
Malam hari di kediaman Al Umar Abdullah....
Mika masih mondar mandir di kamar sementara nya. Kamar yang biasa ia pakai sudah di hiasi sedemikian rupa. Hah! Kamar pengantin katanya!
Dengan sesekali duduk, berdiri lalu duduk lagi nyatanya belum bisa membuatnya mengantuk. Pikiran nya tak bisa konsentrat.
Besok pagi, dia akan berpredikat nyonya Rifai. Sesuatu yang amat sangat tidak di sangka sama sekali. Berawal dari ketidaksengajaan dan berujung perjodohan. Ternyata kini...kini hanya menghitung jam, statusnya akan berubah.
Banyak hal yang di cemaskan. Terlebih, perasaannya sendiri. Hatinya masih labil. Apakah perasaan cinta akan timbul setelah mereka benar-benar menjadi sepasang suami istri? Sedangkan saat ini, nama orang lain masih bertahta di hati masing-masing?
Mika kembali mondar mandir sambil menggendong kuku jarinya. Dia selalu begituan jika menghadapi hal yang di anggap memusingkannya.
Hampir jam satu pagi,matanya belum juga bisa terpejam. Lampu kamar sementara nya masih terang benderang. Hal itu menarik perhatian sang Papa. Umar memutuskan untuk menghampiri kamar Mika.
Tok...tok....
"Mika? Kamu belum tidur Nak?" tanya Umar dari balik pintu.
Tanpa menjawabnya, Mika pun membuka pintu untuk papanya.
"Belum Pa. Mika ngga bisa tidur." Mika pun melenggang menuju kasurnya. Dan Umar pun mengikuti nya.
"Memangnya kenapa? Ini sudah hampir pagi mika?"
"Mika kan biasa jaga malam di rumah sakit Pa."
Ya , Mika memang dulu sering piket menjadi dokter jaga di rumah sakit yang lama. Tapi setelah lima tahun bekerja di rumah sakit bersama Damar, dia yang dokter umum di beri kelonggaran untuk bekerja di siang hari saja.
"Nak, apa yang kamu pikirkan?", tanya Umar.
"Menurut Papa?", mika menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"Apa kamu belum yakin?"
Mika menggeleng.
__ADS_1
"Mika cuma nggak bisa tidur di kamar ini. Rasanya Mika pengen tidur di kamar Mika aja."
Umar terkekeh geli di malam yang hampir menjelang pagi.
"Jadi karena itu?", tanya Umar.
Mika pun mengangguk manja. Meski dia memang beneran tidak nyama selain di kamarnya.
"Bersabarlah, besok kan kamu dan Fai menempati kamar itu."
"Pa...apa papa tidak ingin kembali bersama Mama?"
Umar terdiam lalu meraih kepala mika agar dia bisa tidur di paha sang papa. Dulu, saat Mila Sellyna memutuskan untuk meninggalkan mereka, Mika dan Umar sering menghabiskan waktu bersama seperti ini. Tidur di pangkuan sang Papa adalah kenyamanan tersendiri bagi Mika. Merasa di lindungi, di sayangi sepenuh hati.
"Nggak Mika, Papa tidak menginginkan lagi."
"Apa papa terlalu mencintai Mama? Makanya papa tidak menikah lagi sejak kalian berpisah?"
Umar menggeleng pelan.
"Bukan gitu mika. Papa hanya ingin fokus mengurus putri papa."
"Mika takut pa. Seandainya aku dan mas Fai masih bertahan dengan perasaan kami yang lama gimana Pa? Di luaran sana, banyak yang sudah punya banyak anak malah berpisah. Padahal banyak yang bilang, anak itu penyatu kedua orang tuanya. Mika cemas Pa."
"Percaya saja sama yang kuasa. Kamu, putri papa yang hebat!"Umar mengacak rambut putri nya .
Sayangnya mika malah sudah tertidur di pangkuan umar. Setelah mika benar-benar sudah tidur,Umar pun keluar dari kamar Mika.
******
Hari yang di nanti pun tiba. Sejak azan subuh berkumandang, MUA sudah berada di rumah Umar. Dan ternyata, sampai setengah enam sang mempelai perempuan bahkan belum menampakkan batang hidungnya. Sontak, hal itu membuat geger penghuni rumah mewah itu termasuk si kang MuA itu.
Umar yang mendapat laporan pun langsung bergegas ke kamar Mika yang tidak terkunci. Ternyata,. mika masih tertidur dengan posisi yang sama seperti terakhir Umar keluar dari kamar itu.
"Mika ...!",Umar mengusap kepala putrinya.
__ADS_1
Mika hanya melenguh beberapa detik, mengganti posisi lalu terpejam lagi.
"Bangun nak, udah siang....!"
"Bentar lagi Pa. Mika masih ngantuk. Lagian mika juga lagi libur praktek."
Mika menjawabnya sambil terus memejamkan kedua matanya.
"Sayang, kamu kan mau nikah pagi ini!", kata Umar lagi sedikit lebih kencang.
Mendengar kata 'NIKAH' kesadarannya mulai pulih.
"Astagfirullah iya ya Pa. Oke, Mika mandi. Mika solat subuh dulu!", mika langsung loncat dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Umar pun keluar dari kamar Mika.
Umar menemui tim MuA untuk bersedia menunggu putrinya.
Dan akhirnya, make over baru di mulai lewat dari jam enam pagi, padahal rencana ijab qobul jam sembilan. Apakah waktunya cukup bagi kang MuA untuk mengubah wajah Mika?
Mika memilih kebaya putih yang sederhana. Terus terang mika tidak suka sesuatu yang glamor. Papa mika, asli Sunda. Bandung lah tepatnya. Sedangkan Abah Fai, orang solo. Tapi, untuk acara ijab qobul, Mika meminta konsep khas Sunda. Dia ingin memakai siger. Mungkin untuk resepsi nanti barulah ia memakai adat Jawa .
Di tempat lain....
"Mau kemana Dad?",tanya lili kepada Stevan.
"Ke nikahan anak temen ku."
"Daddy tak ingin mengajakku?"
"Tidak usah. mungkin lain kali saat mereka melangsungkan resepsi."
"Baik lah!"
Lili pun mengikuti perintah sang suami. Meski terlihat cuek, tapi Stevan benar-benar memberikan kasih sayang nya."
"Aku berangkat. Nanti, kamu keluar aja kalau bosan di rumah."
__ADS_1
"Iya Daddy!"
Stevan pun meninggalkan kamarnya bersiap menuju rumah Umar.