biasa kita belanja sayur."
"Ya... siapa tahu aja ma!"
"Eh, besok kamu fitting baju buat akad lho ya. Di butik mama yang di Sunter aja. Di sana banyak pilihan nya. Atau....mau ke butik mama kamu?"
"Imah ikut aja mama....!Eh, butik mama ku?"
"Iya. Dulu, papa nya Aziz bikin butik buat mama. Terus nggak lama, papa kamu juga bikinin butik buat mama kamu. sayang nya nggak lama Mah. Jadi mama yang lanjutin. Tapi, kalau kamu siap, kamu bisa ambil alih butik itu. Itu punya Ismaya, artinya punya kamu kan?"
"Heemmm...mama aja yang jalanin lah, Imah nggak tahu begituan Ma."
"Kalau udah senggang, kamu pelajari deh. Nanti mama ajarin."
"Insyaallah ya mama Farah ku yang cantik jelita?!", Imah memeluk Farah.
"Kita keluar yuk, pasti Aziz sama Dian udah nunggu."
Mereka berdua pun keluar bersama dari kamar Farah.
****
"Masyaallah...cantiknya istri ku!", Aziz mengecup ku berulang-ulang, padahal dia sedang menggendong Diaz.
"Apaan sih mas, malu ih diliatin Diaz!", kataku.
"Tapi, emang istriku cantik....cantik banget malah. Rasanya...nggak rela deh bawa kamu ke sana. Nanti yang ada Fai berubah pikiran lagi."
"Astagfirullah ...ya Allah mas. Nggak segitu nya juga kali mas. Kamu mah kelewatan deh!"
Aku kembali memperbaiki jilbabku.
"Sayang...apa kamu senang Fai akan segera menikah?"
Aku menghentikan aktivitas ku di depan cermin. Berbalik menghadap mas Aziz.
"Memangnya aku harus apa mas? joget-joget saking senangnya dia mau nikah? Atau...kamu ngarep aku bakal nangis-nangis mas?"
"Bukan gitu sayang, tapi...dia kan pernah ada di hatimu."
"Harus berapa kali aku bilang mas. Itu hanya masa lalu. Cukup mas!"
Aku berdiri meninggalkan mas Aziz dan Diaz. Tapi mas Aziz meraih ku dalam pelukannya. Alhasil, kami bertiga berpelukan.
"Maaf....!", bisik Aziz.
Aku pun diam. Entah kenapa suamiku seperti ini. Haruskah ia menanyakan hal tidak penting itu? Urusan apakah aku senang atau sedih dengan rencana pernikahan mereka, biarlah hanya aku dan Allah yang tahu.
"Lebih baik aku nggak usah ikut mas."
"Dek, maaf....!"
"Untuk apa aku ke sana, tapi kamu masih saja terus cemburu padaku mas. Kamu nggak bisa percaya pada ku?"
"Maaf dek...maaf....!", seperti nya Mas Aziz sangat menyesal.
"Kita berangkat ya? Susu Diaz sudah mas siapkan di box minum. Jadi dia tidak akan susah kalau pengen asi."
"Iya. Makasih!"
Aku meraih Diaz dari gendongan mas Aziz. Mas Aziz mengambil tas kecil ku dan membawanya ke luar. Tak lupa ia menenteng peralatan tempur Diaz.
__ADS_1
Di luar kamar, mama, Imah, kang Dadan dan Farhan sudah menunggu.
"Masyaallah... mbakku cantik banget sih???", puji Imah.
"Makasih adekku. Kamu juga cantik Imah."
"Kang Dadan sudah lama?", tanya Aziz.
"Belom sih mas."
"Hai Farhan ganteng, makin ganteng aja ya?", sapa aziZ.
"Iya dong om!", Farhan menunjukkan senyum manis nya.
"Eh, kios udah tutup kan? Mbak Hayu mana mana mah?"
"Lagi pulang, ganti baju sama jemput Faiz."
"Owh...!", sahut Aziz.
"Ya udah, kita tunggu mereka di luar aja ya. Aku mau naroh tas Diaz dulu ke mobil. sama mau periksa pintu yang lain."
Kami berenam pun mengikuti mas Aziz keluar. Tak lama kemudian Hayu dan Faiz datang. Mbah hayu yang tinggi semampai terlihat sangat anggun dengan gamis batik itu. Pantas saja Damar begitu terpesona dengannya.
"Assalamualaikum. Maaf telat ya!", kata Hayu.
"Walaikumsalam. Nggak apa-apa mbak!", jawabku.
Mas Aziz pun keluar dari ruang tamu, lalu menguncinya.
"Formasi sudah lengkap?", tanya Aziz.
"Sudah!", sahut Faiz dan Farhan. Mereka terlihat sangat akrab.
"Lho Ziz, kunci mobil mama?", tanya mama Farah.
"Pakai mobil Aziz aja ma. Toh, sampai rumah Fai kan kita mau naik bus."
"Iya. Abah bilang, biar kita bisa berangkat bareng. Toh, itu salah satu armada bus milik Abah!"
"Muat mobilnya mas?"
"Muat lah, Kang Dadan depan. Mama sama Dian di tengah. Hayu dan Imah di belankang sama anak-anak."
"Ya udah."
Kami pun menempatkan diri di posisi yang mas Aziz sudah atur.
Perjalanan dari rumah ku ke rumah Fai cukup lumayan. Pantas saja, mas Aziz meminta kami bersiap usai bada dhuhur. Padahal rencananya akan di mulai bada ashar nanti.
Perlahan mobil kami memasuki kawasan elit dengan rumah berpagar keliling tinggi. Meski begitu, suasana sejuk dan rindang sangat terasa. Mas Aziz membelokan mobil nya di depan sebuah bangunan yang cukup megah.
Din...Din...mas Aziz memberi klakson pada satpam. Dengan sigap pak satpam membuka pintu gerbang nya.
"Siang pak Ujang!", sapa mas Aziz
"Siang mas Aziz!", sapa satpam itu.
Mobil kami memasuki halaman yang cukup luas. Pemandangan yang pertama buku lihat adalah mobil yang berjejer rapi di garasi. Ah, iya. Dia kan juragan mobil.
Meskipun tiga tahun merajut kasih dengan mas Fai, aku tak pernah sekalipun tahu di mana rumahnya. Ini, untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki ku di sini.
Mas Aziz membukakan pintu untuk ku. Di ikuti mama dan yang lainnya.
"Subhanallah....! Iki rumah apa istana ya mbak hayu?", tanya Imah pada Hayu. Hayu hanya menganggapnya dengan tersenyum.
Imah, rumah Daddy ku juga nggak kalah mewah. Hanya saja...aku tak ingin lagi ke sana. Aku lebih nyaman, dan bahagia tinggal di lingkungan kalian. Kalian orang-orang yang sangat baik. Batin Hayu.
Mas Aziz mengambil Diaz dari gendongan ku. Diaz sedang tertidur. Di samping tempat kami memarkirkan mobil, ada sebuah bus pariwisata yang terlihat sangat mewah. Apa iya bus sebesar ini boleh beroperasi di jalan kota? Batinku.
Tiba-tiba mas Aziz menggandeng tanganku dengan erat.
__ADS_1
"Kita mau mau masuk rumah kan mas? Bukan mau nyeberang jalan?", tanyaku.
"Aku tahu. Fai belum pernah mengajak mu ke sini kan dek? Walaupun kalian lama bersama?", Mas Aziz menatap ku sambil terus berjalan. Sedang yang lain sudah terlebih dulu mengikuti Mama masuk ke rumah Abah.
"Iya." Aku jawab singkat saja. Memang kenyataannya begitu, aku tak pernah ambil pusing kala itu. Dan...benar saja, jodohku adalah mas Aziz bukan mas Fai. Tidak ada yang perlu ku sesalkan bukan?
Sampai di ruang tamu, Abah dan umi Fai sudah menunggu kami. Sedangkan kerabat yang lain ada di ruangan sebelah.
"Oh, ini calon suami Imah?", tanya Abah.
"Iya pak. Perkenalkan, nama saya Dadan!", Dadan pun menyalami Abah serta umi Fai.
"Lalu itu?" tanya Abah.
"Itu, Farhan anak saya. Mbak Hayu dan anaknya Faiz!", Dadan yang memperkenalkan mereka.
Abah pun terlihat senang dengan kehadiran dua bocah tampan itu.
"Assalamualaikum", sapa kami berdua.
"Walaikumsalam. Aziz, sini nak!" panggil Abah.
"Umi, ini istri Aziz. Diandra!", aku pun mencium tangan umi nya mas Fai.
Masyaallah, perempuan ini memang cantik. Terlihat lembut dan sabar. Pantas saja kalau Fai susah berpaling darinya. Abah....kamu sudah salah melepaskan Diandra dari anakmu bah! Batin umi.
"Diandra umi!", umi mengusap lenganku.
"Terimakasih ya Nak, sudah bersedia kemari."
"Sama-sama umi, mas Fai kan sahabat kami."
Ya Allah, bahkan hubungan mereka masih sebaik ini? Tanya Abah dalam hati, karena dari tadi ia hanya memperhatikan interaksi dua wanita di depan nya.
"Terus, ini ? Bayi tampan ini?", tanya umi sambil menowel pipi Diaz.
"Nanya Diaz eyang....!", kataku.
"Owh....nama yang bagus."
"Iya Mi. Dian dan Aziz jadi di singkat Diaz!", mas Aziz menjelang, entah apa maksudnya.
"Hehehe pinter kamu ngasih nama nya Ziz." Puji Abah.
"Yang ngasih nama tuh si Imah bah, tumben dia bener."
"Lha Yo bener toh mas. Itu anaknya sampean. Dian Aziz. Andai kata anak nya Mbah Dian sama Fai, Imah usulin namanya Difa mas!" Abah terkekeh mendengar ocehan Imah.
Beda lagi dengan mas Aziz yang menepuk wajahnya.
"Kamu lucu sekali imah, senang menggoda mas mu ya ?", tanya umi.
"Iya mi, ada kebahagiaan tersendiri kalau liat mas Aziz manyun gara-gara cemburu sama mas Fai." Imah kembali berulah.
Dia tidak berpikir ini sedang dimana. Untung saja Farah dan Faiz sedang melihat ikan di akuarium.
"Memangnya Aziz masih suka cemburu mah?" tanya umi.
Sejujurnya, umi langsung jatuh hati saat melihat Dian. Kenapa Fai dari dulu tak pernah memperkenalkan dia pada kami sih? Bukan maksud untuk tidak menyukai dokter Mika, tapi Fai terlalu sekali. Kenapa dia bisa melepaskan Dian, apalagi untuk sahabat nya? Persahabatan seperti apa sih yang mereka jalani sebenarnya? umi bertanya dalam hatinya sendiri.
"Kadang umi, apalagi kalau mas Fai sudah mulai iseng sama mas Aziz. Pokoknya, anak paud aja kalah serunya Kalau mereka berantem." Ocehan Imah berhenti saat Dadan memberikan kodenya. Mama Farah sedang bergabung dengan kerabat Abah yang lain.
"Benar begitu Ziz?", tanya Abah.
"Begitu lah bah. Anak Abah kan tengil bin usil", jawab Aziz.
"Hahahaha kalian lucu sekali."
Kami melanjutkan obrolan sampai tak terasa sudah hampir pukul setengah tiga sore.
"Permisi pak Haji, mas Fai masih di kama. Dia nggak mau bukain pintu kamar nya dari tadi?, kata salah seorang art Abah.
__ADS_1
"Biar aku yang ke kamar nya!", Abah pun berdiri meninggalkan kami yang sedang mengobrol dengan umi Fai.